Amal Saleh, Macam dan Tujuan

August 12, 2012 § 1 Comment

Perkara kedua yang merupakan kunci hidup bahagia dunia dan Akhirat adalah Amal Saleh. Amal Saleh adalah segala perbuatan dan tingkah laku yang Allah cintai dan ridloi. Amal saleh mencakup melakukan perbuatan (Al-fi’l), seperti Shalat, maupun meninggalkan perbuatan (At-tark), seperti meninggalkan zina. 

Amal saleh macamnya tidak terkira, sebagian merupakan A’malul qulub (perbuatan hati), seperti; Iman yang merupakan amal paling utama, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سُئِلَ النَّبِىُّصلى الله عليه وسلمأَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ» »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari)

cinta dan benci karena Allah, takut kepada Allah (Khouf), berharap kepadaNya (Roja’), Husnud-Dzon, mengingat Allah, Tafakkur akan tanda-tanda kekuasanNya, meninggalkan hasad, sifat riya’ su’ud-dzon, takabbur, ridlo dengan kemaksiatan dan kekufuran. Sebagian merupakan A’maalul Jawarih (perbuatan anggota tubuh), seperti; Shalat, Zakat, Puasa Haji, Amar ma’ruf nahi munkar, Jihad, ucapan Tahlil, Tasbih, Tahmid dan Takbir, tidak berzina, tidak mencuri, tidak minum khamr, tidak berghibah, tidak berkata kotor.

Amal Saleh merupakah cabang dari pohon Iman, maka semakin banyak cabangnya, berarti semakin tinggi dan semakin besar pohon itu. Dari itu para Ulama’ mengatakan; Iman dapat bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan bertambahnya Amal.

Dikarenakan keutamaan dan kedudukan Iman sebagai pondasi amal, maka antara Iman dan Amal Saleh penyebutannya lebih sering dipisah. Dan karena kata Amal Saleh lebih banyak tertuju kepada perbuatan anggota badan, maka pembahasan dalam bab ini lebih tertuju pada Amal Jawarih saja.

Tujuan dari Amal

Inti dan tujuan dari didirikannya Amal saleh adalah Dzikir kepada Allah taala. Ia berfirman mengenai tujuan didirikanya Shalat yang mana Shalat laksana induk bagi seluruh amal ibadah;

وَأَقِمِالصَّلاَةَلِذِكْرِي

Dirikanlah Shalat untuk mengingatku. (Thaha 14)

 Imam As-Syahid Hasan Al-Banna berkata;

واعلم يا أخي أن الذكر ليس المقصود به الذكر القولي فحسب بل إن التوبة ذكر، والتفكر من أعلى أنواع الذكر، وطلب العلم ذكر، وطلب الرزق إذا حسنت فيه النية ذكر، وكل أمر راقبت فيه ربك وتذكرت نظره إليك ورقابته فيه عليك ذكر, ولهذا كان العارف ذاكرا على كل حالاته.

“Ketahuilah saudaraku, bahwasanya Dzikir tidaklah tujuannya adalah Dzikir ucapan saja, akan tetapi sesungguhnya Taubat adalah Dzikir, tafakkur termasuk kedalam macam Dzikir yang paling luhur, mencari ilmu (agama) adalah Dzikir, mencari rizki -jika niatnya baik- adalah Dzikir, dan setiap perkara yang kau jadikan ia untuk mendekatkan diri kepada Tuhanmu, dan kau mengingat-ingat pandanganNya padamu, serta pengawasanNya atasmu adalah Dzikir. Dari itu para ‘Arif adalah orang yang senantiasa berdzikir dalam setiap tingkah lakunya.”[1]

Jadi, Dzikir adalah ruh dari amal, setiap amal yang tidak ada Dzikir di dalamnya adalah kosong dan hampa, seperti halnya jasad yang tidak ada ruhnya adalah jasad yang mati. Ketika Shalat, Dzikirnya adalah dengan konsentrasi, mengangan-angan dan menghayati apa yang kita baca, menghayati gerakan-gerakan yang kita lakukan. Begitu juga ketika membaca Al-Quran, yakni dengan memahami dan menghayati maknanya. Ketika berzakat atau bersedekah -misalnya- dengan mengingat bahwa ia melakukan ini semata melaksanakan perintahNya dan demi mengharap ridloNya. Karena itu dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan;

عَنْسَهْلِبْنِمُعَاذٍعَنْأَبِيهِعَنْرَسُولِاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَأَنَّرَجُلًاسَأَلَهُفَقَالَأَيُّالْجِهَادِأَعْظَمُأَجْرً ا

قَالَأَكْثَرُهُمْلِلَّهِتَبَارَكَوَتَعَالَىذِكْرًا

قَالَفَأَيُّالصَّائِمِينَأَعْظَمُأَجْرًا

قَالَأَكْثَرُهُمْلِلَّهِتَبَارَكَوَتَعَالَى ذِكْرً ا

ثُمَّذَكَرَلَنَاالصَّلَاةَوَالزَّكَاةَوَالْحَجَّوَالصَّدَقَةَكُلُّذَلِكَرَسُولُاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَيَقُولُأَكْثَرُهُمْلِلَّهِتَبَارَكَوَتَعَالَىذِكْرًا 

Dari sahl bin Muadz bin Anas Al Juhani, dari Rasulullah, sesungguhnya seorang laki-laki menanyai beliau,”jihad apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, “Yang paling banyak diantara mereka berdzikir kepada Allah Tabaroka Ta’ala” lalu dia bertanya: orang puasa apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, “Yang paling banyak diantara mereka berdzikir kepada Allah Tabaroka Ta’ala. Dan dia menanyakan juga sholat zakat, haji dan shodakoh . setiap itu pula Rasulullah menjawab: “Yang paling banyak diantara mereka berdzikir kepada Allah Tabaroka Ta’ala. (HR. Ahmad)

Hadits diatas menunjukkan besar kecilnya pahala yang diberikan dalam sebuah ibadah tergantung seberapa besar dzikir yang ada di dalamnya. Sebuah ibadah yang dibilang sepele bisa jadi merupakan ibadah yang agung dikarenakan disertai dengan banyak dan besarnya dzikir di dalamnya, seperti mengikhlaskan niat hanya untuk Allah, Syukur, Mahabbah (cinta), Ta’dzim (pengagungan), takut (khouf), Roja’, merasakan adanya pengwasanNya dan lain sebagainya.

Paling minimal Dzikir yang dilakukan pada setiap amal ibadah adalah dengan meniatkannya untuk mengabdi hanya padaNya serta bersyukur pada karuniaNya.

وَمَاخَلَقْتُالْجِنَّوَالْإِنْسَإِلَّالِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Ad-Dzariyat 56)

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan Shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah 5)

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al-Baqarah 152)

عنأبيهريرةعنالنبيصلىاللهعليهوسلمقال: (إناللهتباركوتعالىيقول: ياابنأدمإنكإذاذكرتنىشكرتنى, وإذانسيتنىكفرتنى)

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai keturunan Adam, sesungguhnya apabila kamu berdzikir kepadaKu, maka kamu sungguh telah bersyukur kepadaKu, dan apabila kamu lupa, maka kamu telah kufur kepadaKu”. (HR. Thabrani)

Dzikir adalah tujuan besar dari setiap Ibadah, setelah itu adalah Tazkiyatun-Nufus, yakni pembersihan diri. Allah berfirman tentang Shalat;

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Dan dirikanlah Shalat, sesungguhnya Shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Akan tetapi sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar. (Al-Ankabut 45)

Imam Ibnu Katsir berkata mengenai Ayat ini;

يعني: أنالصلاةتشتملعلىشيئين: علىتركالفواحشوالمنكرات، وعلىذكراللهتعالى،وهوالمطلوبالأكبر

Yakni; Shalat mencakup atas dua perkara; mencakup atas meninggalkan perkara keji dan munkar, dan mencakup atas Dzikir (mengingat) Allah Ta’ala, itulah tujuan terbesar.[2]

Apa yang diucapkan oleh Imam Ibnu Katsir juga diucapkan oleh guru beliau yakni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.[3]

Allah juga berfirman;

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS 11/114)

عَنْ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا مُعَاذُ أَتْبِعْ السَّيِّئَةَ بِالْحَسَنَةِ تَمْحُهَا وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Dari Mu’adz; bahwasanya Rasulullah Saw berkata padanya; “Wahai Mu’adz ikutilah kejelekan dengan kebaikan dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Ahmad)

Allah berfirman;

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar. (At-Taghabun/11)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Hai orang-orang berIman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan (kemampuan untuk membedakan yang hak dan batil). Dan kami hapuskan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Anfal/29)

Namun hanya dosa kecil saja yang dapat dilebur oleh amal, sedang dosa besar diharuskan untuk Taubat dikarenakan Firman Allah;

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS 4/31)

Imam Ibnu Sholah berkata;

والصغائر قد تمحى من غير توبة بالصلوات وغيرها كما جاء به الكتاب والسنة وذلك أن فاعل الصغيرة لو أتبعها حسنة أو حسنات وهو غافل عن التندم والعزم على عدم العود المشترطين في صحة التوبة لكان ذلك ماحيا لصغيرة ومكفرا لها كما ورد به النص وإن لم توجد منه التوبة لعدم ركنها لا لتلبسه بأضدادها

“Dosa kecil terkadang dihapus dengan tanpa Taubat oleh Shalat dan yang lainnya seperti yang telah disebutkan oleh Al-Kitab Dan Sunnah. Demikian adalah bahwasanya pelaku dosa kecil sekiranya ia mengikutinya dengan perbuatan baik sedang ia lupa akan penyesalan (terhadap dosa itu), dan juga lupa akan tekad untuk tidak akan kembali melakukan, yang dimana keduanya disyaratkan pada sahnya Taubat, pastilah amal baik itu melebur dosa kecilnya dan menghapusnya, seperti yang telah diberitakan oleh Nash (Al-Quran/Hadits), walaupun tidak ditemukan Taubat darinya, dikarenakan tidak terpenuhinya rukun Taubat, tidak karena ia melakukan perkara yang bertentangan dengan Taubat. “[4]

Sebagian Amal yang dapat menghapus dosa

Secara umum, setiap amal walaupun mengandung sedikit usaha dapat melebur dosa dikarenakan keumuman Firman Allah diatas. Namun disini kami akan menyebutkan sebagian Hadits yang menyebutkan secara khusus beberapa amal yang mampu melebur dosa.

1-Shalat

عن أبي هريرة; أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول (أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ، قَالُوا; لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا، قَالَ; فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا)

Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya beliau mendengar Rasulullah Saw bersabda;Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di pintu yang digunakan untuk mandi setiap hari lima kali, pa yang kalian katakan apakah tersisa kotorannya? Mereka menjawab; Tidak sisa sedikitpun kotorannya. Beliau bersabda; sholat lima waktu menjadi sebab Allah hapus dosa-dosa. (HR Al Bukhori).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda; Sholat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar (HR Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda; “Siapa yang berwudhu di rumahnya lalu berjalan menuju rumah di antara rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban (dari) Allah maka salah satu dari kedua langkahnya menghapus dosa-dosa dan yang lain meninggikan derajat.” (HR. Muslim).

 

عن ثوبان مولى رسول الله قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم « عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِسَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً »

Dari Tsauban mula Rasulillah, Rasul Saw bersabda; Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu sekali sujud kepada Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa). (HR Muslim).

Memperbanyak sujud tentunya dengan memperbanyak sholat.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ; ” عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَهُوَ قُرْبَةٌ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ، وَمُكَفِّرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ “

Dari Abu Umamah Al-Bahily, Rasulullah Saw bersabda;Hendaklah kalian sholat malam, karena ia adalah adat orang yang sholeh sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Robb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa (HR. Hakim(

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ». قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ».

Dari AbuHurairah, Rasulullah Saw bersabda “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus kesalahan dan meninggikan derajat”, mereka menjawab; “Mau ya Rasulullah”, “Berwudhu pada saat yang tidak menyenangkan dan memperbanyak langkah ke Masjid, dan menunggu Shalat setelah Shalat, itulah Ribath! itulah Ribath! (berjaga di medan perang)“ (HR. Muslim)

عن أبى بكر رضى الله عنه ، قال; سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ؛ مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا، ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّر، ثُمَّ يُصَلِّى ركعتين ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّه؛َ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ»، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ {وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dari Abu Bakar RA bahwasanya Rasulullah Saw bersabda; Tidaklah seorang (muslim) melakukan suatu perbuatan dosa, lalu dia bersuci –, kemudian melaksanakan Shalat dua rakaat, lalu meminta ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni (dosa)nya”. Kemudian Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini (yang artinya), “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah, dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui” (QS. Ali ‘Imraan;135)”. (HR. Tirmidzi)

2-Wudlu

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ; قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم; ” مَا مِنْ عَبْدٍ يَتَوَضَّأُ إِلا خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَغْسِلُ وَجْهَهُ إِلا خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ وَجْهِهِ، ثُمَّ يَغْسِلُ ذِرَاعَيْهِ إِلا خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ ذِرَاعَيْهِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ إِلا خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ رَأْسِهِ، ثُمَّ يَغْسِلُ رِجْلَيْهِ إِلا خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ رِجْلَيْهِ

Dari Abu Umamah Ra, Rasul Saw bersabda; tidak ada seorang hamba berwudlu kecuali dosa-dosanya jatuh dari tangannya, kemudian tidaklah ketika ia membasuh wajahnya, kecuali dosa-dosanya jatuh dari wajahnya, kemudian tidaklah ketika iam membasuh lengannya kecuali dosa-dosanya jatuh dari lengannya, kemudian tidaklah ketika ia mengusap kepalanya kecuali dosa-dosanya jatuh dari kepalanya, kemudian tidaklah ketika membasuh kakinya kecuali dosa-dosanya jatuh dari kakinya. (HR. Thabrani)

3-Adzan

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ; ” يَغْفِرُ اللَّهُ لِلْمُؤَذِّنِ مُنْتَهَى أَذَانِهِ، وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ سَمِعَ صَوْتَهُ “

Dari Ibu Umar Ra,  Rasul Saw bersabda; Diampuni bagi Muaddzin sepanjang suara azannya. Dan setiap perkara basah dan kering meminta ampunan baginya. (HR. Ahmad)

عَنْسَعْدِبْنِأَبِيوَقَّاصٍعَنْرَسُولِاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَأَنَّهُقَالَمَنْقَالَحِينَيَسْمَعُالْمُؤَذِّنَأَشْهَدُأَنْلَاإِلَهَإِلَّااللَّهُوَحْدَهُلَاشَرِيكَلَهُ

وَأَنَّمُحَمَّدًاعَبْدُهُوَرَسُولُهُرَضِيتُبِاللَّهِرَبًّاوَبِمُحَمَّدٍرَسُولًاوَبِالْإِسْلَامِدِينًاغُفِرَلَهُذَنْبُهُ

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa membaca ketika mendengar muadzdzin, ‘Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya, saya ridha Allah sebagai Rabb, dan Muhammad sebagai rasul, serta Islam sebagai agama, ‘ niscaya dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim)

4-Shadaqah

خُذْمِنْأَمْوَالِهِمْصَدَقَةًتُطَهِّرُهُمْوَتُزَكِّيهِمْبِهَا

Allah Swt telah menjadikan perbuatan menunaikan kewajiban zakat termasuk salah satu sifat orang yg bertaqwa. (At-Taubah 103)

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ -

Jika kamu menampakkan sedekah(mu) maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannyadan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Baqarah/271)

عن معاذ بن جبل أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم قال أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ; الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

Dari Muadz bin Jabal bahwasanya Rasul Saw bersabda; Maukah engkau aku beritahukan pada pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah benteng, Sodaqoh akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan Shalatnya seseorang di tengah malam (qiyamullail). (HR. Tirmidzi)

5-Puasa dan Qiyamu Ramadlan

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقُولُ « الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasul Saw bersabda; Sholat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar (HR Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  قَالَ; ” مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “

 Rasul Saw bersabda; Siapa yang menegakkan romadhon (sholat tarawih) dengan Iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Termasuk juga puasa sunnah;

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، عَنِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ; ” صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ إِنِّي أَحْتَسِبَ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَالَّتِي بَعْدَهُ، وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ “

Dari Abi Qatadah Ra,  Nabi Saw Bersabda; Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus setahun yangsebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari A’syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang telah lalu. (HR. Ibnu Hibban(

6-Haji dan Umrah

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّالْجَنَّةُ ».

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasul Saw bersabda; “Satu umrah keumrah lain adalah panghapus (dosa-dosa) antara keduanya, sedangkan haji yang mabrur tiada balasan lain, melainkan surga. (Muttafaq Alaih)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ;« مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ »

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasul Saw bersabda; Siapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan maka kembali seperti hari ibunya melahirkannya (HR. Bukhari)

7-Jihad

فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik. (Ali Imron/195)

 

Amal Saleh, Antara Diterima dan Tidak

Setiap orang mukmin pasti ingin amal-amal salehnya diterima oleh Allah Saw. Perlu diketahui bahwa tidak semua amal yang sah itu pasti diterima oleh Allah, dan tidak pula setiap amal yang dilaksanakan dengan ikhlas itu langsung diterima disisiNya.

Orang yang melaksanakan amal saleh dari segi diterima atau tidaknya, dapat dikategorikan menjadi tiga golongan;

1-Orang yang pasti diterima amalnya

Orang yang pasti diterima amal iabadahnya adalah orang yang bertaqwa kepadaNya. Allah berfirman meriwayatkan perkataan salah seorang anak Nabi Adam;

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa (Al-Maidah 27)

Orang yang bertaqwa adalah orang baik (Abror )yang Allah cintai;

وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ

Akan tetapi kebajikan itu ialah orang yang bertaqwa. (Al-Baqarah 189)

Dari itu Allah langsung menerima amalnya, seperti halnya kita langsung menerima kebaikan orang-orang yang senantiasa berbuat baik kepada kita tanpa rasa curiga.

2-Orang yang amalnya yang pasti ditolak

Orang yang amalnya pasti ditolak adalah orang-orang kafir, begitu juga orang murtad;

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Qs 2/217)

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs 7/147)

Jadi jangan pernah terpesona dengan kebaikan orang-orang golongan ini, karena pada hakikatnya semua amalnya tidak ada gunanya. Karena biar sebanyak apapun ia sholat dan sebesar apapun rasa ikhlasnya tidak akan diterima dari mereka selagi mereka tetap dalam kekufuran seperti misalnya; mengakui adanya Nabi setelah Nabi Muhammad Saw.

3-Orang yang amalnya tidak dapat dipastikan diterima atau tidaknya

Mereka adalah orang mukmin yang tidak sampai derajat Taqwa, mereka melakukan amal baik tapi juga melakukan perbuatan buruk dengan tidak disertai Taubat. Disinilah kebanyakan posisi kaum muslimin.

Mengenai kenapa tidak dapat dipastikan diterima atau tidaknya amal dari golongan ini adalah karena Allah sendiri menegaskan bahwa janjinya berupa pahala surga, dsb. Tidak teruntuk bagi orang-orang dzalim;

لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِين

Janjiku tidak akan sampai kepada orang-orang dzalim (Al-Baqarah/124)

Padahal selagi belum bertaubat, seseorang itu termasuk golongan orang dzalim;

ومن لم يتب فأولئك هم الظالمون

Barang siapa tidak bertobat, maka merekalah orang-orang dzalim (Al-Hujurat/11)

Akan tetapi tidak juga dapat dipastikan bahwa golongan ini amalnya pasti tidak diterima karena Allah menegaskan;

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosasemuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 39/53)

Dalam Hadits Isra’ Mi’raj Malaikat berkata kepada Nabi Saw

قالا أما القوم الذين كانوا شطر منهم حسن وشطر منهم قبيح فإنهم خلطوا عملا صالحا وآخر سيئا تجاوز الله عنهم

Adapun orang yang sebagian mukanya bagus dan sebagian Iagi buruk, maka mereka itu ialah orang-orang yang mencampur-adukkan antara amal perbuatan yang shalih sedang yang lainnya jelek, tetapi Allah telah memberikan pengampunan kepada mereka itu.” (HR. Bukhari)

 

Jadi golongan ini sepenuhnya bergantung kepada kehendak Allah apakah ia mau mengampuni sepenuhnya dan menerima amalnya, ataukah membalas perbuatan jeleknya kemudian baru menerima amalnya, atau bahkan sama sekali tidak menerima amal baiknya dikarenakan kejelekan kejelekannya telah mengundang murkaNya sehingga menyebabkan ia mati dalam keadaan Su-ul Khatimah.

بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَاخَالِدُونَ

(Bukan demikian), yang benar; barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS 2/87)

 

Jadi, jika ingin agar amal ibadah kita pasti diterima olehNya maka sudah sepatutnya kita berusaha menjauhi hal-hal yang menyebabkan kekufuran dan berusaha termasuk golongan orang-orang bertaqwa. Yakni dengan menetapi sifat-sifat mereka yang telah Allah sebutkan dalam FirmanNya, diantaranya;

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ،الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ، وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS 3/133-135)

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-Nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan Shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (Imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (QS 2/177)

 

Untuk memulai langkah menuju Taqwa maka pertama kali yang harus dilakukan tentu saja adalah bertaubat, karena itu Imam Ghazali berkata;

“Yang kedua dari dua perkara tadi adalah; bahwasa engkau wajib bertaubat  adalah supaya amal ibadahmu diterima, dikarenakan “Pemilik hutang tidak akan menerima hadiah”. Yang demikian karena Taubat dari perbuatan maksiat dan meminta keridloan adalah wajib sedangkan kebanyakan ibadah yang engkau tuju adalah sunnah, maka bagaimana diterima darimu perbuatan baikmu sedang padamu terdapat hutang yang belum engkau bayar?? Bagaimana engkau meninggalkan perkara halal dan mubah demiNya sedang engkau senantiasa melakukan larangan dan keharaman?? Dan bagaimana kau bermunajat kepadaNya berdoa dan memujiNya sedang Ia marah kepadamu??”[5]

Tanda diterimanya amal

Walaupun tidak dapat dipastikan diterima atau tidaknya, tapi ada tanda khusus ketika amal diterima olehNya. Tanda paling mudah dan jelas terlihat bagi diterimanya amal ibadah adalah bahwasanya, ibadah mampu menggiring untuk melakukan amalan-amalan ibadah lain. Seperti halnya dosa mampu menggiring untuk melakukan dosa-dosa lain sehingga dapat menjerumuskan kepada keaadaan Su’ul Khotimah, begitu juga amal saleh, mampu menggiring pelakunya semakin banyak melakukan kebaikan sehingga mati dalam keadaan Khusnul Khotimah.

Allah berfirman;

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا

Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya. (Maryam 76)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’dy berkata;

والهدى يشمل العلم النافع، والعمل الصالح. فكل من سلك طريقا في العلم والإيمان والعمل الصالح زاده الله منه، وسهله عليه ويسره له، ووهب له أمورا أخر، لا تدخل تحت كسبه

Petunjuk (Huda) itu mencakup ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh. Maka barang siapa menempuh jalan ilmu, Iman dan amal saleh, Allah akan menambahkan petunjuk padanya, memudahkan baginya (mengikuti petunjuk itu), meringankan untuknya dan memberikan baginya perkara-perkara lain yang tidak termasuk dalam jerih payahnya.[6]

Allah juga berfirman;

 فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى 

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.   (Al-Lail 5-7)

Sebagian Ulama’ Salaf berkata; Termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan sesudahnya, dan termasuk balasan kejelekan adalah kejelekan sesudahnya.

Jadi jika seseorang melaksanakan Shalat akan tetapi ia tidak bertambah amal kebaikannya bahkan masih senantiasa melaksanakan maksiat, seperti berzina, berpacaran, mengumbar aurat, memandang aurat yang tidak halal baginya, berghibah, menjelek-jelekkan sesama muslim, memakan riba, mencuri, dsb, maka jelaslah kalau Shalat orang tersebut tidak diterima.

Allah berfirman;

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Dan dirikanlah Shalat, Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. (Al-Ankabut 45)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata;

فَمَنْلمتأمرهصلاتهبالمعروفوتنههعنالمنكر،لميزددبصلاتهمناللهإلابعدا

 “Maka barang siapa yang Shalatnya tidak memerintahkannya untuk mengerjakan kebaikan dan mencegah kemunkaran, ia tidak menambah dengan Shalatnya kecuali (menambah) jauh dari Allah”.[7]

Jika Shalat tidak diterima, lalu bagaimana dengan Amal Ibadah lain? Mengingat Shalat adalah tolok ukur ibadah seseorang, jika seseorang Shalatnya baik, ibadah lain juga dianggap baik, jika jelek maka yang lain juga jelek.

Begitu juga dengan puasa Ramadlan. Orang yang diterima puasa dan amal ibadahnya dibulan Ramadlan akan menjadi orang yang lebih baik setelah selesainya bulan Ramadlan.

Begitu juga dengan zakat dan infaq. Zakat dan infaq mampu menyucikan diri dari dosa, dan ketika dosa telah hilang, akan ringan baginya untuk mendirikan ibadah.

Begitu juga dengan ibadah Haji dan Umrah. Karena itu Ulama’ menyatakan bahwa tanda-tanda Mabrurnya Haji seseorang adalah sekembalinya dari haji perilaku dan tingkah lakunya berubah menjadi semakin baik.

Begitu juga dengan menuntut ilmu. Menuntut Ilmu jika dilakukan dengan benar, akan menambah rasa takut kepada Allah Swt.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNYA hanyalah Ulama’. (Fathir 28)

عن عبد الأعلى التيمي قال : “من أوتي من العلم ما لا يبكيه لخليق أن لا يكون أوتي علما ينفعه ؛ لأن الله تبارك وتعالى نعت العلماء فقال : ( إن الذين أوتوا العلم من قبله إذا يتلى عليهم يخرون للأذقان سجدا ) الآية

Abdul-A’laa At-Taimy berkata; “Barang siapa diberikan ilmu yang tidak membuatnya menangis, ia patut untuk tidak diberikan ilmu yang bermanfaat baginya, karena Allah Tabaaraka wa Taala telah mensifati para Ulama dengan berfirman;

Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. (Al-Isra’ 107)[8]

Sayyid Hasan bin Ali RA berkata;

من ازداد علما ولم يزدد في الدنيا زهدا لم يزدد من الله إلا بعدا

“Barang siapa yang bertambah ilmunya, tapi tidak menambah kezuhudannya, maka sesungguhnya ia akan semakin jauh dari bimbingan serta hidayah Allah  ia tidak menambah kecuali (menambah) jauh dari Allah”. (Ibnu Hibban)

Ilmu paling agung adalah Al-Quran, Jika seseorang mendengar, membaca atau bahkan menghapal Al-Quran tapi tidak juga bertambah Iman dan ketaqwaannya serta masih setia terhadap perbuatan maksiatnya, itu artinya amalannya tiada guna, dan menunjukkan kalau dihatinya ada sifak Nifaq. Itu karena Allah berfirman;

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah Iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Al-Anfal 2)

Karena itulah sebagian Ulama’ mengatakan agar seseorang mampu bangun pada tengah malam, ia dianjurkan untuk melakukan amal kebaikan di siang hari. Yakni dengan melakukan amal kebaikan pada siang harinya, seperti puasa, Shalat Dluha, membaca Al-Quran, bersedekah dan sebagainya, diharapkan amalan tersebut mampu menarik saudaranya yakni Shalat Tahajjud, bermunajat pada Allah di keheningan malam.

 

Perkara-perkara yang membangkitkan motivasi untuk giat beribadah dan menjauhi dosa

Mengingat perkara-perkara dibawah ini mampu menjauhkan dari perbuatan dosa dan meningkatkan amal ibadah kita. Semoga kita dapat melaksanakannya.

1-Mengingat Allah

-Bahwasanya Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk tindak-tanduk kita dan akan membalasnya.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (QS 50/16)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Al-Mujadalah 7)

-Mengingat segala karuniaNya

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ ، ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain),  (An-Nahl 53-54)


Dan yang paling agung adalah nikmat hidayah yang Allah berikan melalui diutusnya seorang Rasul.

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ ،  فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al-Baqarah 151-152)

Dengan nikmat Allah lah kita melihat, mendengar, berbicara, berjalan, dan beribadah kepadaNya.  Maka bagaimana mungkin kita dapat bersikap kufur lagi sombong?

-Mengingatkeagungan dan tanda-tanda kekuasaanNya

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (At-Thalaq 12)

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ،  الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْوَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata); “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imron 190-191)

Bisyr bin Al-Haris Al-Hafi berkata;

لو تفكر الناس في عظمة الله تعالى لما عصوه.

“Seumpama manusia berpikir akan keagungan Allah pastilah mereka tidak akan merduhakaiNya.”[9]

-Mengingat Akan kerasnya siksaNya

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya. (QS 2/196)

فَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَأُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong. (QS 3/56)

-Mengingat akan besarnya rahmat yang Allah janjikan

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al A’rof 156)

فَأَمَّاالَّذِينَآمَنُوابِاللَّهِوَاعْتَصَمُوابِهِفَسَيُدْخِلُهُمْفِيرَحْمَةٍمِنْهُوَفَضْلٍوَيَهْدِيهِمْإِلَيْهِصِرَاطًامُسْتَقِيمًا

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang Lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An-Nisa’ 175)

2-Mengingat awal mula manusia, kemana ia akan kembali dan untuk apa manusia diciptakan

Manusia diciptakan hanyalah untuk menyembah Allah

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS 51/56)

قال معمر; قال الصبيان ليحيى بن زكريا; اذهب بنا نلعب. قال; ما للعب خلقت

Ma’mar berkata; “Anak-anak berkata kepada Nabi Yahya bin Zakariya; Pergilah bersama kami untuk bermain, Nabi Yahya berkata; Aku tidak diciptakan untuk bermain.”[10]

Allah menciptakan manusia dari sesuatu yang hina, memberi berbagai macam indera sehingga bisa mendengar, melihat merasa, berjalan, dsb, akan tetapi kebanyakan justru kufur terhadapNya, enggan mengerjakan perintah-perintahNya.

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ ،  ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ ،  ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.  (As-Sajdah 7-9)

قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ ،  مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ،  مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ ،  ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ ،  ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ ،  ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ ،  كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ

Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?Dari apakah Allah menciptakannya?Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya, Kemudian Dia memudahkan jalannya.kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya (Abasa 17-23)

3-Mengingat mati

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.  (Qof 19)

كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ ،  وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ ،  وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ ،  وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ ،  إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan,
dan dikatakan (kepadanya); “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”,
  dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia),dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. (Al-Qiyamah)

وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال; ( أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمنكبي, فقال; ” كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل, وعُدَّ نفسك في أصحاب القبور

Dari Ibnu Umar dia berkata; ”Adalah rasullah shallahualaihi wasalam memegang kedua pundak saya dan beliau berkata;” Jadilah Engkau didunia ini seperti orang yang asing atau orang yang sedang menyebrangi jembatan dan anggaplah dirikamu termasuk calon penghuni kuburan “ (HR. Bukhari)

عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم; أكثروا ذكر هادم اللذات، يعني الموت

Dari Abu Hurairah Ra, Nabi Muhammad bersabda; “Perbanyaklah kalian mengingat  pemutus segala kenikmatan (Kematian)“.(HR. At Tirmidz).

Ad-Daqqaq berkata;

منأكثرمنذكرالموتأكرمبثلاثةأشياء; تعجيلالتوبةوقناعةالقلبونشاطالعبادةومننسيالموتعوقببثلاثةأشياء; تسويفالتوبةوتركالرضىبالكفافوالتكاسلفيالعبادة

“Barang siapa memperbanyak mengingat mati, maka akan dimuliakan dengan tiga perkara; segera bertaubat, hati yang Qona’ah, dan semangat dalam beribadah. Dan barang siapa lupa mati, maka akan disiksa dengan tiga perkar; menunda-nunda Taubat, tidak ridlo dengan kecukupan, dan malas dalam beribadah.”[11]

وقال السدي في قوله تعالى; الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ [الملك;2] أي أكثركم للموت ذكراً وله أحسن استعداداً ومنه أشد خوفاً وحذراً

As-Sidi berkata dalam menafsiri Firman Allah; “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al-Mulk 2), Yakni (yang dimaksud paling baik amalnya adalah); yang paling banyak mengingat mati, dan paling bagus persiapannya dalam menghadapinya, dan paling takut dan waspada terhadapnya[12].

 

4-Mengingat hari Kiamat dan segala sesuatu yang terjadi disana

Allah berfirman;

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Dan bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya. (Al-Baqarah 203)

Allah juga berfirman;

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ، حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِر، كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ، ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ، كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ، لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sehingga kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu!! seandainya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin (niscaya kamu tidak akan melakukannya).

(Demi Allah) Kalian akan benar-benar akan melihat neraka Jahiim. (At-Takatsur 1-6)

Rasul Saw bersabda;

عن أبي الدرداء قال; قال رسول الله صلى الله عليه وسلم; « لو تعلمون ما أعلم لبكيتم كثيرا ، ولضحكتم قليلا ، ولهانتعليكم الدنيا ، ولآثرتم الآخرة »

Dari Abi Dardak ia berkata; Rasulullah Saw bersabda; “Sekiranya kalian tahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan kalian akan banyak menangis, dan akan ringan bagimu (urusan) Dunia, dan kalian akan memilih Akhirat.” (HR. Ibnu Abi Dunya)

Allah telah menyiapkan siksa yang pedih bagi mereka yang terlena oleh kehidupan dunia  sehingga melupakan akhirat.

فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِبِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Maka rasakanlah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan. (As-Sajdah 14)

فَأَمَّا مَنْ طَغَى، وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى

Adapun orang yang melampaui batas,dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (An-Naazi’aat 37-39)

Sebaliknya orang yang takut pada hari dimana ia dihadapkan kepada Tuhannya untuk dimintai pertanggung jawabannya, maka baginya surga sebagai tempat tinggalnya.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Dan adapun orang-orang yang takut kepada waktu dimana ia berdiri dihadapan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (An-Naazi’aat 40-41)

وقال التيمي رحمه الله شيئان قطعا عني لذاذة الدنيا ذكر الموت وذكر الوقوف بين يدي الله عز و جل

At-Taimy berkata “Dua berkara yang mampu memutus keledzatan dunia; mengingat mati dan mengingat (bahwa kelak) akan berdiri (pada hari kiamat) dihadapan Allah Azza Wa Jall.[13]

Mengingat hari kiamat merupakan jalan agar dapat bertaqwa kepadaNya karena itu tidak mungkin seseorang bertaqwa tapi tidak beriman kepada hari Akhir.

فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا، السَّمَاءُ مُنْفَطِرٌ بِهِ كَانَ وَعْدُهُ مَفْعُولًا، إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلًا

Maka bagaimanakah kamu akan dapat bertaqwa jika kamu ingkar kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban.Langit(pun) menjadi pecah belah pada hari itu. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana.Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya. (Al-Muzammil 17-19)

Termasuk mengingat hari kiamat adalah mengingat akan dahsyatnya hari kiamat, mengingat akan adanya surga dan neraka; orang saleh masuk surga dan orang dzalim masuk neraka,

يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَنِ وَفْدًا، وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا

Hari ketika Kami mengumpulkan orang-orang yang Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat,dan Kami akan menggiring orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga. (Maryam 85-86)

mengingat adanya timbangan amal serta buku catatan amal, mengingat adanya hisab, adanya jembatan yang melewati neraka dimana tidak ada yang selamat kecuali orang bertaqwa;

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا، ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (Maryam 71-72)

 

 


[1] Al-Ma’tsurot, Al-Imam Hasan Al-Banna.

[2] Tafsir Ibnu Katsir, dengan peringkasan.

[3] Lihat Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim Al-Jauzi.

[4] Fatawa Ibnu Sholah.

[5] Minhajul ‘Abidin, Imam Ghazali, dengan peringkasan.

[6] Tafsir Sa’dy.

[7] Tafsir Ibnu Katsir.

[8] Hilyatul-Auliya, Abu Nu’aim.

[9] Tafsir Ibnu Katsir.

[10] Ibid.

[11] At-Tadzkirah, Imam Al-Qurthuby.

[12] Tafsir Ibnu Katsir.

[13] Hilyatul-Auliya, Abu Nu’aim.

Tagged: , , , , , , , ,

§ One Response to Amal Saleh, Macam dan Tujuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Amal Saleh, Macam dan Tujuan at Spirit Islam Inside.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers

%d bloggers like this: