Perilaku Ahli Kitab yang Ditiru Umat Islam Part 4 (Tamat)

August 26, 2011 § Leave a comment

Bagian sebelumnya

9-Melakukan Sihir

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan mereka mengikuti apayang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan Sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan Sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan Sihir). Mereka mengajarkan Sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan Sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli Sihir) tidak memberi mudharat dengan Sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan Sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan Sihir, kalau mereka mengetahui. (Al-Baqarah 102)

Assudy berkata; Sesungguhnya Syaithan naik ke langit, kemudian duduk pada tempat-tempat duduknya disana untuk mendengarkan. Maka mereka mendengarkan ucapan para malaikat, yakni apa yang terjadi dibumi berupa kematian, barang gaib, atau tentang suatu perkara. Kemudian mereka mendatangi para dukun memberiktahukan mereka. Para dukun lalu menceritakan kepada orang-orang, kemudian mereka menemukan bahwa yang mereka ceritakan itu sesuai dengan kenyataan. Sehingga ketika para syaithan mendapatkan kepercayaan dukun-dukun, mereka membuat kebohongan kepada mereka, dan memasukkan perkara lain didalamnya, maka mereka menambahkan pada setiap kalimat tujuh puluh kalimat, orang-orang pun menulis kalimat-kalimat itu dalam kitab-kitab, dan tersebar luaslah dalam masayarakat bani Isra’il bahwa jin mengetahui perkara ghaib.

Lalu diutuslah Nabi Sulaiman, beliau lalu mengumpulkan kitab-kitab itu dan menaruhnya dalam sebuah kotak dan menguburnya dibawah singgasananya. Tidak ada seorang syaithan pun yang mampu mendekat ke singgasannya kecuali terbakar. Ia berkata; “Aku tidak mendengar seorang menyebutkan bahwa Syaithan mengetahui perkara ghaib kecuali aku penggal lehernya. Kemudian ketika Nabi Sulaiman meninggal, dan para Ulama’ yang mengetahui perkara Sulaiman juga telah tiada, dan datanglah para pengganti yang buruk, syaithan datang dengan menyerupai wujud manusia, kemudian mendatangi segolongan bani Isra’il, dan berkata pada mereka; “Apakah kalian ingin aku tunjukkan harta yang tidak dapat habis kalian makan selamanya?”, Mereka menjawab; “Ya”. Syaithan berkata; “Galilah dibawah singgasana Nabi Sulaiman!”, ia pun pergi bersama mereka menunjukan tempat yang dimaksud, sedang ia berdiri jauh. Mereka berkata padanya; “Mendekatlah!”, Ia berkata; “Tidak, tapi aku disini dalam kekuasaan kalian, jika kalian tidak menemukannya maka bunuhlah aku”. Mereka pun menggalinya lalu menemukan kitab-kitab yang dimaksud. Kemudian ketika mereka mengeluarkannya, Syaithan berkata; “Sesungguhnya Sulaiman mengatur manusia, setan-setan dan burung-burung adalah dengan Sihir ini”, lalu ia terbang dan menghilang. Tersebarlah dalam masyarakat bahwa Sulaiman adalah seorang penyihir, Bani Isra’il pun mengambil kitab-kitab itu. Maka ketika nabi Muhammad Saw datang mereka mendebatnya dengan kitab-kitab itu, itulah (maksud) ketika Allah berfirman; “Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan Sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan Sihir).” (Al-Baqarah 102)

Terdapat banyak riwayat yang berbeda-beda mengenai ayat diatas, tetapi intinya merujuk kepada tipu daya syaithan dalam memfitnah Nabi Sulaiman dengan mengatakan Nabi Sulaiman mengerjakan Sihir sehingga mampu mengusai manusia, jin, burung-burung, menundukkan awan, dan sebagainya dengan bukti adanya kitab-kitab Sihir dibawah singgasana Nabi Sulaiman. Kemudian bani Isra’il mengambil kitab-kitab Sihir itu dan mengamalkannya.

Allah Swt juga berfirman;

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. (Al-Maidah 51)

Sahabat Umar berkata; “Jibt adalah Sihir, sedangkan thaghut adalah Syaithan.”

Harry Potter; Film untuk mempromosikan sihir

Beginilah yang kita lihat pada masyarakat yang katanya modern, namun karena justru digelapkan mata hatinya oleh kemoderenan ia memilih jalan pintas yang tidak masuk akal untuk mendapatkan apa-apa yang disukainya berupa harta dan kekuasaan dengan bekerja sama dengan Syaithan dan para pengikutnya.

Sebut saja Heru Sarjono, calon legislatif dari salah satu partai terbesar di Indonesia untuk Dapil Daerah Istimewa Yogyakarta, mendatangi sebuah pohon beringin putih tua dan sebuah mata air di kawasan kramat Sindang Ayu. Mengikuti jejak sang kakak yang berhasil mendapatkan jodoh di usia 40 tahun setelah melakukan tirakat di sana, Heru pun meyakini pencalonannya akan sukses. Ia pun menyiapkan bunga sebagai simbol kelembutan, beras sebagai gambaran kebutuhan pokok, telur sebagai lambang awal kehidupan, di dalam sebuah tempayan terbuat dari bambu. Sebelum pulang, ia tak lupa membasuh mukanya di sebuah mata air. Heru percaya, itu bisa menambah kekuatan aura dan menarik simpati para pemilih. (Redaksi Kontroversi Trans 7 pada Minggu (29/3 ‘09)

Ia mengajukan persembahan makanan untuk para Setan, lalu apa bedanya dengan kuffar Makkah yang juga mengajukan persembahan berupa sesembelihan ternak kepada berhala-berhala mereka??

Selain para wakil rakyat tadi yg juga sekaligus wakil setan, para presiden Indonesia juga tak luput dari hal ini. Presiden Soekarno punya rumah di pelabuhan Ratu guna mempermudah upaya mendekatkan diri kepada Nyai Ratu Roro Kidul, penguasa pantai selatan. Presiden Soeharto juga sama, tak lepas dari hal-hal berbau Sihir. Ia sering bersemedi atau dalam bahasa arabnya disebut i’tikaf ditempat-tempat keramat. Dalam hal ini, Gunung Lawu jadi tempat favorit Soeharto. Gunung Lawu menurut keyakinan mereka merupakan salah satu pusat kekuatan mistik di Jawa. Ia juga diyakini bekerjasama dengan kakak seperguruan Nyai Roro Kidul. Apalagi dengan Abdurrahman Wahid, Ia bahkan mempersembahkan seekor ayam jago untuk penguasa Pantai Selatan, dan juga kepada Batharakala dewa jahat dalam mitologi hindu. Bahkan sempat beredar VCD kegiatan ruwatan Mbah Dur di parangtritris Yogyakarta dengan dipimpin seorang dukun bernama Romo. Dan aku dengar mengenai SBY, bahwa ia punya banyak sekali dukun, salah satunya tinggal di kota Pati Jawa tengah.

Gunung kemukus

Adanya praktek pesugihan, misalnya pesugihan Gunung Kemukus (kebanyakan pelakunya dari daerah Pati, Kudus, Jepara) dimana pelakunya jika ingin kaya, sukses, harus berhubungan badan secara terlarang. Semakin terlarang, misalnya antara ibu dan anak, maka katanya semakin berhasil. Ada juga pesugihan yang dilakukan para Nelayan suatu daerah di kota Rembang dengan cara mengatakan kata-kata kufur pengingkaran terhadap tuhan ditengah lautan supaya mendapat banyak ikan.

Hal ini persis yang dilakukan orang-orang Yahudi sekarang, mereka menyembah setan untuk memperoleh kekayaan dan kekuasaan dalam jumlah besar. Ini menjelaskan kenapa dengan jumlah mereka yang sedikit mereka mampu menguasai segala bidang; ekonomi, politik, media massa, dsb. Dapat kita buktikan bahwa didunia ini hampir tidak ada merk terkenal kecuali dibelakangnya terdapat Yahudi, mulai dari HP Nokia sampai Facebook, Aqua sampai Cocacola,dan banyak lagi… (Untuk mengetahui lebih jauh mengenai ini, anda bisa menonton Film The Arrivals atau membaca bukunya (The Diary Of Dajjal). Tapi hati-hati dengan muatan Syi’ah dan Pluralisme yang ada di dalamnya)

Adalagi yang menggunakan Sihir untuk menyakiti, merusak, bahkan memmbunuh orang lain. Sehingga hampir-hampir dapat dikatakan setiap orang menjadi kaya, sukses, punya pangkat, dihormati orang pasti ada orang  yang akan menyantetnya. Yang demikian merupakan hal biasa dalam masyarakat jawa, walau dalam kenyataan yang terlihat sepintas tidak ada apa-apa.

Untuk mendapatkan ilmu Sihir, diantara tukang Sihir itu ada yang menempelkan mushhaf dikedua kakinya, kemudian ia memasuki WC. Ada yang menulis ayat-ayat Al-Qur’an dengan kotoran. Ada juga yang menulis ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan darah haidl. Juga ada yang menulis ayat-ayat Al-Qur’an di kedua telapak kakinya. Serta ada yang menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada syaitan dengan dengan tidak menyebut nama Allah pada saat menyembelih, lalu membuang sembelihan itu ke suatu tempat yang telah ditentukan syaitan. Dan ada juga yang berbicara dengan binatang-binatang dan bersujud kepadanya. Serta ada juga yang menulis mantra dengan lafazh-lafazh yang mengandung berbagai makna kekufuran. Jelas yang demikian adalah kekufuran.

Hukum Sihir dan Ancaman Bagi Pelakunya

Sihir termasuk dosa besar Rasul bersabda;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah itu? Beliau bersabda: Syirik kepada Allah, Sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, memakan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan peperangan dan menuduh seorang wanita mu’min yang suci berbuat zina. (HR. Bukhari)

Pelaku Sihir bahkan dihukumi kafir dan wajib dibunuh menurut sebagian ulama’, yakni Imam Malik dan Imam Ahmad. Mereka berargumen dengan landasan bahwa Sihir dengan sendirinya adalah kufur, dan pelakunya menimbulkan kerusakan di masyarakat. Allah berfirman;

وَمَاكَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِّنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan Sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan Sihir).

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولآ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ

sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan:”Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (Al-Baqarah 102)

Asy-Syaukani rahimahullah mengutip dari Imam Malik rahimahullah,, “Penyihir adalah kafir dihukum bunuh dan tidak disuruh bertaubat, tidak diterima taubatnya, bahkan harus dibunuh.” Yakni; imam Malik menghukumi penyihir layaknya orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di dunia, sehingga bagi Imam tidak perlu memintanya taubat, dan taubatnya tidak diterima ketika ia telah tertangkap dalam genggaman Imam. Allah berfirman ;

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (Al-Maidah 33)

Kemudian Allah melanjutkan;

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Maidah 34)

jadi, maksud tidak diterimanya taubat penyihir adalah diterimanya taubat oleh hakim atau Imam yang berarti ia bisa diampuni. Adapun jika ia sungguh-sungguh dalam taubatnya, niscaya Allah tetap menerima taubatnya.

Sedang menurut Imam Syafi’i, Zhahiriyah, dan satu riwayat dalam mazhab Hanbali, cukup dita’zir (diberi hukuman) tidak sampai dibunuh. Ini karena menurut mereka Sihir tidak mesti kufur. Namun apabila dalam perbuatan Sihir ada ucapan atau perbuatan yang menyebabkan kekafiran, maka penyihir itu dihukum mati karena murtadnya. Dan jika padanya ada sesuatu yang membukitkan bahwa ia telah membunuh jiwa seseorang yang dipelihara dengan Sihirnya, maka ia dihukum bunuh sebagai qishash. Misalnya jika ia mengakui (iqrar) bahwa ia telah membunuh dengan Sihirnya, dan pendapat ini sudah disepakati (ittifaq para ulama).

Yang perlu diperhatikan adalah bahwasanya tidak setiap sesuatu yang tidak masuk akal itu terjadi karena Sihir. Bisa jadi itu Mu’jizat atau Karomah. Atau bisa jadi perkara-perkara ajaib itu timbul karena bacaan Al-Quran atau dzikir, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad Saw ketika membuat orang-orang kafir Quraisy tidak melihat kepergian beliau dengan membacakan awal surat Yasin ketika beliau hendak hijrah. Begitu juga yang dilakukan ‘Ashif (dalam satu riwayat) ketika ia memindahkan singgana Bilqis ke hadapan Nabi Sulaiman dalam sekejap mata dengan wasilah ilmu yang ia dapat dari Al-kitab. Dikatakan bahwa ilmu yang dimaksud adalah Ismul-A’dzham, dimana barang siapa berdoa dengannya pasti dikabulkan. Dalam Tanwirul Miqbas, Ismul A’dzham yang dimaksul adalah “Ya Hayyu Ya Qayyum”.

Begitu juga tidak setiap perkara ajaib yang muncul dari seseorang itu muncul karena ia adalah orang saleh atau kekasih Allah. Karena itu hendaklah ketika timbul keajaiban dari seseorang, untuk meneliti tingkah laku orang tersebut, apakah ia orang yang bertakwa kepada Allah atau justru orang yang durhaka padaNya. Jika ia orang yang durhaka maka bisa dipastikan kalau keajaiban itu timbul dari Sihir, jika ia orang yang bertakwa maka itu adalah karomah (kemuliaan) yang Allah berikan padanya.

Heran, yang kayak gini bisa punya banyak pendukung?? pada kena pelet kali...

Contoh mudah adalah Abdurrahman Wahid, begitu banyak orang yang meriwayatkan keajaiban-keajaiban yang ia lakukan sehingga banyak yang menganggap ia sebagai wali. Padahal ia adalah orang yang anti Syari’at Islam, maka dapat disimpulkan bahwa keajabaiban itu (kalau benar) timbulnya dari Sihir, tidak karena kedekatannya dengan Allah. Bagaimana tidak, bukankah Dajjal mampu menghidupkan orang mati, ia berkata pada langit; “Turunkanlah hujan”, lalu hujan pun turun. Apakah dengan begitu berarti Dajjal adalah Wali Allah??

10-Mencintai kehidupan dunia

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Al-Baqarah 96)

Rasul Saw bersabda;

يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ الْأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ قَالَ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنْ تَكُونُونَ غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ يَنْتَزِعُ الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ قَالَ قُلْنَا وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Akan datang suatu masa umat lain akan memperebutkan kamu ibarat orang-orang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan.” Sahabat bertanya, “Apakah lantaran pada waktu itu  jumlah kami hanya sedikit Ya Rasulullah?”. Dijawab oleh beliau, “Bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas laut, dan dalam jiwamu tertanam kelemahan jiwa.” Sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud kelemahan jiwa, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati!”. (HR. Abu Daud).

Semua perilaku Ahli Kitab tadi jika kita telisik maka penyebabnya adalah kecintaan mereka yang sangat kepada dunia, kecintaan terhadap harta, pangkat serta kekuasan. Kita lihat sekarang bahwa ini terjadi juga pada umat Islam.

Kita lihat segerombolan orang berseteru tiada kunjung habisnya demi memperebutkan jabatan. Umat islam terpecah-pecah akibat para pemimpinnya yang gila kekuasaan.

Bukan hanya bibirnya yang sumbing, hati dan akalnya juga dibikin sumbing oleh Allah

Dalam majalah Hidayatullah, edisi Desember 2004, Uli Abshar Abadalla mengaku mendapat bantuan 1,4 miliar dari Asia Foundation sebuah LSM bentukan CIA. Ia berkata; “Kalau dana dari AS memangnya kenapa? Mereka (Islam Militan) juga dapat dana dari Saudi.” Karena donor yang amat besar dari LSM ini, maka JIL dalam waktu yang relatif singkat sudah bisa mendirikan Radio satelit pertama di Indonesia, Radio 68H, yang siarannya direlai puluhan pemancar radio di Indonesia, mampu membeli satu halaman penuh koran Jawa Pos, bahkan mampu menayangkan iklan-iklan di televisi dengan durasi yang panjang, dan bisa menghidupi kegiatan-kegiatan mereka yang membutuhkan biaya besar.  Dari sini kita tahu alasan mereka berani merubah-rubah ayat Al-Quran dan menyebarkan kesesatan, yakni; “DUIT”.

Begitu juga yang dilakukan para Ahli bid’ah. Mereka membuat kebohongan-kebohongan sesuai dengan hawa nafsu mereka untuk mendapat pengikut, agar dijadikan pemimpin, mendapat kekuasan dan harta dunia, ini bisa dilihat dari pernyataan Sahabat Mu’adz bin Jabal yang telah lalu. Begitu juga ketika kebanyakan Umat Islam meninggalkan jihad, yakni karena  cinta dunia.  Begitu juga dengan diamnya para Kyai dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar, bisa jadi karena mulutnya tersumpal uang, atau takut kedudukannya lenyap akibat hujatan masyarakat.

Dan tidaklah para penguasa membunuh para kecuali karena takut akan hilangnya kekuasaan. Amangkurat I membunuh 6000 Ulama’ karena kecemburuannya akan dukungan dan kedekatan para Ulama’ terhadap  saudaranya. Presiden Gamal Abdul Naser (Mesir) membunuh Abdul Qadir Audah karena melihat pengaruhnya yang besar dalam masyarakat sehingga kawatir mengancam kekuasaannya.

Begitu juga ketika para penguasa kaum muslimin memilih membela kaum kafir dari pada menolong  saudara sesamanya. Yaitu demi tetap berdirinya kekuasaan atau demi bantuan uang jutaan dollar….

Begitu juga ketika mereka melakukan riba, memakan harta orang lain dengan tidak benar, melakukan praktek Sihir, perdukunan, pesugihan, semuanya adalah karena kecintaan kepada dunia dan lupa terhadap akhirat.

Yang lebih menyedihkan, akibat pengaruh dari media, adalah bahwa banyak dari kita justru tidak tahu untuk tujuan apa dia hidup. Jika kita tanya tujuan mereka, mereka akan menjawab; ingin jadi pengusaha sukses, ingin jadi artis, ingin jadi dokter, ingin kaya dsb. Banyak pula yang justru bingung dan linlung ketika ditanya tujuan hidup mereka. Innalillahi Wa inna Ilaihi Roji’uun…..

Sebuah pengingat…

Ketahuilah bahwa manusia diciptakan hanyalah untuk menyembah (beribadah) kepada Allah

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS 51/56)

Inilah tujuan keberadaan (hidup) manusia, sungguh mengherankan jika seorang muslim tidak mengerti akan hal ini.

Mengenai pengertian ibadah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya”.

Ingatlah pula asal permulaan manusia dan kemana ia akan kembali! Allah menciptakan manusia dari sesuatu yang hina, memberi berbagai macam indera sehingga bisa mendengar, melihat merasa, berjalan, dsb.

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ ،  ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ ،  ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.  (As-Sajdah 7-9)

قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ ،  مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ،  مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ ،  ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ ،  ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ ،  ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ ،  كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ

Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya, Kemudian Dia memudahkan jalannya. kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya (Abasa 17-23)

Pantaskan manusia durhaka terhadap Dzat yang telah menciptakan dan memberinya segala kenikmatan??!

Manusia akan kembali kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, adakalanya beruntung adakalnya celaka. Yang celaka adalah yang terlena dengan kehidupan dunia dan melupakan hari pertemuan denganNya. Yang beruntung adalah yang mengingat hari pertemuan dengaNya dan mempersiapkan diri menghadapinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ،  وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.  (Al-Hasy 18-19)

فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Maka rasakanlah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan. (As-Sajdah 14)

فَأَمَّا مَنْ طَغَى، وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (An-Naazi’aat 37-39)

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Dan adapun orang-orang yang takut kepada waktu dimana ia berdiri dihadapan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (An-Naazi’aat 40-41)

Lupakah kalian bahwa Allah melihat tindak-tanduk perbuatan kalian??

وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُون،  وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, yang membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Fusshilat 22-23)

Penutup

Akhirnya sebagai akibat dari kekufuran, kemaksiatan dan tindakan melampaui batas, Allah menimpakan kehinaan, kemiskinan dan kesengsaraan kepada Ahli kitab dahulu. Begitu pula yang menimpa umat Islam sekarang ini;

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali dengan mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itukarena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (Ali Imron 112)

Dan tidak ada jalan keluar dari semua masalah ini kecuali kembali kepada Agama Islam. “Sehingga kalian kembali kepada agamu” itulah sabda Nabi (lihat bagian tentang meninggalkan jihad). Tidak dengan mengikuti dan mentaati para kafirin; mengikuti paham-paham rusak dengan iming-iming duniawi. Seperti paham Demokrasi, Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme, Nasionalisme, Marxisme, dan “isme-isme” lainnya. Mereka pada hakikatnya ingin agar umat Islam tersesat seperti halnya mereka tersesat, rusak sebagai mana mereka rusak, tersesat sebagai mana mereka tersesat, Allah berfirman;

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (An-Nisa’ 27)

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (Al-Baqarah 109)

Dan ingatlah bahwa senantiasa mereka tidak akan rela sehingga kita mengikuti kekufuran mereka;

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridlo kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (Al-Baqarah 120)

Oleh karena itu, orang yang ingkar adanya usaha-usaha pemurtadan, kristenisasi, dan sebagainya. Entah melalui koran, internet, tv, Film, majalah, dan lain-lain, pada hakikatnya sama saja menantang kebenaran firman Allah;

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup. (Al-Baqarah 217)

Itulah mengapa Allah melarang kita mengikuti dan mentaati mereka; yakni karena hal itu dapat menyebabkan kekufuran.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (Ali Imron 100)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. (Ali Imron 149)

Sekali-lagi, jika memang ajakan-ajakan mereka adalah kebaikan, maka renungkanlah firman Allah ini;

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. (Al-Baqarah 105)

Dari itu wajib bagi kita untuk menampakkan, mendeklarisikan identitas keislaman kita dihapan kaum kafirin. Katakan kepada mereka; Kami bangga menjadi muslim!! We proud to be a moslem!! Isyhaduu bi anna muslimun! Saksikanlah bahwa kita adalah kaum muslim!! Seperti yang Allah perintahkan;

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah adalah kaum muslim. (Ali Imron 64)

Yang demikian tidak bisa dengan kata-kata saja, tapi harus dengan menjalankan syi’ar-syi’ar ajaran Islam. Seperti Shalat Jama’ah, Mengucapkan salam ketika menyapa sesama, entah ketika bertemu langsung atau melalui telpon, menggunakan hijab bagi kaum wanita, memanjangkan jenggot bagi pria, menggunakan pakaian yang identik dengan Islam dengan tanpa berlebihan dan melampaui batas, membuat halaqah-halaqah pengajian, menyebarkan dan menyampaikan Al-Quran dan Sunnah Rasul, termasuk juga mengadakan peringatan-peringatan hari-hari penting dalam sejarah Islam (Spt. Maulid Nabi) dengan tanpa berlebihan dan melampaui batas. Semua ini penting di zaman dimana media adalah pemegang kendali dunia. Dengan memperbanyak syi’ar-syi’ar Islam kita berharap dapat menghadang laju syi’ar-syi’ar kufur mereka.

Termasuk Syi'ar Islam adalah Shalat Jama'ah

Selain itu wajib bagi kita untuk tidak meniru tindakan, ucapan, penampilan kaum kafir, yang merupakan identitas khusus mereka. Seperti memakai kalung salib (dengan berbagai modifikasi bentuknya), memakai simbol pentagram (simbol penyembahan setan), atau simbol tiga pilar Freemason (yang “kebetulan” dipakai untuk disain gedung gedung DPR), memakai pakaian para pastur atau pakaian biksu, mencukur jenggot, melepas hijab, menyanyikan pujian bagi dewa-dewa mereka (seperti yang dilakukan Ridlo Rhoma ketika memuji-muji dewa Amor, padahal dewa Amor adalah dewa-dewanya kaum pagan Yunani), menyanyikan lagu haleloya, mengikuti kegiatan ibadah mereka di gereja atau wihara (termasuk juga pada candi-candi spt. Borobudur), dan lain-lain. Rasul bersabda;

وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. (HR. Ahmad)

This slideshow requires JavaScript.

(Contoh simbol-simbol kufur dan pengembangannya)

Maka hendaklah kita hati-hati jikalau kelak kita dibangkitkan pada hari kiamat dalam golongan Yahudi, atau Nashrani, Budha, Hindu, Komunis, dikarenakan sikap dan tindakan kita yang lebih serupa dengan mereka dibandingkan dengan kaum Muslimin.

Sekian, jika ada kesalahan maka itu karena kebodohan saya. Dan jika benar maka itu semua dari Allah Jalla Wa Alaa. Waallahu A’lam. Wal-Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Tagged: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Perilaku Ahli Kitab yang Ditiru Umat Islam Part 4 (Tamat) at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: