Biografi IBNU TAIMIYYAH

September 9, 2010 § 1 Comment

Inilah biografi seorang ulama yang mengamalkan ilmunya, imam yang selalu dekat pada Allah, syaikh Islam dan kaum muslimin, panutan masanya, pembawa berkah zaman, pembawa kebaikan insan, yang membersihkan manhaj Ahlu Sunnah wal Jamaah dari debu, pembaru pemuda Islam setelah terkotori penyakit syirik, paganisme dan bid’ah yang hina. Semoga dengannya, Allah SWT menghidupkan cahaya menara Islam dan mematikan api bid’ah.

Source; Wikipedia

Ia adalah manusia yang mengorbankan nafas-nafas terindahnya dan waktu-waktu hidupnya untuk menolong kebenaran dan manusia yang benar, menyingkirkan kebatilan dan menyingkap kepalsuan. Ia tidak lain adalah Syaikh Al-Islam Ahmad bin Abdil Halim bin Taimiyah.

Allah telah mempersiapkan baginya faktor-faktor kemuliaan, kemenangan dan ketinggian di dunia dan akhirat. Sebab ia telah tumbuh berkembang dalam rumah yang terpenuhi dengan ilmu, keutamaan dan sunnah.

Kakeknya, Al-Majdu Abu Al-Barakat adalah guru besar madzhab Hambali dan ayahnya, Syihabuddin Abdul Halim juga termasuk barisan ulama besar pada waktu itu. Jika nama ayahnya tidak tcrsohor, maka itu dikarenakan ia terletak antara cahaya bulan dan sinar matahari, sebagaimana yang dikatakan Adz-Dzahabi yang bermaksud mengisyaratkan cahaya bulan untuk kakek Ibnu Taimiyah dan sinar matahari untuk Ibnu Taimiyah.

Kemuliaan dan ilmu keluarga ini tidak terbatas pada kakek dan ayah Ibnu Taimiyah, sebab sekarang sudah ada yang membuat biografi dua puluh enam laki-laki dan perempuan dari keluarga ini. Biografi tersebut menyatakan bahwa mereka semua adalah ulama besar.

Ibnu Taimiyah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh berkah ini. Ia mulai belajar agama saat ia masih sangat kecil. la belajar kepada lebih dari dua ratus guru. Allah SWT telah memberikan kepadanya akal yang genius dan hati yang bersih dan suci.

Ibnu Taimiyah adalah orang yang sangat menghargai waktu, sangat memperhatikan arti detik-detik nafasnya. Sehingga, tidak mengherankan jika ia telah memberikan fatwa dan mengajar pada usia dua puluh tahun.

Ia mengganti posisi ayahnya setelah ayahnya meninggal dunia. Keilmuan dan keutamaan yang ia miliki terus meningkat sehingga ia menjadi Syaikh Al-Islam dan pemuka ulama yang disanjung. la sangat berpengaruh terhadap para ulama pada masanya dan mencetak mereka dengan cetakan salafiyah.

Di antara mereka adalah Imam Al-Murri. Meskipun ia lebih tua dan lebih luas ilmu haditsnya daripada Ibnu Taimiyah, namun ia terpengaruh dengan madrasah Ibnu Taimiyah yang bercorak salafi. Begitu juga muridnya, Ibnu Al-Qayyim, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir dan Ibnu Muflih. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka semua.

Ibnu Abdil Hadi mengatakan, “Syaikh kami terus-menerus mengarungi ilmu sehingga ilmunya semakin bertambah. Ia menyebarkan ilmu dan bersungguh-sungguh dalam memperoleh segala kebaikan sampai berhenti kepadanya kepemimpinan ilmu, amal, zuhud, wira’i, keberanian, kedermawanan, tawadhu’, belas kasih, taubat, keagungan dan kewibawaan.

Yang membantu kepiawaiannya dalam ilmu dan keistimewaannya yang mengalahkan teman-temannya adalah ia tidak sibuk dengan urusan dunia, ia telah menahan diri dari perhiasan dan kenikmatan dunia fana.

Al-Barrar mengatakan, “Siapakah di antara ulama yang qanaah dalam dunia seperti qanaahnya Ibnu Taimiyah atau ridha seperti ridha Ibnu Taimiyah dengan keadaan yang dialaminya? Tidak pernah terdengar bahwa dia ingin menikah dengan wanita atau budak perempuan yang cantik jelita, menginginkan rumah yang megah, budak-budak laki-laki dan perempuan, taman-taman dan tanah yang luas. Ia tidaklah tertarik pada dinar atau dirham, tidak senang memiliki kendaraan, hewan, pakaian yang halus dan mewah, tidak pula ikut memperebutkan kepemimpinan serta tidak pernah terlihat berusaha mendapatkan yang sudah jelas hukum halalnya.”

Orang yang mempelajari biografi Ibnu Taimiyah akan mengetahui dengan yakin bahwa ia tidak menikah. Ia telah meninggalkan sunnah besar ini meskipun ia adalah orang yang paling menjaga sunnah Rasulullah SAW.

Itu disebabkan ia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menikah dalam hidupnya yang lebih dari enam puluh tahun. Ia terus berada dalam satu peperangan menuju peperangan lain, dari penjara ke penjara lain, dari perdebatan ke perdebatan lain.

Ia mengirim surat kepada ibunya untuk meminta maaf atas kesibukan yang ia lakukan sehingga ia jauh darinya. Dalam surat tersebut ia mengatakan, “Mereka mengetahui kedudukan kami di negeri-negeri ini hanyalah untuk keperluan yang sangat penting, jika kami biarkan maka rusaklah agama dan dunia.

Demi Allah, kami jauh darimu bukanlah atas pilihan kami. Seandainya burung-burung mampu membawa kami terbang, maka kami akan datang kepadamu. Akan tetapi, orang yang jauh berada jauh dari keluarganya sudah pasti punya alasan tersendiri.
Seandainya Anda mengetahui apa yang ada di balik permasalah yang aku alami, maka Anda tidak akan memilih kecuali berada jauh seperti itu. Dan, Alhamdulillah kami telah mendapatkan taufik untuk itu. Kami tidak berazam untuk tetap berada dalam satu tempat dalam satu bulan, melainkan setiap hari kami beristikharah kepada Allah SWT agar diberi petunjuk pada jalan yang terbaik bagi kami dan Anda.

Berdoalah untuk kami agar kami selalu mendapatkan kebaikan. Kita berdoa kepada Allah SWT agar Allah SWT memberikan pilihan yang terbaik dan lebih selamat kepada kami, kalian dan semua umat Islam.”

Ibnu Taimiyah telah meninggalkan mutiara-mutiara berharga dan aset ilmiah yang tiada tara berupa kitab-kitab, fatwa-fatwa dan ketetapan-ketetapannya. Atas rahmat Allah SWT karya-karya Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah telah diterbitkan sebanyak lebih dari tujuh puluh jilid.

Jelas, ini adalah suatu anugrah, sebab banyak karya-karya ilmiah yang masih ditahan dalam bentuk manuskrip sehingga tidak bisa melihat cahaya dan tidak dimanfaatkan umat Islam sepanjang masa. Banyak warisan ilmiah yang hilang dan tidak terdeteksi jejaknya sehingga tidak diketahui kabarnya. Semoga Allah SWT memberikan rahmat kepada Ibnu Taimiyah dan memberikan manfaat kepada kita dengan ilmu-ilmunya.

Ia telah meninggalkan dunia dalam keadaan sabar, mencari pahala dan terus membaca Al-Qur’an di Benteng Damaskus. Siswa-siswa sekarang dan semua orang sangat butuh mempelajari biografi para ulama semisal Ibnu Taimiyah, agar cita-cita dan kesungguhan mereka mendapat angin segar sehingga bangkit kembali untuk meraih derajat yang tinggi. Semoga Allah SWT mencurahkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya dan sahabat-sahabatnya.
1.  Nama, Kelahiran dan Sifat-sifatnya

Namanya: Adalah Ahmad bin Abdil Halim bin Abdissalam bin Abdillah bin Al-Khadr bin Muhammad bin Al-Khadr bin Ali bin Abdillah bin Taimiyah An-Namiri Al-Harrani Ad-Dimasyqi Abu Al-Abbas Taqiyuddin Syaik Al-Islam.

Adapun tentang nama Taimiyah, Ibnu Al-Mutawaffi dalam Tarikh Irbil mengatakan, “Aku bertanya kepada Al-Hafizh Abu Abdirrahman bin Umar Al-Harrani tentang makna Taimiyah, ia mengatakan, “Saat ibu Ibnu Taimiyah hamil, sedang ayahnya melakukan suatu bepergian.
Ketika sampai di Taima’, ia melihat seorang perempuan hamil yang keluar dari persembunyian. Setelah pulang ke Harran ia mendapati isterinya telah melahirkan. Tatkala bayi yang telah lahir diberikan kepadanya, ia mengatakan, “Wahai Taimiyah, wahai Taimiyah!” Maksudnya, istrinya menyerupai perempuan yang ia lihat di Taima’. Oleh karena itu, bayi tersebut dinamakan Taimiyah.”

Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi dalam kitab At-Tibyan mengatakan, “Sesungguhnya ibu Muhammad bin Al-Khadr (kakeknya) adalah seorang penceramah, namanya Taimiyah. Dari sini nama Ibnu Taimiyah dinisbatkan.”

Kakeknya yang bemama Abu Al-Barakat Majduddin Abdissalam bin Abdillah adalah seorang ahli fikih dan ahli hadits. Hal ini telah berpengaruh pada Ibnu Taimiyah. Jamaluddin bin Malik mengatakan, “Dimudahkan bagi Syaikh Ibnu Taimiyah ilmu fikih sebagaimana dimudahkan bagi Dawud membentuk sesuatu yang dikehendakinya dari besi.”

Dialah pemilik Al-Muntaqa min Ahadits Al-Ahkam, Al-Muharrar fi Al-Fiqh dan Al-Ahkam Al-Kubra. Ayahnya yang bernama Syihabuddin Abu Al-Mahasin Abdul Halim bin Abdissalam belajar fikih dengan ayahnya sampai mengusainya, kemudian mengajar, memberi fatwa dan mengarang sehingga menjadi Syaikh di daerahnya setelah ayahnya.

Adz-Dzahabi mengatakan, “Syaikh Syihabuddin termasuk ulama terkemuka. Adapun namanya menjadi tersembunyi karena dia berada di antara cahaya bulan dan sinar matahari.” Adz-Dzahabi bermaksud mengisyaratkan bulan sebagai kakek Ibnu Taimiyah dan matahari sebagai Ibnu Taimiyah.

Kelahirannya: Ibnu Taimiyah dilahirkan di kota Harran pada hari Senin tanggal 10 Rabiul Awal tahun 661 Hijriyah.

Sifat-sifatnya: Asy-Syaukani mengatakan, “Adz-Dzahabi berkata, “Ibnu Taimiyah mempunyai kulit yang putih, rambut dan jenggot yang hitam, dan uban yang sedikit. Rambutnya memanjang sampai ke daun telinganya, sementara kedua matanya seolah lisan yang berbicara. Di samping itu, ia adalah orang yang panjang pundaknya, keras suaranya, fasih bicaranya, cepat bacaannya, tinggi emosinya, namun emosi yang tinggi ini dikalahkan oleh sifat belas kasihnya.”

2.  Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Al-Hafizh Syamsyuddin Adz-Dzahabi mengatakan, “Syaikh kami Ibnu Taimiyah adalah Syaikh Al-Islam, putra unggulan zaman, lautan ilmu dan penjaga agama.”

la juga mengatakan, “Ibnu Taimiyah mempunyai wawasan yang sempurna mengenai para perawi hadits, jarh wa ta’dil dan biografi mereka; mengetahui seluk-beluk ilmu hadits, sanad yang pendek dan sanad yang panjang, shahih dan dhaif; hafal matan-matan hadits. Juga, tidak ada seorang pun yang menyamai derajat keilmuannya atau mendekatinya, sangat luar biasa dalam menyebutkan hadits dan mengeluarkan hujjah-hujjah; orang yang paling menguasai Al-Kutub As-Sittah dan berpredikat Al-Musnid sehingga benarlah orang yang mengatakan, “Setiap hadits yang tidak diketahui Ibnu Taimiyah bukanlah hadits.”

la juga mengatakan, “la lebih besar daripada apa yang disebutkan mengenai sifat-sifatnya oleh orang sepertiku. Seandainya aku disuruh bersumpah antara pojok Ka’bah maqam Ibrahim, maka aku akan mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak melihat dengan mataku sendiri seorang pun yang rnenyamainya dan demi Allah, dia juga tidak melihat seorang pun yang menyamainya dalam ilmu.”

AI-Hafizh lbnu Sayyidinnas mengatakan, “Aku mengetahuinya dari orang-orang yang mengenalnya bahwa ia mempunyai ilmu yang luas dan menghafal hampir semua sunnah dan atsar. Jika berbicara dalam tafsir maka ia adalah pemegang benderanya, jika memberikan fatwa dalam ilmu fikih maka ia adalah orang yang mengetahui tujuan-tujuan akhirnya, jika berbicara mengenai hadits maka ia adalah pemilik ilmu dan riwayatnya, jika berceramah mengenai perbandingan agama maka tidak ada seorang pun yang lebih luas dan lebih tinggi pengetahuannya tentang hal itu darinya. la adalah orang yang terkemuka dalam setiap cabang ilmu dan ulama yang lebih pandai daripada teman-temannya. Mata orang yang melihatnya dan matanya sendiri tidak melihat seorang pun yang menyamainya.”

Imam Kamaluddin Az-Zamlakani mengatakan, “Sejak lima ratus tahun yang lalu tidak ada seorang pun yang terlihat lebih hafal hadits darinya.”

Ia juga mengatakan, “Ibnu Taimiyah adalah tuan kami, Syaikh kami, ikutan kami, seorang Syaikh, imam, ulama besar yang tiada duanya, Al-Hafizh yang piawai, zuhud, wira’i, sempurna wawasannya, penjaga agama, Syiakh Al-Islam, tuan para ulama, panutan para imam yang mulia, pembela sunnah, penghancur bid’ah, hujjah Allah atas hamba-hambaNya, pembantah ahli sesat dan ingkar agama, pemimpin para ulama yang mengamalkan ilmunya, akhir para mujtahid. Ia adalah Abu Al-Abbas Ahmad bin Abdil Halim bin Abdissalam bin Taimiyah Al-Harrani. Semoga Allah meninggikan menaranya dan memperkuat pilar-pilar agama dengannya.

Apa yang hendak dikata ahli cerita tentangnya?
Kebaikannya tidak cukup terwakili kata-kata
Dialah hujjah Allah yang perkasa
Dia ada di antara kami menakjubkan sepanjang masa
Tanda kebesaran Tuhan agar dilihat makhluk
Cahaya fajar pun dibuatnya menjadi takluk

Ibnu Daqiq Al-Id ketika menemuinya dan mendengarnya mengatakan, “Aku tidak pernah menyangka bahwa Allah masih menciptakan makhluk sepertimu.”

Ia juga mengatakan, “Ketika aku berkumpul dengan Ibnu Taimiyah, maka aku melihat semua ilmu berada di depannya, ia mengambil dan meninggalkan apa saja yang ia ingini.”

Ibnu Al-Wardi mengatakan, “Aku nunghadiri majelis-majelis Ibnu Taimiyah, aku temukan ia adalah bait kasidah, awal untaian mutiara. Para ulama adalah bagaikan bintang-bintang, sementara ia adalah bulan, mereka bagaikan jasad, sementara ia adalah hati, mereka bagaikan bulan, sementara ia adalah matahari, mereka bagaikan satu tetes air, sementara ia adalah lautan. Pada suatu hari aku hadir di majelisnya lalu ia memanggilku dan mencium dahiku. Aku berkata,
Sungguh Ibnu Taimiyah matahari ulama dalam semua ilmu
Wahai Ahmad, kau hidupkan agama dan syariat Ahmad

Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi mengatakan, “Demi Allah, mataku tidak melihat seseorang yang lebih luas ilmunya dan lebih kuat kecerdasannya melebihi seorang yang disebut dengan Ibnu Taimiyah, seorang yang zuhud dalam makanan, pakaian dan wanita, seorang yang teguh dalam membela kebenaran dan berjihad dengan segala sesuatu yang memungkinkan.”

Ia juga mengatakan, “Ibnu Taimiyah adalah Syaikh, imam, ulama besar, Al-Hafizh, sang kritikus, ahli fikih, mujtahid, mufassir, manusia yang mempunyai kepiawaian tinggi, Syaikh Al-Islam, tokoh zuhud, orang yang langka pada zamannya, salah satu ulama besar, orang yang masuk dalam kategori lautan ilmu, cerdas, zuhud dan tiada taranya.”

Syaikh Ahmad Waliyullah Ad-Dahlawi mengatakan, “Orang seperti Syaikh ini (Ibnu Taimiyah) jarang kita temukan di dunia. Tidak ada orang yang mampu menandingi ilmu-ilmunya, dalam ketelitian maupun dalam keputusan yang diambilnya. Sedangkan orang-orang yang membencinya tidak mampu mencapai sepersepuluh ilmu yang telah diberikan Allah SWT kepadanya.”

Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani mengatakan, “Setelah Ibnu Hazm meninggal dunia, aku tidak mengetahui manusia yang keilmuannya sederajat dengan Ibnu Taimiyah. Aku tidak berpikir bahwa zaman di antara kedua tokoh tersebut tidak mengizinkan orang yang menyamainya atau mendekatinya. Ia berhak melakukan ijtihad karena telah terkumpul dalam dirinya syarat-syarat ijtihad.”
3.  Perkembangan Hidup Dan Upayanya Dalam Mencari Ilmu

Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah tumbuh berkembang dalam penjagaan yang sempurna dan sederhana dalam pakaian dan makanan. Ia terus melakukan demikian sampai akhir hayatnya.

Di samping itu, ia juga sangat berbakti kepada orangtua, bertakwa, berwira’i, beribadah, banyak berpuasa, shalat, dzikir kepada Allah SWT dalam setiap urusan dan keadaan, mengembalikan segala perkara kepada Allah SWT, berhenti pada batas-batas-Nya berupa perintah dan larangan-Nya, menyuruh melakukan perbuatan yang makruf dan mencegah perbuatan yang munkar. Jiwanya hampir tidak pernah kenyang dengan ilmu, tidak puas dari membaca, tidak bosan mengajar dan tidak pernah berhenti meneliti.

Sejak masih kecil, tanda-tanda kebesarannya serta perhatian Allah SWT kepadanya sudah tampak jelas.

Al-Hafizh Al-Bazzar mengatakan, “Aku diceritakan orang yang dapat aku percaya tentang Syaikh Ibnu Taimiyah saat ia masih kecil. Apabila ia ingin pergi ke suatu perpustakaan, ia dihalangi oleh seorang Yahudi yang rumahnya berada di pinggir jalan menuju perpustaakan tersebut.

Orang Yahudi tersebut bertanya tentang masalah-masalah tertentu kepadanya karena ia melihat pada diri anak kecil tersebut suatu kecerdasan yang luar biasa. Setiap kali ditanya, ia menjawab dengan jawaban yang cepat dan tepat. Hal ini membuat orang Yahudi tersebut terkagum-kagum. Kemudian setiap kali ia melewati orang Yahudi tersebut maka ia memberikan informasi-informasi yang menunjukkan kebatilan agama yang dianut orang-orang Yahudi.

Akibatnya, orang Yahudi tersebut masuk Islam dan berusaha sebaik-baiknya dalam menjalankan agama Islam. Hal itu disebabkan barakah Syaik Ibnu Taimiyah yang kala itu masih kecil.”

Sejak masih kecil, ia bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan mendapatkannya. Ia tidak seperti teman-temannya yang suka bermain-main, layaknya anak-anak kecil. Ia tidak rela meninggalkan kelezatan belajar, tidak menggunakan waktu untuk selain ilmu.

Alkisah, suatu hari, ayahnya, saudaranya dan sejumlah keluarganya mengajaknya pergi berlibur untuk bertamasya dan bersenang-senang. Namun, ia lari bcrsembunyi dari mereka agar tidak ikut. Setelah mereka kembali pada sore hari, mereka mencelanya karena ia tidak ikut dalam tamasya tersebut dan keterasingannya dalam rumah sendirian. Maka, ia mengatakan kepada mereka, “Kalian tidak mendapatkan tambahan apa-apa, sementara aku dalam waktu kepergian kalian telah menghafal satu jilid kitab ini.” Kitab yang ia maksud adalah Jannah An-Nazhir wa Junnah Al-Manazhir.

Termasuk peristiwa yang menyingkap kecerdasannya yang luar biasa, pemahamannya yang cepat dan kemampuannya yang tinggi dalam penggalian hukum adalah apa yang telah disebutkan Ibnu Al-Qayyim sebagai berikut.

Suatu saat, ketika ia masih kecil, ia bersama dengan sekelompok penduduk Bani Najjar. Ia membahas suatu masalah bersama mereka dimana mereka telah berpandangan suatu hal yang ditolak oleh Ibnu Taimiyah.

Karena itu, mereka mendatangkan kitab yang mendukung pendapat mereka. Setelah kitab tersebut berada di hadapannya, maka Ibnu Taimiyah melempar kitab tersebut karena rasa marah yang timbul dalam hatinya.

Mereka berkata kepadanya, “Kamu terlalu gegabah! Kamu membuang kitab itu dari tanganku padahal itu adalah kitab yang berisi ilmu!”

Dengan cepat, Ibnu Taimiyah memberikan pertanyaan, “Siapakah yang lebih baik, Musa atau aku?” Mereka menjawab, “Musa.” Ibnu Taimiyah berkata, “Manakah yang lebih baik, kitab ini atau papan mutiara yang di dalamnya terdapat sepuluh kalimat?”

Mereka menjawab, “Papan mutiara.” Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya Musa melempar papan-papan tersebut dari tangannya, ketika ia marah.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan, “Ia, Ibnu Taimiyah, datang bersama ayah dan keluarganya di Damaskus saat ia masih kecil. Maka, ia pun mendengar hadits dari Ibnu Abdiddaim, Ibnu Abi AI-Yusr, Ibnu Abdan, Syaikh Syamsyuddin Al-Hambali, Syaikh Syamsyuddin bin Atha’ Al-Hanafi, Syaikh Jamaluddin Al-Baghdadi, An-Najib bin Al-Miqdad, Ibnu Abi Al-Khair, Ibnu Allan, Ibnu Abi Bakar Al-Yahudi, Al-Kuhli Abdurrahim, Al-Fakhr Ali, Ibnu Syaiban, Asy-Syaraf bin Al-Qawas, Zainab binti Makki dan ulama-ulama lain. Di samping mendengar hadits dari mereka, ia juga membaca dan meneliti hadits sendiri.”

4.  Keunggulannya Dalam Ilmu, Kepiawaiannya dalam Setiap Cabang Ilmu dan Isyarat Ulama Bahwa Dia Adalah Pembaharu dan Mutiara Zamannya

AI-Hafizh Adz-Dzahabi mengatakan, “Ibnu Taimiyah adalah seorang yang cerdas, cepat paham, sang ketua dalam mengetahui Al-Qur’an, sunnah dan khilaf ulama, lautan dalam ilmu naqli.

Juga, pada zamannya ia adalah orang yang paling tinggi ilmu, zuhud, berani, dan dermanya, ulama yang menyuruh melakukan perbuatan yang makruf, mencegah perbuatan yang mungkar dan banyak menyusun karya ilmiah. la terus membaca dan menghasilkan karya tulis, pandai dalam bidang hadits dan fikih, ahli mengajar dan memberi fatwa ketika umurnya menginjak tujuh belas tahun.

la unggul dalam bidang tafsir, ushul, dan semua ilmu-ilmu Islam, selain ilmu Qira’at (macam-macam bacaan Al-Qur’an). Apabila disebut tafsir, maka ia adalah pemegang benderanya, apabila disebut fuqaha, maka ia adalah sang mujtahid mutlak, apabila para ahli hadits yang berpredikat Al-Hafizh datang dan ia berbicara, maka mereka membisu, jika ia menjelaskan, maka mereka merasa kecil hati, ia merasa kaya ilmu sementara mereka merasa miskin ilmu, apabila disebut ahli ilmu kalam, maka ia adalah rujukan mereka, jika Ibnu Sina melebihkan kaum filosofi, maka ia segera membobol tabir-tabir mereka dan menyingkap aib-aib mereka.
Ibnu Taimiyah mempunyai wawasan yang luas mengenai bahasa Arab dan segala yang terkait dengannya. la lebih besar dari apa yang ditulis orang yang menulis tentangnya. Sejarah, ilmu, pengetahuan, ujian-ujian dan perjalanannya adalah lebih dari dua jilid, jika ditulis. Sebagai manusia biasa ia tentu mempunyai kesalahan dan kekurangan.

Semoga Allah mengampuninya dan menempatkannya dalam surga yang tertinggi. Dia adalah ulama umat, satu-satunya tokoh besar zamannya, pemegang bendera syariat, pejuang masalah-masalah umat Islam dan orang yang paling tinggi ilmunya.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan, “Ibnu Taimiyah menguasai banyak ilmu, cerdas dan banyak hafalannya. la menjadi imam dalam tafsir dan yang berkaitan dengannya, mengetahui secara dalam ilmu fikih.

Sehingga, dikatakan bahwa ia lebih mengetahui fikih madzhab-madzhab daripada para pengikut madzhab-madzhab tersebut, menguasai perkhilafan ulama, mengetahui ilmu ushul, furu’, nahwu, bahasa dan lain-lain dari ilmu naqli dan aqli. Tidak pernah ada yang membantahnya dalam majelisnya.

Jika ada seorang ulama yang berbicara kepadanya dalam suatu cabang ilmu, maka ulama tersebut akan menyimpulkan bahwa Ibnu Taimiyah adalah ahli dalam hal yang ia bicarakan itu dan akan melihatnya sebagai orang yang mengetahui permasalahan secara detil.

Adapun dalam bidang hadits, dia adalah orang yang membawa benderanya, menghafalnya, membedakan antara shahih dan dhaif, mengetahui para perawi dan menguasai semua itu dengan penguasaan yang luar biasa.

Ia mempunyai banyak karya tulis dan komentar-komentar dalam bidang ilmu ushul dan ilmu furu’. Kitab-kitab karyanya tersebut sudah ada yang disempurnakan dan ada yang belum disempurnakan.

Banyak ulama yang semasa dengannya memujinya atas karya-karyanys itu, seperti Al-Qadhi Al-Khaubi, Ibnu Daqiq Al-Id, Ibnu An-Nuhas, Al-Qadhi Al-Hanafi, hakim agung Mesir (Ibnu Al-Hariri), Ibnu Az-Zamlakani dan ulama-ulama yang lain.

Saya menemukan tulisan Az-Zamlakani yang berbunyi, “Telah terkumpul dalam Ibnu Taimiyah syarat-syarat ijtihad sebagaimana mestinya dan bahwasanya ia mempunyai keahlian dalam menulis suatu karya dengan ungkapan yang indah, rapi, terklasifikasi dan mengandung nilai agama yang tinggi.” Sanjungan ini diberikan ketika umur Ibnu Taimiyah menginjak tiga puluh tahun.”

Ibnu Al-Hadi mengatakan, “Syaikh Ibnu Taimiyah mempunyai karya tulis, fatwa, kaidah, jawaban, risalah dan lain-lain yang tidak terhitung jumlahnya. Aku tidak mengetahui ulama yang terdahulu maupun yang terakhir yang mengumpulkan seperti apa yang ia kumpulkan, mengarang seperti apa yang ia karang, bahkan mendekatinya pun tidak. Padahal mayoritas karya-karyanya ia tulis langsung dengan mengandalkan hafalan-hafalannya dan ketika ia berada dalam penjara, sementara dalam penjara tidak ada kitab-kitab yang ia butuhkan untuk dijadikan referensi.”

Ibnu Al-Ummad Al-Hambali mengatakan, “Termasuk orang yang menegaskan bahwa Ibnu Taimiyah seorang mujtahid adalah Syaikh Imaduddin Al-Wasithi yang meninggal lebih dahulu daripada Ibnu Taimiyah. Setelah banyak memujinya, A1-Wasithi mengatakan, “Demi Allah, demi Allah, demi Allah, di bawah langit yang luas tidak terlihat orang yang seperti kalian, Ibnu Taimiyah dalam ilmu, amal, perilaku, akhlak, keteguhan dalam menjaga sunnah, kedermawanan dan belas kasihan.

Sungguh, ia adalah manusia yang memenuhi hak Allah SWT ketika kehormatan-Nya dirusak, insan yang paling dermawan dan manusia yang paling sempurna dalam mengikuti Nabi Muhammad SAW.

Pada masa sekarang ini, kami tidak melihat orang yang tampak padanya, perkataan dan perbuatan yang sesuai dengan keNabian Muhammad SAW kecuali lelaki ini. Hati yang sehat akan bersaksi bahwa Ibnu Taimiyah adalah benar-benar mengikuti sunnah Rasulullah.”

Al-Alusi mengatakan, “Seakan-akan ilmu bercampur dengan daging, darah dan sekujur tubuhnya. Ia bukanlah barang pinjaman ilmu, akan tetapi syiar dan pembela ilmu. Allah telah mengumpulkan kepadanya ilmu dan perilaku yang melebihi adat, memberikan taufik kepadanya dalam seluruh umurnya untuk memberikan kebahagiaan pada umat, menjadikan peninggalan-peninggalan karya ilmiahnya sebagai kesaksian yang terbesar.

Semua akal yang sehat sepakat bahwa dia adalah termasuk yang dimaksud sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah mengutus atas setiap permulaan seratus tahun orang memperbarui urusan agama umat Islam.”

Allah telah menghidupkan dengan Ibnu Taimiyah syariat-syariat agama yang telah dihilangkan dan menjadikannya sebagai hujjah atas semua orang yang semasa dengannya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”
5.  Ibadah dan Kezuhudannya

Al-Bazzar mengatakan, “Adapun ibadahnya, jarang terdengar bahwa ada ibadah orang lain yang menyamainya, karena dia telah menggunakan banyak waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Karena ibadahnya yang kuat, maka ia tidak menjadikan dirinya, keluarganya dan hartanya melalaikannya dirinya dari mengingat Allah SWT.

Malam-malamnya ia gunakan untuk menyembah kepada Allah SWT dalam kesendirian dan membaca Al-Qur’an dengan tawadhu’ dan khusyu. Apahila ia sudah masuk dalam shalat, maka anggota tubuhnya gemetar dan condong ke kiri dan ke kanan.

Kebiasaannya telah diketahui semua orang, di antaranya, ketika selesai shalat Subuh, tidak ada seorang pun yang mengajak bicara kepadanya kecuali ada kepentingan yang sangat mendesak. Waktu tersebut ia gunakan untuk berdzikir kepada Allah SWT dengan suara yang didengar oleh telinganya sendiri, dan terkadang didengar orang yang ada di sampingnya.
Dalam keadaan itu, ia sering menengadahkan pandangannya ke arah langit. Demikian ia lakukan sampai matahari naik dan waktu shalat yang terlarang sudah hilang.”

Ibnu Al-Qayyim mengatakan, “Suatu saat aku melihat Syaikh Ibnu Taimiyah shalat Shubuh kemudian duduk berdzikir sampai waktu hampir mencapai pertengahan siang. Kemudian ia menoleh kepadaku dan berkat, “Inilah makananku. Jika aku tidak makan makanan ini, maka kekuatanku akan runtuh.” Atau perkataan yang semakna dengan itu.
Pada saat yang lain, ia mengatakan kepadaku, “Aku tidak meninggalkan dzikir kecuali berniat istirahat atau menyegarkan jiwa untuk persiapan dzikir yang lain.” Atau mengatakan perkatan yang sejenis dengan perkataan tersebut.”

Adapun tentang zuhudnya, dia memandang dunia ini dengan pandangan yang menghina. Telah hilang baginya segala yang tampak dari dunia, sebaliknya, tersingkap baginya hakekat dunia seisinya.

Dari situ, ia telah mengistirahatkan jiwanya dari kelelahan dan kepayahan dunia, mempersembahkan dirinya untuk menyembah Allah SWT, mempersiapkan hari akhir, mengosongkan hati dari syahwat, memenuhinya dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan janji-janji Allah dan Rasul-Nya. Allah telah membukakan kepadanya sikap zuhud ini sejak masih kecil sehingga zuhud menjadi tanda den sifatnya. Para sejarahwan yang menulis biografinya sepakat menyebutnya sebagai orang yang zuhud.

Guru Ibnu Taimiyah yang mengajarkannya Al-Qur’an menceritakan bahwa ayah Ibnu Taimiyah berkata kepadanya, saat itu Ibnu Taimiyah masih kecil, “Aku ingin agar Anda mewasiatinya dan menjanjikan kepadanya, jika ia terus belajar dan membaca Al-Qur’an, maka ia akan diberi uang sebanyak empat puluh dirham setiap bulan.”

Ayahnya memberikan uang sebanyak empat puluh dirham kepada guru tersebut dan mengatakan kepadanya, “Berikanlah uang ini kepadanya. Seperti yang Anda ketahui ia masih kecil, barangkali ia senang dengan uang itu dan tambah semangat belajar dan membaca Al-Qur’an.”

Lalu, gurunya tersebut mengatakan kepada Ibnu Taimiyah yang kecil itu, “Kamu berhak mendapatkan uang sebanyak empat puluh dirham setiap bulan.”

Namun, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Wahai tuanku, sungguh aku berjanji kepada Allah untuk tidak mengambil upah dari Al-Qur’an.” Dan memang Ibnu Taimiyah tidak mengambil upah atas nama Al-Qur’an dalam hidupnya.

Al-Bazzar mengatakan, “Siapakah di antara ulama yang qanaah dalam dunia seperti qanaahnya Ibnu Taimiyah atau ridha seperti ridhanya dengan keadaan yang dialaminya? Tidak pernah terdengar bahwa dia ingin menikah dengan wanita atau budak perempuan yang cantik jelita, menginginkan rumah yang megah, budak-budak laki-laki dan perempuan, taman-taman dan tanah yang luas. Ia tidaklah tertarik pada dinar atau dirham, tidak senang memiliki kendaraan, hewan, pakaian yang halus dan mewah, tidak pula ikut memperebutkan kepemimpinan serta tidak pernah terlihat berusaha mendapatkan yang sudah jelas diperbolehkan.”

6.  Akhlaknya

Ibnu Abdil Hadi mengatakan, “Syaikh kami terus-menerus mengarungi ilmu sehingga semakin bertambah ilmunya. Ia selalu menyebarkan ilmu dan bersungguh-sungguh dalam memperoleh segala kebaikan sampai berhenti kepadanya kepemimpinan dalam ilmu, amal, zuhud, wira’i, keberanian, kedermawanan, tawadhu’, belas kasih, taubat, keagungan dan kewibawaan,
perintah pada perbuatan yang makruf, larangan pada perbuatan yang mungkar dan segala bentuk jihad.

Ia juga bersungguh-sungguh dalam jujur, amanah, menjaga harga diri, bertujuan yang baik, ikhlas, merendahkan diri kepada Allah SWT, banyak takut kepada-Nya, banyak merasa terawasi oleh-Nya, berpegang teguh pada atsar, berdoa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memberikan manfaat kepada makhluk, berbuat baik kepada mereka, sabar terhadap orang yang mcnyakitinya, dan memberikan maaf kepadanya, berdoa untuknya dan kebaikan-kebaikan yang lain.”

Di antara akhlak-akhlaknya adalah suka berderma, tawadhu’, berani, sabar dan memberi maaf.

Kedermawanannya

Imam Al-Bazzar mengatakan, “Telah meriwayatkan kepadaku seseorang yang dapat aku percaya bahwa suatu hari, Syaikh Ibnu Taimiyah lewat di suatu pemukiman. Lalu, ada seorang fakir yang memanggil-manggilnya. Ibnu Taimiyah tahu bahwa orang fakir tersebut bermaksud meminta shadaqah, sementara dia tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan kepada orang fakir tersebut.

Maka, ia berinisiatif mengambil pakaian yang dikenakannya dan memberikannya kepada orang fakir tersebut seraya berkata kepadanya, “Juallah sekehendakmu lalu gunakanlah uang hasil penjualannya.” Ia meminta maaf kepada orang fakir tersebut karena ia tidak membawa sesuatu yang diberikan kepadanya, selain pakaian tersebut!

Peristiwa di atas menunjukkan tingginya keikhlasan dalam beramal yang dilakukan Syaikh Ibnu Taimiyah. Maha Suci Allah yang memberikan taufik kepada orang yang dikehendaki-Nya untuk sesuatu yang dikehendaki-Nya pula.

Pada hari yang lain, ada seseorang yang minta kitab yang dapat ia manfaatkan. Lalu Ibnu Taimiyah berkata kepadanya, “Ambillah apa yang kamu pilih.” Lelaki tersebut melihat mushaf di antara kitab-kitab Ibnu Taimiyah dimana mushaf tersebut telah ia beli dengan harga yang mahal. Lelaki tersebut mengambilnya dan pergi.

Lalu, sebagian orang mencela Syaikh Ibnu Taimiyah atas tindakannya tersebut. Ia berkata kepada mereka, “Apakah pantas aku mencegahnya setelah ia memintanya? Biarkanlah dia mengambilnya agar dia memanfaatkannya.”

Ibnu Al-Qayyim menjelaskan bahwa kedermawanannya tidak terbatas pada harta tetapi juga pada ilmu. Ia mengatakan, “Apabila Ibnu Taimiyah ditanya suatu masalah, maka dia menjelaskan berbagai madzhab tentang masalah tersebut, dalil-dalil yang digunakan masing-masing madzhab dan pendapat yang rajih dari madzhab-madzhab tersebut.

Di samping itu, ia juga tidak lupa menyebutkan masalah-masalah yang mempunyai hubungan dengan masalah yang ditanyakan, justru terkadang   masalah-masalah yang tidak ditanyakan tersebut lebih bermanfaat bagi si penanya daripada masalah yang ditanyakan kepadanya. Sehingga, si penanya merasa lebih senang dengan masalah-masalah yang tidak ia tanyakan tersebut daripada masalah yang ia tanyakan sendiri.

Dari sini, para pencelanya mengritik. Mereka mengatakan, “Ia ditanya sang penanya tentang jalan yang menuju Mesir, sebagai misal, namun di samping jalan menuju Mesir, ia menyebutkan jalan menuju Makkah, Madinah, Khurasan, Irak dan India. Apa kebutuhan penanya dengan negeri-negeri yang tidak ditanyakan tersebut?” Demi Allah, hal itu tidaklah aib, justru aib yang sebenarnya adalah kebodohan dan takabur. Ini adalah seperti yang ada dalam perumpamaan yang masyhur,
Mereka menganggapnya cuka yang masam
Bak orang yang tak pernah merasakan anggur manis merangsang

Ketawadhu’annya

Al-Bazzar mengatakan, “Ibnu Taimiyah tidak bosan dengan orang yang meminta fatwa kepadanya, bahkan ia menghadapnya dengan muka yang menunjukkan rasa senang dan cinta, lemah lembut terhadapnya dan tetap bersamanya sampai meninggalkan majelisnya.
Kepada sang penanya, ia tidak bertindak kasar, mempersulit atau menakuti-nakuti dengan perkataan yang keras, sebaliknya ia menjawabnya dan menjelaskan kepadanya secara lemah lembut dan rileks mana yang salah dan mana yang benar. Ia bertawadhu’ ketika bersama dengan manusia atau jauh dari mereka sekalipun, baik ketika berjalan, berdiri, duduk di majelisnya atau majelis lainnya.”

Al-Bazzar meriwayatkan dari sebagian temannya, “la sangat tawadhu’ dan menghormatiku ketika aku bersamanya. Bahkan, ia tidak memanggil dengan namaku akan tetapi dengan nama panggilan yang paling baik. Ia memperlihatkan akhlak dan tawadhu’ yang sangat besar kepadaku, yaitu apabila kami keluar dari rumahnya dengan tujuan mendengarkan pelajaran darinya, maka ia membawa sendiri kitabnya dan tidak mau seorang pun membawakannya. Aku meminta maaf atas hal itu karena takut tidak beradab dengannya, maka ia berkata, “Seharusnya kitab ini aku letakkan di atas kepalaku, aku hanyalah ingin mernbawa kitab yang di dalamnya terdapat sabda-sabda Rasulullah SAW.”

Ia duduk di lantai, tidak di kursi dan tidak menempati tempat yang terdepan dari majelisnya sampai aku malu dalarn majelisnya itu, aku merasa kagum dengan tawadhu’nya yang sangat tinggi.

Dcmikianlah ia bertawadhu’, rendah hati dan memuliakan setiap orang yang datang kepadanya, bersama atau bertemu dengannya. Setiap orang yang bertemu dengannya akan menceritakan besarnya tawadhu’ yang dimilikinya seperti apa yang aku ceritakan atau bahkan lebih dari itu.
Maha Suci Allah yang telah memberikan kepadanya taufik dan pertolongan serta menjalankannya pada kebaikan-kebaikan.”

Keberaniannya

Al-Alusi mengatakan, “Adapun keberanian dan jihadnya, maka suatu penjelasan apapun tidak dapat mencakupnya secara sempurna. Ia sebagaimana yang dikatakan Al-Hafizh Sirajuddin Abu Hafsh dalam Manaqibnya adalah orang yang paling berani dan paling tegar hati menghadapi musuh. Aku tidak melihat seseorang yang keberaniannya melebihi keberanian Ibnu Taimiyah dan semangat jihadnya dalam melawan musuh melebihi semangatrtya. Ia selalu berjihad di jalan Allah dengan hati, lisan dan tangannya serta tidak takut hinaan orang yang menghina dalam membela agama Allah.

Banyak orang menceritakan bahwa Syaikh Ibnu Taimiyah juga sering ikut bersama pasukan Islam dalam peperangan melawan musuh. Apabila ia melihat pasukan yang gelisah dan takut, maka ia memberikan semangat kepadanya, memantapkan hatinya, menjanjikan kemenangan dan ghanimah kepadanya dan menjelaskan keutamaan jihad dan mujahidin. Apabila ia naik kuda, maka ia langsung menyerbu di tengah-tengah pasukan musuh seperti seorang pemberani yang besar, tetap berada di atas kudanya seperti pasukan penunggang kuda yang tegar, mampu melukai musuh karena sudah sering berperang dengan mereka dan masuk dalam kancah peperangan seperti seorang lelaki yang tidak takut mati.

Mereka menceritakan keberaniannya yang luar biasa yang tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata. Mereka mengatakan bahwa faktor kemenangan pasukan Islam adalah karena melalui musyawarah dengannya, taktik perang darinya dan serangan yang ia lakukan terhadap musuhnya.

Tatkala Sultan lbnu Ghazan berkuasa di Damaskus, Raja Al-Karaj datang kepadanya dengan membawa harta yang banyak agar Ibnu Ghazan memberikan kesempatan kepadanya untuk menyerang kaum muslimin Damaskus.

Namun, berita ini sampai ke telinga Syaikh Ibnu Taimiyah. Sehingga, ia langsung bertindak menyulut api semangat kaum muslimin untuk menentang rencana tersebut dan menjanjikan kepada mereka suatu kemenangan, keamanan, kekayaan dan rasa takut yang hilang. Lalu bangkitlah para pemuda, orang-orangtua dan para pembesar mereka menuju Sultan Ghazan.

Tatkala Sultan Ghazan melihat Syaikh Ibnu Taimiyah, Allah SWT menjadikan hati Sultan Ghazan mengalami ketakutan yang hebat terhadapnya sehingga ia meminta Syaikh Ibnu Taimiyah untuk mendekat dan duduk bersamanya.

Kesempatan tersebut digunakan Syaikh Ibnu Taimiyah untuk menolak rencananya, yaitu memberikan kesempatan kepada Raja Al-Karaj yang untuk menghabisi umat Islam Damaskus. Ibnu Taimiyah memberitahu Sultan Ibnu Ghazan tentang kehormatan darah muslimin, mengingatkan dan memberi nasehat kepadanya. Maka Ibnu Ghazan menuruti nasehat Ibnu Taimiyah tersebut. Dari situ, terselamatkan darah-darah umat Islam, terjaga isteri-isteri mereka dan terpelihara budak-budak perempuan mereka.

Syaikh Kamaluddin Al-Anja mengatakan, “Aku hadir bersama Syaikh Ibnu Taimiyah, lalu ia berbicara kepada Sultan dengan firman Allah dan sabda Rasul-Nya mengenai keadilan dan lainnya. Ia bersuara keras dalam berbicara dengan Sultan, mendekat kepadanya sampai lututnya hampir menempel lutut Sultan.

Meskipun demikian, Sultan tetap menghadap kepadanya dengan perhatian dan pendengaran yang penuh atas apa yang dikatakannya. Karena besarnya rasa cinta dan takut yang ditimbulkan Allah dalam hati Sultan, maka ia bertanya, “Siapakah Syaikh ini? Aku belum pernah melihat orang sepertinya, manusia yang hatinya besar dan tegar dan manusia yang perkataannya sangat mengena di hati. Aku tidak melihat diriku sangat taat kepada seseorang melebihi taatku kepadanya.” Maka, ia diberitahu sifat-sifatnya dan ilmu serta amal yang dimilikinya.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata kepada penerjemah Ghazan, “Katakan kepada Ghazan, kamu mengatakan bahwa kamu muslim, bersamamu hakim, imam, syaikh dan para muadzin sebagaimana yang kami ketahui. Akan tetapi, kamu memerangi kami. Ayahmu dan kakekmu dulu adalah orang kafir namun tidak melakukan apa yang kamu lakukan, keduanya membuat perjanjian dan menepati perjanjian itu, kamu membuat perjanjian tetapi kamu mengingkarinya, kamu berkata namun tidak sesuai dengan fakta dan kamu telah berbuat zhalim.”

Lalu, Ibnu Taimiyah keluar dari Ibnu Ghazan dalam keadaan terhormat karena niatnya yang baik, yaitu berusaha menuntut terjaganya darah muslimin.

Oleh karena itu, Allah SWT mengabulkan apa yang ia inginkan. Perjuangan Ibnu Taimiyah ini juga merupakan sebab terbebasnya mayoritas umat Islam yang tertawan serta mengembalikan mereka kepada keluarga mereka dan menjaga isteri-isteri mereka. Ini tidak lain adalah bentuk keberanian dan keteguhan hati yang paling kuat dan besar.

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Seseorang tidak takut kepada selain Allah SWT kecuali ada penyakit dalam hatinya. Ada seorang lelaki yang mengadu kepada Ahmad bin Hambal tentang ketakutannya pada sebagian penguasa. Maka Ahmad bin Hambal menjawab, “Jika hatimu sehat maka kamu tidak akan takut selamanya.”

Salah seorang panglima perang menceritakan tentang perang Syaqhab. Ia mengatakan, “Syaikh Ibnu Taimiyah berkata kepadaku saat dua pasukan sudah terlihat, “Wahai kamu, perlakukan aku seolah aku sudah mati.” Lalu aku membawanya ke depan, sementara musuh-musuh sudah turun bak banjir yang mengalir dengan deras. Peralatan perang mereka terlihat si sela-sela debu yang berterbangan.

Lalu, aku berkata kepadanya, “Ini akan mengantarkanmu pada kematian, batalkan keinginanmu itu!” Ia menengadahkan mukanya ke langit, meluruskan pandangannya, menggerakkan kedua bibirnya dalam waktu yang lama kemudian bangkit dan maju ke medan perang. Aku tidak melihatnya lagi sampai Allah SWT memberikan kemenangan pada umat Islam yang berhasil masuk ke kota Damaskus.

Belas Kasih dan Sikapnya yang Mudah Memberi Maaf

Ustadz Nashir bin Abdillah Al-Maiman mengatakan, “Hati Syaik Ibnu Taimiyah terpenuhi dengan cinta ilmu, kebenaran dan kebaikan. Tidak ada tempat bagi hatinya nafsu jahat dan keinginan untuk balas dendam. Dari sini, kamu menemuinya bersikap sabar terhadap musuh-musuhnya yang berusaha keras menyakitinya, membawa perkhilafan ilmiah dengannya menuju konflik individu, kemudian menghinakannya, merusak perkarannya dan tidak hormat kepadanya. Meskipun musuh-musuhnya seperti ini, ia tetap menampilkan sikap terpuji kepada mereka, suatu sikap yang muncul dari hati yang bersih dan suci. Ia memaafkan setiap orang yang menzhaliminya dan menyakitinya.

Dalam suratnya yang ia tulis kepada teman-temannya di Mesir terdapat kata-kata sebagai berikut,
“Allah telah menampakkan cahaya dan bukti kebenaran yang menolak kebohongan dan kedustaan. Aku tidak ingin seseorang yang berdusta kepadaku atau menzhalimiku dibalas. Karena aku menyukai kebaikan bagi semua umat Islam, aku ingin setiap muslim mendapatkan kebaikan sebagaimana diriku menginginkannya. Orang-orang yang telah berdusta dan zhalim kepadaku telah aku maafkan. Adapun dosa-dosa yang berhubungan dengan hak-hak Allah, maka jika mereka bertaubat, maka Allah akan menerima taubat mereka. Jika mereka tidak mau bertaubat, maka hukum Allah berlaku bagi mereka. Seandainya seseorang yang mempunyai amal buruk berhak mendapat syukur, maka aku akan mensyukuri orang-orang yang menzhalimiku karena syukur tersebut akan menimbulkan kebaikan di dunia dan akhirat.”

Lebih besar dari itu adalah sikapnya terhadap para ulama Mesir yang memusuhinya, mengeluarkan fatwa untuk memenjarakannya dan bahkan berusaha membunuhnya. Ketika Raja An-Nashir kembali ke Kairo dan memperoleh kembali kekuasaannya, maka pertama kali yang ia lakukan adalah meminta Syaikh Ibnu Taimiyah yang berada di Iskandariah untuk datang kepadanya. Setelah Ibnu Taimiyah datang kepadanya, Raja An-Nashir menghormatinya, memuliakannya dan menerimanya dengan sebaik-baik penerimaan, kemudian mengajaknya ke sudut suatu ruangan dan berbincang-bincang dengannya selama kurang lebih satu jam.

Ibnu Katsir mengatakan, “Aku mendengar Syaikhn Taqiyuddin (Ibnu Taimiyah) menceritakan perbincangan antara dia dan Sultan ketika mereka berdua menyendiri duduk di samping sebuah jendela. Dalam perbincangan itu, Sultan meminta fatwa kepadanya untuk membunuh sebagian hakim yang telah mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak berpihak kepada Sultan dan sebagian mereka mengeluarkan fatwa agar ia dicopot dari kekuasaannya yang sebagai gantinya Jasynakir diangkat menjadi Raja. Di samping itu, para hakim tersebut juga telah memusuhi dan menyakiti Ibnu Taimiyah.

Atas alasan-alasan tersebut, Sultan An-Nashir meminta fatwa kepada Ibnu Taimiyah untuk membunuh mereka. Syaikh Ibnu Taimiyah paham maksud Sultan. Oleh karena itulah, ia malah mengagungkan para hakim dan ulama serta menolak jika mereka disakiti. Ia berkata kepada Sultan, “Jika kamu membunuh mereka, maka kamu tidak akan menemukan orang seperti mereka setelahnya.” Sultan berkata kepadanya, “Mereka telah menyakitimu dan berusaha membunuhmu berulangkali.”

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Barangsiapa yang menyakitiku, maka aku telah memberikan maaf kepadanya dan barangsiapa yang telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan membalas mereka. Aku tidak ingin memperoleh kemenangan untuk diriku sendiri.”

Ibnu Taimiyah terus berada dalam sikapnya tersebut sehingga Sultan memaafkan dan mengasihi para hakim dan ulama.

Ibnu Katsir mengatakan, “Hakim Malikiyah, Ibnu Makhluf mengatakan, “Kami tidak pernah melihat seorang seperti Ibnu Taimiyah, kami telah memusuhinya dan kami tidak mampu mengalahkannya kemudian ia mampu mengalahkan kami namun memaafkan kami.”

7.  Ujian yang Diterima Syaikh Ibnu Taimiyah

Asy-Syaukani mengatakan, “Syaikh Ibnu Taimiyah mengalami ujian dan fitnah yang berulangkali dari orang-orang yang memusuhinya pada zamannya.

Setiap orang pasti ada yang menyukainya dan ada yang membencinya. Begitu juga Ibnu Taimiyah. Manusia terbagi menjadi dua dalam kaitannya dengannya. Ada yang menilainya tidak sebagaimana mestinya akan tetapi menuduhnya dengan dosa-dosa besar.

Scbaliknya, ada orang yang berlebih-lebihan dalam memberikan penilaian yang baik kepadanya, fanatik membelanya sebagaimana kelompok pertama fanatik memusuhinya. Ini adalah kaidah yang sudah biasa berlaku bagi setiap alim yang berilmu dan berpengetahuan sangat luas, melebihi manusia pada zamannya dan menggunakan Al-Qur’an dan sunnah sebagai dasar agama mereka.

Maka, sudah wajar jika Ibnu Taimiyah dimusuhi orang-orang bodoh, mendapatkan ujian yang beruntun dari mereka. Namun, setelah itu usaha dan perbuatannya mendapatkan penilaian yang tinggi, ujian-ujian yang ia terima menyebabkannya menjadi lisan yang jujur bagi orang-orang setelahnya dan ilmunya mendapatkan penghargaan dari semua orang.

Demikianlah keadaan Ibnu Taimiyah. Setelah meninggal dunia, orang-orang mengetahui kadarnya, lisan-lisan sepakat memujinya kecuali beberapa lisan yang tidak perlu dilirik, karya-karyanya beredar dan makalah-makalahnya menjadi masyhur.

Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah mendapatkan ujian yang banyak dan berulangkali. Hampir pada setiap saat, ia mendapatkan ujian, mengikuti perang, mengalami permusuhan dan perdebatan, bahkan sampai akhir hidupnya ia berada dalam benteng Damaskus. Ia dipenjara di situ namun ia tetap sabar dan mengharap pahala dari Allah. Karena dilarang menulis dan mengajar, maka ia gunakan seluruh waktunya untuk membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya sebanyak delapan puluh satu khataman yang pada khataman terakhir ia sampai pada ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (Al-Qamar: 54-55)

Di antara cobaan yang dialami Syaikh Ibnu Taimiyah adalah bahwasanya penduduk Hamat telah mengajukan pertanyaan kepadanya pada tahun 698 (enam ratus sembilan puluh delapan) Hijriyah. Ibnu Taimiyah menjawab pertanyaan mereka dengan fatwa yang dikenal dengan Al-Fatwa Al-Hamawiyah Al-Kubra. Dalam fatwa tersebut, ia mengikuti undang-undang salaf untuk menjelaskan masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah serta menjauhi takwil dan ta’thil (peniadaan sifat).

Pada waktu itu telah tertanam rasa hasud kepadanya di hati para fuqaha. Maka mereka menghasud para penguasa untuk memusuhinya. Pada saat itu pula, pasukan Tartar terus menyerang kaum muslimin sehingga para penguasa dan fuqaha berlari menyelamatkan diri.

Hal itu tidak terjadi pada Ibnu Taimiyah, ia tetap teguh menghadapi mereka sampai pada akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin. Setelah itu, situasi kembali tenang dan Syaikh Ibnu Taimiyah memulai aktifitasnya dengan mengajar dan mengarang. Karena kedudukan Ibnu Taimiyah yang tinggi di mata orang-orang awam dan para penguasa, maka timbul kembali rasa dengki di hati orang-orang yang benci kepadanya.

Cobaan yang lain adalah apa yang terjadi antara dia dan Abu Hayyan di Kairo pada tahun 700 (tujuh ratus) Hijriyah. Pada mulanya, Abu Hayyan menerimanya dengan penerimaan yang baik. Ia berkata, “Dua mataku tidak melihat seorang pun seperti lelaki ini.” Ia juga memujinya dengan syair-syair.

Pada perkembangan selanjutnya, terjadi suatu perdebatan antara Ibnu Taimiyah dan Abu Hayan. Abu Hayyan pada waktu itu menyebutkan Sibawaih, maka Ibnu Taimiyah menolak dengan keras. Atas dasar itu, Abu Hayyan memusuhinya, memutus hubungan dengannya dan menjadikan pernyataan keras dari Ibnu Taimiyah itu sebagai dosa yang tidak terampuni.

Abu Hayyan ditanya mengenai sebab permusuhan tersebut. Ia mengatakan, “Aku berdebat dengannya dalam suatu pembahasan yang ada kaitannya dengan bahasa Arab. Aku sebutkan kepadanya pendapat Sibawaih, namun ia mengatakan, “Sibawaih bukanlah Nabi nahwu, tidak pula seorang yang makshum, ia telah melakukan kesalahan dalam delapan puluh tempat dalam Al-Qur an yang tidak kamu pahami.”

Itulah yang menyebabkan pemboikotan Abu Hayyan terhadap Ibnu Taimiyah dan pengejekan terhadapnya, yang itu termuat dalam tafsirnya, Al-Bahr dan ringkasannya, An-Nahr.”

Pada tahun 705 (tujuh ratus lima) Hijriyah terjadi permusuhan antara dia dan thariqah Al-Ahmadiyah Ar-Rifa’iyah. Mereka mcmakai kalung-kalung besi dalam leher-leher mereka dan meminyaki tubuhnya dengan minyak khusus. Kemudian mereka memasuki api sementara tubuh mereka tidak terbakar. Mereka memamerkan atraksi tersebut kepada kaum awam dari umat Islam agar dianggap sebagai kemampuan yang melebihi adat kebiasaan (khariq al-‘adah). Melihat hat ini, Syaikh Ibnu Taimiyah menentangnya dengan keras. Mereka mengadukannya kepada wakil Sultan dan menuntut Ibnu Taimiyah ditahan agar tidak mengganggu mereka.

Namun, Ibnu Taimiyah berkata, “Ini tidak mungkin, setiap orang harus mengikuti Al-Qur’an dan sunnah, baik dalam ucapan maupun perbuatannya. Maka, barangsiapa yang keluar dari keduanya wajib ditentang. Barangsiapa yang ingin masuk ke dalam api, maka hendaklah mandi terlebih dahulu (agar bersih dari minyak). Setelah itu, barulah ia masuk ke dalam api, jika tubuhnya memang benar-benar tidak terbakar api. Sekalipun seandainva ahli bid’ah masuk ke dalam api setelah mandi dan tidak terbakar tubuhnya maka hal itu tidak menunjukkan kesalehan, bukan pula karamah akan tetapi suatu kondisi yang bertentangan dengan syariat. Demikian itu adalah apabila pelakunya mengikuti sunnah, bagaimana dengan orang yang tidak mengikuti sunnah?”

Akhir cerita, mereka melepaskan kalung-kalung besi dari leher mereka dan orang yang keluar dari Al-Qur’an dan sunnah dipenggal lehernya.

Pada tahun yang sama Sultan memberikan instruksi melalui surat agar Ibnu Taimiyah dibawa ke Kairo. Ia pun pergi menuju Kairo dengan kendaraan pos, sementara itu orang-orang keluar dengan menangis dan sedih karena harus berpisah dengan Ibnu Taimiyah.

Dalam perjalanan tersebut, ia penuh percaya diri dan berharap pada pertolongan Allah. Setelah sampai di Kairo, dibuatlah untuknya suatu majelis di benteng Shalahuddin. Ikut hadir dalam majelis itu, para penguasa, pembesar negara, hakim, dan ulama fikih. Mereka tidak memberikan kesempatan berbicara kepada Ibnu Taimiyah. Sementara juru bicara dipegang oleh Zainuddin bin Makhluf, hakim Malikiyah.

Lalu, Ibnu Taimiyah berbicara dan memuji Allah. Maka dikatakan kepadanya, “Kamu hanya menjawab, tidak boleh berceramah!” Dari perkataan ini, Syaikh Ibnu Taimiyah menjadi mengerti bahwa majelis tersebut adalah majelis penghakiman bukan perdebatan. Ia bertanya, “Siapakah yang akan menghakimiku?” Ia diberitahu bahwa yang menjadi hakim adalah seorang hakim bermadzhab Maliki tersebut. Ia berkata kepada hakim tersebut, “Bagimana kamu menghakimiku sementara kamu adalah orang yang memusuhiku?”

Singkat cerita, Ibnu Taimiyah dipenjara di suatu menara beberapa hari, lalu pada malam Idul Fitri ia dipindah ke suatu penjara yang dikenal dengan Al-Jubb. Dipenjara pula bersamanya dua saudaranya, Syarafuddin dan Zainuddin. Ia berada di penjara sekitar delapan belas bulan. Pada bulan Rabiul Awal tahun 707 (tujuh ratus tujuh) Hijriyah Raja Arab, Husamuddin Mahna bin Isa datang ke Mesir. Ia meninjau penjara dan mengeluarkan Ibnu Taimiyah setelah meminta izin.

Syaikh Ibnu Taimiyah keluar dari penjara. Ia bermukim di Kairo sambil mengajarkan kebaikan, menyebarkan ilmu dan berkumpul dengan banyak orang. Hal ini berlalu sampai akhirnya kelompok Sufi mengadukannya kepada hakim. Mereka menjelaskan bahwa Ibnu Taimiyah mencerca Ibnu Arabi dan ulama tasawuf lainnya, padahal tokoh seperti Ibnu Arabi bagi kalangan sufi adalah orang yang disucikan dan tidak boleh dicerca. Maka Ibnu Taimiyah disuruh memilih bermukim di Damaskus atau bermukim di Iskandaria dengan beberapa persyaratan atau dipenjara. Ia memilih penjara daripada menerima persyaratan-persyaratan tersebut. Ia masuk penjara dalam tahun yang ia keluar dari penjara sebelumnya.

Teman-teman Ibnu Taimiyah ingin agar ia memilih pergi ke Damaskus dengan memenuhi persyaratan-persyaratan mereka. Ibnu Taimiyah menerima saran mereka lalu pergi menuju Damaskus. Namun, musuh-musuhnya ingin agar Ibnu Taimiyah tetap berada dalam genggaman mereka dan berada di bawah pengawasan mereka. Oleh karena itu, keluarlah instruksi penguasa agar ia dikembalikan ke Kairo. Pada hari besoknya ia sudah berada di Kairo lagi dan dikirim ke penjara Mahkamah. Di situ, ia diizinkan bersama dengan orang yang senang berbakti kepadanya.

Sultan Nashir bin Qalawun adalah Sultan yang mencintai dan mengagumi Ibnu Taimiyah. Namun, pada saat itu ia sudah dicopot dari kekuasaannya. Sedangkan yang menggantinya adalah Raja Al-Muzhaffar Baibras Al-Jasynakir, seorang murid tokoh Sufi, Nashr Al-Munbaji yang mengikuti pendapat-pendapat Ibnu Arabi.

Oleh karena itu, Syaikh Ibnu Taimiyah menjadi musuh politik Al-Muzhaffar karena ia dipandang sebagai pengikut Nashir bin Qalawun dan orang yang pendapatnya dalam masalah i’tiqad tidak sama dengan pendapat Sultan Babras dan gurunya, Al-Munbaji.

Maka, ditetapkanlah pengasingan Ibmi Taimiyah di Iskandariah pada malam terakhir dari bulan Shafar 709 Hijriyah. Di sana, ia menetap selama delapan belas bulan dalam suatu menara yang indah dan bersih serta mempunyai dua jendela. Salah satu jendela itu mengarah ke laut. Siapa saja boleh masuk kepadanya sehingga para tokoh dan ulama besar berdatangan kepadanya untuk belajar dan membahas ilmu bersamanya.

Al-Alusi mengatakan, “Ketika ia masuk dalam penjara, ia menemukan orang-orang yang ada dalam penjara sibuk dengan permainan dan hiburan seperti catur dan dadu, sementara shalat mereka tidak terurusi.

Sehingga, Syaikh Ibnu Taimiyah mengingkari hal itu dan memerintahkan kepada mereka untuk selalu melaksanakan shalat dan menghadap kepada Allah dengan amal-amal saleh, tasbih, istighfar dan doa.

Di samping itu, Ibnu Taimiyah mengajarkan kepada mereka apa yang mereka butuhkan dari sunnah Rasulullah dan mendorong mereka untuk melakukan kebaikan sehingga penjara tersebut sibuk dengan dunia ilmu dan agama yang melebihi banyak kumpulan, pondok dan madrasah yang ada. Orang-orang yang dipenjara setelah dikeluarkan dari penjaranya lebih memilih menetap bersamanya. Dalam penjara tersebut banyak orang-orang yang berdatangan kepadanya untuk meminta fatwa dan mendengarkan pembahasan ilmu.”

Ibnu Taimiyah terus berada di Iskandariah sampai Sultan Nashir kembali memegang tampuk kekuasan negeri Mesir pada Idul Fitri tahun 709 Hijriyah. Sultan Nashir memerintahkan agar Ibnu Taimiyah dikeluarkan dari penjara dan dibawa ke Kairo dengan penuh kehormatan.

Akhirnya, Syaikh Ibnu Taimiyah keluar dari Iskandariah menuju Kairo. Penduduk Iskandariah memberikan ucapan selamat kepadanya dan berharap agar dia kembali lagi ke Iskandariah. Peristiwa tersebut banyak disaksikan orang. Ibnu Taimiyah sampai di Kairo pada tanggal 18 Syawal dan berkumpul dengan Sultan pada hari Jumat tanggal 24 Syawal.

Di Kairo, Syaikh Ibnu Taimiyah meneruskan tugasnya, yaitu menyebarkan ilmu dan memerangi bid’ah. Suatu saat, ia ikut pergi bersama pasukan Mesir untuk melakukan penyerangan terhadap tentara Tartar. Setelah sampai ke daerah Asqalan, ia menuju Baitul Maqdis dan dari sini ia pergi menuju Damaskus. Ia mengambil jalan melalui Ajlaran dan sampai di Damaskus pada awal Dzulqa’dah tahun 712 Hijriyah. Ia telah meninggalkan Damaskus selama tujuh tahun berturut-turut.

Ibnu Taimiyah kembali ke Syam dan di sana ia kembali mulai mengajar ilmu, menulis kitab, memberikan fatwa dalam bentuk ucapan maupun tulisan dan terus berpegang pada Al-Qur’an dan sunnah dalam segala hal.

Ibnu Taimiyah telah memberikan fatwa yang banyak dalam masalah fikih sesuai dengan hasil ijitihadnya sendiri. la berfatwa bahwa talak yang dilatarbelakangi sumpah tidak sah dan ia membedakan antara talak mu’allaq dan talak dengan sumpah. Fatwanya tersebut telah bertentangan dengan pendapat empat imam madzhab. Akibatnya, fuqaha dari penganut berbagai madzhab menentang fatwa tersebut dan bersikap tegas dalam penentangan itu.

Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 718 Hijriyah. Hakim agung Syam memerintahkan kepada Syaikh Ibnu Taimiyah untuk tidak berfatwa dalam masalah ini, masalah sumpah dalam talak. Ibnu Taimiyah menuruti perintah tersebut. Di samping ada perintah dari hakim agung, ada juga perintah yang sama dari Sultan dan larangan berfatwa yang diumumkan di seluruh negeri. Ibnu Taimiyah tidak berfatwa dalam masalah tersebut dalam beberapa waktu saja, namun kemudian ia kembali memberikan fatwa secara bebas agar tidak terjerumus dalam dosa menyimpan ilmu.

Sebuah majelis diselenggarakan di istana kenegaraan. Majelis tersebut dihadiri wakil menteri, para hakim, ahli fikih, mufti dari empat madzhab. Mereka mencela Ibnu Taimiyah, bukan berdebat dengannya. Celaan, hinaan dan permintaan kepadanya terus berulang namun semua itu tidak berfaedah apa-apa di hadapannya. Maka ditetapkan suatu keputusan penjara bagi Ibnu Taimiyah, sesuai dengan instruksi wakil menteri. Ibnu Taimiyah berada dalam penjara selama lima bulan dan delapan belas hari, dimulai tanggal 24 Rajab tahun 720 Hijriyah dan dikeluarkan dari penjara atas instruksi Sultan pada tanggal 10 Muharram tahun 721 Hijriyah.

Setelah keluar dari penjara, Ibnu Taimiyah memulai kembali aktifitas ilmiahnya. Namun, orang-orang yang memusuhinya dan dengki terhadapnya selalu mengawasi gerak-geriknya. Sehingga, berkumpullah mereka untuk mengadakan konspirasi terhadapnya, dan dalam hal ini mereka berkolaborasi dengan Sultan sehingga pada tanggal 7 Sya’ban tahun 726 Hijriyah keluarlah perintah dari Sultan agar Ibnu Taimiyah dipenjara di benteng Damaskus.

Dalam benteng tersebut disediakan aula untuk Ibnu Taimiyah. Dalam penjara, ia ditemani oleh saudaranya, Zainuddin untuk membantunya. Murid dan teman-temannya ditangkap, sebagian mereka dita’zir dengan dinaikkan di atas unta dan dipertontonkan di muka umum. Kemudian mereka dilepaskan, kecuali muridnya yang cemerlang, yaitu Ibnu Al-Qayyim.

Dalam penjara kali ini, Ibnu Taimiyah merasa senang karena ia dapat membaca, menulis suatu karya dan mengirimkannya ke luar penjara. Namun, hal ini harus berhenti karena ada perintah dari Sultan agar kitab, pena dan tinta yang ada bersamanya dikeluarkan dari penjara. Ia dilarang keras membaca. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 9 Jumadil Akhir tahun 728 Hijriyah.

Tidak lama kemudian, Syaikh Ibnu Taimiyah jatuh sakit dalam penjara. Sakitnya itu menelan waktu lebih dari dua puluh hari. Menteri Syamsuddin meminta izin untuk menjenguknya, lalu diizinkanlah dia untuk itu. Setelah duduk di samping Ibnu Taimiyah, ia meminta maaf atas kesalahannya. Maka Syaikh Ibnu Taimiyah mengatakan kepadanya bahwa ia telah memaafkannya karena ia melakukan kesalahannya bukan atas inisiatif pribadinya akan tetapi ikut orang lain. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Aku telah memaafkan setiap orang yang bersalah terhadapku kecuali orang yang menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya.”

Syaikh Ibnu Taimiyah meninggal pada malam Senin tanggal 20 Dzulqa’dah tahun 728 (tujuh ratus dua puluh delapan) Hijriyah. Setelah kitab-kitabnya dikeluarkan dari penjara, ia terus membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya setiap sepuluh hari sekali.
8.  Guru dan Murid-muridnya

Guru-gurunya: adalah sebagai berikut:

1.  Zainuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Abduddaim, ulama besar dalam bidang hadits.

2.  Taqiyyuddin Abu Muhammad Ismail bin Ibrahim bin Abi Al-Yusr At-Tanukhi.

3.  Aminuddin Abu Muhammad Al-Qasim bin Abi Bakar bin Qasim bin Ghanimah Al-Arbali.

4.  Al-Ghana’im Al-Muslim bin Muhammad bin Makki Ad-Dimasyqi.

5.  Ayahnya, Syihabuddin Abdul Halim bin Abdissalam bin Taimiyah.

6.  Syamsuddin Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Umar Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Qudamah Al-Magdisi, pemilik Asy-Syarh Al-Kabir.

7.  Afifuddin Abu Muhammad Abdurrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Alatsi Al-Hambali.

8.  Fakhruddin Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdil Wahid bin Ahmad Al-Bukhari.

9.  Majduddin Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Utsman bin Al-Muzhaffar bin Hibatullah bin Asakir Ad-Dimasyqi.

10.  Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdil Qawi bin Badran bin Abdillah Al-Mardawi Al-Magdisi.

Murid-muridnya: adalah sebagai berikut:

1.  Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad Al-Manja bin Utsman bin Asad bin Al-Manja At-Tanukhi Ad-Dimasyqi.

2.  Jamaluddin Abu Al-Hajjaj Yusuf bin Az-Zakki Abdurahman bin Yusuf bin Ai Al-Mizzi.

3.  Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abdil Hadi.

4.  Syamsuddin Abillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdillah Ad-Dimasyqi Adz-Dzahabi.

5.  Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar bin Ayyub yang terkenal dengan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

6.  Shalahuddin Abu Said Khalil bin Al-Amir Saifuddin Kaikaladi Al-Alai Ad Dimasyqi.

7.  Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Muflih bin Muhammoul bin Mufarraj Al-Maqdisi.

8.  Syarafuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Al-Hasan bin Abdillah bin Abi Umar bin Muhammad bin Abi Qudamah.

9.  Imaduddin Abu Al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir Al-Bashari Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi.

10.  Taqiyuddin Abu Al-Ma’ali Muhammad bin Rafi’ bin Hajras bin Muhammad Ash-Shamidi As-Silmi.
9.  Karya-karya llmiahnya

Kitab-kitab karyanya sangat banyak dan bermacam-macam pembahasannya. Untuk menyingkat, di bawah ini saya sebutkan yang masyhur saja.

1.  Majmu’ Al-Fatawa, sebanyak tiga puluh tujuh jilid.

2.  A1-Fatawa Al-Kubra, sebanyak lima jilid.

3.  Dar’u Ta’arudh Al-Aql wa An-Naql, sebanyak sembilan jilid.

4.  Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah.

5.  Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim Mukhalafah Ashaab Al-Jahim.

6.  Ash-Sharim Al-Masyhur ‘ala Syatim Ar-Rasul Shallahu Alaihi wa Sallam.

7.  Ash-Shafadiyah, sebanyak dua jilid.

8.  Al-Istiqamah, sebanyak dua jilid.

9.  Al-Furqan bain Auliya’ Ar-Rahman wa Aulaiya’ Asy-Syaithan.

10.  Al-Jawab Ash-Shahih liman Baddala Din Al-Masih, sebanyak dua jilid.

11.  As-Siyasah Asy-Syar’iyyah li Arra’i wa Ar-Ra’iyyah.

12.  Al-Fatwa Al-Hamawiyyah Al-Kubra.

13.  At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah fi Al-A’mal Al-Qalbiyyah.

14.  Naqdh Al-Manthiq.

15.  Amradh Al-Qulub wa Syifa’uha.

16.  Qa’idah Jalilah fi At-Tawassul wa Al-Wasilah.

17.  Al-Hasanah wa As-Sayyiah.

18.  Muqaddimah fi ‘Ilm At-Tafsir.
10.  Meninggalnya

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan, “Ibnu Taimiyah meninggal dunia bertepatan dengan waktu sahur pada malam Senin tersebut, maksudnya malam tanggal 20 Dzulqa’dah tahun 728 Hijriyah. Informasi mengenai meninggalnya itu disampaikan oleh muadzin masjid benteng Damaskus di atas menaranya. Para polisi penjaga juga berteriak memberitahukan meninggalnya dari atas gedung-gedung.

Keesokan harinya, orang-orang saling mendengar dan memperbincangkan peristiwa besar tersebut. Lalu mereka bergegas menuju sekitar benteng di setiap tempat yang mungkin ditempati. Pemerintah bingung apa yang akan ia lakukan.

Penanggung-jawab benteng, Syamsuddin Ghibriyal menjenguknya dan duduk di sampingnya. Pintu benteng dibuka untuk orang-orang khusus, teman-teman dan kekasih-kekasihnya. Lalu, mereka berkumpul di sekitar jenazah yang berada di ruang aula benteng, termasuk teman-teman khususnya dari pejabat pemerintah dan yang lain. Mereka duduk di sampingnya, menangis dan memujinya.

Saya (Ibnu Katsir) ikut hadir di sana bersama Syaikh kami Al-Hafizh Abu Al-Hajjaj Al-Mizzi. Aku buka wajah jenazah lalu aku melihat dan menciumnya. Di kepalanya terdapat surban yang wangi baunya. Kepalanya telah dipenuhi uban, lebih banyak dari yang aku lihat sebelumnya.

Saudaranya, Zainuddin Abdurrahman memberitahukan kepada orang-orang yang Nadir di situ bahwa dia dan Ibnu Taimiyah telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak delapan puluh kali sejak masuk benteng. Pada bacaan yang kedelapan puluh satu kali, keduanya sampai pada akhir surat Iqtaraba Linnas, yaitu, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (Al-Qamar: 54-55)

Lalu, dua Syaikh yang saleh, Abdullah bin Al-Muhib dan Abdullah Az-Zar’i Adh-Dhariri (buta), dimana Syaikh Ibnu Taimiyah suka bacaan dua orang ini, ketika masih hidup, mulai membaca surat Ar-Rahman sampai akhir Al-Qur’an. Pada saat itu, aku hadir, mendengar dan melihat.

Kegiatan selanjutnya adalah memandikan mayat. Saya keluar menuju masjid yang ada di tempat itu. Mereka menyuruh orang-orang yang ada di sekitar mayat untuk menyingkir kecuali orang yang membantu memandikannya.

Di antara yang memandikannya adalah Al-Hafizh Al-Mizzi dan sejumlah orang-orang yang saleh dari orang yang berilmu dan beriman. Meskipun proses pemandian belum selesai, benteng sudah terpenuhi masa. Suara tangisan, pujian, doa dan iba terdengar bersahutan. Mereka berjalan mengiringi jenazah yang dibawa ke masjid Jami’ Al-Umawi.

Manusia-manusia yang berada di sekitar jenazah tidak dapat diketahui jumlahnya kecuali Allah SWT yang sanggup menghitungnya. Ketika itu, ada seseorang yang berteriak dengan teriakan yang menyentuh hati. Maka orang-orang pun menjadi menangis saat mendengar teriakan tersebut. Demikianlah jenazah para imam sunnah.

Jenazah kemudian diletakakkan di tempat jenazah di dekat ruang khusus yang ada dalam masjid. Orang-orang berdesak-desakan karena jumlahnya yang terlalu banyak. Mereka duduk tidak bershaf, tetapi duduk merapat sehingga tidak ada tempat yang kosong sedikit pun. Mereka datang dari setiap tempat. Banyak dari mereka yang berniat puasa karena tidak ingin mengisinya dengan makan dan minum. Kata-kata ini tidaklah mewakili penggambaran jumlah dan keadaan manusia yang hadir di situ.

Secara umum, hari meninggalnya Syaikh Ibnu Taimiyah adalah hari yang disaksikan banyak manusia. Sebelumnya belum pernah ada orang yang berkumpul dalam jumlah yang sangat besar seperti itu di Damaskus, kecuali pada zaman Bani Umayyah yang memang menjadikan Damaskus sebagai ibukota kekhalifahan. Syaikh Ibnu Taimiyah dimakamkan di samping kuburan saudaranya, tepat pada saat adzan shalat Ashar. Aku ulangi lagi, tidak mungkin seseorang menghitung jumlah manusia yang menghadiri jenazahnya!
Sumber   : Kitab Min A’lam As-Salaf
Penulis     : Syaikh Ahmad Farid

Arrahmah Forum

Tagged: , , , , , , , , , ,

§ One Response to Biografi IBNU TAIMIYYAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Biografi IBNU TAIMIYYAH at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: