Penghapus Dosa

March 25, 2011 § 1 Comment

Artikel ini telah dibuat Ebook

بسم الله الرحمن الرحيم

Dosa-dosa yang kita lakukan biarpun teramat sangat banyaknya, ternyata bisa dihapus oleh Allah karena fadlNya dengan tiga perkara. Yang pertama tentunya dengan bertaubat, sedang yang kedua adalah amal saleh, dan yang ketiga adalah musibah yang diterima dengan sabar.

1-Bertaubat kepada Allah

a-Ayat-ayat dan hadist yang menganjurkan untuk bertaubat

Allah berfirman :

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا ، وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Sesungguhnya Taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejelekan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah Taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejelekan-kejelekan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima Taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (Annisa’ 18-19)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah senantiasa menerima Taubat hambaNya selagi belum sampai sakarotul-maut. Rasul bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Sesungguhnya Allah menerima Taubat seorang hamba selagi ruhnya belum sampai tenggorokan. (HR. Ahmad)

Walaupun demikian tidak berartimenunjukkan bolehnya menunda-nunda Taubat, karena pertama ; kita tidak tahu kapankah ajal menjemput kita. Kedua,karena dosa yang tidak diTaubati menyebabkan terkuncinya hati sehingga justru akan menyebabkan kita termasuk golongan “orang-orang yang mengerjakan kejelekan-kejelekan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”.

Yang kami sebutkan diatas berlaku secara orang-perorang, individu-perindividu, adapun secara umum,maka pintu Taubat senantiasa terbuka bagi umat manusia selagi matahari belum terbit dari barat.

إِنَّ مِنْ قِبَلِ الْمَغْرِبِ لَبَابًا مَسِيرَةُ عَرْضِهِ سَبْعُونَ أَوْ أَرْبَعُونَ عَامًا فَتَحَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِلتَّوْبَةِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يُغْلِقُهُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْهُ

Sesungguhnya dari arah barat terdapat pintu yang panjang perjalanannya tujuh puluh atau empat puluh tahun, yang Allah buka untuk Taubat pada hari Ia menciptakan langit dan bumi. Dan Ia tidak akan menutupnya sampai matahari terbit dari sana. (HR. Ahmad)

Allah juga berfirman ;

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosasemuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(QS 39/53)

Allah berfirman ;

ومن لم يتب فأولئك هم الظالمون

Barang siapa tidak bertobat, maka merekalah orang-orang dzalim (QS 49/11)

Sedang Allah sendiri telah mengikrarkan bahwa janji-janjiNya, misalnya kenikmatan sorga, pertolongan, kemuliaan hidup dunia maupun akhirat, diterimanya panjatan doa, dsb, tidak teruntuk bagi orang-orang dzalim.

Allah berfirman :

لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِين

Janjiku tidak akan sampai kepada orang-orang dzalim (QS 2/124)

***

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ ”

Dari Anas Ra, Rasul Saw bersabda ; setiap bani Adam adalah yang banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah orang-orang yang banyak bertaubat. (HR. Tirmidzi, Ibn Majah, Hakim)

Dan Allah telah menyatakan kecintaanNya kepada orang-orang yang banyak bertaubat ;

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang banyak bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS 2/222)

Rasul Saw bersabda ;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَن النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لا ذَنْبَ لَهُ ”

Dari Abdullah ibn Mas’ud Ra, Rasul Saw bersabda; “Orang yang bertaubat dari dosa itu seperti orang yang tidak ada dosa” (HR. Hakim, Ibn Majah, Thabrani, Baihaqi)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : وَاللَّهِ لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالْفَلَاةِ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh Allah lebih bahagia dengan Taubat hambaNya daripada bahagianya seseorang dari kamu ketika menemukan untanya yang tersesat di padang yang luas.” (Muttafaq ‘alaih)

Allah berfirman ;

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

b-Pengertian dan hukumnya

Taubat secara bahasa berarti kembali, sedang secara Syara’ berarti ; kembali dari keadan bermaksiat menuju keadaan taat kepad Allah. Karena itu orang yang meninggalkan shalat maka otomatis Taubatnya adalah menjalankan shalat dan mengganti shalat yang ditinggalkan. Orang yang mencuri, maka Taubatnya adalah mengembalikan barang yang dicurinya, dst.

Jika seseorang bertaubat dari meninggalkan shalat namun ia tidak mengganti shalatnya yng lalu, tentunya ia tidak dapat dikatakan bertaubat karena belum kembali dari keadan bermaksiat menuju keadaan taat kepada Allah.

Hukum bertaubat seperti yang telah dijelaskan oleh para ulama’ adalah wajib, karena itu seorang yang berbuat dosa dan tidak segera bertobat akan mendapatkan dosa dua kali, yakni dosa perbuatan itu sendiri, dan dosa tidak menjalankan perintah bertaubat.

Ibn Qayyim Al-Jauzi berkata ; bertaubat dari dosa wajib dilakukan secara langsung, seketika itu pula dan tidak boleh ditunda-tunda. Siapa yang menundanya, berarti telah durhaka karena penundaannya itu. Apabila ia bertaubat dari dosa itu, maka ia harus bertaubat lagi, yaitu dari penundaan Taubatnya. Yang seperti ini jarang disadari orang yang beraTaubat.

Imam Ghazali berkata ; “Kemudian wajib atas engkau wahai pencari ibadah untuk bertaubat, yang demikian dikarenakan dua perkara ; pertama, supaya engkau mendapat taufik dalam taat(Nya), karena kesialan dosa menyebabkan terhalang, dan mengakibatkan kehinaan. Dan sesunggunhnya belenggu dosa mencegah dari berjalan menuju taat Allah, dan bergegas menunju pelayananNya, karena beratnya dosa mencegah ringannya berbuat kebaikan dan bersemangat dalam taat. Dan bahwasanya melanggengkan berbuat dosa termasuk perkara yang menghitamkan hati, maka kau akan menemukannya dalam kegelapan dan keras yang tidak ada kejernihan didalamnya, tidak pula kebeningan, tidak pula kelezatan, tidak pula kemanisan, dan jika Allah tidak merahmati pastilah dosa itu menariknya dalam kekufuran dan kecelakaan. Yang kedua dari dua perkara tadi adalah ; bahwasa engkau wajib bertaubat adalah supaya amal ibadahmu diterima, dikarenakan “pemilik hutang tidak akan menerima hadiah”. Yang demikian karena Taubat dari perbuatan maksiat dan meminta keridloan adalah wajib sedangkan kebanyakan ibadah yang engkau tuju adalah sunnah, maka bagaimana diterima darimu perbuatan baikmu sedang padamu terdapat hutnag yang belum engkau bayar?? Bagaimana engkau meninggalkan perkara halal dan mubah demiNya sedang engkau senantiasa melakukan larangan dan keharaman?? Dan bagaimana kau bermunajat kepadaNya berdoa dan memujiNya sedang Ia marah kepadamu??.

c-Cara bertaubat

Rasa bersalah dan penyesalan dalam banyak hadist sudah dapat disebut sebagai Taubat, akan tetapi agar dapat diterima harus disertai dengan syarat-syaratnya. Yang demikian adalah sebagian pendapat ulama’ Muhaqqiqin.

Sebagian yang lain seperti imam Ghazali, berpendapat bahwa penyesalan (nadm) termasuk syarat Taubat. Dan bahwasanya ia adalah bagian utama dalam Taubat yang secara lazimnya diikuti bagian-bagian Taubat yang lain.

Syarat-syarat diterimanya Taubat ;

1-Ikhlas karena Allah saw, bukan karena takut orang tua, takut dijauhi dsb.

2-Menyesal atas dosa yang telah diperbuat

3-Meninggalkan perbuatan dosa dengan seketika

4-Bertekad untuk tidak kembali melakukannya

5-Dilakukan sebelum waktu tertutupnya pintu Taubat. (Seperti yang telah dijelaskan)

Secara mudahnya, prakek bertaubat adalah berikut ini ; dosa adalakanya kufur adakalanya tidak, maka Taubatnya kafir adalah imannya dan rasa peneyesalannya atas kufurnya yang telah lalu. Sedang yang selain kufur itu ada kalanya hak Allah atau hak selain Allah, jika hak Allah maka cukup dalam bertaubat darinya meninggalkan perbuatan itu. Akan tetapi beberapa perkara ada yang syara’ tidak menganggap cukup dengan hanya meninggalkannya saja, sebagian ada yang syara’ wajikan menggantinya, seperti qodlo’ sholat, puasa, sebagian ada yang syara’ wajibkan kaffarahnya, seperti melanggar sumpah, dsb. Adapun hak-hak adami maka jika berupa harta, harus dikembalikan kepada pemiliknya, atau meminta keridloaan mereka. jika berupa jinayat, maka engkau memberi kesempatan mustahiq untuk qishosh (membalas), atau meminta keridloaanya. Jika berupa kehormatan, maka meminta maaf dan meminta keridloaanya. Kemudian jika pemilik hak tidak ditemukan maka bersedekah atas nama mereka, mendoakan dan meminta ampunan bagi mereka.

d-Taubat Nasuha

Allah Saw memerintahkan orang-orang beriman untuk Taubat Nasuha ;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan Taubatan nasuhaa (Taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (QS 66/8)

Lalu apakah Taubat Nasuha itu?

Taubat Nasuha secara mudahnya bisa diartikan sebagai merubah sikap-sikap buruk menjadi baik secara keseluruhan. Jadi bukan hanya meninggalkan perbuatan buruk saja tapi menggantinya dengan perbuatan taat, bukan hanya meninggalkan satu perbuatan jelek saja tapi meninggalkan seluruh perbuatan buruk yang biasa kita lakukan.

Itulah yang terkandung dalam firman Allah ;

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan Taubat yang sebenar-benarnya.  (QS 25/71)

Lihatlah bagaimana Allah memberi kesaksian bahwasanya orang yang bertaubat kemudian dikuti dengan beramal saleh adalah orang yang beTaubat dengan sebenarnya!

و روي عن علي رضي الله عنه أنه رأى رجلا قد فرغ من صلاته و قال : اللهم إني أستغفرك و أتوب إليك سريعا فقال له : يا هذا إن سرعة اللسان بالاستغفار توبة الكذابين و توبتك تحتاج إلى توبة قال يا أمير المؤمنين : و ما التوبة ؟ قال : إسم يقع على ستة معان : على الماضي من الذنوب الندامة و لتضييع الفرائض الإعادة ورد المظالم إلى أهلها و إذاب النفس في الطاعة كما أذابتها في المعصية و إذاقة النفس مرارة الطاعة كما أذقتها حلاوة المعصية و أن تزين نفسك في طاعة الله كما زينتها في معصية الله و البكاء بدل كل ضحك ضحكته

Diriwayatkan dari Sahabat Ali ; Sahabat Ali melihat seorang laki-laki selesai dari salatnya dan berkata dengan cepat; ”Wahai Allah aku meminta ampunan dan bertaubat kepadamu”, maka sahabat ali pun berkata padanya ; “Oh.. ini…!! sesungguhnya cepatnya lisan dalam istighfar adalah Taubatnya para pembohong, dan Taubatmu membutuhkan Taubat yang lain”. Laki-laki tadi berkata ; “Wahai Amirul Mukminin, apa itu Taubat?”, beliau menjawab ; “Sebuah nama yang terletak pada enam perkara ; Penyesalan atas perkara yan telah lalu, mengganti kewajiban-kewajiban yang disiasiakan dan mengembalikan perkara yang ia rebut secara dzalim kepada pemiliknya, melelehkan jiwa dalam taat seperti halnya kau melelehkannya dalam maksiat, menjadikan jiwa merasakan pahitnya taat seperti halnya kau membuatnya merasakan manisnya maksiat, menghiasi diri dalam taat Allah seperti halnya kau menghiasinya dalam maksiat Allah, menjadikan tangis sebagai pengganti tawa yang kau ucapkan”.

Imam Ghazali sendiri mendefinisikan Taubat Nasuha sebagai “Penyucian hati dari dosa”. Lalu, jika  ada orang berkata ; “Sesengguhnya yang mencegahku untuk bertaubat adalah bahwasanya aku tau aku akan kembali melakukan dosa lagi, jadi tidak ada gunanya bertaubat” bagaimana jawabnya?

Ketahuilah bahwa sesungguhnya manusia memang tempat salah dan lupa, jadi kemungkinan kembali kepada suatu dosa yang telah diTaubati senantiasa ada. Maka yang penting disini adalah segera bertaubat dari dosa dan jangan tebujuk oleh bisikan setan terkutuk itu, adapun jika ternyata kembali lagi pada dosa itu, maka ulangilah Taubatmu, dan Taubatmu yang lalu tidak berarti batal dan sesungguhnya dosa yang lalu itu telah hilang dan tidak kembali.

Bukankah rasul bersabda ;

أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ ”

Rasul Saw bersabda ; setiap bani Adam adalah yang banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah orang-orang yang banyak bertaubat. (HR. Tirmidzi, Ibn Majah, Hakim)

Jadi tidak mungkin ada manusia cukup Taubat satu kali saja, senantiasa Taubat dilakukan ketika kembali melakukan kesalahan.

Cukuplah Al-Quran sebagai pedoman dan Rasul sebagai tauladan ;

عَنْ عبد الله بن قيس الأشعري قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَتُوبُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

Dari Abdullah bin Qais, Rasul Saw bersabda ; “Susungguhnya Aku bertaubat kepada Allah dalam sehari seratus kali” (HR. Ahmad)

e-Taubat sepotong-sepotong

Jika Taubat Nasuha adalah Taubat dari segala dosa, lalu bagaimana dengan Taubat sepotong-sepotong, yakni Taubat dari suatu dosa tapi masih melakukan dosa yang lain?

Dalam masalah ini terdapat perbedaan dari para ulama’, yakni sebagian mengganggap sah dan sebagiannya tidak.

Ibnu Qayyim berkata ; menurut saya, dalam masalah ini , Taubat itu tidak sah dari dosa tertentu, jika dosa yang sejenis tetap dilakukan. Adapun aubat dari satu dosa tertentu disertai tetap melakukan dosa lain yang tidak ada hubungannya dengan dosa pertama dan tidak juga termasuk kedalam jenisnya, maka ia dianggap sah. Contoh ; Taubat dari riba dan tidak Taubat dari minum khamr, Taubat orang itu dianggap sah. Adapun jika ia bertaubat dari riba fadl tapi tidak bertaubat dari riba nasiiah, maka Taubatnya tidak sah.

Namun dalam hal ini saya lebih menyingkapi dari segi masalah boleh atau tidak serta diterima atau tidaknya taubat macam ini. Menurut saya taubat sepotong-sepotong itu boleh, akan tetapi masalah diterima atau tidaknya tidak dapat dipastikan karena Allah sendiri menyatakan :

Janjiku tidak akan sampai kepada orang-orang dzalim (QS 2/124)

Bagaimana Allah mengampuni suatu dosa seseorang sedang ia masih saja melakukan perkara yang membuatNya murka??

Akan tetapi tidak juga dapat dipastikan bahwa taubat seperti itu tidak diterima oleh Allah dikarenakan Allah memberikan fadlalNya bagi yang ia suka, dan seseorang yang mulia tidak akan berkurang kemuliaannya bahkan bertambah, jika tidak melaksanakan ancamannya.

f-Antara istighfar dan Taubat

Istighfar sama sekali tidak termasuk kedalam Taubat, dan juga bukan merupakan syarat Taubat, akan tetapi istighfar adalah konsekuensi logis dari Taubat. Allah berfirman ;

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka… (QS 3/135)

Istighfar adalah ; meminta ampunan dan penghapusan dosa. Ibn Taimiyyah berkata ; “Maghfiroh maknanya ; penjegaan dari kejelekan dosa, dengan sekiranya tidak disiksa atas dosa yang diperbuat, maka barang siapa diampuni dosanya tidak akan disiksa atasnya”.

Imam Assubki berkata ; ”Istighfar yaitu meminta ampunan adakalanya dengan lisan, atau dengan hati, atau dengan keduanya. Yang pertama (dengan lisan) terdapat manfaat di dalamnya karena lebih baik dari pada diam dan karena ia membiasakan ucapan baik. Yang kedua sangat bermanfaat sekali. Sedang yang ketiga lebih baik dari yang kedua, akan tetapi tidak dapat menghapus dosa sehingga terdapat Taubat, karena seorang yang durhaka yang melanggengkan perbutan dosa itu meminta maghfirah dan tidak mesti hal itu menunjukkan adanya Taubat darinya”.

g-Lafadz-lafadz istighfar

Allah berfirman ;

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS 8/33)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun pada Allah), niscaya Allah menggantikan setiap kesempitan menjadi jalan kelar, setiap kesedihan menjadi kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Hr. Abu Dawud)

***

Dari Alquran diantaranya ;

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.(QS 59/10)

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS 7/23)

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS 3/16)

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik.(QS 23/118)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami[235] dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.(QS 3/147)

Dari Hadist diantaranya ;

عن شداد بن أوس الأنصاري قال  النبي صلى الله عليه و سلم ” سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، قَالَ: وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ”

Dari Syaddad bin Aus Al-Anshary, Rasul Saw bersabda; “ Penghulu Istighfar adalah engkau mengucap ;  “Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku denganMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.Barangsiapa membacanya dengan yakin ketika sore hari, lalu ia meninggal dunia pada malam itu, maka ia masuk Surga. Dan demikian juga ketika pagi hari.” (HR. Al-Bukhari)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ يَقُولُ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ مِائَةَ مَرَّةٍ

Dari Ibn Umar beliau berkata ; “Kami pernah menghitung bacaan dzikir Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis. Beliau ucapkan, “Robbighfirlii wa tub ‘alayya innaka anta tawwaabul ghofuur”(Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah Taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat dan ampunan)”, sebanyak 100 kali.” (HR. Ahmad)

عَنِ عبد الله بن قيس الأشعري ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ: ” رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي، وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ، وَعَمْدِي، وَجَهْلِي، وَهَزْلِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ، وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ”

Dari Abdillah bin Qais Al-Anshary, ia berkata, Rasul Saw berdoa dengan doa ini “Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, ketidak-tahuanku, semua perbuatan burukku dan kesalahan lain yang lebih Engkau ketahui. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang sengaja aku perbuat atau tidak disengaja, dan ketidakseriusanku. Ya Allah, ampunilah perbuatan yang aku lakukan dan yang aku tinggalkan yang aku sembunyikan dan yang aku perlihatkan, Engkau Yang Pertama dan Engkau Yang Terakhir, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Bukhari)

Begitu juga yang terkenal disebut Kaffaratul Majlis;

عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بِأَخَرَةٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجْلِسِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ » فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلاً مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى. قَالَ « كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِى الْمَجْلِسِ ».

Dari Abu Barzah Al-Aslamy Ra, ia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan pada akhir jika dia hendak bangun dari majelis: “Maha Suci Engkau, Ya Allah dengan memujiMu, Aku bersaksi Tiada Ilah Kecuali Engkau, aku memohon ampunanMu, dan aku bertobat kepadaMu.” Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhna engkau mengatakan perkataan yang tidak engkau katakan pada waktu yang lalu.” Beliau menjawab: “Itu sebagai kifaarah (penebus kesalahan) terhadap apa yang terjadi di majelis.” (HR. Tirmidzi)

عَنِ ابنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ثَلاثًا غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَ فَارًّا مِنَ الزَّحْفِ

Dari Ibnu Mas’ud, Rasul Saw, bersabda :”Barangsiapa mengucapkan:“Aku memohon ampunan Allah, yang tiada Tuhan kecuali Dia, Yang Maha hidup Yang berdiri sendiri dan aku Taubat kepada-Nya“, maka diampunilah dosanya sekalipun ia telah lari dari perang”. (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

2-Amal Saleh

Bagian kedua dari perkara yang dapat menghapus dosa adalah amal saleh.  Allah berfirman ;

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS 11/114)

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar. (QS 64/11)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu pertolongan. Dan kami hapuskan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS 8/29)

Rasul bersabda ;

عَنْ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا مُعَاذُ أَتْبِعْ السَّيِّئَةَ بِالْحَسَنَةِ تَمْحُهَا وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Dari Mu’adz ; bahwasanya Rasulullah Saw berkata padanya ; “Wahai Mu’adz ikutilah kejelekan dengan kebaikan dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Ahmad)

Demikianlah fadlal yang Allah berikan kepada kita dan Allah adalah zat yang mempunyai fadlal yang agung.

Dileburnya dosa-dosa itu adalah dengan syarat tidak melakukan dosa besar, adapun dosa besar, maka wajib untuk melalui Taubat terlebih dahulu. Allah berfirman ;

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS 4/31)

Ibn Sholah berkata ; Dosa kecil terkadang dihapus dengan tanpa Taubat oleh shalat dan yang lainnya seperti yang telah disebutkan oleh Al-Kitab Dan Sunnah. Demikian adalah bahwasanya pelaku dosa kecil sekiranya ia mengikutinya dengan perbuatan baik sedang ia lupa akan penyesalan (terhadap dosa itu), dan juga lupa akan tekad untuk tidak akan kembali melakukan, yang keduanya disyaratkan pada sahnya Taubat pastilah amal baik itu melebur dosa kecilnya dan menghapusnya, seperti yang telah diberitakan oleh Nash (Al-Quran/Hadist), walaupun tidak ditemukan Taubat darinya, dikarenakan tidak terpenuhinya rukun Taubat, tidak karena ia melakukan perkara yang bertentangan dengan Taubat.

a-Pengertian dosa besar dan dosa kecil

Dalam kaitannya dengan hal ini, maka perlu dijelaskan apa itu dosa besar dan apa itu dosa kecil.

Untuk diketahui lebih dahulu bahwasanya syara’ seolah-olah memang sengaja mengaburkan pengertian tentang dosa besar agar seseorang tidak dengan mudah menganggap enteng suatu dosa. Karena itu para ulama-pun berbeda pendapat mengenai hal ini.

Imam Ar-Rafi’i berkata ;

Kemudian para sahabat ra. Dan orang-orang setelahnya berbeda pendapat tentang perbedaan dosa besar dan dosa kecil. Terdapat beberapa pandangan bagi sebagian Ashab (Syafi’i) dalam menafsiri dosa besar.

Yang pertama ; Ia adalah Maksiat yang mewajibkan Had.

Yang kedua ; Dosa besar adalah maksiat yang pelakunya diancam dengan ancaman yang keras dengan nash Kitab atau Sunnah.

Yang ketiga ; Imam Haramain berkata dalam “Al-Irsyad”, bahwasanya dosa besar adalah dosa yang menunjukkan sedikitnya kepedulian pelakunya terhadap agama serta tipisnya ia beragama. Maka dosa ini membatalkan “Adaalah” (keadilan).

Yang keempat ; Al-Qdli Abu Sa’id Al-Harawi menyebutkan ; bahwa dosa besar adalah setiap perbuatan yang Al-Quran menyatakan keharamannya, setiap maksiat yang yang mengakibatkan had dalam jenisnya maksiat itu berupa membunuh dsb, meninggalkan kewajiban yang diperintahkan untuk dilaksanakan seketika, bohong dalam kesaksian, Riwayah, dan sumpah.

Ibn Abbas ditanya seorang laki-laki, “Berapakah dosa besar? Apakah tuju?”. Beliau menjawab ; “Ia lebih dekat ke tuju ratus dari pada ke tuju, hanya saja tidak ada dosa besar yang disertai dengan istighfar, dan tidak ada dosa kecil yang disertai dengan Ishror (melanggengkan perbuatan dosa)”. Yakni melanggengkan dosa kecil itu termasuk dosa besar.

Mengenai definisi “melanggengkan dosa” Ibnu Sholah berkata ; Orang yang melanggengkan dosa kecil adalah orang yang melakukan kebalikan dari Taubat dengan senantiasa bertekad untuk melakukan dosa lagi, atau dengan senantiasa melakukan pekerjaan yang sekiranya dosanya dengan perbuatan itu masuk kedalam batas perkara yang dianggap dosa besar.

Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai ini silakan baca kitab Zawajir karya Syaikh Ibn Hajar.

b-Sebagian Amal yang Rasul beritahukan kepada kita bahwa ia mampu menghapus dosa

Secara umum, setiap amal walaupun mengandung sedikit usaha dapat melebur dosa dikarenakan keumuman firman Allah diatas. Namun disini kami akan menyebutkan sebagian hadist yang menyebutkan secara khusus beberapa amal yang mampu melebur dosa.

1-Shalat

عن أبي هريرة : أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول (أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ، قَالُوا: لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا، قَالَ: فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا)

Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya beliau mendengar Rasulullah Saw bersabda ;Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di pintu yang digunakan untuk mandi setiap hari lima kali, pa yang kalian katakan apakah tersisa kotorannya? Mereka menjawab: Tidak sisa sedikitpun kotorannya. Beliau bersabda: sholat lima waktu menjadi sebab Allah hapus dosa-dosa. (HR Al Bukhori).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda ; Sholat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar (HR Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda ; “Siapa yang berwudhu di rumahnya lalu berjalan menuju rumah di antara rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban (dari) Allah maka salah satu dari kedua langkahnya menghapus dosa-dosa dan yang lain meninggikan derajat.” (HR. Muslim).

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم « عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِسَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً »

Rasul bersabda ; Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu sekali sujud kepada Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa). (HR Muslim).

Memperbanyak sujud tentunya dengan memperbanyak sholat.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَهُوَ قُرْبَةٌ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ، وَمُكَفِّرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ ”

Dari Abu Umamah Al-Bahily, Rasulullah Saw bersabda ;Hendaklah kalian sholat malam, karena ia adalah adat orang yang sholeh sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Robb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa (HR. Hakim(

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ». قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ».

Dari AbuHurairah, Rasulullah Saw bersabda “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus kesalahan dan meninggikan derajat”, mereka menjawab: “Mau ya Rasulullah”, “Berwudhu pada saat yang tidak menyenangkan dan memperbanyak langkah ke Masjid, dan menunggu Shalat setelah Shalat, itulah Ribath! itulah Ribath! (berjaga di medan perang)“ (HR. Muslim)

عن أبى بكر رضى الله عنه ، قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ؛ مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا، ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّر، ثُمَّ يُصَلِّىركعتين ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّه؛َ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ»، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ {وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dari Abu Bakar RA bahwasanya Rasulullah Saw bersabda ; Tidaklah seorang (muslim) melakukan suatu perbuatan dosa, lalu dia bersuci –, kemudian melaksanakan shalat dua rakaat, lalu meminta ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni (dosa)nya”. Kemudian Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini (yang artinya), “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah, dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui” (QS. Ali ‘Imraan:135)”. (HR. Tirmidzi)

2-Wudlu

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَا مِنْ عَبْدٍ يَتَوَضَّأُ إِلا خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَغْسِلُ وَجْهَهُ إِلا خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ وَجْهِهِ، ثُمَّ يَغْسِلُ ذِرَاعَيْهِ إِلا خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ ذِرَاعَيْهِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ إِلا خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ رَأْسِهِ، ثُمَّ يَغْسِلُ رِجْلَيْهِ إِلا خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ رِجْلَيْهِ “

Dari Abu Umamah Ra, Rasul Saw bersabda ; tidak ada seorang hamba berwudlu kecuali dosa-dosanya jatuh dari tangannya, kemudian tidaklah ketika ia membasuh wajahnya, kecuali dosa-dosanya jatuh dari wajahnya, kemudian tidaklah ketika iam membasuh lengannya kecuali dosa-dosanya jatuh dari lengannya, kemudian tidaklah ketika ia mengusap kepalanya kecuali dosa-dosanya jatuh dari kepalanya, kemudian tidaklah ketika membasuh kakinya kecuali dosa-dosanya jatuh dari kakinya. (HR. Thabrani)

3-Adzan

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” يَغْفِرُ اللَّهُ لِلْمُؤَذِّنِ مُنْتَهَى أَذَانِهِ، وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ سَمِعَ صَوْتَهُ ”

Dari Ibu Umar Ra,  Rasul Saw bersabda ; Diampuni bagi Muaddzin sepanjang suara azannya, dan setiap perkara basah dan kering meminta ampunan baginya. (HR. Ahmad)

4-Puasa dan Qiyamur-Ramadlan

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقُولُ « الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasul Saw bersabda ; Sholat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar (HR Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  قَالَ: ” مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ”

 Rasul Saw bersabda ; Siapa yang menegakkan romadhon (sholat tarawih) dengan iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Termasuk juga puasa sunnah ;

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، عَنِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: ” صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ إِنِّي أَحْتَسِبَ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ، وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ”

Dari Abi Qatadah Ra,  Nabi Saw Bersabda: Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus setahun yangsebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari A’syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang telah lalu. (HR.Ibnu Hibban(

5-Haji dan Umrah

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ ».

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasul Saw bersabda ; “Satu umrah keumrah lain adalah panghapus (dosa-dosa) antara keduanya, sedangkan haji yang mabrur tiada balasan lain, melainkan surga. (Muttafaq Alaih)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ »

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasul Saw bersabda ; Siapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan maka kembali seperti hari ibunya melahirkannya (HR.Bukhari)

6-Shadaqah

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu) maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannyadan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS 2/271)

عن معاذ بن جبل أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم قال أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ: الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

Dari Muadz bin Jabal bahwasanya Rasul Saw bersabda ; Maukah engkau aku beritahukan tentang pintu-pintu surga ?; Puasa adalah benteng, Sodaqoh akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam (qiyamullail). (HR. Tirmidzi)

7-Jihad

فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik. (QS 3/195)

8-Menebarkan salam

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ أَنَّهُ قَالَ: { يَا رَسُولَ اللَّهِ ؛ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ. قَالَ : إنَّ مِنْ مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ : بَذْلَ السَّلَامِ وَحُسْنَ الْكَلَامِ } .

Dari Abu Syuraih, ia berkata ; “Wahai Rasulullah tunjukkan padaku amal yang dapat memasukkanku kedalam surga”. Rasul Saw bersabda ; Sesungguhnya termasuk sebab mendapatkan ampunan adalah menebarkan salam dan perkataan yang baik. (HR. Thabrani, Al-Khara’ithy)

9-Menolong saudara sesama muslim

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: ” مِنْ مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ إِطْعَامُ الْمُسْلِمِ السَّغْبَانِ ”

Dari Jabir bin Abdillah Ra, Rasul Saw bersabda; “Termasuk yang menyebabkan Maghfirah adalah memberi makan seorang muslim yang lapar”. (HR. Hakim)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم  يَا أَنَسُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ مِنْ مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ إِدْخَالَكَ السُّرُورَ عَلَى أَخِيكَ الْمُسْلِمِ، تُنَفِّسُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تُفَرِّجُ عَنْهُ غَمًّا، أَوْ تُزْجِي لَهُ صَنْعَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَخْلُفُهُ فِي أَهْلِهِ

Dari Anas bin Malik Ra, Rasul bersabda; “Wahai Anas, maukah kau tahu bahwa ;Termasuk yang menyebabkan Maghfirah adalah membuat senang saudaramu yang muslim, engkau hilangkan kesusahannya, engkau hilangkan kesedihannya, engkau mudahkan pekerjaannya, engkau bayarkan hutangnya, atau engkau gantikan (menjaga) keluarganya”. (HR. Ibn Abi Dunya)

10-Dzikir dan doa

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صل الله عليه وسلم : ” مَا جَلَسَ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تعالى إِلا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: قُومُوا مَغْفُورًا لَكُمْ، فَقَدْ بُدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ

Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasul Saw bersabda “Tidaklah duduk suatu kaum pada suatu majlis, di mana mereka berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla di tempat itu. Lalu (setelah selesai) mereka berdiri, melainkan dikatakan (oleh malaikat) kepada mereka: Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan keburukan-keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan.”(HR. Thabrani)

***

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ ».

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu dari Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : ‘Barangsiapa yang bertasbih (mengucapkan SubhaanAllah) setelah selesai sholat 33 kali, mengucapkan alhamdulillah 33 x dan bertakbir 33 x, sehingga jumlah bilangan bacaannya 99 x, dan disempurnakan menjadi 100 dengan ucapan:’ Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satunya tidak ada sekutu bagiNya.Baginyalah kerajaan dan baginya pujian dan Dia Maha berkuasa atas segala sesuatu’, akan diampuni kesalahan-kesalahannya walaupun sebanyak buih di lautan “. (HR. Muslim)

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

Dari Sa’ad bin Abi Waqqas RadhiyAllahu’anhu, : Dari Rasulullah ShallAllahu alaihi wassalam, sesunguhnya beliau bersabda : Barang siapa ketika mendengar muazzin mengucapkan : “Saya mengakui, bahwa tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa, tiada sekutuNya dan bahwa Muhammad adalah hambaNya dan UtusanNya. Saya merasa senang, bahwa Allah itu Tuhan (saya). Dan bahwa Muhammad itu Utusan dan Islam menjadi agama (saya). Maka niscaya diampuni dosanya.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ-صلى الله عليه وسلم-قَالَ: ” إِذَا قَالَ: الْإِمَامُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا: اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ”

Dari Abu Hurairah radhiyallohu’anhu bahwa Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika Imam mengucapkan: (Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya), maka ucapkanlah: ‘ (Wahai Rabb kami, bagi-Mu lah segala pujian). Karena barangsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: ” إِذَا أَمَّنَ الْقَارِئُ فَأَمِّنُوا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تُؤَمِّنُ فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “

Dari Abu Hurairah radhiyallohu’anhu bahwa Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ketika Imam mengucapkan “Amiin” maka ucapkanlah oleh kalian “Amiin”,karena sesungguhnya para malaikat juga meng”Amin”i.Barang siapa yang “Amiin”nya bersamaan dengan “amin”nya malaikat,maka diampunkanlah dosa-dosanya yang telah lalu”.(HR Muslim).

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ صحيح البخاري:

Dari Abu Hurairah radhiyallohu’anhu bahwa Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang membaca ’subhaanallaah wabihamdih’ (mahasuci Allah dan dengan segala pujian kepadaNya), setiap hari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan dihapuskan sekalipun kesalahan-kesalahannya itu sebanyak buih lautan” (HR. Bukhari Muslim

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم” مَا عَلَى الْأَرْضِ أَحَدٌ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِلَّا كُفِّرَتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Tidak ada seorang diatas bumi yang berucap “Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar, tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah”, kecuali dihapus dosa-dosanya walaupun seperti buih samudera. (HR. Ahmad, Tirmidzi)

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: ” مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، غَفَرَ اللَّهُ ذُنُوبَهُ وَإِنْ كَانَ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ”

 Barang siapa mengucap ketika hendak tidur “Tiada Tuhan selain Allah, Yang maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatutidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah, maha suci Allah, segala puji baginya,tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar”,Maka Allah ampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih lautan (HR. Ibn Hibban)

 

عَنْ أَبي أَيُّوب الْأَنْصَارِيِّ، عَنِ النَّبيِّ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ قَالَ: ” مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبحُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، عَشْرَ مَرَّاتٍ، كَتَب اللَّهُ لَهُ بكُلِّ وَاحِدَةٍ قَالَهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ، وَحَطَّ اللَّهُ عَنْهُ بهَا عَشْرَ سَيِّئَاتٍ، وَرَفَعَهُ اللَّهُ بهَا عَشْرَ دَرَجَاتٍ، وَكُنَّ لَهُ كَعَشْرِ رِقَاب، وَكُنَّ لَهُ مَسْلَحَةً مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ إِلَى آخِرِهِ، وَلَمْ يَعْمَلْ يَوْمَئِذٍ عَمَلًا يَقْهَرُهُنَّ، فَإِنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي، فَمِثْلُ ذَلِكَ “

Dari Abu Ayyub Al-Anshari ; Nabi Saw bersabda ; Barang siapa mengucapkan Tiada Tuhan selain Allah, hanyalah Allah sendiri,  tidak ada sekutu bagiNya,  hanya bagiNya  kekuasaan dan hanya bagiNya segala pujian, dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa”, Maka Allah ta’ala mencatat setiap kalinya dengan sepuluh kebaikan, dan menghapus sepuluh keburukan, dan Allah ta’ala angkat baginya sepuluh derajat, dan pahala bacaan dzikir tersebut bagaikan memerdekakan sepuluh budak, dan bagi (si pembaca) do’a tersebut merupakan senjata di permulaan siang sampai sore hari, dan beramal pada hari itu dengan suatu amal tidak akan ada yang mengalahkannya, Adapun yang membacanya pada sore hari maka ia akan mendapatkan (pahala) seperti itu juga… (hingga pagi kembali). (HR. Ahmad)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، يَقُولُ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ اللَّهُمَّ: أَصْبَحْنَا نُشْهِدُكَ وَنُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ بِأَنَّكَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ اللَّهُ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ، إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا أَصَابَ فِي يَوْمِهِ ذَلِكَ، وَإِنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا أَصَابَ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ مِنْ ذَنْبٍ ”

Dari Anas bin Malik Ra, Rasul Saw bersabda ; barang siapa ketika pagi mengucap “Wahai Allah, kami masuki pagi dengan bersaksi padamu, dan bersaksi pada sang pembawa Arsy-Mu, malaikat-Mu, dan seluruh makhlukmu bahwasanya engkaulah Allah, tiada Tuhan selain engkau, satu dan tidak ada seteru bagiMu, dan bahwasanya Muhammad adalah hambaMu dan utusanMu”, kecuali Allah mengampuni dosa yang ia lakukan pada siang harinya, sedang ketika mengucapkannya ketika sore hari, Allah mengampuni dosa yang ia lakukan pada malam harinya. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud)

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ إِذَا قُلْتَهُنَّ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ وَإِنْ كُنْتَ مَغْفُورًا لَكَ؟ قَالَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ “

Rasul Saw bersabda; “Maukah kau kuajarkan kalimat yang jika engkau ucapkan Allah mengampunimu walaupun engkau telah diampuni?? U capkanlah ; Tiada Tuhan selain Allah Yang maha tinggi, Yang maha Agung, Tiada Tuhan selain Allah Yang maha bijaksana dan Maha mulia, Tiada Tuhan selain Allah maha suci Allah Tuhan langit tuju, Tuhan ‘Arys yang agung, segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam. (HR. Tirmidzi, Ibnu Sunny)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّه صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ قَالَ: ” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ”

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang membaca laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariika lahuu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodir (Tidak ada ilah (yang berhaq disembah) selain Allah Yang Maha Tunggal tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya mendapatkan pahala seperti membebaskan sepuluh orang budak, ditetapkan baginya seratus hasanah (kebaikan) dan dijauhkan darinya seratus keburukan dan baginya ada perlindungan dari (godaan) setan pada hari itu hingga petang dan tidak ada orang yang lebih baik amalnya dari orang yang membaca doa ini kecuali seseorang yang dapat lebih banyak mengamalkan (membaca) dzikir ini”. (HR. Bukhari)

Termasuk juga membaca shalawat

عَنْ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحَطَّ عَنْهُ عَشْرَ خَطِيئَاتٍ

“Siapa yang (membaca) shalawat kepadaku sekali saja maka Allah akan bershalawat (merahmatinya) sepuluh kali dan dihapuskan baginya sepuluh kesalahan serta diangkat untuknya sepuluh derajat”. (HR. Nasa’i)

3Bagian ketiga adalah musibah yang diterima dengan sabar

Jika seorang hamba tidak jua bertaubat dan beramal saleh yang sekiranya amalnya dapat melebur dosa-dosanya, maka jangan salahkan jika Allah menurunkan sebuah musibah.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  إِذَا َكثُرَتْ ذُنُوْبُ الْعَبْدِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُكَفِّرُهَا مِنَ العَمَلِ ابْتَلاَهُ الله عَزَّ وَ جَلَّ بِالْحُزْنِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ (رواه أحمد)

Dari Aisyah Ra, Rasul Saw bersabda; “Jika dosa manusia sudah terlalu banyak, sementara tidak ada lagi amal yang bisa menghapuskannya. Maka Allah SWT menguji mereka dengan berbagai kesedihan, supaya dosa-dosa mereka terhapus.(HR. Ahmad)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  مَا أَصَابَ الْمُسْلِمَ مِنْ مَرَضٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمَّ يُهِمُّهُ إِلَّا يُكَفِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ مِنْ خَطَايَا

Dari Abu Sa’id Al-Khudry, Rasul Saw bersabda “Tidaklah seorang muslim terkena penyakit, kegelisahan, kesedihan dan kegalauwan yang menimpanya kecuali Allah ‘Azza Wajalla akan menghapus darinya kesalahan yang ia perbuat.”  (HR. Ahmad)

Walaupun begitu tetap saja masih lebih banyak perbuatan kita yang diampuni oleh Allah. Allah berfirman ;

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS 42/30)

Yang demikian justru bukan karena Allah membenci hambaNya, akan tetapi justru Allah ingin agar kelak besok ketika bertemu denganNya, hambaNya telah bersih dari dosa.

عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُنْزِلَتْ عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةَ:ف مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلا نَصِيرًاق، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَا أَبَا بَكْرٍ، أَلَا أُقْرِئُكَ آيَةً أُنْزِلَتْ عَلَيَّ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: فَأَقْرَأَنِيهَا فَلَا أَعْلَمُ إِلَّا أَنِّي قَدْ كُنْتُ وَجَدْتُ انْقِصَامًا فِي ظَهْرِي فَتَمَطَّأْتُ لَهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا شَأْنُكَ يَا أَبَا بَكْرٍ؟ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي وَأَيُّنَا لَمْ يَعْمَلْ سُوءًا وَإِنَّا لَمُجْزَوْنَ بِمَا عَمِلْنَا، فَقَالَ  رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَّا أَنْتَ يَا أَبَا بَكْرٍ وَالْمُؤْمِنُونَ فَتُجْزَوْنَ بِذَلِكَ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى تَلْقَوْا اللَّهَ وَلَيْسَ لَكُمْ ذُنُوبٌ، وَأَمَّا الْآخَرُونَ فَيُجْمَعُ ذَلِكَ لَهُمْ حَتَّى يُجْزَوْا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ” 

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq beliau berkata ; Aku berada disisi Rasulullahj Saw lalu turunlah ayat;

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)

Kemudian Rasul berkata ; “Wahai Abu Bakar, maukah kau aku bacakan ayat yang telah diturunkan padaku?”, Aku berkata ; “Ya, Wahai Raululullah”, lalu beliau pun membacanya, maka aku tidak merasa kecuali aku telah menemukan pecah pada punggungku, maka aku pun menegakkan punggungku karenanya. Rasul Saw lalu berkata ; “Ada apa denganmu wahai Abu Bakar?”, Aku berkata ; “Wahai Rasulullahm Tebusanmu ayah dan ibuku,siapakah dianara kita yang tidak pernah berbuat jelek?”, Rasul menjawab ; “Adapun engkau wahai Abu Bakar, dan orang-orang mukmin, maka dibalas perbuatan buruk mereka di dunia, sehingga kelak bertemu Allah sedang tidak ada dosa pada kalian. Sedangkan yang lain, maka dikumpulkan perbuatan jelek mereka sehingga mereka dibalas pada hari kiamat. (HR. Tirmidzi)

Karena musibah yang kita terima itu pada hakikatnya merupakan buah dari kesalahan kita, maka sudah seharusnya kita menerima dan ridlo dengan keputusanNya. Toh pada kenyataannya musibah yang kita terima jika dibandingkan dengan kenikmatan yang Allah berikan masih lebih banyak nikmat yang Allah berikan.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّه

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah. (QS 64/11)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِوَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(QS 2/155)

Selain mendapat ampunan dosa, seseorang yang bersabar ketika tertimpa musibah juga mendapat ganjaran yang tak ternilai harganya ;

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS 39/10)

عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، قَالَ: بَلَغَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ أَحَدٍ أُصِيبَ بِمُصِيبَةٍ وَاسْتَرْجَعَ إِلا اسْتَوْجَبَ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى ثَلاثَ خِصَالٍ، كُلُّ خَصْلَةٍ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: يَعْنِيف أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

 Dari Ibnu Juraih (Tabi’i), ia berkata, telah sampai pada kita bahwa Rasulullah bersabda “Tidak ada seorang pun yang ditimpa musibah dan membaca  Istirja’, kecuali Allah mewajibkan baginya tiga perkara ; setiap satu diantaranya lebih baik dari dunia dan seisinya. Abu Ubaid (salah satu rawi hadist) berkata ;”Yakni (yang terdapat pada) Firman Allah ; Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 2/157) (HR. Abu Nu’aim dan Rafi’i)

Yakni Ia mendapat Sholawat dari Allah, Rahmat, dan petunjuk darinya. Allah juga berfirman ;

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS 64/11)

Yakni barang siapa beriman kepada Allah bahwasanya musibah merupakan ketentuannya lalu ia bersabar dan membaca Istirja’, maka Allah akan memberinya petunjuk.

a-Keadaan manusia ketika ditimpa musibah

Setiap manusia ketika ditimpa musibah, tidak luput dari empat perkara :

Yang pertama, bersikap tidak senang dengan hatinya dan ditunjukkan oleh perbuatannya dengan misalnya ; menampar-nampar pipi, merobek pakaian, menjambak-jambak rambuk, dsb. Ia merasa bahwa dirinya tidak senang dengan keputusan Tuhannya. Inilah derajat paling rendah, dan pelakunya berdosa dan Rasul berlepas diri dari mereka.

عن عبد الله رضي الله عنه : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ليس منا من ضرب الخدود وشق الجيوب ودعا بدعوى الجاهلية

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah Saw bersabda ; “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan orang-orang jahiliyah”. (HR. Bukhari)

Yang Kedua, bersikap sabar dan menahan diri beserta rasa tidak senang atas apa yang terjadi. Orang yang bersikap seperti inilah yang telah melakukan kewajibanya ketika tertimpa musibah, dan baginya-lah pahala orang-orang yang bersabar.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS 39/10)

Yang ketiga, sikap yang lebih sempurna dari sabar yaitu ; Ridlo. Ridlo lebih sempurna dari sabar karena orang yang sabar tidak suka dengan musibah akan tetapi ia bersikap sabar. Sedangkan orang yang Ridlo baginya ; tertimpa musibah atau tidak itu sama saja dengan memandang kepada Qadlo’nya Alah.

Yang keempat, bersikap mensyukuri. Lalu bagaimana seseorang bisa mensyukuri atas musibah? Jawabnya adalah karena ia sadar bahwa musibah ini karena dosa-dosanya, kemudian ia bersyukur karena Allah menjatuhkan hukuman perbuatanya di dunia, karena biar bagaimanapun hukuman di dunia lebih ringan dari pada di Akhirat. Belum lagi ampunan yang siap Allah berikan.

عن أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Anas beliau berkata ; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan hukuman untuknya di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki keburukan untuk seorang hamba maka Allah akan biarkan orang tersebut dengan dosa-dosanya sehingga Allah akan memberikan balasan untuk dosa tersebut pada hari Kiamat nanti”. (HR Tirmidzi)

Itulah mengapa satu sisi, selayaknya kita bersyukur ketika tertimpa musibah

b-Kiat menghadapi musibah

Agar musibah yang menimpa kita dapat dengan mudah terselesaikan, terdapat beberapa kiat yang bisa dilakukan

1Banyak-banyak memohon ampun kepada Allah

Jika musibah adalah karena banyaknya dosa maka tidak ada jalan lain untuk setidaknya meringankan musibah itu selain meminta ampun kepada Allah. Rasul bersabda ;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun pada Allah), niscaya Allah menggantikan setiap kesempitan menjadi jalan keluar, setiap kesedihan menjadi kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Hr. Abu Dawud)

2-Meningkatkan Taqwa dan bertawakkal kepada Allah

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS 65/2-3)

Meningkatkan takwa yakni; dengan meningkatkan amal ibadah kita dan senantiasa menjauhi larangan-larangannya. Sedang bertawakkal yakni; memasrahkan urusan berupa kekhawatiran-kekhawatiran yang biasanya timbul selepas terjadinya musibah hanya kepadaNya, yakin bahwa Dia akan menyelesaikan urusan kita karena Ialah yang Maha Kuasa, namun sembari tetap kita melakukan usaha semampunya.

3membaca Istirja’ disertai doa

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا. إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ أَىُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِى سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. ثُمَّ إِنِّى قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Dari Ummu Salamah beliau berkata ; Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda ; “Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah (yaitu : Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) : ‘Wahai Allah, berilah aku pahala pada (musibah) yang menimpaku dan berilah ganti bagiku yang lebih baik darinya’, kecuali Allah memberikan kepadanya yang lebih baik darinya”. Ummu Salamah berkata; Ketika Abu Salamah telah meninggal, saya bertanya, “Orang muslim manakan yang lebih baik daripada Abu Salamah? Dia adalah orang-orang yang pertama-tama hijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian akupun mengucapkan doa tersebut. Maka Allah pun menggantikannya bagiku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim)

Membaca Istirja’ tidak harus dalam musibah-musibah besar karena pada dasarnya setiap perkara yang membuat susah atau tidak senang sekecil apapun adalah musibah.

عن سعيد بن المسيب قال: انقطع قبال نعل عمر فقال: إنا لله وإنا إليه راجعون، فقالوا يا أمير المؤمنين أتسترجع في قبال نعلك قال: إن كل شيء يصيب المؤمن يكرهه فهو مصيبة.

Dari Said ibn Al-Musayyab, ia berkata ; “Tali sandal sahabat Umar putus lalu ia mengucap Innalillahi Wa innaa ilaihi rojiuun. Orang-orang lalu berkata ; “Apakah engkau ber-istirja’ (hanya) karena tali sandalmu?”, sahabat Umar menjawab “Seseungguhnya setiap perkara yang menimpa mukmin, yang membuatnya tidak suka adalah musibah.

4Banyak-banyak membaca shalawat

عن أبى بن كعب قال قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: ” مَا شِئْتَ “، قَالَ: قُلْتُ: الرُّبُعَ؟ قَالَ: ” مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ  خَيْرٌ لَكَ “، قُلْتُ: النِّصْفَ؟ قَالَ: ” مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ “، قَالَ: قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: ” مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ “، قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا، قَالَ: ” إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ “

Dari Ubay bin Ka’ab Ra, beliau bertanya kepada Rasulullah : “Wahai Rasulullah saya telah memperbanyak sholawat kepada engkau, berapa saya harus membacanya?” Rasulullah menjawab : “terserah kamu” sahabat Ubay menjawab : “seperempat dari waktuku”, Rasulullah menjawab : “terserah kamu jika kamu mau menambah maka itu lebih baik” sahabat Ubay menjawab : setengah dari waktuku, Rasulullah menjawab : “terserah kamu jika kamu mau menambah maka itu lebih baik” sahabat Ubay menjawab : dua pertiga dari waktuku”, Rasulullah menjawab : “terserah kamu jika kamu mau menambah maka itu lebih baik”, sahabat Ubay menjawab : “saya akan menjadikan semua waktuku untuk sholawat kepadamu”. Rasulullah menjawab : “jika demikian maka kesusahanmu akan dihilangkan dan dosamu akan diampuni”. (HR. Tirmidzi)

Sekian, Wallahu A’lam. Allahumma Shalli ‘Alaa Muhammad….!!!

Tagged: , , , , , , , , , , , ,

§ One Response to Penghapus Dosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Penghapus Dosa at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: