Iman Dan Pengertiannya

June 15, 2010 § Leave a comment

Ketahuilah bahwasanya iman dan amal sholeh adalah kunci hidup bahagia di dunia dan akhirat, allah berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (An-Nahl 97)

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya (Ath-Thalaq 11)

Sedang orang yang tidak beriman maka amalnya tidak berguna dan diakhirat menjadi orang yang rugi.

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa yang kafir dengan iman (perkara yang wajib diimani) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (Al-Maidah 5)

pengertian Iman

Iman secara bahasa berarti percaya

قال الله تعالى: { وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ }

Allah berfirman : “kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar” (Yusuf 17)

Sedang secara syara’ iman adalah percaya dg hati,dan beramal.

Beramal disini mencakup, berikrar dg lisan, melaksanakan kewajiban, atau meninggalkan larangan.

Adapun yg menunjukkan bahwa iman itu percaya dengan hati adalah firman Allah

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آَمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ

Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman

Sampai dg firman Allah :

أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (Al-Maidah 41)

Sedang yg menujukkan bahwa iman adalah berikrar dg lisan adalah firman allah

قُولُوا آَمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya (Al-Baqoroh 136)

Dan sabda Rasul Saw;

امرت ان اقاتل الناس حتى يقولوا لا اله الا الله وانى رسول الله فإذا قالوها عصموا منى دماءهم واموالهم الا بحقها وحسابهم على الله

Aku diperintah untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan “Tiada tuhan selain Allah dan seseunggunya aku adalah utusan Allah”, maka jika mereka mengucapkannya, berarti mereka telah menjaga darah dan harta mereka kecuali dengan haknya sedang hisabnya atas Allah. (HR. Baihaqi)

Sedang yg menunjukkan bahwa iman adalah beramal dg anggota badan adalah

جاء رجل إلى أبي ذر فسأله عن الإيمان، فقرأ: {ليس البر أن تولوا وجوهكم قبل المشرق والمغرب ولكن البر من آمن بالله} تلا إلى قوله: {أولئك الذين صدقوا وأولئك هم المتقون} فقال الرجل: ليس عن البر سألتك. قال أبو ذر: جاء رجل إلى النبي – صلى الله عليه وسلم – فسأله عن الذي سألتني عنه، فقرأ عليه النبي – صلى الله عليه وسلم – كما قرأت عليك، فقال له الذي قلت لي. فلما أبى أن يرضى قال له: ادن. فدنا، قال: إن المؤمن إذا عمل الحسنة سرته ورجا ثوابها، وإذا عمل السيئة ساءته وخاف عقابها

Seorang laki-laki dating kepada Abu Dzar dan bertanya kepadanya tentang iman, maka beliau membaca ayat :

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqoroh 177)

Maka laki-laki tadi berkata : bukan kebajikan yg aku tanyakan kepadamu. Abu dzar berkata : seorang laki-laki datang kepada nabi saw, dan bertanya kepadanya tentang sesuatu yg kamu tanyakan kepadku, maka nabi saw membacakan padanya (ayat) sebagaimana aku membacakan kepadamu, maka ia berkata sma dg apa yg kamu katakan kepadaku. Maka ketika ia mulai menolak untuk ridlo (dg jawaban nabi), nabi berkata kepadanya : ‘mendekatlah”. maka ia pun mendekat, nabi berkata : seorang mukmin ketika beramal kebaikan, maka kebaikan itu menyenangkannya, dan mengharap pahalanya, dan ketika beramal kejelekan, kejelekan itu tidak mengenakkannya dan takut akan akibatnya. (Diriwayatkan Oleh Ishak bin Rahawaih dalam musnadnya)

Perhatikan bagaimana iman itu dijawab oleh rasul dan sahabat abu dzar dg “kebajikan” dimana kebajikan itu, sebagai mana dalam ayat diatas, mencakup “beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Hal ini menunjukkan bahwa iman itu mencakup amal.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

الإيمان بضع وستون- أو بضع وسبعون – شعبة؛ أفضلها لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان

“Iman itu ada 60 lebih (atau 70 sekian) cabang. Iman yang paling utama adalah [ucapan] Laa ilaaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, sedangkan malu termasuk cabang dari iman.” (Muttafaq Alaih)

Maka, Seolah-olah iman itu adalah sebuah pohon akarnya adalah percaya dg hati, batangnya adalah pernyataan tiada tuhan selain allah, sedang cabang-cabangnya adalah amal. Karena itu iman dapat bertambah dan berkurang, yakni bertambah dg bertambah nya amal dan berkurang dg berkurangnya amal.

Allah berfirman :

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (Ibrahim 24)

Yang dimaksud Kalimah Thoyyibah (yang baik) adalah kalimat laa ilaa ha illallaah.

Untuk lebih jelasnya kami ambilkan contoh: bahwasanya seseorang biarpun sudah meyakini dg hati, berikrar dg lisan namun orang itu melakukan perkara yg membuatnya keluar dari agama, maka orang tersebut tidak bisa dikatakan mukmin. Ia harus meyakini dg hati, berikrar dg lisan dan meninggalkan hal yg membuat keluar dari agama islam untuk menjadi mukmin. Dan telah kami sebutkan bahwa meninggalkan perbuatan adalah termasuk beramal.

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Iman Dan Pengertiannya at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: