Perilaku Ahli Kitab yang Ditiru Umat Islam Part 2

August 14, 2011 § Leave a comment

Bagian sebelumnya

4-Menyembunyikan dan Mengubah-ubah Firman Allah, Membuat mainan agama, Membuat kebohongan terhadap Allah dan Ghuluw (berlebihan dalam agama)

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima. (Ali Imron 187)

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al-Maidah 13)

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata : “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula) : “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) : “Raa’ina, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali sedikit. (An-Nisa’ 46)

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu[383], dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. (An-Nisa’ 71)

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Maidah 77)

Yang demikian ini telah dilakukan golongan Rawafidl, seperti ;

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 257

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ …

“Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan….”

Menurut versi mereka, yang benar adalah :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِوِلاَيَةِ عَلِيّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ …

“Dan orang-orang yang kafir terhadap kepemimpinan Ali bin Abi Thalib itu, pelindung-pelindung mereka adalah syaithan….”

Mereka berani membuat kebohongan-kebohongan tidak lain karena sikap Ghuluw (berlebihan mereka kepada Sahabat Ali Ra). Bahkan sebagian dari mereka mempertuhankan sahabat Ali seperti halnya Yahudi dan Nashrani mempertuhankan Nabi Uzair dan Nabi Isa As. Juga termasuk Ghuluw adalah sikap sebagian kaum muslimin yang dengan mudah memvonis sesat, atau kafir pada orang yang tidak sependapat dengan mereka. Seperti golongan Khawarij, Rawafidl dan sebagian pengikut ekstrim Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Mereka mengharamkan Tawassul dengan orang-orang saleh bahkan mengkafirkannya, melarang ziarah kubur, mengharamkan taklid, dan sebagainya, akibat ghuluw dalam menerapkan konsep tauhid yang tiga.

Sama halnya dengan yang dilakukan Rawafidl adalah apa yang dilakukan para pengikiut liberalisme, mereka membuat Al-Quran sebagai mainan, memaknai Al-Quran seenak dengkulnya dan menyembunyikan ayat yang menentang pendapat sesat mereka.

Seperti yang diucapkan oleh Rahimi Sabirin dalam buku Islam dan Radikalisme (yang kata pengantarnya ditulis oleh Hasyim Muzadi dan Syafi’i Ma’arif) ; bahwa untuk bertakwa tidak harus menjadi mukmin ketika menafsiri ayat ;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. 43/13)

Padahal hanya orang beriman yang dapat bertakwa, bagaimana bisa dianggap takwa jika ia kufur dan menentang perintah Allah??!

فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا

Maka bagaimanakah kamu akan dapat bertakwa jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. (QS 73/13)

Begitu juga yang dilakukan Abdurrahman Wahid ketika memaknai ayat;

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridlo kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (Al-Baqarah 120)

Ia berkata ; “Tidaklah maknanya seperti yang kaum muslimin pahami, yakni usaha aktif bereka, dan pencurahan kekuatan besar mereka dan harta mereka yang banyak untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agamanya, tetapi maknanya adalah menetapkan adanya perbedaan agama diantara mereka dan kaum muslimin saja.”

Dengan demikian jelas sekali ia telah membuang kalimat “حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ” (hingga kamu mengikuti agama mereka), dan yang seperti ini jelas merupakan penipuan dan pengaburan atas orang-orang awwam…

Sebagian lagi justru secara terang-terangan menganjurkan membuat Al-Quran sebagai mainan. Dalam Tesis Master UIN Yogyakarta yang dibimbing Murid Nasr Hamid Abu Zaid,  Aksin Wijaya, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan, 2004, h.123 berkata;

“Mushaf itu tidak sakral dan absolute, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yg terdapat di dalamnya, yg masih dalam proses pencarian. Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main dengan mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yg melingkupi perasaan dan pikiran kita.”

Publik tentu tak lupa bagaimana Abdurrahman Wahid menyebut Al-Quran sebagai kitab suci paling porno sambil tertawa-tawa… Naudzu billah min dzalik.

Termasuk membuat kebohongan terhadap Allah adalah dengan membuat bid’ah-bid’ah, yakni menyembah Allah dengan cara-cara yang tidak Allah syari’atkan. Atau dengan kata lain membuat-buat perkara baru dalam masalah agama, entah berupa keyakinan, ucapan, tindakan yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam agama. Yang demikian karena dengan mengatakan perbuatan atau ucapan ini wajib atau sunnah secara tidak langsung ia telah mengatakan bahwa Allah mewajibkan atau mensunahkan perkara tersebut padahal tidak sama sekali. Allah berfirman ;

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. (Al-An’am 93)

Mu’adz bin Jabal Ra. Berkata ;

يفتح القرآن على الناس حتى تقرأه المرأة والصبي والرجل فيقول الرجل: قد قرأت القرآن فلم أتبع، والله لأقومن به فيهم لعلي أتبع، فيقوم به فيهم فلا يتبع: فيقول: قد قرأت القرآن فلم أتبع، وقمت به فيهم فلم أتبع لأحْتَضِرَنْ في بيتي مسجداً فيحتضر في بيته مسجداً، فلا يتبع، فيقول: لقد قرأت القرآن فلم أتبع، وقمت به فلم أتبع، وقد احْتَضَرْت في بيتي مسجداً فلم أتبع. والله لآتينهم بحديث لا يجدونه في كتاب الله ولم يسمعوه من رسول الله لعلي أتبع. فإياكم وما جاء به، فإن ما جاء به ضلالة.

Dimudahkan Al-Quran untuk manusia sehingga wanita, anak kecil, dan laki-laki mampu membacanya. Maka berkatalah seorang laki-laki; “Aku telah membaca Al-Quran, tapi aku tidak diikuti, dan aku tegakkan Al-Quran pada mereka tapi aku tidak diikuti. Sungguh akan aku hadirkan masjid dirumahku.” Kemudian ia menghadirkan masjid di rumahnya tetapi tidak dikuti. Ia lalu berkata; “Aku telah membaca Al-Quran, tapi aku tidak diikuti, dan aku tegakkan Al-Quran tapi aku tidak diikuti, Aku hadirkan masjid dirumahku tapi aku tidak diikuti. Demi Allah, akan aku datangkan pada mereka cerita yang tidak dapat mereka temukan dalam kitab Allah dan tidak pernah mereka dengar dari Rasulullah supaya aku diikuti.” Maka jauhilah apa-apa yang ia datangkan, karena yang ia datangkan adalah kesesatan.

Wajib Belajar Al-Quran dan Hadist

Maka, wajib bagi setiap muslim agar terhindar dari kesesesatan dan syubhat-syubhat mereka untuk belajar lebih dalam tentang Al-Quran dan juga Hadist, karena dalam hadist terdapat penjelas bagi kemusykilan Al-Quran, seperti yang diucapkan oleh Sahabat Umar ;

عن عمر رضي الله عنه قال: سيأتي قوم يجادلونكم بشبهات القرآن، فخذوهم بالسنن، فإن أهل السنة أعلم بكتاب الله عز وجل

Akan datang suatu kaum mendebat kalian dengan syubhat-syabhat Al-Quran, maka ambillah hadist, karena ahli hadits paling alim terhadap kitab Allah azza wa jall.

Bukankah Rasul telah menjamin keselamatan orang yang berpegang kepada keduanya??!

تَركْتُ فيكُمْ أَمْرَيْنِ لنْ تَضِلُّوا ما تَمسَّكْتُمْ بهما : كتابَ الله ، وسنّة رسولِهِ

“Telah kutinggakan dua perkara kalian tidak akan sesat selagi berpegang teguh dengan keduanya, yakni kitabullah dan sunnahku di tengah-tengah kalian ” . (HR. Malik)

5-Membunuh, Mendustakan, Menyakiti dan Menghina para Ulama’

Jika dahulu ahli kitab tak segan membunuh dan melecehkan para nabi, begitu juga sebagian umat Muhammad tak segan melecehkan dan membunuh para Ulama’ sebagai pewaris para Nabi.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih.(Ali Imron 21)

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِي وَقَدْ تَعْلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (Ash-Shaff 5)

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. (Al-Maidah 70)

Amangkurat I

Sejarah telah mencatat perlakuan sebagian umat Muhammad terhadap para Ulama’ dan orang-orang yang menyeru kepada kebenaran, mulai dari terbunuhnya Sahabat Utsman, Sahabat Ali dan puteranya Husein, pembunuhan terhadap ulama’ dan orang-orang saleh seperti Sa’id Ibn Jubair murid dari Ibn Abbas oleh Hajjaj Ats-Tsaqfi, dipenjara dan disiksa bahkan dibunuhnya para Ulama’ seperti Imam Ahmad pada masa Khalifah Al-Makmun. Di Indonesia terjadi pembantaian kejam yang dilakukan Amangkurat I terhadap 6000 ulama’ akibat pengaruh dari Voc. Begitu juga terbunuhnya Imam Hasan Al-Banna, dan penindasan kejam para “Fir’aun” Mesir seperti Gamal Abdul Nasser terhadap Jama’ah Ikhwanul Muslimin berikut pembunuhan terhadap para pemimpinnya seperti Abdul Qadir Audah pengarang Tasyri’ Al-Jina’i dan juga Sayyid Quthb pengarang Tafsir Dzilal. Dan semua ini masih berlangsung sampai sekarang… Sebut saja ditangkapnya Ust. Abu Bakar Ba’Asyir.

Ada lagi yang merendahkan kedudukan para Ulama’ dengan meremehkan pendapat-pendapat mereka yang tercantum dalam kitab-kitab klasik dan juga apa yang telah mereka perjuangkan selama ini, misalnya segerombolan orang yang mencanangkan paham bebas madzhab. Mereka berkata tentang Ulama seperti halnya orang kafir musyrik berkata pada Nabinya ;

قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا

Mereka berkata: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami.”  (Yasin 15)

Syeikh Khojandi salah seorang pemimpin mereka berkata ;

“Sesungguhnya yang hak wajib diikuti adalah madzhabnya Rasulullah Saw, kemudian madzhab Khulafaur-Rasyidin Ra. Maka darimanakah datangnya madzhab –madzhab ini mengapa bisa tersebar dan diwajibkan kepada Kaum Muslimin??”

Schacht

Hal ini senada dengan ucapan Schacht, orientalis Jerman yan terkenal benci pada Islam ;

“Sesungguhnya fikih Islam yang disusun oleh para Imam Madzhab itu adalah karya hukum ciptaan otak yang istimewa yang dibangsakan pada Al-Kitab dan Sunnah.”

Pada masa sekarang perlakuan umat Islam kepada Ulama’nya sungguh memprihatinkan, Dalam Jurnal Ilmiah Fakultas Syariah UIN Semarang, Th. IX, 2003 pada buletin Justisia disebutkan “Setelah Muhammad wafat, generasi pasca Muhammad terlihat tidak kreatif. Jangankan meniru kritisisme dan kreativitas Muhammad dalam memperjuangkan perubahan realitas zamannya, generasi pasca-Muhammad tampak kerdil dan hanya mem-bebek pada apa saja yang asalkan itu dikonstruk Muhammad. Kita juga lihat bagaimana Sa’id Aqil Siraj ketua umum PBNU berani mengkafirkan Imam Ghazali demi mengejar gelar doktor di Ummul Quro, sehingga ia sampai dikafirkan oleh 14 orang kyai.  Begitu juga yang dilakukan Adnan Buyung Nasution pada tahun 2008 ketika berkata bahwa Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin adalah manusia yang tidak punya harga diri atau rasa malu. Belum lagi kelakuan kaum muslimin kebanyakan yang mulai meninggalkan Ulama’, meninggalkan ngaji kepada mereka, dan mencukupkan diri dengan bacaan-bacaan dari buku maupun internet.

Yang demikian ini ternyata termasuk kedalam rencana jahat Zionis Yahudi. Tercantum dari protokol tujuh belas milik Zionis Yahudi, “Kami memiliki perhatian besar untuk meruntuhkan kehormatan orang-orang agama dari selain orang-orang Yahudi di mata manusia, dengan itu kami berhasil merusak risalah mereka yang bisa menjadi batu sandungan yang menghadang jalan kami, pengaruh orang-orang agama hari demi hari semakin melemah di mata manusia.”

Kewajiban Menghormati Ulama’

Ibnul Qayyim berkata, “Sabda Nabi bahwa ulama adalah pewaris para nabi mengandung keutamaan terbesar bagi para ulama. Para nabi adalah makhluk Allah terbaik, maka pewaris para nabi adalah makhluk Allah terbaik setelah mereka, manakala setiap warisan orang yang mati berpindah kepada ahli warisnya karena merekalah yang menggantikan posisinya setelahnya, padahal tidak ada penerus para rasul dalam menyampaikan ajaran yang mereka bawa kecuali para ulama, maka dengan begitu mereka-lah yang  paling berhak terhadap warisan para Nabi. Ini membuktikan bahwa para ulama adalah orang-orang terdekat kepada para nabi karena warisan hanya didapat oleh orang yang paling dekat kepada mayit hal ini sebagaimana ia berlaku untuk warisan dinar dan dirham, ia juga berlaku dalam warisan nubuwah dan Allah mengkhususkan rahmatNya kepada siapa yang dikehendaki.”

Lanjut Ibnul Qayyim, “Hadits ini juga mengandung petunjuk dan perintah kepada umat agar menaati, menghormati, mendukung, menghargai dan memuliakan mereka…. Hadits ini juga mengandung peringatan bahwa menyintai mereka termasuk agama dan membenci mereka bertentangan dengan agama sebagaimana hal itu berlaku untuk apa yang mereka warisi. Begitu pula membenci dan memusuhi mereka berarti membenci dan memusuhi Allah sebagaimana hal itu berlaku pada apa yang mereka warisi.”

Sebagian Ulama’ Madzhab Hanafi bahkan menghukum kafir orang yang menghina Ulama’.  Dalam Is’aadur-Rafiq, Syaikh Muhammad bin Salim berkata ; “Termasuk tipu daya Syaithon yang terlaknat adalah ia berusaha membuat manusia benci terhadap Ulama’, dikarenakan jika mereka membencinya, mereka tidak akan mendengarkan ilmu dari Ulama’, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”

Adalah wajar jika seorang Ulama’ melakukan kesalahan karena bagaimanapun ia seorang manusia biasa. Akan tetapi bukan berarti boleh mencaci dan menjelek-jelekkan mereka karena biar bagaimanapun jasa yang mereka buat lebih besar dari kesalahan yang mereka kerjakan, apalagi jika diabandingkan dengan jasa kita… Sungguh jauh tentunya….

6-Meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ،  كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.  Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.  (Al-Maidah 78-79)

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. (Al-Maidah 63)

Inilah yang diantaranya dapat kita lihat dari Jam’iyyah terbesar di Indonesia ; NU. Bagaimana para Kyainya diam saja terhadap kesesatan yang dilakukan banyak sekali anggotanya, padahal mereka mengaku-ngaku sebagai Ahlu-Sunnah Wal-Jama’ah!! Sehingga akhirnya menimbulkan kesemerawutan bahwa Ahlu-Sunnah adalah yang mengikuti paham pluralisme, liberalisme, sekulerisme, ditambah lagi mereka melalui ketua umumnya mulai mengakomodasi Syiah Rawafidl. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. Aku katakan pada mereka ;

إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” (Al-An’am 19)

Kita perhatikan juga bagaimana kebanyakan orang tua membiarkan begitu saja tingkah polah anak-anaknya. Merestui ketika anak-anak mereka berpacaran, membiarkan anak perempuan mempertontonkan auratnya kapada para lelaki yang bukan muhrim, tidak memperdulikan pendidikan agama mereka, tidak memperhatikan shalat mereka, dsb. Padahal Allah berfirman ;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim 6)

Apakah kalian rela jika saudara, teman, anak, serta orang-orang yang kita cintai masuk kedalam panasnya api neraka??

Anjuran melasanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Ancaman Meninggalkannya

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ،  وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (Ali Imron 104-105)

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنْكَرِ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar. (At-Taubah 71)

Imam Ghazali

Imam Ghazali berkata ;

“Saya memahami dari ayat ini bahwa barang siapa yang meninggalkan keduanya (Amar Ma’ruf Nahi Munkar) telah keluar dari golongan Mukminin.”

Rasul Saw bersabda ;

من رأى منكم منكراً فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

Barang siapa diantara kalian melihat perkara munkar, hendaklah merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya; dan itulah selemah-lemah keimanan.” (HR Muslim)

Ibnu Al-Hajj Al-Maliky dalam kitab Al-Madkhal berkata ;

قَدْ أَخْبَرَ أَنَّ التَّغْيِيرَ بِالْقَلْبِ هُوَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ ، وَالتَّغْيِيرُ قَدْ عُدِمَ فِي الْغَالِبِ لِاسْتِئْنَاسِ النُّفُوسِ بِمَا يُشَاهَدُ مِنْ تِلْكَ الْأَشْيَاءِ فَذَهَبَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ ، وَإِذَا عُدِمَ أَضْعَفُهُ فَمَاذَا يُرْجَى أَنْ يَبْقَى بَعْدَ عَدَمِ هَذَا الْأَضْعَفِ أَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى السَّلَامَةَ بِمُحَمَّدٍ

“Nabi telah memberitahukan bahwa merubah dengan hati (yakni dengan benci) adalah selemah-lemahnya iman, sedang Taghyir, biasanya kerap hilang ketika hati telah menganggap biasa terhadap adanya perkara munkar tersebut, (jika demikian) maka hilanglah selemah-lemahnya iman, dan jika selemah-lemahny iman telah hilang, maka apakah yang bisa diharapkan selepas hilangnya iman yang lemah ini??!! Aku meminta Allah keselamatan atas nama Muhammad!

Jawaban pertanyaan Ibnu Al-Hajj Al-Maliky, ternyata terdapat pada hadist Nabi ;

ما من نبي بعثه الله في أمة قبلي إلا كان له من أمته حواريون وأصحاب يأخذون بسنته ويقتدون بأمره ثم إنها تخلف من بعدهم خلوف يقولون ما لا يفعلون ويفعلون ما لا يؤمرون فمن جاهدهم بيده فهو مؤمن ومن جاهدهم بلسانه فهو مؤمن ومن جاهدهم بقلبه فهو مؤمن وليس من وراء ذلك من الإيمان حبة خردل

“Tidak ada seorang Nabi pun yang Allah utus di tengah-tengah umatnya sebelumku kecuali terdapat di kalangan ummatnya kaum hawariyun (para pengikut yang setia) dan para Sahabat yang mengikuti sunnahnya dan mentaati perintahnya. Kemudian akan muncul setelah mereka generasi yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang berjihad menghadapi mereka dengan tanganya maka dialah Mukmin. Dan barangsiapa yang berjihad melawan mereka dengan hartanya maka dialah mukmin, dan siapa saja yang berjihad melawan mereka dengan hatinya maka dialah mukmin. Dan tidak ada pada yang selain itu keimanan seberat biji sawi.” [HR. Muslim]

Yakni orang yang tidak ingkar dengan hatinya, imannya tidak lebih berat dari biji sawi (teramat kecil).

Rasul Saw bersabda ;

(لَمَّا وَقَعَتْ بَنُو إسْرَائِيلَ في المَعَاصي نَهَتْهُمْ عُلَمَاؤهُمْ فَلَمْ يَنْتَهُوا ، فَجَالَسُوهُمْ في مَجَالِسِهمْ ، وَوَاكَلُوهُمْ وَشَارَبُوهُمْ، فَضَربَ اللهُ قُلُوبَ بَعضِهِمْ بِبعْضٍ ، وَلَعَنَهُمْ عَلَى لِسانِ دَاوُد وعِيسَى ابنِ مَرْيَمَ ذلِكَ بما عَصَوا وَكَانُوا يَعتَدُونَ )  فَجَلَسَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – وكان مُتَّكِئاً ، فَقَالَ : ( لا ، والَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى تَأطِرُوهُمْ عَلَى الحَقِّ أطْراً)

Ketika kemaksiatan sudah melanda Bani Isra’il, maka ulama-ulama mereka mencegahnya, tapi mereka tetap melakukannya. Sehingga ulama-ulama mereka ikut serta dalam majelis mereka, dan makan minum bersama, maka Allah menutup hati mereka dan melaknat mereka, dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam, karena kemaksiatan mereka yang melampui batas. Ketika itu Rasulullah duduk bersandar, dan bersabda, ”Tidak, demi Allah yang jiwaku ada ditangan-Nya, kalian harus membelokkan mereka dan menghentikannya kepada yang benar”. (HR. Ahmad)

Ketika kemunkaran tidak dicegah, maka lama-lama hati akan terbiasa dengan kemunkaran itu sehingga tidak lagi menginkarinya, maka tertutuplah hati mereka. Dan ini juga telah kita lihat kenyataannya sekarang.

Rasul Saw juga bersabda ;

إنَّ النَّاسَ أَوْ الْقَوْمَ إذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوهُ عَمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ

“Sesungguhnya manusia atau kaum jika melihat kemunkaran kemudian tidak merubahnya maka Allah kan meratakan mereka dengan siksa. (HR. Abu Dawud)

إن الله لا يعذب العامة بعمل الخاصة ، حتى يروا المنكر بين ظهرانيهم وهم قادرون على أن ينكروه ، فلا ينكروه فإذا فعلوا ذلك عذب الله العامة والخاصة

Sesungguhnya Allah tidak akan seluruh (kaum) akibat perbuatan orang tertentu, sehingga mereka melihat kemunkaran diantara mereka sedang mereka kuasa untuk menginkarinya, lalu mereka tidak menginkarinya. Maka jika mereka melakukan itu Allah akan mengadzab keseluruhan dan orang tertentu (tsb). (HR. Ahmad)

Adapun orang yang ingkar terhadap kemunkaran, akan diselamatkan oleh Allah ketika Allah menurunkan siksanya ;

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (Al-A’raf 165)

Bagian selanjutnya

Tagged: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Perilaku Ahli Kitab yang Ditiru Umat Islam Part 2 at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: