Dua Tingkatan Orang Bertakwa

October 30, 2012 § 2 Comments

Bismillah…

Sesungguhnya tidak ada yang dapat selamat dari api neraka kecuali mereka yang mau bertakwa;

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

 ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (Maryam 71-72)

Jadi hanya yang bertakwa yang mampu selamat, sedang kebalikan dari takwa, yakni dzalim akan tinggal di Neraka.

Sebagian Ahlul-Ilmi berkata bahwa takwa terbagi menjadi dua derajat, berdasarkan firman Allah Swt;

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, 

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Ali Imron 133-135)

Maka, derajat yang pertama adalah derajat Muhsinin -seperti yang Allah sebut untuk mereka-, mereka adalah orang-orang yang gemar melakukan kebaikan entah dalam keadaan senang atau susah.

Muhsinin adalah jama’ dari kata Muhsin dengan masdar (kata asal) Ihsan. Rasul Saw dalam sebuah Hadits yang tersohor dengan sebutan Hadits Jibril, ketika beliau ditanya tentang apa itu Ihsan beliau bersabda;

 

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah Swt seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim)

Dikatakan bahwa ayat paling kuat untuk mencegah orang bermaksiat adalah firman Allah Swt;

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى

Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? (Al-Alaq 14)

Maka barang siapa merasakan kedekatan Allah sampai seolah ia melihatnya, atau merasakan bagaimana Allah mengawasi gerak-geriknya, dari yang tampak sampai yang tersembunyi dalam hati, akan timbul darinya rasa takut yang sangat akan berbuat maksiat, dan akan muncul rasa giat dalam Ibadah. Demikian karena Ibadah adalah perkara yang dicintai Allah dan maksiat adalah perkaran yang dibencinya, sedang setiap pecinta (Mukmin) senang melakukan apa yang disukai Kekasihnya dan benci terhadap apa yang dibenci olehnya, apalagi jika Sang Kekasih ada didekatnya dan senantiasa mengawasinya.

Derajat inilah yang juga disebut oleh Allah dengan Sabiq bil Khairaat dalam firmanNya;

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan diantara mereka ada (pula) yang berdahulu dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar. (Fathir 32)

Sedang derajat yang kedua adalah Muqtashid seperti yang Allah sebutkan diatas, yaitu orang yang amal perbuatannya tidak sampai ke derajat Muhsinin atau Sabiq bil Khairaat, juga masih sering berbuat maksiat akan tetapi tidak sampai turun kederajat Dzalim li Nafsih, dikarenakan setelah bermaksiat, buru-buru ia bertaubat. Allah berfirman;

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barang siapa tidak bertobat, maka merekalah orang-orang dzalim (Al-Hujurat/11)

Jadi selagi masih mau bertaubat ia tidak akan termasuk golongan orang Dzalim.

Itulah yang dimaksud oleh firman Allah;

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.  (Ali Imron 133-135)

Jadi antara Muqtashid dan Dzalim li Nafsih ada kesamaan yakni sama-sama berbuat maksiat, akan tetapi Muqtashid mengikuti maksiatnya dengat taubat, sedang Dzalim li Nafsih mengikutinya dengan maksiat lagi (Ishror).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَن النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لا ذَنْبَ لَهُ “

Dari Abdullah ibn Mas’ud Ra, Rasul Saw bersabda; “Orang yang bertaubat dari dosa itu seperti orang yang tidak ada dosa” (HR. Hakim, Ibn Majah, Thabrani, Baihaqi)

عَنْ أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيقِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  مَا أَصَرَّ مَنِ اسْتَغْفَرَ وَإِنْ عَادَ فِى الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً

Dari Abu Bakar As-Shiddiq Ra, beliau berkata, Rasul Saw bersabda; “Tidak melanggengkan dosa orang yang beristighfar, walau ia kembali melakukan dosa sebanyak 70 kali dalam satu hari.“ (HR. Abu Daud)

Imam Ibnu Jarir At-Thabary meriwayatkan;

عن سعيد بن جُبير؛ أن رجلا قال لابن عباس: كم الكبائر؟ سبع؟ قال: هن إلى سبعمائة أقرب منها إلى سبع، غير أنه لا كبيرة مع استغفار، ولا صغيرة مع إصرار

Dari Sa’id bin Zubair, Ibn Abbas ditanya seorang laki-laki, “Berapakah dosa besar? Apakah tuju?”. Beliau menjawab; “Ia lebih dekat ke tuju ratus dari pada ke tuju, hanya saja tidak ada dosa besar bila disertai dengan istighfar, dan tidak ada dosa kecil bila disertai dengan Ishror (melanggengkan perbuatan dosa)”.

Yakni melanggengkan dosa kecil itu termasuk dosa besar.

Maka hendaklah kita berusaha menjadi satu diantara dua golongan orang yang bertakwa ini, dan jangan sampai tergolong menjadi golongan orang-orang dzalim, dikarenakan akibatnya sangat berat kelak nanti di Akhirat. Ketika orang-orang yang bertakwa mampu selamat dari api neraka, orang-orang dzalim tinggal di neraka walau cuma sementara. Akan tetapi siapakah yang mau tinggal di neraka walau hanya sekejap mata??!

Apalagi jika kedzaliman telah bertumpuk-tumpuk sehingga menutup hati, kematian dalam kekufuran bisa saja menghampiri, dikarenakan firman Allah;

بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَاخَالِدُونَ

(Bukan demikian), yang benar; barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS 2/87)

 

Allah juga berfirman;

 

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejelekan-kejelekan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima Taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (An-Nisa’ 19)

Segeralah bertaubat sebelum ajal menjemput…!! Dan siapakah yang mampu menebak atau menghindari datangnya maut?!

 

 

Tagged: , , , , , , , , ,

§ 2 Responses to Dua Tingkatan Orang Bertakwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dua Tingkatan Orang Bertakwa at Spirit Islam Inside.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers

%d bloggers like this: