Bagaimana Merapikan Shoff

October 5, 2010 § 2 Comments

Shalat jamaah merupakan tolok ukur kuat tidaknya keislaman suatu masyarakat, semakin kuat islamnya maka semakin ramai masjidnya oleh jamaah. Bahkan kerapian shoffnya merupakan indikator kerukunan diantara masyarakatnya. Rasul bersabda ;

لتسون صفوفكم أو ليخالفن الله بين وجوهكم

Kalian akan meratakan shaff kalian atau Allah akan menimpakan perselisihan diantara hati kalian. (HR. Bukhari)

Maka dari itu, ketika saya lihat banyaknya kesalahan dalam masalah shaff saya tergerak untuk menulis sekedarnya tentang tata cara bagaimana merapikan shaff sesuai dengan apa yang rasul ajarkan.

Keutamaan merapikan shaff

Merapikan shaf amatlah penting, itu terlihat dari banyaknya hadist yang menunjukkan bagaimana nabi memperingatkan para sahabatnya untuk merapikan shaff.

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يسوينا في الصفوف حتى كأنما يحاذى بنا القداح فلما أراد ان يكبر رأى رجلا شاخصا صدره فقال لتسون صفوفكم أو ليخالفن الله بين وجوهكم

Rasulullah pernah merapikan shaff pada kita sehingga seolah-olah beliau  meratakan anak panah dengan kita, kemudian ketika beliau hendak takbir, beliau melihat seseorang  yang dadanya maju, beliau lalu berkata ; “Kalian benar-benar akan meratakan shaf kalian atau Allah akan menimpakan perselisihan diantara hati kalian (Muslim)

Dan jika hadist diatas menunjukkan bahwa shaff yang tidak rata mampu mengakibatkan perselisihan, sebalikanya dalam hadist lain rasul bersabda bahwa shaff yang rata mampu menjadikan umat islam bersatu.

استووا تستوِ قلوبُكم وتَمَاسُّوا تراحموا

Samakanlah (shaff kalian) maka hati kalian akan sama, dan saling bersentuhanlah kalian maka kalian akan saling menyayangi. (HR THabrani)

Selain itu merapikan shaff juga termasuk kesempurnaan shalat, Rasul Saw bersabda ;

سووا صفوفكم فان تسوية الصفوف من تمام الصلاة

Samakanlah shaff kalian, karena menyamakan shaff termasuk kesempurnaan shalat.  (Ahmad)

Rasul juga bersabda ;

أقيموا الصفوف فإنما تصفون بصفوف الملائكة وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل ولينوا في أيدي إخوانكم ولا تذروا فرجات للشيطان ومن وصل صفا وصله الله تبارك وتعالى ومن قطع صفا قطعه الله

Dirikanlah shaff, karena sesunguhnya kalian berbaris dengan shafnya malaikat, dan sejajarkanlah diantara pundak-pundak, tutuplah celah-celah, dan bersikap lembutlah dalam tangan-tangan saudaramu, dan jangan biarkan celah-celah bagi syaitan. Dan barang siapa menyambung shaff, maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmatNya), dan barang sipa memutus shaff, Allah akan memutusnya (dari rahmatNya). (Ahmad)

Merapikan Shaff

1-Posisi Makmum dan Imam

Posisi makmun yang benar antara laki-laki, anak-anak, dan wanita adalah ; laki-laki didepan, anak-anak ditengan kemudian wanita dibelakang.

Rasul ; bersabda ;

وَيَجْعَلُ الرِّجَالَ قُدَّامَ الْغِلْمَانِ وَالْغِلْمَانَ خَلْفَهُمْ وَالنِّسَاءَ خَلْفَ الْغِلْمَانِ

Dan Nabi menjadikan laki-laki dewasa didepan anak laki-laki, sedang anak laki-laki dibelakang mereka, dan para wanit dibelakang anak laki-laki. (HR. Ahmad)

Akan tetapi seiring perkembangan jaman hal ini sulit diterapkan terutama untuh jamaah wanita, mengingat bentuk masjid sekarang yang disamping kanan kirinya terdapat tembok sehingga ketika ada jamaah laki-laki yang terlambat akan tidak mungkin bagi mereka untuk menerobos shoff wanita untuk sampai di shaff laki-laki yang ada didepan. Bahkan jika ditengah shaff dibuatkan jalan, tetap tidak baik karena laki-laki yang melewati mereka dikawatirkan akan terkena fitnah.

Karena itu masjid-masjid sekarang termasuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menempatkan shaff wanita disamping shaff laki-laki dengan dibatasi satir berupa tembok maupun kain.

Jika jamaah hanya terdiri dari dua orang, maka makmum berdiri disamping kanan imam membentuk satu shaff, dan jika datang satu orang lagi maka dua orang makmum membentuk shaff baru dibelakang imam. dikarenakan hadist yang diriwayatkan oleh Jabir Ibn Abdullah, beliau berkata;

ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخَذَ بِيَدِى فَأَدَارَنِى حَتَّى أَقَامَنِى عَنْ يَمِينِهِ ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدَيْنَا جَمِيعًا فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ

Kemudian aku datang sehingga aku berdiri di sisi kiri Rasulullah, maka beliau memegang tanganku lalu memutarku sehingga beliau menempatkanku disisi kanannya. Kemudian Jabbar bin Shakhr dating lalu ia berwudlu, datang dan berdiri di sisi kanan Rasulullah Saw, beliau lalu memgang kedua tangan kami lalu mendorong kita, dan menemp[atkan kita dibelakang beliau. (HR. Muslim)

Selain itu hendaklah jamaah menempatkan imam ditengah, sesuai perintah Nabi saw ;

توسطوا الإمام وسدوا الخلل

Tempatkanlah imam di tengah dan tutuplah celah. (Abu Dawud)

Akan tetapi jika posisi imam telah pas, maka menempati shaff kanan lebih diutamakan ;

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ

Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat atas sisi-sisi kanan shaff (Abu dawud)

2-Menyempurnakan shaff depan

Yakni shaff pertama dan kedua, Rasul bersabda ;

أتموا الصف المقدم ثم الذي يليه فما كان من نقص فليكن في الصف المؤخر

Sempurnakanlah shaff depan kemudian yang menyandinginya, maka jika ada kekurangan handaklah di shaff yang terakhir (HR. Ahmad)

ان الله وملائكته يصلون على الصف الأول قالوا يا رسول الله وعلى الثاني قال وعلى الثاني

Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat atas shaff yang pertama. Sahabat bertanya ; Dan atas shaff yang kedua wahai Rasulullah?. Nabi Saw berkata ; (Ya), dan atas shaff yang kedua. (HR. Ahmad)

ألا تصفون كما تصف الملائكة عند ربهم قالوا وكيف تصف الملائكة عند ربهم قال يتمون الصف الأول ويتراصون في الصف

Tidakkah kalian berbaris laksana malaikat berbaris di sisi tuhan mereka?! Mereka berkata ; Bagaiman malaikat berbaris di sisi tuhannya? Rasul Saw menjawab ; Mereka menyempurnakan shaff awal dan saling rapat dalam barisan. (HR. Nasa’i)

Rasul Saw juga bersabda ;

لو يعلم الناس ما في النداء والصف الأول ثم لم يجدوا إلا أن يستهموا عليه لاستهموا عليه

Kalau seumpama manusia tahu (ganjaran) apa yang terdapat pada Adzan dan shaff pertama, kemudian tidak menemukan (cara) kecuali mengundinya niscaya mereka akan mengundinya. (HR. Bukhari)

Termasuk menyempurnakan shaff awal adalah mengisinya dengan orang-orang alim yang mengerti ilmu agama.

استووا ولا تختلفوا فتختلفَ قلوبُكم ولْيَلِيَنِى منكم أولو الأحلامِ والنُّهى ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

Samakanlah (shaff) dan jangan berbeda-beda sehingga hati kalian berselisih. Dan hendaklah yang punya akal dan kecerdasan menyandingiku, kemudian yang menyandingi mereka, kemudian yang menyandingi mereka. (Muslim)

3-Meratakan shaff dan menutup celah

Hendaknya imam senantiasa mengingatkan jamaahnya supaya meratakan shaff dan menutup celah seperti yang dilakukan Rasul Saw.

أقيموا الصفوف فإنما تصفون بصفوف الملائكة وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل

Dirikanlah shaff, karena sesunguhnya kalian berbaris dengan shafnya malaikat, dan sejajjarkanlah diantara pundak-pundak, tutuplah celah-celah. (Ahmad)

Dan jika seorang menarik lengan kita agar menempel guna menutup celah maka bersikap lembutlah dan ikutilah apa yang ia mau. Seperti yang nabi perintahkan ;

ولينوا في أيدي إخوانكم ولا تذروا فرجات للشيطان

…dan bersikap lembutlah dalam tangan-tangan saudaramu, dan jangan biarkan celah-celah bagi syaitan. (Ahmad)

Contoh shoff rapat dan lurus, pundak dan kaki menempel.

Dapat ditarik dari hadist diatas bahwa meluruskan shaff adalah dengan mensejajarkan pundak, sedang menutup celah, diantaranya adalah dengan menempelkan lengan satu sama lain, dan di Hadist lain terdapat keterangan bahawa bukan hanya lengan yang ditempelkan tapi juga kaki ;

وكان أحدنا يلزق منكبه بمنكب صاحبه وقدمه بقدمه

Dan diantara kita ada yang menempelkan pundaknya pada pundak kawannya, dan menempelkan kakinya pada kaki kawannya. (HR. Bukhari)

Selain itu Rasul juga menyebutkan alasan agar kaum muslimin merapatkan barisannya yaitu agar tidak ada syaithan lewat melalui celah-celah shaff dimana tentunya tujuan para syaithan ini adalah untuk mengganggu ibadah shalat kita.

وَسُدُّوا الْخَلَلَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ بَيْنَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْحَذَفِ

tutuplah celah-celah, dan bersikap lembutlah dalam tangan-tangan saudaramu, dan jangan biarkan celah-celah bagi syaitan. (HR. Ahmad)

Rasul juga telah menyebutkan dalam hadist yang telah lalu faedah saling bersentuhan diantara jamaah;

استووا تستوِ قلوبُكم وتَمَاسُّوا تراحموا

Samakanlah (shaff kalian) maka hati kalian akan sama, dan saling bersentuhanlah kalian maka kalian akan saling menyayangi. (HR THabrani)

Rasul juga menganjurkan untuk menyambung shaff dan tidak memutusnya, Beliau bersabda;

ومن وصل صفا وصله الله تبارك وتعالى ومن قطع صفا قطعه الله

Dan barang siapa menyambung shaff, maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmatNya), dan barang sipa memutus shaff, Allah akan memutusnya (dari rahmatNya). (Ahmad)

Menyambung shaff adalah dengan mengisi shaff yang terdapat celah yang kosong atau menyempuranakan shaff yang kurang, sedang memutus shaff adalah dengan keluar dari shaff tanpa adanya hajat, atau dengan tidak mau menutup celah pada shaff, atau dengan menaruh barang yang menghalangi bersatunya shaff.

Rasul Saw bersabda ;

إن الله وملائكته يصلون على الذين يصلون الصفوف ومن سد فرجة يرفعه الله بها درجة

Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat atas yang menyambung shaff, dan barang siapa menutup celah, Allah akan menggangkat dengannya satu derajat. (Ahmad)

إن الله وملائكته يصلون على الذين يلون الصفوف الأول وما من خطوة أحب إلى الله من خطوة يمشيها يصل بها صفا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat atas yang menyandingi shaff awal, dan tidak ada langkah yang lebih Allah sukai daripada langkah yang orang jalankan yang dengan ia menyambung shaff. (Abu Dawud)

لاَ يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ عَنِ الصَّفِّ الأَوَّلِ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى النَّارِ

Tiada henti-hentinya suatu kaum mengakhirkan dari shaff pertama sehingga Allah mengakhirkan mereka dalam neraka. (Abu Dawud)

Waktu merapikan shaff adalah sesudah iqamat dikarenakan hadist Abu Hurairah beliau berkata ;

أُقِيمَتِ الصَّلاةُ، فَسَوَّى النَّاسُ صُفُوفَهُمْ

Shalat telah di-iqamati, maka orang-orang meratakan shaff mereka. (Bukhari)

4-Hendaknya Imam selalu mengingatkan makmumnya, dan kalau perlu ditunjuk orang-orang tertentu guna mengatur shaff.

عن أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَبْلَ أَنْ يُكَبِّرَ فَيَقُولُ تَرَاصُّوا وَاعْتَدِلُوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي

Dari Anas Ra ia berkata ; Rasulullah Saw menghadap kita dengan wajahnya sebelum bertakbir, lalu beliau berkata ; “Saling rapatlah kalian dan luruslah karena aku melihat kalian dari belakang punggungku”.

Diceritakan bahwa Rasul Saw terkadang berjalan melewati shaff dan meratakannya dengan tangannya yang mulia dari awal shaff hingga akhirnya. Dan ketika semakin banyak manusia yang ikut shalat pada zaman Khulafau-Rosyidiin sahabat Umar Ra memerintahkan seorang laki-laki untuk meratakan shaff ketika telah iqamat, kemudian ketika laki-laki itu datang dan berkata ; “Shaff telah rata”, Umar pun bertakbir untuk shalat, begitu pula yang dilakukan sahabat Ustman Ra.

Tapi peringatan dan pemberitahuan tidaklah cukup, diperlukan kesadaran dan kerjasama seluruh jamaah dalam merapikan shaff, karena tidak mungkin shaff bisa rapi tanpa adanya pengertian dan kerjasama dari para jamaah.

Semoga tulisan ini bermanfaat… Wallahu A’lam….

Tagged: , , , , ,

§ 2 Responses to Bagaimana Merapikan Shoff

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bagaimana Merapikan Shoff at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: