Dekadensi Moral Akibat Pergeseran Fungsi Gender

May 26, 2010 § Leave a comment

Sesungguhnya zaman telah sampai pada apa yg telah dikatakan rasul saw :

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا 

Dahuluilah dengan amal fitnah-fitnah yg seperti potongan-potongan malam yg gelap yg didalamnya seorang laki-laki pagi-pagi mukmin, dan sore hari menjadi kafir atau sore hari mukmin dan pagi-pagi menjadi kafir, menjual agama dengan sedikit harta dunia. (HR. Muslim)

Qosim Amin

 

Telah banyak fitnah yg dapat membuat seseorang pada pagi hari mukmin namun pada sore harinya menjadi kafir. Termasuk diantara fitnah-fitnah tersebut adalah fitnah emansipasi wanita, yaitu : gerakan untuk memperoleh pengakuan persamaan kedudukan, derajat serta hak dan kewajiban dalam hukum bagi wanita. (Lihat Kamus Ilmiah Populer)

Di dunia muslim, gerakan ini bermula di Mesir, ketika penguasa Mesir Muhammad Ali Basya mengadakan program pengiriman mahasiswa-mahasiswa muslim ke Prancis. Di antara mereka yang dikirim adalah Rif’at Rafi’ Ath-Thahthawi (w. 1290 M). Dialah yang pertama kali menyebarkan bibit propaganda terhadap emansipasi wanita ini sepulangnya dari Prancis. Ide-idenya kemudian diikuti oleh Qasim Amin (w. 1326 M) yang banyak mendapat kecaman dari para ulama baik di Mesir, Syam dan Iraq dan dihukumi murtad oleh mereka.Lalu mulailah gerakan setan ini diteruskan oleh para pewarisnya di segala penjuru negeri Islam

Pada mulanya, gerakan emansipasi atau penyetaraan gender ini berbentuk slogan pendidikan akademis bagi kaum wanita. Slogan-slogan itu nampak menarik bagi kaum wanita karena mengusahakan peningkatan kecerdasan dan pengetahuan mereka agar dapat melahirkan generasi baru yang lebih cakap dan lebih berkualitas.

Tetapi, setelah itu gerakan ini mulai melakukan tipu daya baru yang dibungkus dengan kata-kata indah nan menawan, yakni persamaan hak pria dan wanita secara mutlak dan kebebasan karir wanita di segala bidang.

Dengan iming-iming yang menarik ini, banyak kaum hawa yang tertipu dan terbawa arus gelombang emansipasi. Bahkan hembusan emansipasi seolah angin sejuk bagi masa depan mereka.

Gerakan ini telah menimbulkan banyak kerusakan yang tak terhitung jumlahnya, diantaranya adalah;

  • Timbulnya exploitasi wanita secara besar-besaran, yang merendahkan harkat dan martabat wanita, sehingga wanita tak ubahnya sebuah benda materi yang dinilai dari kecantikannya saja.
  • Maraknya wanita yang dengan bangga mempertontonkan auratnya, karena menganggap menutup aurat adalah diskriminasi bagi mereka.
  • Timbulnya berbagai persoalan rumah tangga diantaranya: menyebarnya kenakalan remaja akibat salah urus karena sang ibu sibuk dengan karier dan pekerjaan, munculnya perselingkuhan di kalangan keluarga, naiknya angka perceraian, dll.
  • Timbulnya penolakan dan penentangan terhadap hukum-hukum islam, seperti munculnya penolakan terhadap poligami, penolakan terhadap hukum waris, penolakan terhadap kewajiban menutup aurat, dll.
  • Timbulnya pergaulan bebas akibat berbaurnya laki-laki dan perempuan tanpa adanya batasan, serta menyebarnya perzinaan dan praktek-praktek prostitusi di masyarakat dan tidak jarang diantaranya yang dilegalkan. Dan lebih parahnya lagi munculnya kaum homo dan lesbian yang dahulu sama sekali tidak dikenal oleh masyarakat islam.

Maka benarlah sabda Rasul saw, ketika beliau berkata :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةٌ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ 

Aku tidak meninggalkan setelahku, fitnah yang lebih berbahaya atas kaum laki-laki daripada (fitnahnya) wanita. (HR. Bukhari & Muslim)

Maka dari itu wajib kita mengetahui bahwa agama islam sejatinya telah mengangkat harkat dan martabat wanita, melindunginya dari segala sesuatu hal yang merugikan dirinya, dan tidaklah syari’at islam ini bermaksud untuk mendiskriminasi kaum wanita.

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ 

Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya (QS. 41.46)

Namun sebelum itu alangkah baiknya kita mengetahui kedudukan wanita diantara peradaban-peradaban dunia.

Wanita Pada Masa Arab jahiliyyah

Tidak diragukan lagi bahwa wanita di masa jahiliah tidak memiliki nilai sedikitpun dalam kehidupan manusia. Mereka tak ubahnya binatang ternak, status sosial wanita menurut bangsa Arab sebelum Islam sangatlah rendah hingga sampai pada tingkat kemunduran dan keterpurukan, kelemahan dan kehinaan, yang terkadang keadaannya sangat jauh dari martabat kemanusiaan. Hak-hak mereka diberangus, tidak ada hak waris baginya, ketika suaminya meninggal ia tak ubahnya harta warisan yang bisa diwariskan kepada ahli warisnya, ia juga tidak memiliki hak memprotes atau ikut bermusyawarah dalam urusan suaminya. Segala urusannya diserahkan kepada walinya.

Dan hal terburuk yang dilakukan bangsa arab jahiliyyah adalah mengubur hidup-hidup bayi perempuan yang baru dilahirkan. Mereka melakukanya diantaranya karena mengkhawatirkan kehormatan mereka dan khawatir mendapat celaan ketika anak-anak perempuan mereka menjadi tawanan musuh, adapula yang melakukanya karena keadaan hidup yang sangat melilit, sulitnya mata pencaharian, dan kefakiran.

Wanita Dalam Pandangan Bangsa Yunani 

Keadaan kaum wanita pada masa mereka berada dalam tingkat kemunduran dalam segala segi kehidupan, sehingga mereka tidak memiliki kedudukan sedikitpun di masyarakat. Bahkan muncul suatu keyakinan bahwa sesungguhnya kaum wanita adalah penyebab penderitaan dan musibah bagi seseorang. Sehingga tidak heran jika mereka menempati posisi yang paling rendah. Karena kedudukan mereka yang rendah itulah, kaum lelaki tidak duduk bersama mereka dalam satu meja makan.

Pada generasi berikutnya terjadi perubahan akibat arus syahwat, perangai kebinatangan dan hawa nafsu yang menarik mereka untuk memberikan kebebasan kepada kaum wanita dalam urusan yang hanya terbatas pada seks. Sehingga para wanita tak ubahnya seperti pelacur-pelacur. Akibatnya, kaum wanita sebagai pelacur menempati posisi yang tinggi. Mereka menjadi pusat yang dikelilingi oleh segala aktivitas masyarakat Yunani. Bahkan mereka membuat hikayat-hikayat untuk para pelacur.

Wanita Dalam Pandangan Bangsa Romawi

Mereka banyak membuat aturan-aturan bangsa ini condong kepada kedzaliman, kejahatan dan penyiksaan kepada kaum wanita. Di dalam masyarakat mereka, seorang suami memiliki hak yang penuh terhadap istrinya, sebagaimana hak raja atas rakyatnya. Sehingga dia mengatur istrinya sesuai dengan hawa nafsunya. Kaum lelaki memandang kaum wanita hanya sebagai pelampiasan nafsu birahi, tidak lebih dari itu. Mereka hidup di atas persaingan untuk meraih wanita. Mereka juga mempermudah urusan perceraian karena sebab yang sangat sepele. Banyaknya perceraian itu mengakibatkan para wanita menganggap kebaikan hidup mereka berdasarkan jumlah suami, tanpa memiliki rasa bersalah dan malu.

Wanita Di Negeri Persia

Sama halnya dengan bangsa Romawi, mereka juga membuat undang-undang yg merendahkan serta mendzalimi kaum wanita. Mereka menentukan hukuman yang amat sangat berat bagi kaum wanita hanya dengan kesalahan yang ringan. Pada saat yang sama, kaum lelaki memiliki kebebasan yang mutlak dan hukuman tidak ditimpakan kecuali kepada kaum wanita. Sehingga, kalau seorang wanita terjatuh dalam kesalahan yang berulang-ulang maka dia harus membunuh dirinya sendiri. Saat itu juga terdapat aturan bahwa kaum wanita dilarang untuk melakukan pernikahan dengan laki-laki di luar kalangan Zaradashty (penyembah matahari). Sementara laki-laki memiliki kebebasan mengatur sesuai dengan nafsunya. Kebiasaan lain adalah bila wanita dalam keadaan haid, maka dia dipindahkan dari kota ke tempat yang jauh di luar kota. Tidak ada seorangpun yang boleh mendekatinya kecuali para pelayan yang menyuguhkan makanan untuknya.

Wanita Pada Era Materialisme (sekarang)

Pada masa sekarang, dimana segalanya seolah hanya dinilai dari uang dan materi, kaum wanita menjadi obyek exploitasi dari industri kapitalisme, mereka menjadikannya sebagai sebuah barang yang hanya dinilai dari bentuk fisiknya. Kaum wanita banyak dijadikan sebagai alat untuk mendongkrak pemasaran suatu produk, lihat saja bagaimana aurat wanita diumbar untuk promosi atau iklan suatu produk yang bisa kita saksikan di layar televisi, koran, majalah, reklame, pameran-pameran, dll.

Muncul pula even-even yang merendahkan martabat wanita, yang tujuan sebenarnya tak lebih dari kepentingan bisnis, seperti Miss Universe, Miss America, Miss Indonesia, dimana para wanita dianjurkan atau bahkan diwajibkan untuk membuka lebar-lebar auratnya. Begitu juga yang terjadi didunia hiburan.

Muncul pula aksi pornografi dan pornoaksi yang menyebabkan banyaknya terjadi perzinaan dan pelecehan sexual, pemerkosaan, dsb. Belum lagi adanya industri prostitusi dan perdagangan wanita yang menambah semarak proses exploitasi wanita.

Wanita Dalam Pandangan Islam

Adapun agama islam, maka ia telah menempat posisi wanita pada tempatnya, meninggikan derajatnya, mengakui hak-haknya dan juga melindunginya.

Kedudukan wanita dalam islam adalah sama dengan laki-laki, tidak ada keutamaan dari pria maupun wanita kecuali mereka mau bertakwa dan beramal saleh. Allah berfirman;

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ 

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu (QS. 49.13)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 16.97)

Rasul Saw bersabda;

إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ ، ولا إِلى صُوَرِكمْ ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم 

Sesungguhnya Allah tidak memandang pada badanmu, dan tidak pada bentukmu, akan tetapi Ia memandang pada hati kalian dan amal-amal kalian. (HR. Muslim) 

Adapun ayat;

 وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ 

Dan kaum laki-laki mempunyai derajat (melebihi) atas isterinya (QS. 2.228) 

Maka tidak menunjukkan bahwa laki-laki lebih mulia dan utama dari wanita secara mutlak, karena yang dimaksud derajat disini adalah derajat kepimpinan disebabkan keunggulan laki-laki dari segi fisik berupa kekuatan dan kemampuan fisik, maupun psikis berupa kesabaran dan aqal mereka (laki-laki lebih mengedepankan aqal dari pada emosi, berbeda dengan wanita), sebagaimana disebutkan oleh ilmu psikologi. Apa lagi ayat diatas menyangkut tentang hubungan suami-istri.

Jadi, dalam kedudukan agama laki-laki dan wanita sama saja, bahkan banyak wanita yg lebih mulia daripada laki-laki disebabkan kedalaman ilmu, ketakwaan dan amal ibadahnya. Sebut saja siti Maryam, Khadijah, Fathimah, ‘Aisyah, Rabi’ah Al-Adawiyyah, dsb.

Akan tetapi karena perbedaan fitrah wanita dari laki-laki dari segi fisik maupun psikis, Allah memberikan syari’at yang berbeda bagi mereka dari kaum laki-laki. Dan hal ini bukanlah sesuatu hal yang baru dalam dunia kita, bukankah banyak sekali aturan-aturan yang dibuat berbeda antara pria dan wanita yang dibuat oleh manusia? Sebut saja aturan-aturan dalam dunia olah raga, lalu kenapa orang-orang yang menuntut menyerataan gender diam dan tidak mengungkit-ngungkitnya?

Mari kita lihat ucapan dan perbuatan Nabi Saw dalam meninggikan derajat kaum wanita. Menyangkut posisinya sebagai seorang istri, nabi Saw berkata :

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي 

 Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku (HR. Tirmidzi)

Mengenai kedudukanya sebagai seorang ibu beliau memerintahkan untuk mengutamakannya melebihi sang ayah :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال  : جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال يا رسول الله من أحق الناس بحسن صحابتي ؟ قال ( أمك ) . قال ثم من ؟ قال ( ثم أمك ) . قال ثم من ؟ قال ( ثم أمك ) . قال ثم من ؟ قال ( ثم أبوك )  

Dari Abu Hurairah Ra. Beliau berkata ; seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw lalu berkata “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang lebih berhak aku baguskan pertemananku?”. Rasul menjawab “Ibumu”. Laki-laki itu berkata “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab “Kemudian ibumu”. Laki-laki itu berkata “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab “Kemudian ibumu”. Laki-laki itu berkata lagi “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab “Kemudian ayahmu”. (HR. Muslim)

Dan mengenai kedudukannya sebagai anak, dapat kita lihat dari apa yang beliau perbuat kepada putrinya Fathimah yang diriwayatkan Imam Bukhori dalam kitab Al-Adab Al-Mufrod :

عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت : ما رأيت أحدا كان أشبه حديثا وكلاما برسول الله صلى الله عليه وسلم من فاطمة . وكانت إذا دخلت عليه قام إليها فرحب بها وقبلها وأجلسها في مجلسه 

Dari ‘Aisyah Ummul mukminin Ra. Beliau berkata : “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih serupa perkataan dan ucapannya dengan rasulullah daripada Fathimah. Jika ia masuk kedalam rumah Nabi, beliau berdiri menghadapnya, kemudian menyambut kedatanganya, menciumnya dan menempatkannya pada tempat duduknya”.

Jika anda tengok lagi bagaimana Arab Jahiliyyah memperlakukan kaum wanitanya, kemudian anda perhatikan bagaimana sikap nabi terhadap kaum wanita, anda akan tahu bahwa beginilah cara nabi merubah adat jahiliyyah bangsa Arab, dan beginilah cara Islam memperlakukan kaum wanitanya.

Bagaimana Islam Mengatur Pergaulan Antara Wanita Dan Laki-laki

Pergaulan antara pria dan wanita atau sebaliknya, menimbulkan berbagai problem yang memerlukan pengaturan dengan suatu peraturan tertentu. Dalam hal ini, Islam melarang hal-hal yang dapat mengantarkan kepada hubungan yang dapat menjerusmuskan kepada suatu hal yang negatif. Islam memberikan jalan keluar bagi laki-laki dan wanita untuk melaksanakan hubungan diantara keduanya dalam suatu peraturan yang khusus. Larangan ini sangat ditekankan, dan menjadikan “iffah” (terpelihara kehormatannya) sebagai hal yang wajib. Disamping itu Islam juga menjadikan setiap jalan, cara dan sarana yang dapat membantu mengantarkan manusia kepada keutamaan dan akhlak. Jadi aturan-aturan bukanlah untuk mendiskriminasi kaum wanita, melainkan sebagai jalan bagi keselamatan hubungan diantara keduanya, terhindar dari perzinaan dan madlarat-madlarat lainya.

Berdasarkan hal ini maka Islam membatasi hubungan antara laki-laki dan wanita dengan hukum syara’ yang khas. Hukum-hukum tersebut sangat banyak diantaranya adalah :

Menutup Aurat

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ. رواه أبو داود

“Hai asma, sesungguhnya perempuan itu apabila telah sampai umur/ dewasa, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini. Rosulullah berkata sambil menunjukkan muka dan telapak tangan hingga pergelangannya sendiri” (H.R. Abu Dawud dan Aisyah)

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلَا يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلَا تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ. رواه مسلم

Dari Abu Sa’ad r.a bahwasannya Rosulullah saw. Bersabda: “Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat sesama lelaki, begitu pula seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan. Seorang laki-laki tidak boleh bersentuhan kulit sesama lelaki dalam satu selimut, begitu pula seorang perempuan tidak boleh bersentuhan kulit dengan sesame perempuan dalam satu selimut.” (H.R. Muslim dikutip Imam Nawawi dalam Riyadhush Shalihin)

Bagi wanita diperintahkan untuk tidak berlembut-lembut suara di hadapan laki-laki bukan mahram 

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا  

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,” (Q.S. Al-Ahzab:32)

Ayat ini walaupun pada mulanya ditujukan kepada istri-istri Nabi, namun berlaku juga bagi wanita lainnya karena memandang dari segi illatnya yaitu; untuk mencegah berkeinginannya (Tamaknya) orang terdapat penyakit dalam hatinya.

Menjaga Pandangan

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q.S. An-Nur:30)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An-Nur:31)

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَنْظُرُ إِلَى مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ أَوَّلَ مَرَّةٍ ثُمَّ يَغُضُّ بَصَرَهُ إِلَّا أَحْدَثَ اللَّهُ لَهُ عِبَادَةً يَجِدُ حَلَاوَتَهَا. رواه أحمد

Tidaklah seorang muslim sedang melihat keindahan wanita kemudian ia menundukan pandangannya, kecuali Allah akan menggantinya dengan ibadah yang ia dapatkan kemanisannya” (H.R. Ahmad)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”ثَلاثَةٌ لا تَرَى أَعْيُنُهُمُ النَّارَ: عَيْنٌ حَرَسَتْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ

Rasul Bersabda; “Tiga orang yang mata mereka tidak akan melihat api neraka, yakni mata yang terjaga di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang memejam dari apa yang diharamkan oleh Allah”  (HR. Thabrani)

Larangan “berkhalwat” (berdua-duaan antara pria dan wanita ditempat sepi )

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ. رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Abbas r.a bahwasannya Rasulullah saw. Bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian bersunyi-sunyi dengan perempuan lain, kecuali disertai mahramnya.” (H.R. Bukhari & Muslim)

Laki-laki dilarang berhias menyerupai perempuan, juga sebaliknya

عنَ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ. رواه البخاري

Dari Ibnu Abbas r.a ia berkata: “Rasulullah melaknat kaum laki-laki yang suka menyerupai kaum wanita, dan melaknat kaum wanita yang suka menyerupai kaum lakilaki.” (H.R. Bukhari & Muslim)

Islam menganjurkan menikah dalam usia muda bagi yang mampu dan shaum bagi yang tidak mampu 

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. متفق عليه

“Wahai sekalian pemuda, barang siapa diantara kamu yang mampu nikah, maka nikahlah. Sesungguhnya nikah itu bagimu dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan. Maka jika kamu belum sanggup berpuasalah, sesungguhnya puasa itu sebagai prisai.” (Muttafaaqun Alaihi)

Dari uraian di atas kita akan dapat mengetahui betapa Islam merupakan agama yang selalu menjaga kesucian diri pemeluknya. Dan beruntunglah mereka yang selalu menjaga kesucian dirinya.

Syubhat-Syubhat Kaum Feminis (pengusung emansipasi wanita/kesetaraan gender)

Hijab Pilihanku!

 

Diantara syubhat yg digembar-gemborkan kalangan feminis adalah; islam mendiskriminasi wanita dengan pensyari’atan hijab dan menganggapnya sebagai sebuah keterbelakangan, dsb. Padahal hijab disyari’atkan justru untuk melindungi kaum wanita, Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا 

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 33.59)

Jadi jelaslah bahwa syari’at hijab adalah untuk melindungi kaum wanita, layaknya permata yang harus dijaga, dan ditempatkan ditempat tertutup agar tidak mudah dicuri orang. Adapun mengapa kaum laki-laki tidak diperintahkan untuk berhijab seperti wanita adalah karena wanita lebih pemalu dan sulit untuk terangsang gairahnya. Berbeda dengan kaum laki-laki yang lebih mudah bangkit syahwatnya dan lebih berani mengungkapkannya dalam bentuk tindakan maupun ucapan yang berpotensi menyebabkan gangguan dan bahaya bagi kaum wanita.

Lebih baik poligami dari pada berzina

 

Mereka juga menganggap diperbolehkannya poligami sebagai penganiayaan, dan kedzaliman terhadap wanita, padahal poligami justru merupakan solusi yang menyelamatkan laki-laki dan wanita dari jurang perzinaan.

Jumlah kaum lelaki yang tidak berimbang banyak dibanding jenis perempuan adalah salah satu hal yang merupakan hikmah disyari’atkanya poligami, jika seorang laki-laki dilarang berpoligami, maka berapa banyak wanita yang akhirnya tidak dapat jatah bagian suami, yang sebagai akibatnya adalah munculnya praktek prostitusi dan perzinaan.

Begitu juga ketika sang laki-laki tidak dapat menahan gejolak syahwatnya dan tidak dapat melepaskannya kepada istrinya dikarenakan ia sedang haidh, atau hamil. Poligami dalam hal ini dapat dijadikan solusi yang dapat menghindarkan ia dari perzinaan.

Mereka juga berkata bahwa hukum warisan dalam islam bersikap tidak adil bagi perempuan. Lihat bagaimana mereka menganggap suatu hukum yang ditetapkan Allah dzat yang maha adil sebagi sebuah ketidakadilan!

Kita semua tau bahwa anak laki-laki mempunyai tanggungan dan beban yang lebih berat dari pada anak perempuan. Laki-laki dihadapkan pada kewajiban untuk bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga, berbeda dengan perempuan yang tidak punya tanggung jawab sedemikian. Jadi, amatlah wajar jika anak laki-laki menerima bagian lebih banyak dari pada anak perempuan.

Masih banyak lagi syubhat-syubhat yang mereka utarakan, dan kesemua itu pada intinya adalah akibat dari jauhnya mereka dari agama Allah, jauhnyamereka dari Al-Quran dan sunnah Rasul Saw. Allah berfirman :

فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ 

Maka kecelakaan bagi mereka yang telah membatu hatinya (jauh) dari dzikrillah (Al-Quran). (QS. 39.22)

وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا 

Dan barangsiapa yang berpaling dari dzikir tuhannya (Al-Quran), niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat (QS. 72.17)

Maka hendaklah kalian mempelajari Al-Quran dan sunnah Rasul agar selamat dari fitnah-fitnah akhir zaman yang menyebabkan seseorang pagi-pagi mukmin, sore hari menjadi kafir karena Rasul Saw telah menjamin bahwa barang siapa berpegang dengan keduanya maka tidak akan tersesat sehingga terhindar dari adzab yang pedih. Rasul bersabda :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ 

Aku meninggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selagi berpegang dengan keduanya, (yaitu) kitab Allah dan Sunnah Nabinya. (HR. Malik) 

Wallahu A’lam. Walhamdulillah….

Referensi

  1. Al-quran dan terjemahanya.
  2. Shohih Bukhori.
  3. Shohih Muslim.
  4. Muwatthok Malik.
  5. Sunan Abu Dawud.
  6. Sunan Tirmidzi.
  7. Musnad Imam Ahmad.
  8. Mu’jam Al-Kabir, Thabrani.
  9. Al-Adab Al-Mufrod, Bukhori.
  10. Nisa` Haular Rasul,  Mahmud Mahdi Al-Istambuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi.
  11. Transparansi Rasional; Menjawab Dan Menyoal Balik Pemikiran-Pemikiran Liberal, Muhammad Sudarto.
  12. Dan sumber-sumber lainya.

Tagged: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dekadensi Moral Akibat Pergeseran Fungsi Gender at Spirit Islam Inside.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers

%d bloggers like this: