Sejarah Perkembangan Dan Pembangunan Ka’bah

July 9, 2010 § 2 Comments

Secara bahasa Ka’bah berarti ; segala sesuatu yang berbentuk persegi. Ats-Tsa’laby berkata  “segala sesuatu yang berbentuk persegi adalah Ka’bah”.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa yang membangun Ka’bah pertama kali. Ibn Katsir berkata;  “para ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang pertama kali membangun Ka’bah. Dikatakan (yang membangun Ka’bah) adalah malaikat sebelum Adam, pendapat ini diriwayatkan dari Abi Ja’far Al-Baqir bin Ali bin Husei n, Imam Al-Qurthubi menuturkan pendapat ini dan meriwayatkan lafadznya, dan didalamnya (lafadz) terdapat ghorobah (sesuatu yang asing). Dikatakan (yang membangun Ka’bah) adalah Nabi Adam As, pendapat ini diriwayatkan Abdur-Razzaq dari Juraih dari Atho’, Sa’iid bin Musayyib dan yang lainnya; bahwasanya Adam membangun Ka’bah dari lima gunung; gunung Hiraa’, Thursinaa’, Zaitaa’, gunung Lubnan, dan gunung Judy. Dan riwayat ini juga gharib (asing). Dan diriwayatkan sama sepertinya dari Ibn Abbas, Ka’ab Al-Ahbar, Qotadah, dan dari Wahab Ibn Munabbih; bahwasanya yang pertama kali membangun Ka’bah adalah nabi Syits As. Beliau, Ibn Katsir melanjutkan; “kebanyakan orang menyebutkan hal ini hanyalah mengambil dari kitab-kitabnya Ahli kitab, dan ia adalah termasuk perkara yang tidak dapat dibenarkan dan juga tidak dapat dianggap bohonh, dan tidak dapat dijadikan pegangan hanya dengannya. Adapun jika sah Hadist dalam permasalahan itu, maka wajib untuk tunduk menyetujui.

Dari ucapan imam Ibn katsir diatas dapat disimpulkan bahwa pendapat-pendapat yang menyatakan bahwa yang pertama kali membangun Ka’bah adalah malaikat dsb adalah tidak mempunyai landasan yang kuat karena tidak bersandar kepada hadist yang sahih tapi justru malah diambil dari kitab-kitab yang terdahulu. Pendapat-pendapat tadi juga belum tentu kebenaran dan juga kesalahannya.

Pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim

Yang sudah jelas kebenarannya adalah Ka’bah dibangun oleh nabi Ibrahim bersama dengan Nabi Isma’il. Kisah pembangunan Ka’bah oleh nabi Ibrahim yang dibantu dengan putranya ini telah Allah abadikan dalam Al-quran. Allah berfirman ;

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Isma’il (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Al-Baqoroh 127)

Bahkan menurut Ibn Katsir dalam kitab Sirahnya, Ibrahimlah yang pertama kali membangun Ka’bah.

Dalam Hadist yang diriwayatkan Imam Bukhori  dari Ibn Abbas disebutkan bagaimana nabi Ibrahim dan putranya membangun Ka’bah ;

ثم قال: يا إسماعيل، إن الله أمرني بأمر. قال: فاصنع ما أمرك ربك، عز وجل. قال: وتعينني؟ قال: وأعينك. قال: فإن الله أمرني أن أبني هاهنا بيتًا -وأشار إلى أكَمَةٍ مرتفعة على ما حولها -قال: فعند ذلك رَفَعا القواعد من البيت فجعل إسماعيل يأتي بالحجارة وإبراهيم يبني، حتى إذا ارتفع البناء جاء بهذا الحجر فوضعه له، فقام عليه وهو يبني، وإسماعيل يناوله الحجارة، وهما يقولان: {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} ” قال: “فجعلا يبنيان حتى يدورا حول البيت، وهما يقولان: {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}

…. Kemudian Ibrahim berkata ; ” wahai Isma’il, sesungguhnya Allah menyuruhku dengan suatu perkara. Isma’il berkata ; “Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan tuhanmu (‘azza wajall). Ibarahim berkata ; “Maukah kau membantuku?”. Isma’il menjawab ; “Aku akan membantumu”. Ibrahim berkata : “Sesungguhnya Allah memerintahkanku membangun disini suatu rumah (Bait) -sembari memberi isyarah kepada suatu gundukan tanah yang tinggi melebihi sekitarnya-. Ibn Abbas berkata ; “Maka disanalah mereka berdua meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah. Kemudian mulailah Isma’il mendatangkan batu-batu sedang Ibrahim membangunnya sehingga ketika bangulan mulai tinggi ia datang dengan batu ini (Maqam Ibrahim) dan meletakkannya untuk Ibrahim, lalu Ibrahim pun berdiri diatasnya dan membangun (Ka’bah), sedang Isma’il menyodorkannya batu-batu dan mereka berdua berkata (Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)”. Ibn Abbas berkata ; “Jadilah mereka berdua membangun (Ka’bah) sehingga berputar disekitar bait, dengan mengucap (Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)”.

Maqam Ibrahim

Begitulah cara Nabi Ibrahim dan Isma’il membangun Ka’bah, ketika bangunan Ka’bah mulai tinggi dan tidak dapat dijangkau Ibrahim beliau menggunakan sebuah batu untuk digunakan sebagai pijakan, batu inilah yang dinamakan Maqam Ibrahim. Dahulu Maqam Ibrahim posisinya menempel pada pintu Ka’bah, sampai akhirnya dipindahkan oleh sahabat Umar pada posisinya yang sekarang.

Diriwayatkan oleh imam Baihaqi dari siti Aisyah beliau berkata ;

أن المقام كان فى زمن رسول الله  – صلى الله عليه وسلم –  وزمان أبى بكر ملتصقا بالبيت ثم أخره عمر بن الخطاب عنه

“Sesungguhnya Maqam Ibrahim dulu, pada zaman Rasul Saw dan Abu bakar Ra menempel pada Bait, kemudian Umar mengakhirkannya dari bait”.

Dan cukuplah firman Allah berikut ini sebagai dalil tentang kemulian Maqam Ibrahim ;

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

Dan jadikanlah dari maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. (Al-Baqoroh 125)


Hajar Aswad

Ditengah proses pembangunan dan telah sampai pada pojok Ka’bah  Jibril datang membawakan batu dari surga. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Abi hatim dari Sa’iid bin Musayyib, ia berkata ; “Kemudian ketika sampai tempat rukun (pojok Ka’bah), Ibrahim berkata kepada Isamail “Hai anakku carilah batu yang bagus untuk kutaruh disini!”. Isma’il menjawab “Wahai ayahku sesungguhnya aku malas lagi payah”. Ibrahim berkata “Biarlah aku yang melakukannya”. Kemudian ia pergi mencari batu, dan datanglah jibril dengan Hajar Aswad dari india, warnanya putih seperti yaqut yang putih layaknya tanaman Tsughamah. Dahulu Adam diturunkan dengannya kemudian ia menjadi hitam karena dosa-dosa manusia.

Rasul Saw juga bersabda ;

نزل الحجر الأسود من الجنة وهو أشد بياضا من اللبن فسودته خطايا بنى آدم

Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih dari susu, kemudian dosa-dosa manusia membuatnya menjadi hitam(HR. Tirmidzi)

Bingkai Hajar Aswad

Sekarang Hajar As`ad, diletakkan dalam bingkai dan pada posisi 1,5 meter dari atas permukaan tanah. Batu itu berbentuk telur dengan warna hitam kemerah-merahan. Di dalamnya ada titik-titik merah campur kuning sebanyak 30 buah, dibingkai dengan perak setebal 10 cm. Yang pertama membuat bingkai itu adalah Ibn Zubair Ra bingkai itu dibuat adalah untuk mencegah agar ia tidak tercerai berai karena hajar aswad waktu itu pecah akibat kebakaran yang menimpa Ka’bah. Ketika peraknya mulai menipis dan bergoyang-goyang seperti hendak lepas, Harun Ar-Rasyid memerintahkan untuk melubangi sekitar hajar Aswad untuk kemudian dituangkan perak padanya. Pada tahun 1268 H, Sultan Abdul Majid, Khalifah Utsmaniah (1225-1277 H/1839-1861 M) menghadiahkan sebuah lingkaran emas untuk dililitkan pada Hajar Aswad, sebagai pengganti lingkaran pita perak yang telah hilang. Lingkaran emas itu kemudian diganti lagi dengan lingkaran perak oleh Raja Abdul Aziz, Khalifah Utsmaniah (1861-1876 M). Pada 1331 H, atas perintah Sultan Muhammad Rasyad (Muhammad V, memerintah pada tahun 1909-1918), lingkaran pita perak itu diganti dengan lingkaran pita perak yang baru. Untuk menjaga dan mengekalkan keutuhannya, dan jadilah bingkai perak yang sekarang ini kita lihat.

Bentuk Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim

Beginilah kira-kira bentuk Ka'bah nabi Ibrahim

Bentuk Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim sebenarnya berbeda dengan yang kita lihat sekarang. Pada zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il as Ka’bah terdiri atas dua pintu dan letak pintunya terletak diatas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi, bentuknya juga lebih panjang dengan memasukkan Hijir Isma’il didalamnya.

Hal ini seperti yang ditunjukkan oleh Hadist yang diriwayatkan imam Bukhori dari siti Aisyah bahwasanya Nabi Saw berkata  padanya ;

ألم تري أن قومك لما بنوا الكعبة اقتصروا عن قواعد إبراهيم؟” . فقلت :”يا رسول الله ألا تردها على قواعد إبراهيم؟” قال: “لولا حدثان قومك بالكفر لفعلت”

“Bukankah kau melihat kaummuketika membangun Ka’bah mereka memendekkannya dari pondasi-pondasi Ibrahim?”. Maka aku (Aisyah) berkata ; “Wahai Rasululullah, apakah kita tidak saja kembalikan pada pondasi-pondasi Ibrahim?” Nabi berkata ; “Seandainya kaummu tidak baru saja kufur niscaya aku lakukan”.

لَوْلاَ أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُو عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ – أَوْ قَالَ بِكُفْرٍ – لأَنْفَقْتُ كَنْزَ الْكَعْبَةِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلَجَعَلْتُ بَابَهَا بِالأَرْضِ وَلأَدْخَلْتُ فِيهَا مِنَ الْحِجْرِ

Andaikata kaummu bukan baru saja dalam masa jahiliyyah, pasti akan aku infaq kan harta simpanan Ka’bah dan akan Aku jadikan pintunya  ditanah, dan aku masukkan Hijir kedalam Ka’bah.

Sejatinya Nabi ingin mengembalikan Ka’bah seperti halnya Ka’bahnya Nabi Ibrahim, akan tetapi karena kaum Quraisy baru saja masuk Islam, baru saja lepas dari masa jahiliyyah maka nabi mengurungkannya.

Penulis kitab Tarikhul Ka’bah al Mu’azhamah, Syaikh Husain Abdullah Basalamah menjelaskan, Nabi Ibrahim membuat dua pintu untuk Ka’bah dengan ukuran yang sama. Satu dari arah timur dekat Hajar Aswad, dan yang lainnya dari arah barat dekat rukun Yamani. Beliau juga membuat lubang di dalam Ka’bah. Yaitu di sebelah kanan orang yang masuk dari pintu timur yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta Ka’bah. Kala itu, Ka’bah belum diberi atap.

Al-Bouthy berkata ; “Az-zarkasyi menukilkan dari kitab Tarikh Makkah karya Al-Azraqy bahwasanya Ibrahim As menjadikan tinggi bangunan Ka’bah 6 hasta, dan panjangnya 30 hasta sedang lebarnya 22 hasta dan tanpa adanya atap. As-Suhaili meriwayatkan bahwa tingginya 9 hasta. Menurutku (Albouthy) inilah yang lebih cenderung benar dari riwayat Al-Azraqy”.

Pembangunan Ka’bah Oleh Kaum Quraisy

Salah satu banjir yang melanda Ka'bah

Lima tahun sebelum tahun kenabian, Mekah dilanda banjir besar sehingga meluap ke Masjidil Haram dan dikhawatirkan sewaktu-waktu akan dapat meruntuhkan Ka’bah, Karena sejak zaman Ibrahim hingga Quraisy, Ka’bah dibangun dengan menggunakan tumpukan batu dan tanpa perekat tanah, atau yang lainnya.

Al-Bouthy berkata ; “Termasuk bencana-bencana yang Ka’bah hadapi adalah banjir yang kuat yang menyapu Makkah beberapa tahun sebelum Bi’tsah, yang menyebabkan pecahnya tembok Ka’bah dan lemahnya bangunannya”.

Selain itu menurut riwayat Muhammad Ibn Ishak, karena ketinggian Ka’bah yang hanya tumpukan batu diatas tinggi orang dewasa. dan tidak adanya atap, menyebabkan adanya orang-orang yang mencuri harta yang berada dalam Ka’bah.

Muhammad Ibn Ishak berkata ; “Ketika Rasulullah berumur 35 tahun, kaum Quraisy berkumpul untuk membangun Ka’bah, mereka menginginkan hal itu adalah karena untuk membuat atap untuknya, dan mereka takut untuk merobohkannya, Ka’bah waktu itu hanyalah tumpukan batu diatas tinggi orang dewasa, maka mereka hendak meninggikannya dan memberinya atap, hal itu karena adanya suatu golongan yang mencuri harta Ka’bah.”

Dalam membangun Ka’bah, walaupun waktu itu merupakan era jahiliyyah dimana banyak kejahatan dan kemunkaran, namun mereka tidak mau membangun Ka’bah kecuali dengan harta yang bersih dan halal.

Muhammad Ibn Ishak meriwayatkan perkataan Abu Wahab Bin Amr ; ” Wahai Kaum Quraisy jangan engkau masukkan dalam bangunan Ka’bah dari hasil usahamu kecuali yang baik, jangan sampai masuk Ka’bah upahnya pelacur, juga jual beli riba, dan dari hasil pendzoliman seorang manusia”.

Peletakan Hajar Aswad

Ketika sampai pada peletakkan Hajar Aswad, kaum Quraisy berselisih, siapa yang akan menaruhnya. Perselisihan ini nyaris menimbulkan pertumpahan darah, akan tetapi dapat diselesaikan dengan kesepakatan menunjuk seorang pengadil hakim yang memutuskan. Pilihan tersebut, ternyata jatuh pada Nabi Muhammad Saw.

Rasul Saw dengan bijak berkata pada mereka ; “Berikan padaku sebuah kain”. Lalu didatangkanlah kain kepada beliau, kemudian beliau mengambil hajar Aswad dan menaruhnya dalam kain itu dengan tangannya. Lalu beliau berkata ; ” Hendaklah setiap qabilah memegang sisi-sisi kain ini, kemudian angkatlah bersama-sama!”. Mereka lalu melakukannya dan ketika telah sampai ditempatnya, Rasul menaruhnya sendiri dengan tangannya kemudian dibangunlah (dilanjutkan pembangunan Ka’bah) diatasnya. (Sirah Muhammad Bin Ishaq)

Bentuk Ka’bah yang dibangun Quraisy

Dalam membangun Ka’bah ternyata kaum Quraisy kekurangan biaya, hal inilah yang menyebabkan bentuk Ka’bah buatan mereka berbeda dari bentuk Ka’bah buatan Nabi Ibrahim.

Imam Bukhori meriwayatkan hadist dari siti Aisyah Ra beliau berkata ;

سألت النبي صلى الله عليه و سلم عن الجدر أمن البيت هو ؟ قال ( نعم ) . قلت فما لهم لم يدخلوه في البيت ؟ قال ( إن قومك قصرت بهم النفقة ) قلت فما شأن بابه مرتفعا ؟ قال ( فعل ذلك قومك ليدخلوا من شاؤوا ويمنعوا من شاؤوا ولولا أن قومك حديث عهدهم بالجاهلية فأخاف أن تنكر قلوبهم أن أدخل الجدر في البيت وأن ألصق بابه بالأرض )

Aku bertanya kepada Nabi Saw tentang tembok (yang sekarang disebut  hijir Isma’il), apakah ia termasuk Baitullah? Nabi menjawab ; “Ya”. Aku berkata ;  “Maka mengapa mereka tidak memasukkannya kedalam Baitullah?”. Nabi berkata ; “Seseungguhnya kaummu kekurangan biaya “. Aku berkata; “Lalu mengapa pintunya  tinggi?”. Nabi menjawab ; “Yang melakukan itu adalah kaummu, supaya mereka dapat memasukkan (dalam Ka’bah) siapapun yang mereka kehendaki dan mencegah (masuk) siapapun yang mereka kehendaki. Kalau saja seumpama kaummu tidak baru saja dalam (melewati) masa Jahiliyyah….. Maka aku takut hati mereka menentang karena aku memasukkan tembok (hijir) dalam (bangunan) Ka’bah dan menempelkan pintunya ditanah”

Pintu kuno Ka'bah

Secara garis besar perubahan yang dilakukan kaum Quraisy meliputi :

1-Penambahan tinggi Ka’bah menjadi 18 hasta

-Pengurangan 6 hasta panjang Ka’bah 2

3-Pemberian atap Ka’bah

4- Meninggikan letak pintu dari tanah dan memberikan daun pintu yang dapat dikunci.

Karena itulah orang yang thowaf melewati bagian dalam Hijir thowafnya tidak sah, karena itu pula orang pada berdesak-desakkan sholat disana, karena itu sama saja sholat didalam Ka’bah. Bahkan karena itu pula Rasul tidak menyentuh dua pojok yang bersanding dengan Hijir seperti yang ia lakukan pada rukun (pojok) Yamani.

Ibn Umar berkata ;

مَا أُرَى رَسُولَ اللَّهِ  – صلى الله عليه وسلم –  تَرَكَ اسْتِلامَ الرُّكْنَيْنِ اللَّذَيْنِ يَلِيَانِ الْحِجْرَ إِلا أَنَّ الْبَيْتَ لَمْ يُتَمَّمْ عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ

“Aku tidak menyangka Rasul Saw tidak menyentuh dua rukun yang menyandingi Hijir kecuali karena sesunggungguhnya Baitullah tidak disempurnakan berdasarkan pondasi Ibrahim” (HR Bukhori)


Pembangunan Ka’bah Oleh Abdullah bin Zubair

Pada masa Abdullah Bin Zubair yang waktu itu menguasai Hijaz, Ka’bah terbakar akibat serangan senjata pelontar api oleh pasukan Yazid bin Muawiyah ketika mereka mengepung Makkah. Kejadian ini bahkan membuat Hajar Aswas pecah menjadi tiga bagian, dan berubah warnanya.

Imam Al-Azroqy meriwayatkan dari Shofiyyah binti Syaibah ia berkata ;

« كان الحجر الأسود قبل الحريق مثل لون المقام ، فلما احترق اسود . قال : فلما احترقت الكعبة تصدع بثلاث فرق ، فشده ابن الزبير بالفضة »

“Dulu Hajar Aswad sebelum terbakar berwarna seperti warananya Maqam Ibrahim, kemudian ketika terbakar ia menghitam”. Salah satu rawi berkata ; “Kemudian ketika Ka’bah terbakar, Hajar Aswad pecah menjadi tiga bagian, Ibn ZZubair kemudian mengikatnya dengan perak”.

Secara ringkasnya, ketika tentara Yazid mengepung Abdullah Bin Zubair di Makkah dengan pimpinan Al-Hashiin bin Namir pada akhir tahun 36 H atas perintah Yazid, mereka melempar Ka’bah dengan Manjaniq (pelempar batu) sehingga roboh dan terbakar. Maka Ibn Zubair menunggu datangnya manusia pada musim haji. Ia lalu meminta pendapat mereka apakah sebaiknya Ka’bah dirobohkan kemudian dibanguna ulang, atau cukup diperbaiki saja. Menanggapi itu Ibn Abbas berpendapat agar Ka’bah cukup diperbaiki saja, akan tetapi Ibn Zubair berkata ; “Kalau seumpama rumah salah satu dari kalian terbakar tentu tidak akan ridlo samapai rumahnya diperbarui, maka bagaimana dengan rumah tuhan kalian?! Sesungguhnya aku akan meminta pilihan pada tuhanku (istikhoroh) selama tiga hari, kemudian akan aku teguhkan perkaraku”.

Bentuk Ka’bah yang dibangun Ibn Zubair

Kemudian Ibn Zubair mulai merobohkan Ka’bah setelah tiga hari sehingga rata dengan tanah, lali ia memasang tiang-tiang disekitarnya dan membentangkan satir-satir diatasnya. Kemudian ia mulai mengangkat bangunannya dan menambahi 6 hasta panjangnya yang dulu tidak dimasukkan dalam Ka’bah, sedang tingginya ia tambah 10 hasta. Ia juga membuat dua pintu untuknya, satu untuk keluar, satu untuk masuk.

Imam Muslim meriwayatkan dari Atho’ alasan Ibn Zubair membangun Ka’bah seperti itu ;

وَقَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ إِنِّى سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُولُ إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَوْلاَ أَنَّ النَّاسَ حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ بِكُفْرٍ وَلَيْسَ عِنْدِى مِنَ النَّفَقَةِ مَا يُقَوِّى عَلَى بِنَائِهِ لَكُنْتُ أَدْخَلْتُ فِيهِ مِنَ الْحِجْرِ خَمْسَ أَذْرُعٍ وَلَجَعَلْتُ لَهَا بَابًا يَدْخُلُ النَّاسُ مِنْهُ وَبَابًا يَخْرُجُونَ مِنْهُ ». قَالَ فَأَنَا الْيَوْمَ أَجِدُ مَا أُنْفِقُ وَلَسْتُ أَخَافُ النَّاسَ

Ibn Zubair berkata ; “Sesungguhnya aku mendengar A’isyah berkata ; “Sesungguhnya Nabi saw berkata ; (Kalau sesumpama orang-orang tidak baru saja dari kekafiran -sedang disisiku tidak ada biaya yang menguatkan bangunannya (Ka’bah)- tentu aku akan memasukkan enam hasta dari hijir kedalam Ka’bah, dan akan aku jadikan padanya pintu dimana manusia masuk dari sana dan pintu dimana mereka keluar darinya). Ibn Zubair berkata “Maka aku hari ini, aku punya harta untuk aku infaqkan, dan aku tidak kawatir akan manusia”.

Jadi Ibn Zubair berani mengubah bentuk Ka’bah tidak lain adalah karena menuruti apa yang diinginkan Nabi Muhammad Saw.

Ibn Katsir berkata ; “Dan karena itulah, ketika Ibn Zubair mampu dan memungkinkan baginya, ia membangun Ka’bah sesuai apa yang Rasul Saw isyaratkan. Dan muncullah Ka’bah dalam keelokan, keindahan dan kemegahan yang tinggi, sempurna sesuai dengan qawaaid Ibrahim, mempunyai dua pintu yang menempel ditanah dibagian timur dan barat, dimana manusia masuk dari pintu ini, dan keluar dari pintu lainnya”.

Pembangunan Ka’bah Oleh Al-Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy

Ketika Al-Hajjaj berhasil menaklukkan Makkah dan membunuh Ibn Zubair, ia menulis surat kepada sang Khalifah yaitu Abdul-Malik Bin Marwan berisi apa yang telah dilakukan Ibn Zubair, ia menyangka Ibn Zubair melakukan itu dari pribadinya sendiri dan tidak berdasarkan hadist Nabi. Khalifah kemudian menjawab ; “Sesungguhnya kita tidak ada masalah apapun dari menodai Ibn Zubair. Adapun ketinggiannya yang bertambah maka tetapkanlah, adapun (panjang) yang bertambah darinya yaitu hijir, maka kembalikanlah kepada bangunannya yang semula. Dan tutuplah pintu yang ia buka!”. Maka Al-Hajjaj pun merobohkan Ka’bah dan mengembalikannya kepada bangunan semula. (Sohih Muslim)

Akan tetapi setelah mengetahui alas an sebenarnya Ibn Zubair merubah Ka’bah buatan Quraisy, Abdul-Malik menyesal dan berharap dulu ia membiarkannya.

Denah Ka'bah

Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Qozaah ;

أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ مَرْوَانَ بَيْنَمَا هُوَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ إِذْ قَالَ قَاتَلَ اللَّهُ ابْنَ الزُّبَيْرِ حَيْثُ يَكْذِبُ عَلَى أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ يَقُولُ سَمِعْتُهَا تَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا عَائِشَةُ لَوْلاَ حِدْثَانُ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَنَقَضْتُ الْبَيْتَ حَتَّى أَزِيدَ فِيهِ مِنَ الْحِجْرِ فَإِنَّ قَوْمَكِ قَصَّرُوا فِى الْبِنَاءِ ». فَقَالَ الْحَارِثُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى رَبِيعَةَ لاَ تَقُلْ هَذَا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ فَأَنَا سَمِعْتُ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ تُحَدِّثُ هَذَا. قَالَ لَوْ كُنْتُ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ أَهْدِمَهُ لَتَرَكْتُهُ عَلَى مَا بَنَى ابْنُ الزُّبَيْرِ.

Ketika Abdul-Malik Bin Marwan sedang thawaf di Baitullah tiba-tiba ia berkata “Celakalah Ibn Zubair ketika ia berbohong atas Ummul-Mukminin, Ia (Ibn Zubair) berkata “Aku mendengar Ummul-Mukminin berkata ; “Rasulullah Saw bersabda ; {Wahai Aisyah, Andaikata kaummu bukan baru saja dari masa kekufuran, tentu akan aku robohkan Ka’bah shingga aku tambahkan Hijir didalamnya, karena sesungguhnya kaummu tidak mampu dalam membangun}. Maka Al-Harist Bin Abdullah Bin Abi Rabi’ah berkata “Jangan berkata demikian wahai Amiirul-Mukminin, karena aku mendengar Ummul-Mukminin bercerita demikian”. Abdul-Malik berkata “Kalau seumpama aku mendengarnya sebelum aku merobohkannya tentu akau akan membiarkanya sesuai atas apa yang dibangun Ibn Zubair”.

Ketika zaman Khalifah Abbasiyyah salah seorang khalifah yaitu dimasa Harun Ar-Rasyid ingin mengembalikan Ka’bah sesuai bangunan Ibn Zubair. Ia bertanya terhadap Imam Malik mengenai Hal itu, beliau pun menjawab “Jangan jadikan Ka’bah mainan para penguasa sesudah engkau, tidak menginginkan seseorang untuk mengubahnya kecuali ia mengubahnya, sehingga hilanglah kewibawaannya dari manusia”. Akhirnya niat itupun diurungkan sang Khalifah dan jadilah Ka’bah seperti yang sekarang ini kita lihat.

Sumber ;

- Al-Quran

- Sahih Bukhori

- Sahih Muslim

- Sunan Tirmidzi

- Sunan Baihaqi

-Tafsir Ibn Katsir

- Sirah Nabawiyah, Ibn Katsir.

- Al-Azraqy, Tarikh Makkah.

- Al-Bouthy, Fiqih Sirah.

Tagged: , , , , , , , ,

§ 2 Responses to Sejarah Perkembangan Dan Pembangunan Ka’bah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sejarah Perkembangan Dan Pembangunan Ka’bah at Spirit Islam Inside.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers

%d bloggers like this: