Fitnah Wanita

June 25, 2012 § Leave a comment

بسم الله الرحمن الرحيم

Sesungguhnya salah satu fitnah agung yang menimpa manusia adalah fitnah wanita, fitnah ini tidak hanya merusak laki-laki saja, tapi bisa merusak keluarga, merusak generasi, bahkan akhirnya merusak agama dan negara.

“Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya. Itulah mengapa yang dihancurkan pertama kali oleh Yahudi adalah wanita.”

Ucapan diatas dilontarkan oleh Muhammad Quthb, dalam sebuah ceramahnya puluhan tahun silam. Muhammad Quthb adalah ulama Mesir yang concern terhadap pendidikan Islam sekaligus pemikir ulung abad 20. Ia tidak hanya dikenal sebagai aktivis yang gencar melakukan perlawanan terhadap rezim Imperialisme Mesir, namun juga cendekiawan yang terkenal luas ilmunya.

Mungkin terasa ganjil bagi kita, mengapa Yahudi sebagai bangsa yang pongah begitu takut dengan perempuan? Jawabannya sederhana: membiarkan seorang wanita tumbuh menjadi solihah adalah alamat “kiamat” bagi mereka. Jika seorang ibu yang solehah mengasuh 5 anak muslim di keluarganya untuk tumbuh menjadi generasi mujahid. Kita bisa hitung berapa banyak generasi yang bisa dihasilkan dari 800 juta perempuan muslim saat ini?[1]

Saat ini kita lihat, dimasa dimana segalanya seolah hanya dinilai dari uang dan materi, kaum wanita menjadi obyek exploitasi dari industri kapitalisme, mereka menjadikannya sebagai sebuah barang yang hanya dinilai dari bentuk fisiknya. Kaum wanita banyak dijadikan sebagai alat untuk mendongkrak pemasaran suatu produk, lihat saja bagaimana aurat wanita diumbar untuk promosi atau iklan suatu produk yang bisa kita saksikan di layar televisi, koran, majalah, reklame, pameran-pameran, dll.

Muncul pula even-even yang merendahkan martabat wanita, yang tujuan sebenarnya tak lebih dari kepentingan bisnis, seperti Miss Universe, Miss America, Miss Indonesia, dimana para wanita dianjurkan atau bahkan diwajibkan untuk membuka lebar-lebar auratnya. Begitu juga yang terjadi didunia hiburan.

Muncul pula aksi pornografi dan pornoaksi yang menyebabkan banyaknya terjadi perzinaan dan pelecehan sexual, pemerkosaan, dsb. Belum lagi adanya industri prostitusi dan perdagangan wanita yang menambah semarak proses exploitasi wanita.

Muncullah paham yang merusak kaum wanita, yakni Emansipasi Wanita.  Exploitasi wanita, pornografi dan pornoaksi  seperti yang disebutkan diatas adalah sekian diantara akibatnya. Selain itu paham ini juga menimbulkan berbagai persoalan rumah tangga diantaranya: menyebarnya kenakalan remaja akibat salah urus karena sang ibu sibuk dengan karier dan pekerjaan, munculnya perselingkuhan di kalangan keluarga, naiknya angka perceraian, dll. Menimbulkan penolakan dan penentangan terhadap hukum-hukum islam, seperti munculnya penolakan terhadap poligami, penolakan terhadap hukum waris, penolakan terhadap kewajiban menutup aurat, dll.  Menimbulkan pergaulan bebas akibat berbaurnya laki-laki dan perempuan tanpa adanya batasan, serta menyebarnya perzinaan dan praktek-praktek prostitusi di masyarakat dan tidak jarang diantaranya yang dilegalkan. Dan lebih parahnya lagi munculnya kaum homo dan lesbian yang dahulu sama sekali tidak dikenal oleh masyarakat islam.

Kenyataannya, semua ini memang sejalan dengan agenda Zionis Yahudi;

Program keempat dinamakan Libarim, dalam istilah Freemasonry :

  1. Melenyapkan etika klasik yang mengekang pergaulan muda-mudi, termasuk melalui penyebaran kebebasan seksual.
  2. Menghapus hukum yang melarang kawin antar-agama untuk menurunkan generasi bebas agama
  3. Pengembangan pendidikan seks di sekolah-sekolah
  4. Persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal “kedudukan waris” dan “pakaian”
  5. Menggembalakan pemuda-pemudi ke dunia khayali, dunia musik, dan narkoba.
  6. Mengorganisir kaum lesbian, gay, Lutherian serta pengakuan hak mereka dalam hukum.[2]

Peringatan Syara’ akan bahaya fitnah wanita

Allah berfirman;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imron 14)

Allah mengabarkan bahwa manusia dihias-hiasi kesenangan terhadap wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang, namun tetap dsertai peringatan bahwa ia adalah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Bahkan Allah memerintahkan Nabinya;

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imron 15)

Allah juga berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.  Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun 14)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

Dari Abdullah bin Mas’ud ”Wanita itu adalah aurat. Apabila ia keluar (rumah), maka setan akan menghiasi dirinya (sehingga dipandang indah di mata kaum laki-laki)” (HR. At-Tirmidzi )

عن أبى سعيد الخدرى رضى الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ان الدنيا خضرة حلوة وان الله مستخلفكم فيها لينظر كيف تعملون فاتقوا الدنيا واتقوا النساء فان اول فتنة بنى اسرائيل كانت من النساء

Dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Saw bersabda; “Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allah menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada bani Israil adalah karena wanita.” (Muslim)

عن اسامة بن زيد رضى الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما تركت بعدى فتنة اضر على الرجال من النساء

Dari Usamah bin Zaid Ra, Rasulullah Saw berkata ; “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita.” (Muttafaq ‘alaihi)

 

Kisah-kisah tentang akibat godaan fitnah wanita

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Al-A’rof 176)

Kisah Nabi Adam dan Hawa’

Ibnu Jarir Ath-Thabari meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan segolongan Sahabat Nabi RadliyaAllah anhum;

لما قال الله عز وجلّ لآدم:”اسكن أنتَ وزوجُك الجنة وكلا منها رغدًا حيث شئتما، ولا تقربا هذه الشجرةَ فتكونا من الظالمين”، أراد إبليس أن يدخل عليهما الجنة، فمنعته الخزَنة. فأتى الحية – وهي دابَّة لها أربعُ قوائم كأنها البعير، وهي كأحسن الدواب – فكلمها أن تُدخله في فمها حتى تدخل به إلى آدم، فأدخلته في فُقْمها – قال أبو جعفر: والفقم جانب الشدق – فمرت الحية على الخزنة فدخلت ولا يعلمون لما أراد الله من الأمر. فكلمه من فُقمها فلم يبال كلامه، فخرج إليه فقال:( يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لا يَبْلَى ) [سورة طه: 120] يقول: هل أدلك على شجرة إن أكلت منها كنت مَلِكًا مثل الله عز وجل، أو تكونا من الخالدين  ، فلا تموتان أبدًا. وحلف لهما بالله إني لكما لمن الناصحين. وإنما أراد بذلك ليبديَ لهما ما تَوارى عنهما من سَوْآتهما بهتكِ لباسهما. وكان قد علم أن لهما سوأة، لما كان يقرأ من كتب الملائكة، ولم يكن آدم يعلم ذلك. وكان لباسُهما الظُّفر، فأبى آدم أن يأكل منها، فتقدمت حواء فأكلت، ثم قالت: يا آدم كُلْ! فإني قد أكلتُ فلم يضرَّني. فلما أكل آدم بدت لهما سوآتُهما وَطفقا يَخصفان عليهما من ورق الجنة

 “Ketika Allah Swt berkata kepada Adam “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.”, Iblis bermaksud menemui mereka di Surga akan tetapi para penjaga Surga mencegahnya. Kemudian ia mendatangi ular yang pada waktu itu adalah hewan berkaki empat seperti halnya onta, ia seolah olah adalah hewan paling indah (waktu itu), Ia berbicara padanya agar memasukkan dirinya kedalam mulutnya sehingga ia bisa masuk dengannya untuk menemui Adam. Ular menuruti Iblis lalu memasukkan Iblis kedalam dagunya. Ia melewati para penjaga Surga dan masuk kedalamnya sedang para penjaga tidak tahu perkara apa yang Allah Swt kehendaki. Iblis lalu berbicara kepada Adam melalui bibir ular tapi Adam tidak memperdulikannya. Kemudian ia keluar dari mulut ular dan berkata pada Adam : “kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldidan kerajaan yang tidak akan binasa?”, Ia juga berkata “Apakah engkau mau aku tunjukkan sebuah pohon yang jika engkau makan engkau akan menjadi raja seperti halnya Allah Azza wa Jall, atau termasuk golongan orang-orang yang abadi dan kalian berdua tidak akan mati selamanya?”. Sembari berkta demikian Iblis bersumpah pada mereka atas nama Allah Swt bahwasanya sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang memberi nasehat (mengharap kebaikan). Pada iblis sesungguhnya dengan ucapanya hanya ingin agar Adam dan Hawa’ terbuka  apa-apa yang tertutup dari mereka berupa aurat (qubul dan dubur) mereka dengan merusak pakaian mereka. Iblis sebelumnya telah tahu bahwasanya Adam dan Hawa’ mempunyai aurat karena dulu ia pernah membaca kitab-kitab para malaikat, sedang Adam tidak tahu akan hal itu (adanya aurat), waktu itu pakaian mereka adalah Dzufr.[3] Maka adam menolak untuk memakannya, jadi ia  mendatangi Hawa’, lalu ia pun memakannya. Hawa’ lalu berkata “Wahai Adam, makanlah! Sesungguhnya aku telah memakannya dan ia tidak membahayakanku.”. kemudian ketika Adam memakannya tampaklah aurat mereka berdua dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.[4]

Maka sesungguhnya tipu daya Iblis itu lemah dihadapan laki-laki yang beriman dan teguh seperti Adam Alaihissalam, Allah berfirman;

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah. (An-Nisa’ 76)

Akan tetapi Iblis dengan cerdas memanfaatkan Hawa’ karena tipu daya wanita lebih kuat daripada tipu daya setan.

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya tipu daya kalian (wanita) adalah tipu daya yang besar.” (Yusuf 28)

Lihatlah kesaksian Rasulullah ketika ia berkata;

وَمَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِى لُبٍّ مِنْكُنَّ

“Aku tidak pernah melihat orang yang akal dan agamanya kurang, lebih mampu untuk mengalahkan orang yang bijak dibanding kalian (kaum wanita)” (Muttafaq Alaih)

Dari itu setan banyak menggunakan wanita untuk merusak kaum laki-laki;

عن عبد الله : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : إن المرأة عورة فإذا خرجت استشرفها الشيطان

Dari Abdullah bin Mas’ud Ra, Rasulullah Saw bersabda; “Wanita itu adalah aurat, maka apabila ia keluar (dari rumahnya), setan akan menghiasinya.” (Tirmidzi)

Berkata Al-Imam Abul ‘Ala’ Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan makna hadits ini;

فإذا خرجت استشرفها الشيطان ) أي زينها في نظر الرجال وقيل أي نظر إليها ليغويها ويغوى بها

والأصل في الاستشراف رفع البصر للنظر إلى الشيء وبسط الكف فوق الحاجب والمعنى أن المرأة يستقبح بروزها وظهورها فإذا خرجت أمعن النظر إليها ليغويها بغيرها ويغوي غيرها بها ليوقعهما أو أحدهما في الفتنة

أو يريد بالشيطان شيطان الإنس من أهل الفسق سماه به على التشبيه

Sabda Nabi Saw “Bila wanita keluar, setan akan menghiasinya”  yakni setan menghiasinya di mata laki-laki. Juga dikatakan, maknanya, setan memandang pada wanita tersebut untuk menyesatkannya dan menyesatkan (manusia) dengannya. Dan makna asal (الاستشراف) adalah mengangkat pandangan untuk melihat sesuatu dan dengan meletakkan telapak tangan diatas alis. Maknanya, wanita itu dianggap jelek keluarnya dan penampakannya, kemudian ketika ia keluar setan mencurahkan pandangan untuk menyesatkannya dengan orang lain, dan menyesatkan orang lain dengannya agar dapat menjatuhkan mereka berdua atau salah satunya kedalam fitnah.

Atau bisa saja yang dimaksud setan adalah setan manusia berupa orang orang ahli kefasikan, dinamakan setan atas dasar tasybih (penyerupaan)[5]

Dan ketika kaum laki-laki rusak maka rusaklah urusan seluruh manusia, dikarenakan banyaknya beban kewajiban yang Allah limpahkan kepada mereka.

Kisah Abdurrahman bin Muljam

Seperti kisah Adam dan Hawa adalah kisah Abdurrahman bin Muljam ketika ia menyanggupi membunuh Sahabat Ali Ra untuk memenuhi syarat dari wanita yang akan di nikahinya.

Merupakan kekeliruan jika ada yang menganggap ‘Abdur-Rahmân bin Muljam dahulu seorang yang jahat. Sebelumnya, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam ini dikenal sebagai ahli ibadah, gemar berpuasa saat siang hari dan menjalankan shalat malam. Namun, pemahamannya tentang agama kurang menguasai.

Meski demikian, ia mendapat gelar al-Muqri`. Dia mengajarkan Al-Qur`ân kepada orang lain. Tentang kemampuannya ini, Khalifah ‘Umar bin al Khaththab sendiri mengakuinya. Dia pun pernah dikirim Khaliifah ‘Umar ke Mesir untuk memberi pengajaran Al-Qur`ân di sana, untuk memenuhi permintaan Gubernur Mesir, ‘Amr bin al-’Aash, karena mereka sedang membutuhkan seorang qâri.

Dalam surat balasannya, ‘Umar menulis: “Aku telah mengirim kepadamu seorang yang shâlih, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam. Aku merelakan ia bagimu. Jika telah sampai, muliakanlah ia, dan buatkan sebuah rumah untuknya sebagai tempat mengajarkan Al-Qur`ân kepada masyarakat”.

Sekian lama ia menjalankan tugasnya sebagai muqri`, sampai akhirnya benih-benih pemikiran Khawârij mulai berkembang di Mesir, dan berhasil menyentuh ‘âthifah (perasaan)nya, hingga kemudian memperdayainya.[6]

Imam Imam Abu Al-Faraj bin Al-Jauzi (Ibnul Jauzi) menceritakan dengan sanadnya;

أن عبد الرحمن بن ملجم لعنه الله رأى امرأة من تيم الرباب يقال لها قطام وكانت من أجمل النساء ترى رأى الخوارج قد قتل قومها على هذا الرأي يوم النهروان فلما أبصرها عشقها فخطبها فقالت لا أتزوجك إلا على ثلاثة آلاف وقتل علي بن أبي طالب فتزوجها على ذلك فلما بنى بها قالت له يا هذا قد فرغت فافرغ فخرج متلبسا سلاحه وخرجت قطام فضربت له قبة في المسجد وخرج علي يقول الصلاة الصلاة فأتبعه عبد الرحمن فضربه بالسيف على قرن رأسه فقال الشاعر

لم أر مهرا ساقه ذو سماحة … كمهر قطام بيننا غير معجم

ثلاثة آلاف وعبد وقينة … وقتل علي بالحسام المصمم

فلا مهر أغلى من علي وإن غلا … ولافتك إلا دون فتك ابن ملجم

Suatu ketika, Abdurrahman bin Muljam melihat wanita dari Taim Ar-Rabbab yang biasa dipanggil Qatham. Ia merupakan wanita yang paling cantik, tetapi berpaham khawarij. Kaum wanita tersebut telah dibunuh karena mengikuti paham khawarij pada perang An-Nahrawan. Ketika Ibnu Muljam melihatnya, dia jatuh cinta padanya lalu melamarnya. Wanita ini mengatakan, “Aku tidak menikah denganmu kecuali dengan syarat mahar 3000 dinar dan membunuh Ali bin Abi Thalib”. Akhirnya, dia menikahinya dengan syarat tersebut. Ketika telah bersua dengannya, wanita ini berkata, “Hai! Kamu telah menyelesaikan (hajatmu). Pergilah!” Ia pun keluar dengan menyandang senjatanya, dan Qatham juga keluar. Lalu, Qatham membuatkan ia kemah dalam masjid. Ketika ‘Ali keluar sambil menyerukan, “Shalat! shalat!”, Ibnu Muljam mengikutinya dari belakang lalu menebasnya dengan pedang pada batok kepalanya. Tentang hal ini, seorang penyair berkata,

Aku tidak melihat mahar yang dibawa oleh orang yang punya kehormatan
Seperti mahar Qatham yang sedemikian jelas tidak samar
Mahar 300 dinar, hamba sahaya, biduanita
Dan membunuh ‘Ali dengan pedang yang tajam
Tidak ada mahar yang lebih mahal dari Ali meskipun berlebihan

Tidak ada kebengisan yang Melebihi kebengisan Ibnu Muljam[7]

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ibnu Muljam: “Sebelumnya, ia adalah seorang ahli ibadah, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, akhir kehidupannya ditutup dengan kejelekan (su`ul khâtimah). Dia membunuh Amirul-Mu’minin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui tetesan darahnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ampunan dan keselamatan bagi kita”.[8]

Tentang Abdurrahman bin Muljam dan orang-orang yang serupa dengannya, Rasul Saw bersabda;
عن حذيفة- رضي اللّه عنه  قال: قال رسول اللّه – صلى الله عليه وسلم -: “إن مما أتخوف، عليكم رجل قرأ القرآن حتى إذا رئيت بهجته عليه وكان رداء الإسلام اعتراه، إلى ما شاء اللّه انسلخ منه، ونبذه وراء ظهره، و سعى على جاره بالسيف، ورماه بالشرك قال: قلت: يا نبي اللّه، أيهما أولى بالشرك المرمي أو الرامي؟ قال: بل الرامي”

“Sesungguhnya sesuatu yang aku takutkan atas kalian adalah seorang laki-laki yang membaca al-Qur’an, sehingga setelah ia kelihatan indah karena al-Qur’an dan menjadi penolong agama Islam, ia merubahnya pada apa yang telah menjadi kehendak Allah. Ia melepaskan dirinya dari al-Qur’an, melemparnya ke belakang dan menyerang tetangganya dengan pedang dengan alasan telah syirik.” Aku bertanya: “Wahai Nabi Allah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak menyandang kesyirikan, yang dituduh syirik atau yang menuduh?”Beliau menjawab: “Justru orang yang menuduh syirik (yang lebih berhak menyandang kesyirika).” (HR. Abu Nu’aim & Al Bazzar)

 

Kisah Bal’am bin Ba’ura dan Bani Isra’il

Bal’am bin Ba’ura adalah seorang ahli ibadah yang mempunyai doa yang mustajab, ia melakukan makar kepada Bani Israel melalui wanita yang mengakibatkan tujuh puluh ribu dari mereka tewas. Ibnu Katsir meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq bin Yasar meriwayatkan dari Salim Abi an-Nadhar ia bercerita;

أن موسى، عليه السلام، لما نزل في أرض بني كنعان من أرض الشام، أتى قوم بلعام إليه فقالوا له: هذا موسى بن عمران في بني إسرائيل، قد جاء يخرجنا من بلادنا ويقتلنا ويحلها بني إسرائيل، وإنا قومك، وليس لنا منزل، وأنت رجل مجاب الدعوة، فاخرج فادع الله عليهم. قال: ويلكم! نبي الله معه الملائكة والمؤمنون، كيف أذهب أدعو عليهم، وأنا أعلم من الله ما أعلم؟!

Sesungguhnya, Tatkala Musa As singgah disuatu daerah bani Kan’an, yaitu dibagian wilayah Syiria. Kaum Bal’am mendatanginya. Lalu berkata; “Orang ini adalah Musa bin Imran yang berada di tengah-tengah bani Israel. Dia telah datang untuk mengusir kami dari negeri kami, untuk membunuh kami dan menempatkan bani Irael di sana. Sesungguhnya kami adalah kaummu juga, kami tidak memiliki tempat tinggal, sedang engkau adalah orang yang dikabulkan do’anya. Pergilah dan do’akanlah mereka (bani israel) dengan keburukan. Bal’am berkata : “Celakalah kamu! Nabi Allah itu disertai oleh para malaikat dan kaum mukminin. Bagaimana mungkin aku pergi untuk mendo’akan buruk pada mereka padahal aku mengetahui dari Allah apa yang aku ketahui”.

 قالوا له: ما لنا من منزل! فلم يزالوا به يرققونه ويتضرعون إليه، حتى فتنوه فافتتن، فركب حمارة  له متوجهًا إلى الجبل الذي يطلعه على عسكر بني إسرائيل، وهو جبل حُسْبان، فلما سار عليها غير كثير، ربضت به، فنزل عنها فضربها، حتى إذا أذلقها قامت فركبها. فلم تسر به كثيرًا حتى ربضت به، فضربها حتى إذا أذلقها أذن الله لها فكلمته حجة عليه، فقالت: ويحك يا بلعم: أين تذهب؟ أما  ترى الملائكة أمامي تردني عن وجهي هذا؟ أتذهب إلى نبي الله والمؤمنين لتدعو عليهم؟ فلم ينزع عنها يضربها، فخلى الله سبيلها حين فعل بها ذلك. فانطلقت به حتى إذا أشرفت به على رأس حسبان، على عسكر موسى وبني إسرائيل، جعل يدعو عليهم، ولا يدعو عليهم بشر إلا صرف الله لسانه إلى قومه، ولا يدعو لقومه بخير إلا صرف لسانه إلى بني إسرائيل.

Mereka kembali berkata : “Kami tidak akan punya tempat tinggal” mereka terus memelas dan memohon hingga Bal’am pun terfitnah sehingga dia pergi menuju ke sebuah gunung yang dapat mengintai pasukan bani Israel. Gunung itu bernama Husban. Ketika ia baru berjalan tidak lama, keledai itu duduk tidak mau berjalan, ia pun turun memukulnya sehingga sampai ketika ia membuat keledai itu payah, keledai itu berdiri dan ia pun menungganginya.

Belum lama berjalan, keledai itu duduk lagi, ia pun memukulinya sehingga ketika ia membuat keledai itu payah, Allah mengijinkannya untuk berbicara, maka ia pun berbicara pada Bal’am “Aduhai Bal’am kemana kau akan pergi? Apakah kau tidak melihat para malaikat di depanku memalingkan wajahku seperti ini? Apakah kau akan pergi kepada Nabi Allah dan kaum Mukminin untuk mendoakan kejelekan kepada mereka?”. Tapi Bal’am masih tiada henti memukulinya, maka Allah pun melepaskannya (membiarkannya berjalan) ketika Bal’am tetap melakukan itu pada keledainya.

Ia pun berjalan dengan keledainya sehingga ketika Bal’am berada di puncak Husban dan melihat pasukan Musa serta Bani Israel, maka ia mulai mendo’akan buruk kepada mereka. Tidaklah ia mendo’akan buruk kepada mereka kecuali Allah membelokkan lisannya ke arah kaumnya sendiri. Dan tidaklah dia mendo’akan baik kepada kaumnya melainkan Dia membelokkan lisannya kepada Bani Israel.

 فقال له قومه: أتدري يا بلعم ما تصنع؟ إنما تدعو لهم، وتدعو علينا! قال: فهذا ما لا أملك، هذا شيء قد غلب الله عليه! قال: واندلع لسانه فوقع على صدره، فقال لهم: قد ذهبت مني الآن الدنيا والآخرة، ولم يبق إلا المكر والحيلة، فسأمكر لكم وأحتال، جَمِّلوا النساء وأعطوهن السلع، ثم أرسلوهن إلى العسكر يبعنها فيه، ومروهن فلا تمنع امرأة نفسها من رجل أرادها، فإنهم إن زنى رجل منهم واحد كُفِيتموهم، ففعلوا.

Kaumnya berkata kepada Bal’am, “Hai Bal’am, tahukah kamu apa yang telah kau lakukan? sesungguhnya engkau mendo’akan kebaikan kepada mereka dan mendo’akan keburukan kepada kami”. Bal’am berkata : Inilah yang tidak aku miliki”. Sesungguhnya ini adalah perkara yang Allah telah menguasakannya padaku. Dan jadilah lidahnya menjulur panjang sehingga sampai ke dadanya.

 Kemudian ia berkata pada kaumnya, “Sekarang hilanglah sudah dariku dunia dan akhirat. Tidak tersisa lagi padaku kecuali tipu daya dan muslihat. Aku akan melancarkan muslihat bagi kepentinganmu. Dandanilah kaum wanita dan berilah mereka barang dagangan, kemudian kirimkanlah kepada pasukan Musa untuk menjualnya di sana. Suruhlah mereka agar tidak menolak keinginan seseorang yang menghendaki tubuhnya. Sesungguhnya jika salah seorang di antara mereka berzina, maka cukuplah hal itu (untuk mencelakakan mereka).”

 فلما دخل النساء العسكر، مرت امرأة من الكنعانيين اسمها “كسبي ابنة صور، رأس أمته” برجل من عظماء بني إسرائيل، وهو “زمرى بن شلوم”، رأس سبط بني شمعون بن يعقوب بن إسحاق بن إبراهيم، عليهم السلام، فقام إليها، فأخذ بيدها حين أعجبه جمالها، ثم أقبل بها حتى وقف بها على موسى، عليه السلام، فقال: إني أظنك ستقول هذا حرام عليك؟ قال: أجل، هي حرام عليك، لا تقربها. قال: فوالله لا نطيعك في هذا. ثم دخل بها قبته فوقع عليها. وأرسل الله، عز وجل، الطاعون في بني إسرائيل،

Setelah kaum wanita memasuki perkemahan pasukan Musa, lewatlah seorang wanita yang bernama Kasba binti Shur pemimpin kaumnya pada seorang pembesar bani Israel yang bernama Zamry bin Syalum pemimpin suku Bani Syam’un bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Ketika dia melihat wanita itu, maka bangkitlah ia kepadanya seraya memegang tangannya ketika ia terpesona olehnya dan membawanya kepada Musa. Ia (Zamry) berkata “Aku kira kamu akan mengatakan bahwa wanita ini haram bagiku?.” Musa berkata, “Benar, wanita ini haram bagimu dan jangan kau dekati.” Ia menjwab “Demi Allah aku tidak akan menurutimu untuk masalah ini”. Ia pun membawa wanita itu ke kemahnya dan menyetubuhinya. Kemudian Allah Azza wajalla mengirimkan penyakin Tho’un kepada bani Israel.

 وكان فنحاص بن العيزار بن هارون، صاحب أمر موسى، وكان غائبا حين صنع زمرى بن شلوم ما صنع، فجاء والطاعون يجوس في بني إسرائيل، فأخبر الخبر، فأخذ حربته، وكانت من حديد كلها، ثم دخل القبة وهما متضاجعان، فانتظمهما بحربته، ثم خرج بهما رافعهما إلى السماء، والحربة قد أخذها بذراعه، واعتمد بمرفقه على خاصرته، وأسند الحربة إلى لَحْيَيْه -وكان بكر العيزار -وجعل يقول: اللهم هكذا نفعل بمن يعصيك. ورفع الطاعون، فحسب من هلك من بني إسرائيل في الطاعون فيما بين أن أصاب زمرى المرأة إلى أن قتله فنحاص، فوجدوه قد هلك منهم سبعون ألفا -والمقلل لهم يقول: عشرون ألفا -في ساعة من النهار. فمن هنالك تعطي بنو إسرائيل ولد فنحاص من كل ذبيحة ذبحوها القبة والذراع واللَّحَى -لاعتماده بالحربة على خاصرته، وأخذه إياها بذراعه، وإسناده إياها إلى لحييه -والبكر من كل أموالهم وأنفسهم؛ لأنه كان بكر أبيه العيزار. ففي بلعام بن باعوراء أنزل الله: { وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا [ فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ ] } (3) -إلى قوله: { لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ } (4)

Adalah Finhash bin al-Aizar bin Harun pembantu Musa yang sedang tidak ada waktu Zamry bin Syalum melakukan apa yang telah dilakukannya. Ia datang sementara Tho’un sudah merajalela diantara mereka. Dia mendapat informasi yang sesungguhnya. Kemudian ia mengambil sangkurnya yang seluruhnya terbuat dari besi. Ia kemudian memasuki kemah dan ternyata laki-laki dan wanita tersebut sedang tidur berbaring. Kemudian ia menusuk keduanya sekaligus dengan sangkurnya sehingga menjadi satu. Finhash keluar membawa keduanya sambil mengacungkannya ke langit, ia telah ambil sangkurnya dengan lengannya, sikunya ia lekatkan pada lambung, lalu ia tempelkan sangkurnya pada dagunya, ia adalah anak pertama Al-Aizar, Dia berkata, “Ya Allah, demikianlah yang kami lakukan terhadap orang yang mendurhakaimu.” Maka lenyaplah penyakit Tho’un. Dihitung-hitung Jumlah korban yang tewas mulai dari waktu keika Zamri menyetubuhi sang wanita hingga sampai Finhash membunuhnya paa waktu siang mencapai tujuh puluh ribu orang, orang yang mempersedikit hitungan mengatakan dua puluh ribu orang. Dari situ anak-anak Finhash pada setiap sembelihan yang mereka sembelih,  lambung, lengan dan dagu (hewan yang disembelih), dikarenkan ia menyandarkan sangkurnya pada lambungnya, mengambilnya dengan lengannya, dan menempelkannya pada dagunya, memberikan yang terbaik dari harta mereka dan gadis mereka, dikarenakan ia adalah anak pertama Al-Aizar.

Sehubungan dengan Bal’am bin Baurah, Allah berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri daripadanya -sampai firman Allah- agar mereka berpikir.”[9]

Maka, jika dahulu ada Bal’am yang merusak Bani Isra’il melalui wanita, sekarang ada Yahudi melalui Fremasonry yang merusak umat Islam juga melalui wanita. Dalam hal Rasul Saw memperingatkan dengan keras melalui sabdanya;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Dari Abdullah bin Umar dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajah ke kami dan bersabda: “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya; Tidaklah kekejian (mesum) menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim. Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan saling memerangi di antara mereka.” (HR Ibnu Majah, Al-Bazar dan Al-Baihaqi)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« مَا نَقَضَ قَوْمٌ الْعَهْدَ قَطُّ إِلاَّ كَانَ الْقَتْلُ بَيْنَهُمْ وَلاَ ظَهَرَتِ الْفَاحِشَةُ فِى قَوْمٍ قَطُّ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْمَوْتَ وَلاَ مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلاَّ حَبَسَ اللَّهُ عَنْهُمُ الْقَطْرَ ».

Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah suatu kaum merusak janji sama sekali kecuali akan ada pembunuhan di antara mereka. Dan tidaklah perzinaan nampak di suatu kaum kecuali Allah akan menguasakan kematian atas mereka, dan tidaklah suatu kaum menahan zakat kecuali Allah akan menahan hujan dari mereka. (HR Al-Hakim, dan rAl-Baihaqi)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Apabila zina dan riba telah nampak di suatu kampung maka sungguh mereka telah menghalalkan diri mereka ketetapan (adzab) Allah ‘Azza wa Jalla. (HR At-Thabrani, Al-Hakim dan Al-baihaqi)

 

Kedudukan wanita dalam Islam

Ketika melihat Ayat-ayat maupun Hadits seperti diatas, terkadang terlintas dalam pikiran bahwa Islam merendahkan wanita, seperti yang didengung-dengungkan para orientalis dan aktifis feminis. Yang demikian adalah kebohongan yang nyata! Lihatlah di negara mereka, bagaimana wanita direndahkan dengan exploitasi, dan lihatlah pada negara-negara muslim yang menjalankan Syariat! Bagaimana wanita dilindungi dan dihormati.

Adalah suatu keniscayaan ketika Allah melebihkan sesuatu ciptaanNya akan sesuatu yang lain, seperti ketika Allah melebihkan manusia atas makhluk lainnya, menciptakan yang kaya dan yang miskin. Begitu juga melebihkan pria atas wanita dengan kemampuan fisik dan mentalnya. Allah berfirman;

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum laki-laki itu adalah penanggung jawab (yang mengatur, menjaga dan memelihara) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (An-Nisa’ 24)

Yang demikian adalah ujian bagi kita, apakah mau menerima keputusannya dengan bersyukur atau membangkang dengan kufur.

وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-An’am 165)

وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

Dan Demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka dengan sebahagian mereka, supaya mereka berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?” (Al-An’am 53)

Maka barang siapa yang mengingkari dan tidak terima atas fadlal yang Allah berikan pada laki-laki, sungguh ia telah berlaku sebagaimana Iblis ketika tidak terima atas fadlal yang Allah berikan kepada Adam. Yang akibatnya ia berhak berendam dalam api neraka yang gelap dan tak ujung padam.

Beginilah Allah melebihkan suatu makhlukNya dalam hal ciptaan, entah fadlal berupa bentuk atau berupa sifat, akan tetapi itu tidaklah menunjukkan bahwa makhluk itu lebih Allah sayangi daripada yang lain. Lihatlah apa yang diberikan Allah kepada orang-orang kafir lalu bandingkan dengan orang mukmin, apakah dengan begitu Allah lebih mencintai orang kafir?! Tidak bukan?

Jika demikian, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada keutamaan bagi Allah dari seorang manusia entah itu pria maupun wanita, hitam maupun putih, miskin atau kaya kecuali mereka mau bertakwa dan beramal saleh. Allah berfirman;

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu (QS. 49.13)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 16.97)

Rasul Saw bersabda;

عنْ أبي هريرةَ عبدِ الرحمانِ بنِ صخرٍ – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ ، ولا إِلى صُوَرِكمْ ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم

Sesungguhnya Allah tidak memandang pada badanmu, dan tidak pada bentukmu, akan tetapi Ia memandang pada hati kalian dan amal-amal kalian. (HR. Muslim) 

Jadi, dalam kedudukan agama laki-laki dan wanita sama saja, bahkan banyak wanita yg lebih mulia daripada laki-laki disebabkan kedalaman ilmu, ketakwaan dan amal ibadahnya. Sebut saja siti Maryam, Khadijah, Fathimah, ‘Aisyah, Rabi’ah Al-Adawiyyah, dsb.

Mari kita lihat ucapan dan perbuatan Nabi Saw dalam meninggikan derajat kaum wanita. Menyangkut posisinya sebagai seorang istri;

عن جابر رضي الله عنه قال وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً سَهْلاً إِذَا هَوِيَتْ الشَّيْءَ تَابَعَهَا عَلَيْهِ

Dari jabir Ra, ia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang lelaki yang pengertian, jika (Aisyah) menghendaki sesuatu maka beliau mengikutinya.” (HR. Muslim)

 عن أم المؤمنين عائشة رضى الله عنها قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي

Dari Ummul Mukminin, Aisyah Ra, Rasulullah Saw bersabda; “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku”. (HR. Tirmidzi)

Mengenai kedudukanya sebagai seorang ibu beliau memerintahkan untuk mengutamakannya melebihi sang ayah :

عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ قال : جاء رجل إلى رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقال : يا رسول الله : من أحق الناس بحسن صحابتي ؟ قال : أمك . قال : ثم من ؟ قال : أمك . قال : ثم من ؟ قال : أمك . قال ثم من ؟ قال : ثم أبوك

Dari Abu Hurairah Ra. Beliau berkata ; seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw lalu berkata “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang lebih berhak aku baguskan pertemanannya?”. Rasul menjawab “Ibumu”. Laki-laki itu berkata “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab “Kemudian ibumu”. Laki-laki itu berkata “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab “Kemudian ibumu”. Laki-laki itu berkata lagi “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab “Kemudian ayahmu”. (HR. Muslim)

Beliau Saw bersabda;

عن المغيرة بن شعبة قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم : إن الله حرم عليكم عقوق الأمهات ووأد البنات ومنع وهات . وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال وإضاعة المال

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Muttafaq alaih)

Dan mengenai kedudukannya sebagai anak, dapat kita lihat dari apa yang beliau perbuat kepada putrinya Fathimah yang diriwayatkan Imam Bukhori dalam kitab Al-Adab Al-Mufrod :

عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت : ما رأيت أحدا كان أشبه حديثا وكلاما برسول الله صلى الله عليه وسلم من فاطمة . وكانت إذا دخلت عليه قام إليها فرحب بها وقبلها وأجلسها في مجلسه

Dari ‘Aisyah Ummul mukminin Ra. Beliau berkata : “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih serupa perkataan dan ucapannya dengan rasulullah daripada Fathimah. Jika ia masuk kedalam rumah Nabi, beliau berdiri menghadapnya, kemudian menyambut kedatanganya, menciumnya dan menempatkannya pada tempat duduknya”. (HR. Bukhari, Al-Adab Al-Mufrod, disahihkan oleh Al-Bani)

Beliau juga bersabda;

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ ». وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

Dari Anas bin Malik Ra, Rasulullah Saw bersabda; “Barangsiapa mengasuh dua anak gadis hingga keduanya dewasa, maka dia kelak datang di hari Kiamat, aku dan dia ….(Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan merapatkan jarinya).” (HR. Muslim)

Islam juga telah menetapkan hak-hak mereka, misal hak waris, hak menuntut cerai, hak untuk mendapat perlakuan baik, dsb. Nah, jika engkau lihat bagaimana Arab Jahiliyyah[10] memperlakukan kaum wanitanya, kemudian engkau perhatikan bagaimana sikap Nabi Saw terhadap kaum wanita, engkau akan tahu bahwa beginilah cara Nabi merubah adat jahiliyyah bangsa Arab, dan beginilah cara Islam memperlakukan kaum wanitanya.


Bagaimana Islam memadamkan api fitnah wanita

Sesungguhnya Syari’at Allah adalah jalan yang luhur, yang mengatur dan menjelaskan setiap dimensi kehidupan manusia mulai dari awal penciptaan, tujuan ia diciptakan, dan kemanakah akhir dari perjalanan. Semuanya demi kemaslahatan umat manusia. Aturan-aturan Allah ini tiada cacat suatu apa, bijak, selalu sesuai dengan setiap masa, dan tidak ada satupun yang berniat mendzalimi manusia.

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya (Fusshilat 46)

Maka barang siapa mengatakan “Syari’at Islam bersikap diskriminatif terhadap perempuan”, “Syari’at Islam tidak sesuai dengan perkembanagan zaman”, sungguh ia telah murtad dari agama Islam. Dari mana mereka mengatakan ini?? Apakah mereka mengira mereka lebih pintar dan bijak dari pada Allah tuhan yang telah menciptakan mereka? Sekali-kali tidak!!

Ketahuilah saudaraku, Allah mensyari’atkan Syari’at khusus bagi wanita adalah karena dua hal;

Pertama, karena perbedaan kemampuan yang Allah berikan kepada mereka dari laki-laki. Dalam kategori ini, aturan yang Allah berikan pada laki-laki lebih berat dari pada yang diberikan pada wanita, sebagai imbas dari fadlal yang Allah berikan pada mereka. Seperti kata pepatah “Dibalik kekuatan yang besar, ada tanggung jawab yang besar”.

Kedua, untuk meredam api fitnah yang muncul dari keberadaannya. Pada poin yang kedua ini, aturan ini tidak hanya terkhusus untuk wanita, ada juga yang untuk kaum laki-laki, tapi lebih banyak ditujukan dan ditekankan[11] untuk wanita dikarenakan sikap wanita yang lebih pemalu, cenderung pasif dan sulit untuk terangsang gairahnya. Berbeda dengan kaum laki-laki yang lebih mudah bangkit syahwatnya dan lebih berani mengungkapkannya dalam bentuk tindakan maupun ucapan yang berpotensi menyebabkan gangguan dan bahaya bagi kaum wanita. Jadi aturan ini, bukanlah bentuk sikap diskriminatif Allah pada wanita, tapi justru merupakan perlindungan bagi mereka sebagai wujud kasih sayangNya yang tiada terkira bagi wanita.

Diceritakan, Seorang lelaki Inggris bertanya kepada seorang Syaikh; “Kenapa dalam Islam wanita tidak boleh berjabat tangan dengan pria?” Syaikh menjawab; “Bisakah kamu berjabat tangan dengan Ratu Elizabeth? Lelaki Inggris menjawab; “Oh tentu tidak bisa! cuma orang-orang tertentu saja yg bisa berjabat tangan dengan Ratu. “Syaikh tersenyum dan berkata; “Wanita-wanita kami (Kaum muslimah) adalah para Ratu, dan Ratu tidak boleh berjabat tangan dengan pria sembarangan (yang bukan mahramnya).”.

Lalu lelaki Inggris itu bertanya lagi; “Kenapa perempuan Islam menutupi tubuh dan rambut mereka?” Syaikh tersenyum dan memperlihatkan dua buah permen, ia membuka yang pertama terus yang satu lagi tertutup. Syaikh melemparkan keduanya ke lantai yang kotor. Syaikh bertanya: “Jika saya meminta anda untuk mengambil satu permen, mana yang anda pilih?” Lelaki itu menjawab;  “Yang tertutup..”. Syaikh berkata; “Itulah cara kami memperlakukan dan melihat perempuan kami.”.

Nah, diantara aturan-aturan itu adalah;

Menutup aurat dengan Jilbab dan Khimar (Kerudung)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur:31)

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِى بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَالَ « يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا ». وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ.

Dari Aisyah Ra Ia berkata; Bahwasanya Asma’ bintu Abi Bakar menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya & berkata, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah mendapatkan haidh, tak pantas terlihat dari dirinya kecuali ini & ini”, beliau menunjuk wajahnya & kedua telapak tangannya.  (H.R. Abu Dawud dan Aisyah)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; kaum membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia memukuli orang dan wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan condong (jauh dari ketaatan), rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.” (HR. Muslim)

 

Anjuran menjaga pandangan

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q.S. An-Nur:30)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya”. (An-Nur:31)

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَنْظُرُ إِلَى مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ أَوَّلَ مَرَّةٍ ثُمَّ يَغُضُّ بَصَرَهُ إِلَّا أَحْدَثَ اللَّهُ لَهُ عِبَادَةً يَجِدُ حَلَاوَتَهَا. رواه أحمد

Tidaklah seorang muslim sedang melihat keindahan wanita kemudian ia menundukan pandangannya, kecuali Allah akan menggantinya dengan ibadah yang ia dapatkan kemanisannya” (H.R. Ahmad)

عن أبي حكيم قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”ثَلاثَةٌ لا تَرَى أَعْيُنُهُمُ النَّارَ: عَيْنٌ حَرَسَتْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ

Dari Abu Hakim, Rasul Saw Bersabda; “Tiga orang yang mata mereka tidak akan melihat api neraka, yakni mata yang terjaga di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang memejam dari apa yang diharamkan oleh Allah”  (HR. Thabrani)

Larangan bercampur (ikhtilath) antara pria dan wanita

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. (Al-Ahzab 53)

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -، قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ.

Dari Uqbah bin Amir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian masuk ke dalam tempat kaum wanita.” Lalu seorang laki-laki dari Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” beliau menjawab: “Ipar adalah maut.” (HR. Bukhari)

Imam Al-Baghawi dalam menerangkan hadits ini mengatakan : “Al-Hamwu jamaknya Ahma’ yaitu keluarga laki-laki dari pihak suami dan keluarga perempuan dari pihak istri. Dan yang dimaksudkan di sini adalah saudara laki-laki suami (ipar) sebab dia bukan mahram bagi istri. Dan bila yang dimaukan adalah ayah suami sedang ayah suami adalah mahram, maka bagaimana lagi dengan yang bukan mahram ?”.

Tentang kalimat “Al-Hamwu adalah maut”; Ibnul-‘Arabi berkata : “Ini adalah kalimat yang diucapkan oleh orang Arab, sama dengan ungkapan : Serigala adalah maut. Artinya, bertemu serigala sama dengan bertemu maut”.[12]

قال بعض الحكماء: إياك ومخالطة النساء، فإن لحظ المرأة سهم، ولفظها سم

Sebagian Ahli Hikmah berkata; Jauhilah bercampur dengan wanita, dikarenakan tatapan mereka adalah anak panah, dan ucapan mereka adalah racun.

قال سليمان بن داود عليهما السلام لابنه: امش وراء الأسد ولاتمش وراء المرأة

Nabi Sulaiman bin Dawud Alaihimassalam berkata pada putranya; “Berjalanlah dibelakang singa, tapi jangan kau berjalan dibelakang wanita”. [13]

Anjuran menetapi rumah[14] dan larangan keluar dengan Tabarruj (bersolek) dan yang dapat menarik perhatian lawan jenis

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى

”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” ( Al-Ahzaab : 33)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صل الله عليه وسلم قَالَ: ” الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “

Dunia adalah kesenangan dan sebaik baiknya kesenangan adalah istri yang sholihah. (HR. Muslim)

Adapun yang dimaksud wanita saleh adalah apa yang disebutkan dalam Hadits;

عن ابن عباس أن عمر بن الخطاب قَالَ لَهُ النبي صل الله عليه وسلم : أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ

Dari Ibnu Abbas Ra, Rasul  Saw bersabda kepada Umar : “Maukah kamu aku kabarkan dengan sesuatu yang paling berharga dari apa yang disimpan oleh seseorang? Wanita sholihah, jika dipandang maka dia menyenangkan, jika diperintahkan maka dia taat, dan jika suaminya tidak ada maka dia menjaganya”. (HR. Abu Dawud)

وعن أبي أمامة رضي الله عنه كان يقول: ما استفاد المؤمن بعد تقوى الله عز وجل خيراً له من زوجة صالحة إن أمرها أطاعته، وإن نظر إليها سرته، وإن أقسم عليها أبرته، وإن غاب عنها حفظته في نفسها وماله
“Tidak ada perkara yang lebih bagus bagi seorang mukmin setelah bertaqwa kepada Allah daripada istri yang sholihah, bila ia menyuruhnya maka ia mentaatinya, bila ia memandangnya membuat hati senang, bila meminta dengan bersumpah maka ia melaksanakannya, dan bila ia pergi maka ia dengan tulus menjaga diri dan hartanya.” (HR Ibnu Majah)[15]

Maka jelas dari hadits diatas bahwa istri yang shaleh diantara kriterianya adalah ketika suami pergi, ia menjaga diri dan menjaga harta suaminya, dan tentu tidak mungkin itu terjadi jika sang istri malah keluar rumah mencari harta duniawi.

عن أنس، رضي الله عنه، قال: جئن النساء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلن: يا رسول الله، ذهب الرجال بالفضل والجهاد في سبيل الله تعالى، فما لنا عمل ندرك به عمل المجاهدين في سبيل الله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من قعد -أو كلمة نحوها -منكن في بيتها فإنها تدرك عمل المجاهدين   في سبيل الله

Dari Anas bin Malik, berkata, telah datang istri-istri nabi SAW, dan mereka (para istri) berkata : Hai rasulallah, para lelaki telah pergi berjihad di jalan Allah. Lalu apakah bagi kita (para wanita) ada perbuatan yang pahalanya sama dengan para mujahid yang berjihad di jalan Allah ? maka berkata rasulullah SAW : barang siapa yang duduk di rumah kalian, maka sesungguhnya dia sudah menemukan pahala seorang mujahid yang berjihad di jalan Allah. (HR. Al-Bazzar)[16]

عَنْ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

Dari Abu Musa Al-Asy’aary, Rasul Saw bersabda; “Wanita mana saja yang berwangi-wangian lalu keluar, dan melewati satu kaum sehingga mereka mencium baunya, maka wanita itu penzina,dan setiap mata berbuat zina.” (HR. Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Firman Allah Swt;

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu lembut dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,” (Q.S. Al-Ahzab:32)

Ayat ini dan ayat sesudahnya,[17] walaupun pada mulanya ditujukan kepada istri-istri Nabi, namun berlaku juga bagi wanita lainnya karena memandang dari segi illatnya yaitu; untuk mencegah berkeinginannya (Tamaknya) orang yang terdapat penyakit dalam hatinya.

Imam Ibnu Katsir berkata;

هذه آداب أمر الله تعالى بها نساء النبي صلى الله عليه وسلم، ونساء الأمة تبع لهن في ذلك،

Ini adalah adab yang Allah perintahkan kepada istri-istri Nabi Saw, dan wanita-wanita umat ini mengikuti mereka (istri-istri Nabi) didalamnya.[18]

Allah juga berfirman;

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An-Nur:31)

Anjuran untuk menikah

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui. (An-Nur 32)

عن ابن مسعود، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -، قَالَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Dari Ibnu Mas’ud Ra. Rasul Saw bersabda; “Wahai sekalian pemuda, barang siapa diantara kamu yang mampu nikah, maka nikahlah. Sesungguhnya nikah itu bagimu dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan. Maka jika kamu belum sanggup berpuasalah, sesungguhnya puasa itu sebagai prisai.” (Muttafaaqun Alaihi)

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا عَلِيُّ ثَلَاثٌ لَا تُؤَخِّرْهَا الصَّلَاةُ إِذَا آنَتْ وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ وَالْأَيِّمُ إِذَا وَجَدْتَ لَهَا كُفْئًا

Dari Ali bin Abu Thalib bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya: “Tiga perkara yang jangan sampai kau akhirkan! Shalat jika telah datang waktunya, jenazah jika telah tiba, dan (menikahkan) wanita yang tidak punya pasangan ketika telah menemukan yang  cocok (sepadan).” (HR. Tirmidzi)

Berkata Hatim Al-Asham rahimahullah;

عن حاتم الأصم، قال: العجلة من الشيطان، إلا في خمسة، فإنها من سنة رسول اللَّه الله عليه وسلم  إطعام الطعام، وتجهيز الميت، وتزويج البكر، وقضاء الدين، والتوبة من الذنب

Terburu-buru itu dari syaithan, kecuali lima hal, karena ia termasuk sunnah Rasulullah Saw; memberi makan tamu, mengurus jenazah, menikahkan anak gadis[19], membayar utang, bertaubat dari dosa.[20]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قال رسول الله e : (ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُمْ: اَلْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيْدُ اْلأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَ وَاْلمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ)

Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala pasti menolong mereka: budak mukatab yang ingin membayar, yang menikah karena ingin menjaga diri (dari yang haram), dan mujahid fi sabilillah.” (HR. Nasa’i)

Larangan untuk berzina dan melakukan perkara-perkara yang dekat padanya

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”( Al Isro’: 32)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ”

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Ditetapkan bagi anak cucu Adam bagian dari zina yang pasti menimpanya. Kedua mata, zinanya adalah memandang; zina kedua telinga adalah mendengar; zina lisan adalah ucapan; zina tangan adalahmemegang; zina kaki adalah langkah; dan zina hati adalah menghendaki sesuatu (berangan-angan); dan farajnya (kemaluannya) membenarkan atau mendustakannya” (HR. Muslim)

عن معقل بن يسار قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لأن يطعن في رأس رجل بمخيط من حديد خير له من أن تمسه امرأة لا تحل له

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni)[21]

عن ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَخْطُبُ يَقُولُ « لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ »

Dari Ibnu Abbas r.a bahwasannya Rasulullah saw. Bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian bersunyi-sunyi dengan perempuan lain kecuali disertai mahramnya, dan tidak boleh seorang wanita bersafar melainkan bersama mahramnya ” (H.R. Bukhari & Muslim)

عن جبر رضي الله عنه ان النبي صلالله عليه وسلم قال ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يخلون بامرأة ليس معها ذو محرم منها فإن ثالثهما الشيطان

Dari Jabir Ra, Rasul Saw bersabda; “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad)

Khalwat yang diharamkan adalah khalwat (bersendiriannya) antara lelaki dan wanita sehingga tertutup dari pandangan manusia.

Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata:

والخلوة المحرمة هي ما كانت مع إغلاق لدار أو حجرة أو سيارة ونحو ذلك أو مع استتار عن الأعين، فهذه خلوة محرمة وكذا ضبطها الفقهاء

“Dan khalwat yang diharamkan adalah jika disertai dengan menutup (mengunci) rumah atau kamar atau mobil atau yang semisalnya atau tertutup dari pandangan manusia (khalayak). Inilah khalwat yang terlarang, dan demikianlah para ahli fiqih mendefinisikannya.”[22]

 

Penutup

Allah telah melimpahkan tangung jawab mengurus, memelihara, dan menjaga wanita pada laki-laki. Ketika belum menikah ia dalam tanggung jawab ayahnya, ketika sudah bersuami, ia dalam tangung jawab suaminya.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum laki-laki itu adalah penanggung jawab (yang mengatur, menjaga dan memelihara) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (An-Nisa’ 24)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim 6)

Rasul memerintahkan untuk menasehati wanita dengan baik;

عن ابي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذي جاره واستوصوا بالنساء خيرا فإنهن خلقن من ضلع وإن أعوج شيء في الضلع أعلاه فإن ذهبت تقيمه كسرته وأن تركته لم يزل أعوج فاستوصوا بالنساء خيرا

Dari Abu Hurairah, Rasul Saw bersabda; “Barang siapa beriman dengan hari akhir, maka janganlah menyeakiti tetanggannya, dan nasehatilah para perempuan secara baik-baik. Sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya bagian yang paling bengkok pada tulang rusuk adalah yang paling atas. Seandainya kamu meluruskannya, akan mematahkannya. Kalaulah kamu membiarkannya, maka akan selalu bengkok. Nasehatilah para perempuan dengan baik-baik.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

عن ابي سعيد الخدري قال رسول الله صل الله عليه وسلم مَنْ عَالَ ثَلاَثَ بَنَاتٍ ، أَوِ ثَلاَثَ أَخَوَاتٍ ، أَوْ أُخْتَيْنِ ، أَوِ ابْنَتَيْنِ فَأَدَّبَهُنَّ وَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ وَزَوَّجَهُنَّ فَلَهُ الْجَنَّةُ

Dari Abi Sa’id Al-Khudry, Rasulullah Saw bersabda; “Barang siapa yang mengasuh tiga anak putri, atau tiga saudara perempuan. Atau dua saudara perempuan, atau dua anak perempuan, lalu mendidik dan bersikap baik kepada mereka, serta menikahkannya, maka baginya surga.” (HR. Abu Daud).

Kebalikan dari sabda diatas, yakni bagi yang tidak peduli dengan prilaku Istri dan anaknya adalah sabda Beliau Saw;

عبد الله بن عمر ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : ثلاثة قد حرم الله تبارك وتعالى عليهم الجنة مدمن الخمر والعاق والديوث الذي يقر في أهله الخبث

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga orang yang benar-benar telah Allah Tabaraka wa Ta’ala haramkan atas mereka surga; Pecandu khamr, orang yang durhaka (kepada orangtuanya), lelaki dayyuts yang menyetujui al khabats (perbuatan kefasikan, dosa atau zina) di tengah keluarganya”. (HR. Ahmad)

Imam Ibnul-Atsir berkata;

هو الذي لا يَغَارُ على أهله

Ia (Dayyuts) adalah Seseorang yang tidak ada perasaan cemburu terhadap ahlinya (isteri dan anak-anaknya)[23]

Ini adalah yang Allah dan RasulNya perintahkan kepada kaum Mukminin, akan tetapi lihatlah! Betapa jauhnya mereka dari petunjuk Nabi Saw. Mereka membiarkan istri terutama anak perempuan mereka berpacaran, bercengkerama dengan laki-laki lain dan bahkan tak jarang merestuinya…!!! La ilaha illallah… Apakah mereka tidak takut dengan ancaman dan siksa Allah di hari kiamat nanti??! Dimana rasa sayang kalian wahai para orang tua?? Membiarkan anaknya bermain dengan api neraka.

Prof. DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki mengatakan bahwa cemburu (Ghoiroh) kepada isteri dan wanita yang menjadi tanggung jawabnya merupakan suatu moral terpuji dan sangat dituntut Islam serta memang secara akal harus muncul. Sungguh sangat sayang ketika sebagian orang yang berlabelkan cendikiawan dan lokomotif kemajuan justru salah merespon kecemburuan ini dan mengeluarkan kritik menyakitkan berupa tuduhan bahwa kecemburuan ini tak lain adalah bukti kebodohan, goblok dan fanatik serta bertentangan dengan ilmu kemajuan. Sungguh tuduhan seperti ini tidak lebih adalah bisikan–bisikan setan yang menjelma melalui pemahaman dan lisan para cendikiawan yang cara berfikirnya sudah terkontaminasi atau bahkan teracuni oleh peradaban rendah Barat dan Eropa.[24]

Maka manakah yang kalian pilih? Sunnah Nabi kalian atau Sunnahnya orang-orang yang mendapat murka dan orang-orang yang berada dalam kesesatan.

وصل الله على سيدنا محمد واله وصحبه وسلم

والحمد لله رب العالمين


[1] Mengapa Yang Dihancurkan Yahudi Pertama Kali Adalah Wanita?, http://www.eramuslim.com/

[2] Dua Versi Sepuluh Program Freemasonry, http://attestantofthetruth.wordpress.com/

[3] Pakaian yang menyerupai kuku dalam putihnya, kebeningannya dan ketebalannya. (An-Nihayah)

[4] Tafsir Thabari.

[5] Tuhfatul Ahwadzi, Abul ‘Ala’ Al-Mubarakfuri.

[6] Abdur-Rahman Bin Muljam, Potret Buram Seorang Korban Pemikiran Khawarij, http://almanhaj.or.id

[7] Dzammul hawa, Ibnul Jauzi.

[8] Abdur-Rahman Bin Muljam, Potret Buram Seorang Korban Pemikiran Khawarij, http://almanhaj.or.id

[9] Tafsir Ibnu Katsir.

[10] Tidak diragukan lagi bahwa wanita di masa jahiliah tidak memiliki nilai sedikitpun dalam kehidupan manusia. Mereka tak ubahnya binatang ternak, status sosial wanita menurut bangsa Arab sebelum Islam sangatlah rendah hingga sampai pada tingkat kemunduran dan keterpurukan, kelemahan dan kehinaan, yang terkadang keadaannya sangat jauh dari martabat kemanusiaan. Hak-hak mereka diberangus, tidak ada hak waris baginya, ketika suaminya meninggal ia tak ubahnya harta warisan yang bisa diwariskan kepada ahli warisnya, ia juga tidak memiliki hak memprotes atau ikut bermusyawarah dalam urusan suaminya. Segala urusannya diserahkan kepada walinya.

Dan hal terburuk yang dilakukan bangsa arab jahiliyyah adalah mengubur hidup-hidup bayi perempuan yang baru dilahirkan. Mereka melakukanya diantaranya karena mengkhawatirkan kehormatan mereka dan khawatir mendapat celaan ketika anak-anak perempuan mereka menjadi tawanan musuh, adapula yang melakukanya karena keadaan hidup yang sangat melilit, sulitnya mata pencaharian, dan kefakiran.

[11] Contoh; aurat wanita lebih banyak dari pria, wanita dilarang keluar rumah kecuali ada hajat, dsb.

[13] Adabud-Dunya Wad-Diin, Al-Mawardi.

[14] Kecuali jika ada hajat yang diperbolehkan Syara’.

[15] Dla’if

[16] Dlai’f.

[17] وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى

”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” ( Al-Ahzaab : 33)

[18] Tafsir Ibnu Katsir.

[19] Ketika telah baligh, seperti yang disebutkan dalam riwayat Abu Nu’aim  pada kitab Hilyatul Auliya.

[20] Ihya’ Ulumud-Din, Imam Ghazali.

[21] Mauquf lebih Sahih daripada Marfu’.

[22] Bahaya Kholwat, http://muslim.or.id

[23] An-Nihayah, Ibnul-Atsir.

[24]Menjadi Qowwam (Penanggung Jawab) yang Sukses,  http://al-ulfah.com

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Fitnah Wanita at Spirit Islam Inside.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers

%d bloggers like this: