Penyebab penting perbedaan para fuqoha

May 13, 2010 § Leave a comment

(sebagian terjemahan kitab Fiqih Muqoran, sebuah proyek menterjemah yang gagal)

Telah kita ketahui bahwa perbedaan pendapat para fuqoha adalah rahmat, dan bahwa padanya terdapat efek yg besar dalam menghasilkan kemaslahatan umat dan menghilangkan kesempitan dari manusia dan bahwasanya ia adlah perbedaan hujjah dan dalil seperti yg kita lihat.

Akan tetapi sebaiknya kita mengetahui bahwa perbedaan ini adalah bersifat fitrah sepanjang anugerah dan kemampuan berbeda-beda pada fitrah manusia. Maka setiap orang memahami dengan kadar yg allah beri berupa aqal dan pikiran. Yg menunjukkan atas hal tersebut adlah sabda rasul saw: “barang siapa yg allah kehendaki padanya kebaikan allah akan memberinya kefahaman dalam agama, dan sesungguhnya aku adlah yg membagi dan allah yg memberi” maknanya adlah “aku yg membagi diantara kamu apa yg diwahyukan padaku, dengan penyampaiakan padaku pada kalian atas kadar batas yg sama tanpa aku mengkhususkan yg satu dengan yg lain. Sedang allah adalah yg membagi setiap orang dari kalian suatu kefahaman berdasarkan kadar aqalmu yg bebeda kadarnya dari apa yg ada pada yg lainnya.

Begitu juga sabda nabi saw “ hendaklah yg hadir menyampaikan pada yg tidak hadir, maka mungkin orang yg hadir menyampaikan pada orang yg lebih dapat menerima apa yg disampaikan dari pada ia”

Dan sabda nabi saw “ banyak orang yg menyampaikan ilmu kepada orang yg lebih faham darinya, dan banyak orang membawa ilmu bukanlah orang yg faqiih (faham)”

Dan beginilah! Telah berbeda-beda ijtihad-ijtihad para sahabat ra pada zaman rasul saw pada satu kejadian dan tidak inkar atas mereka rasulullah saw atas perbedaan mereka. Sepeti halnya telah berbeda pendapaat sepeninggal rasul saw dan tidak inkar salah satu dari mereka atas yg lainnya, bahkan terkadang mencabut pendapatnya dan mencocoki yg lainnya.

Dan kepada anda aku berikan beberapa contoh:

1-dari abdullah ibn umar ra beliau berkata : rasulullah berkata kepada kita ketika kita kembali dari perang ahzab : “ janganlah satu diantara kamu sholat asharkecuali di bani quraidzoh”. Maka sebagian dari mereka  menemukan sholat ashar  di jalan, maka sebagian dari mereka berkata : kita tidak akan solat sehingga sampai di bani quraidzoh, sebagian lagi berkata : tetapi kita sholat, nabi tidak menghendaki dari kita seperti itu. Kemudian kejadian tersebut diutarakan kepada nabi, maka nabi tidak mencaci satupun dari mereka.

(bukhori : solat khauf, bab sholatnya orang yg mencari dan dicari dengan menunggang dan memberi isyarat no 904. muslim : jihad dan berpergian, bab bersegera dalam berperang dan mendahulukan dua perkara penting yg saling berlawanan  no 1770)

2- dari abi said al khudry ra belia berkata : dua orang laki-laki keluar dalam suatu perjalanan kemudian datanglah waktu sholat dan tidak ada beserta mereka air. Kemudian mereka bertayammum dengan pasir yg suci lalu sholat, kemudian mereka  mnemukan air pada waktu sholat, maka salah satu dari mereka berwudlu lalu mengulangi sholat sedang yg lain tidak mengulangi. Kemudian mereka berdua datang kepada rasul saw lalu menuturkan kejadian tersebut pada beliau. Maka beliau berkata pada orang yg tidak mengulangi sholat : “engkau telah menepati sunnah dan sholatmu telah mencukupimu”. Dan berkata kepada yg berwudlu kemudian mengulangi : “bagimu pahala dua kali”

Dan menurut imam nasai : “adapun engkau maka bagimu seperti dua bagian (pahala)”

Maka ini adalah penetapan yg jelas dari nabi saw pada pensyariatan ijtihad, dan bahwasanya tidak ada dosa dalam perbedaan pendapat yg terjadi sebagai buah dari perbedaan tsb.

3- dari hudzail ibn syurahbil ia berkata : abu musa ditanya tentang anak perempuan dan anak laki-laki dan saudara perempuan (dalam masalah warisan) kemudian beliau menjawab : bagi anak perempuan separuh dan bagi saudara perempuan separuh, dan datangilah ibn masud maka ia akan mengikutiku. Kemudian ibn masud ditanya dan diberitahu tentang perkataan abi musa. Maka beliau berkata : aku benar-benar telah tersesat jika demikian dan tidak termasuk orang yg diberi petunjuk. Aku memutuskan dalam masalah ini dengan apa yang diputuskan nabi saw : bagi anak laki-laki separuh, dan bagi anak perempuan seperenam sebagai penyempurna dua pertiga sedang yg tersisa itu bagi saudara perempuan. Kemudian kami datang kepada abu musa dan memberi tahu beliau tentang ucapan ibn masud, maka ia berkata “jangan kalian tanya aku selagi masih terdapat orang yg alim ini”

(Bukhori : faraidl, bab mewarisnya anak laki-laki berserta anak perempuan no 6355)

Dari amr ibn ash ra : bahwasanya ia mendengar rasullullah saw bersabda : jika seorang hakim menghukumi maka ia berijtihad kemudian benar maka ia mendapat dua pahala, dan jika ia berhukum lalu berijtihad kemudian salah maka ia mendapat satu pahala.

(bukhori : berpegang pad kitab dan sunnah, bab pahala hakim jika berijtihad kemudian benar atau salah, no 6919. muslim : putusan-putusan bab: pahala hakim jika berijtihad kemudian benar atau salah)

Dan setelah penjelasan ini, maka kepadamu kami suguhkan penyebab penting terjadinya perbedaan pendapat diantara fuqoha

1- perbedaan dalam hal tetapnya suatu dalil

Terkadang suatu dalil dianggap tetap menurut sebagian dikarenakan adilnya rawi menurut mereka, sedang keadilannya tidak tetap menurut yg lain maka tidak menrima dalil ini dan tidak mengamalkannya.

Termasuk contoh-contohnya adalah : perbedaan pendapat tentang air sedikit yg terkena najis.

Imam syafii berkata jika air kurang dari dua kulah maka ia menjadi najis sebab terkena najis walaupun tidak berubah. Golongan syafii berhujjah atas hal tersebut dengan apa yg difaham dari sabda rasul saw “ jika air telah sampai dua kulah maka tidak dapat membawa najis” yakni tidak dapat terkena dampak najis. Maka difaham darinya bahwa air yg kurang dari dua kulah dapat menjadi najis.

Imam malik رحمه الله berkata tidak najis kecuali jika berubah salah satu sifatnya yaitu rasa warna dan bau karena mengamalkan keumuman sabda nabi “ air yg suci tidak dapat najis dengan suatu apapun”

Dan tidak mengambil hadist dua kullah karena hadist itu tidak tetap menurut beliau.

2- perbedaan dalam memahamai nash

Termasuk dalam hal ini adalah perbedaan pendapat mereka dalam masalah janin yg disembelih ibunya kemudian lahir dalam keadaan mati.

Abu dawud, tirmidzi, ibn majah dari abu said ra ia berkata : aku bertanya pada nabi saw tentang janin, maka beliau menjawab : makanlah jika kalian mau. Abu said berkata : kita berkata : ya rasulullah, kita menyembelih unta, menyembelih sapi dan kambing, maka kami menemukan didalamnya janin, apakah kita membuangnya atau memakannya? Nabi berkata : makanlah jika kalian mau, karena sembelihannya itu senyembelihan ibunya.

Dan abu dawud dan imam addarimi meriwayatkan dari jabir ibn abdullah ra dari rasulullah beliau berkata “sembelihan janin adalah sembelihan ibunya”

(Abu dawud ; kitab penyembelihan bab no 2827,2828. attirmidzi ; kitab berburu ; apa yg datang dalam penyembelihan janin, no 1476, ibn majah ; hewan yg disembelih, bab sembelihan janin adalah sembelihan ibunya, no3199. addarimi : sembelihan; bab, dalam sembelihan janin adalah sembelihan ibunya no 1913)

3- penggunaan bahasa dan kemungkinan lafadz syara’ mengandung banyak makna, seperti lafazd musytarak misalnya, yaitu  lafadz yg dibuat untuk banyak makna, maka dibutuhkanlah untuk membawa lafadz tsb kepada satu makna dengan suatu petunjuk.

Temasuk hal tersebut adlah hadist ibn umar ra ia berkata ; rasulullah saw berkata “berlebih-lebihlah dalam mencukur kumis dan biarkanlah jenggot tumbuh”

(Bukhori : pakaian, bab; membiarkan jenggot, no 5554. muslim : thoharah, ban; sifat-sifat fitrah, no 259)

Maka lafadz عفا-يعفو mempunyai makna memperbanyak, maka makna hadist tsb adalah: membiarkan jenggot pada keadaannya sehingga menjadi banyak.

Dan juga lafat tsb datang menggunakan makna menyedikitkan, diucapkan lafadz عفت اليار yakni hancur dan roboh, maka makna hadist menjadi sedikitkanlah rambut jenggot dengan membersihkannya dan memotong rambut yg panjang.

4- perbedaaan pendapat pada syarat diterimanya hadist

Imam malik telah mensyaratkan hadist ahad tidak menentang amalnya penduduk madainah, contohya:

Ibn umar meriwayatkan ra dari nabi saw beliau berkata : “sesungguhnya orang yg berjual-beli itu mempunyai khiyar (boleh memilih) pada jual-belinya selagi belum berpisah, atau memang jual beli tersebut merupakan khiyar”. Imam nafi berkata : ‘ibn umar jika membeli barang yg menakjubkan baginya ia memisahi penjualnya”.

(Bukhori : jual-beli, bab; berapa tempat yg dibolehkan khiyar, no 2001. muslim : jual beli, bab: tetapnya khiyar majlis bagi orang yg berjual-beli no 1531)

Imam syafii dan ahmad mengambil hadist ini dan berkata : setiap penjual dan pembeli boleh membatalkan jual-beli selagi masih berada dalm majlis aqa dan tidak berpisah dengan badannya

Sedang imam malik tidak mengambilnya dan berkata : aqad tetap dengan ijab dan qobul. Walaupun beliau meriwayatkan hadist tersebut dalam kitab muwatto’nya dari nafi dari ibn umar. Tetapi setelah itu ia berkata ; bagi kta pada hadist ini tidak ada batas yg diketahui dan tidak ada perkara yg diamalkan dengan hadist ini.

Imam abu hanifah mensyaratkan beberapa syarat untuk menerima hadist ahad, sebagian darinya adalah :

Hadist ahad tidak menentang qaidah yg umum dalam pensyariatan, seperti :

Diriwayatkan bahwa abu hurairah ra berkata : rasulullah saw berkata ; barang siapa membeli kambing yg dibiarkan air susunya, kemudian ia memerah susunya, maka jika ia ridlo ia boleh menahannya, tapi jika ia marah maka pada ganti susunya terdapat satu sho’ kurma

(Bukhori ; jual-beli bab : jika seorang menghendaki mengembalikan kambing yg dibiarkan susunya, dan pada susunya terdapat satu dho’ kurma, no 2044. muslim : jual-beli, bab pengharaman seorang membeli atas pembelian orang lain, no 1515)

Maka imam abu hanifah tidak mengambil hadist ini dan tidak berpendapat adanya khiyar bagi orang yg membeli hewan yg di biarkan susunya, karena qaidah yg umum dalam pensyariatan : adalah bahwa barang yg dirusak itu diganti dengan perkara yg sama atau senilai dengannya, maka pembeli disini merusakkan susu yg ada dalam wadahnya, maka yg asal adalah ia mengganti dengan susu atau yg senilai, sedang satu sho’ kurma tidaklah sama dengan apa yg ia ambil berupa susu dan juga bukan merupakan perkara yg senilai dengannya, karena terkadang yg diambil itu sedikit dan terkadang banyak.

Sedang jumhur fuqoha selain abu hanifah mengambil hadist ini.

5- perbedaan dalam sebagian kaidah ushul fiqih

Seperti dilalah lafadz umum kepada seluruh afradnya, apakah ia bersifat dzonny atau qoth’i?

Maka menurut jumhur dilalahnya dzonny sedang menurut abu hanifah qoth’i

Dan mulcullah atas hal tersebut perbedaan dalam furu’.

Contohnya :

Imam bukhori meriwayatkan dari ibn umar ra, dari nabi saw beliau bersabda : pada yg disirami hujan dan mata air atau merupakan tanah yg diairi hujan, sepersepuluh. Dan yg diairi dengan cara menyirami separuhnya sepersepuluh.

Imam muslim meriwayatkan dari jabir ra bahwasanya dia mendengar nabi saw berkata “ psds yg diairi sungai dan hujan sepersepuluh. Dan pada yg disirami dengan kincir air separuhnya sepersepuluh

Dan imam bukhori dan muslim meriwayatkan dari abu said ra dari nabi saw beliau berkata “tidak ada sodaqoh bagi yg kurang dari lima wasaq”

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Penyebab penting perbedaan para fuqoha at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: