Rahmatan lil-Alamin

May 19, 2011 § 2 Comments

Sebuah ayat yang dipahami secara salah dan digunakan untuk melegitimasi haramnya kekerasan dalam bentuk apapun, melegitimasi toleransi kekufuran dan paham paham menyimpang. Melegitimasi bolehnya bermuwalah dengan orang-orang kafir, bahkan sebagian dari mereka membela orang kafir melebihi pembelaannya terhadap kaum muslimin, sebut sang Dajjal Abdurrahman Wahid. Ayat itu adalah ;

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. (Al-Anbiya’ 107)

Mereka seolah membuang ayat-ayat yang membolehkan bahkan memerintahkan bersikap keras kepada orang-orang kafir ;

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (Al-Fath 29)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (At-Tahrim 9)

Selain itu, bukankah Rasul  Saw  telah Allah perintahkan memerangi orang kafir sehingga mereka mengucap Syahadat?!

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku diperintah untuk memerangi manusia sehingga bersaksi bahwa tiada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan supaya mereka menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Jika mereka melakukan itu maka darah dan harta mereka mendapat perlindungan dariku, kecuali karena alasan-alasan hukum Islam. Sedangkan perhitungan terakhir mereka terserah kepada Allah. (HR. Bukhari)

Begitu juga ayat-ayat yang melarang berkerjasama dengan orang kafir yang memusuhi

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (Ali Imron 28)

Karena itu penting untuk memahami makna ayat tersebut secara benar.

Ketahuilah bahwasanya ayat tersebut pada hakikatnya sama sekali tidak mendukung apa yang mereka gembar-gemborkan selama ini. Karena makna yang benar dari ayat tersebut adalah ; bahwasanya sebagai perwujudan dari sifat Rahmat Allah kepada bangsa manusia dan jin yang terjerumus dalam lembah kebodohan dan kesesatan, Allah mengutus seorang Rasul yakni Muhammad Saw. Jadi barang siapa mau menerima dan mengikuti Nabi maka ia telah menerima dan mendapatkan RahmatNya, dan barang siapa menolak mengikuti berarti ia menolak RahmatNya. Hal ini persis seperti yang telah Rasul utarakan ;

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : (كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى) . قالوا يا رسول الله ومن يأبى ؟ قال (من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى)

 Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan”, para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah siapakah orang yang enggan?” Beliau menjawab, “Siapa yang taat kepadaku maka ia akan masuk surga dan siapa yang durhaka kepadaku maka ia telah enggan (untuk masuk surga).” (HR. Bukhari)

Surga adalah salah satu perwujudan Rahmat Allah.

Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini ; Allah Saw memberitahukan kepada kita bahwasanya ia menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat bagi Sekalian Alam (Manusia dan Jin); yakni Allah mengutusnya karena rahmat (sayang) kepada mereka semua. Jadi barang siapa menerima Rahmat ini dan mensyukurinya, maka ia akan beruntung di Dunia maupun Akhirat, dan barang siapa menolak dan mengingkarinya, maka ia rugi Dunia dan Akhirat.

Jadi tidak mungkin orang kafir mendapat Rahmat karena Allah telah mencanangkan laknat bagi mereka ;

فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang kafir. (Al-Baqarah 89)

Adapun pendapat Ibn Abbas yang menyatakan bahwa orang kafir mendapat Rahmat sebab diutusnya Nabi Muhammad dengan tidak diadzabnya mereka didunia, maka yang dimaksud sesungguhnya bukan Rahmat akan tetapi Nikmat semata, yang justru dapat menambah dosa mereka ;

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (Ali Imron 178)

Bagaimana mungkin dapat dikatakan Rahmat jika justru menambah banyak dosa??

Karena itu Abi Dardak berkata ;

ما من مؤمن إلا والموت خير له، وما من كافر إلا والموت خير له، ومن لم يصدقني فإن الله يقول: { وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلأبْرَارِ } ويقول: { وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لأنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ }

Tidak ada seorang mukmin kecuali kematian lebih baik baginya, dan tidak ada seorang kafir kecuali kematian lebih baik baginya. Dan barang siapa tidak mempercayaiku, maka sesungguhnya Allah berfirman ; Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. (Ali Imron 198). Dan ia berfirman ; Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (Ali Imron 178)

Diutusnya Nabi Muhammad Saw sebenarnya tak jauh beda dengan diutusnya Rasul-rasul sebelumnya, yakni sebagai Rahmat dan Anugerah dari Allah SWT. Sebut saja Nabi Isa As, Allah berfirman mengenainya ;

وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan. (Maryam 21)

Cuma bedanya, Nabi Isa diutus hanya untuk bani Isra’il sedang Nabi Muhammad untuk seluruh manusia dan jin. Itulah maksud Rahmatal lil Alamin.

Jika demikian maka ucapan-ucapan mereka dengan menggunakan dalil ayat ini itu sungguh salah, ibarat pepatah; jauh panggang dari api. Tujuan sejati mereka adalah ingin melenyapkan dua buah tiang yang menyokong berdirinya agama Islam, yakni Amar Makruf Nahi Munkar, dan Jihad fisabilillah. Dengan digembarkan gemborkannya ide kasih sayang versi mereka, mereka berharap agar tak ada lagi jihad dan dibiarkannya perbuatan maksiat. Itu semua untuk menyenangkan tuan-tuan kafir mereka demi mendapat seonggok harta dunia.

Islam memang mengajarkan kasih sayang, tapi Islam juga mengajarkan tentang harga diri keislaman yang harus dijaga dan dilindungi meski dengan tebasan parang maupun letupan senapan.  Allahu Akbar!!!

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. (Al-Anbiya’ 107)

Mereka seolah membuang ayat-ayat yang membolehkan bahkan memerintahkan bersikap keras kepada orang-orang kafir ;

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (Al-Fath 29)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (At-Tahrim 9)

Selain itu, bukankah Rasul  Saw  telah Allah perintahkan memerangi orang kafir sehingga mereka mengucap Syahadat?!

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku diperintah untuk memerangi manusia sehingga bersaksi bahwa tiada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan supaya mereka menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Jika mereka melakukan itu maka darah dan harta mereka mendapat perlindungan dariku, kecuali karena alasan-alasan hukum Islam. Sedangkan perhitungan terakhir mereka terserah kepada Allah. (HR. Bukhari)

Begitu juga ayat-ayat yang melarang berkerjasama dengan orang kafir yang memusuhi

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (Ali Imron 28)

Karena itu penting untuk memahami makna ayat tersebut secara benar.

Ketahuilah bahwasanya ayat tersebut pada hakikatnya sama sekali tidak mendukung apa yang mereka gembar-gemborkan selama ini. Karena makna yang benar dari ayat tersebut adalah ; bahwasanya sebagai perwujudan dari sifat Rahmat Allah kepada bangsa manusia dan jin yang terjerumus dalam lembah kebodohan dan kesesatan, Allah mengutus seorang Rasul yakni Muhammad Saw. Jadi barang siapa mau menerima dan mengikuti Nabi maka ia telah menerima dan mendapatkan RahmatNya, dan barang siapa menolak mengikuti berarti ia menolak RahmatNya. Hal ini persis seperti yang telah Rasul utarakan ;

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : (كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى) . قالوا يا رسول الله ومن يأبى ؟ قال (من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى)

Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan”, para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah siapakah orang yang enggan?” Beliau menjawab, “Siapa yang taat kepadaku maka ia akan masuk surga dan siapa yang durhaka kepadaku maka ia telah enggan (untuk masuk surga).” (HR. Bukhari)

Surga adalah salah satu perwujudan Rahmat Allah.

Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini ; Allah Saw memberitahukan kepada kita bahwasanya ia menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat bagi Sekalian Alam (Manusia dan Jin); yakni Allah mengutusnya karena rahmat (sayang) kepada mereka semua. Jadi barang siapa menerima Rahmat ini dan mensyukurinya, maka ia akan beruntung di Dunia maupun Akhirat, dan barang siapa menolak dan mengingkarinya, maka ia rugi Dunia dan Akhirat.

Jadi tidak mungkin orang kafir mendapat Rahmat karena Allah telah mencanangkan laknat bagi mereka ;

فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang  kafir. (Al-Baqarah 89)

Adapun pendapat Ibn Abbas yang menyatakan bahwa orang kafir mendapat Rahmat sebab diutusnya Nabi Muhammad dengan tidak diadzabnya mereka didunia, maka yang dimaksud sesungguhnya bukan Rahmat akan tetapi Nikmat semata, yang justru dapat menambah dosa mereka ;

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (Ali Imron 178)

Bagaimana mungkin dapat dikatakan Rahmat jika justru menambah banyak dosa??

Karena itu Sahabat Abu Dardak berkata ;

ما من مؤمن إلا والموت خير له، وما من كافر إلا والموت خير له، ومن لم يصدقني فإن الله يقول: { وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلأبْرَارِ } ويقول: { وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لأنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ }

Tidak ada seorang mukmin kecuali kematian lebih baik baginya, dan tidak ada seorang kafir kecuali kematian lebih baik baginya. Dan barang siapa tidak mempercayaiku, maka sesungguhnya Allah berfirman ; Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. (Ali Imron 198). Dan ia berfirman ; Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (Ali Imron 178)

Jika demikian maka ucapan-ucapan mereka dengan menggunakan dalil ayat ini itu sungguh salah, ibarat pepatah; jauh panggang dari api. Tujuan sejati mereka adalah ingin melenyapkan dua buah tiang yang menyokong berdirinya agama Islam, yakni Amar Makruf Nahi Munkar, dan Jihad fisabilillah. Dengan digembarkan gemborkannya ide kasih sayang versi mereka, mereka berharap agar tak ada lagi jihad dan dibiarkannya perbuatan maksiat. Itu semua untuk menyenangkan tuan-tuan kafir mereka demi mendapat seonggok harta dunia.

Islam memang mengajarkan kasih sayang, tapi Islam juga mengajarkan tentang harga diri keislaman yang harus dijaga dan dilindungi meski dengan tebasan parang maupun letupan senapan.  Allahu Akbar!!!

Tagged: , , , ,

§ 2 Responses to Rahmatan lil-Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Rahmatan lil-Alamin at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: