Keseharian Seorang Mukmin part1

October 25, 2011 § Leave a comment

بسم الله الرحمن الرحيم

Tulisan ini saya tulis bukan berarti saya telah mengamalkannya, tapi justru karena saya ingin mengamalkannya dengan harapan ketika saya rangkum, jadi lebih mudah untuk diamalkan. Wallahul-Musta’aan.

Bangun tidur

Bangunlah sebelum adzan Subuh berkumandang, yakni ketika waktu sahur, pada sepertiga malam yang akhir untuk bedzikir, membaca Alquran[1], berdoa dan meminta ampunan kepada Allah[2].  Ketika engkau bangun, usaplah mukamu untuk menghilangkan kantuk[3], lalu ucapkanlah;

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji bagi Allah Yang telah membangunkan kami setelah kami ditidurkan, dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan.”[4]

Lalu ucapkanlah sepuluh ayat terakhir surat Ali Imron, kemudian cuci tangan 3 kali, istintsar, berwudlu dan besiwak. Jika engkau hendak buang hajat sebelum berwudlu, maka ucapkanlah ketika masuk kamar mandi;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan.

Dan ketika keluar maka ucapkanlah;

غُفْرَانَكَ

Aku mohon ampunan-Mu, Ya Allah.

Ucapkanlah ketika selesai wudlu;

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ اِجْعَلْنِي مِنْ اَلتَّوَّابِينَ, وَاجْعَلْنِي مِنْ اَلْمُتَطَهِّرِينَ

Saya bersaksi bahwa tiada ilaah yang berhak disembah dengan benar selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Yaa Allah jadikanlah hamba termasuk orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.“

lalu Shalat tahajjud dan ditutup dengan Shalat satu rakaat (Witir) [5].

Ketika selesai Shalat Witir, ucapkanlah;

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

“Maha Suci Raja yang paling suci” (3x)[6]

Dianjurkan pula untuk mengajak keluarga bangun bersama-sama.[7]

Keterangan;

-Bacaan Al-Quran dilakukan dalam Shalat Tahajjud, tidak mengapa membaca dengan menggunakan bantuan Mushaf.

-Jika suatu ketika tetidur dan lupa bangun malam, maka dianjurkan untuk mengqodloknya diantara fajar sampai waktu Dzuhur[8].

-Kesunnahan bersiwak tidak dibatasi oleh waktu, akan tetapi lebih ditekankan ketika berwudlu, shalat, membaca Al-Quran, bangun tidur dan ketika bau mulut.

Subuh sampai terbitnya Matahari

Ketika adzan Subuh berkumandang, maka jawablah adzan tersebut dengan lafadz yang sama kecuali lafadz;

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

Maka dijawab dengan;

لا حول ولا قوة إلا بالله[9]

dan berdoalah sesudahnya; meminta wasilah untuk nabi;

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ

“Ya Allah, Tuhan seruan yang sempurna ini dan Shalat yang berdiri, berilah kepada Nabi Muhamad s.a.w. wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah ia pada tempat yang terpuji yang Engkau telah menjanjikannya.”[10]

Berdoalah diantara Adzan dan iqamat karena pada waktu itu doa tidak ditolak.[11]

Kemudian Shalatlah dua raka’at fajar[12] dan pergilah ke Masjid untuk Shalat berjamaah[13] dengan tenang[14] sebelum iqamat guna menanti jamaah[15] sembari membaca doa;

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَعَظِّمْ لِي نُورًا

“Ya Allah! Jadikanlah dalam hatiku suatu cahaya, dalam pandanganku suatu cahaya, dalam pendengaranku suatu cahaya, dari arah kananku suatu cahaya, dari arah kiriku suatu cahaya, di atasku suatu cahaya, di bawahku suatu cahaya, di depanku suatu cahaya, di belakangku suatu cahaya dan limpahkanlah kepadaku dengan cahaya.”[16]

Ketika hendak masuk Masjid maka ucapkanlah doa;

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahamat-Mu”[17]

Lalu Shalatlah dua rakaat tahiyyatul Masjid[18], kecuali jika telah Iqomat, maka tidak ada Shalat kecuali Shalat yang diwajibkan.[19] Masuklah kedalam shaf, lurus dan rapatkanlah sebelum Takbiratul Ihram[20]. Ketika selesai Shalat Subuh, maka perbanyaklah dzikir dan doa sampai terbitnya matahari[21], kemudian ketika matahari telah setinggi 7 hasta maka Shalatlah Dluha.[22] Kemudian ketika hendak keluar Masjid, maka ucapkanlah;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

”Yaa Allah aku mohon kepada-Mu akan karunia-Mu.”

Keterangan;

-Khusus untuk adzan Shalat Subuh, ketika sampai lafadz;

الصلاة خير من النوم

Para Ulama’ mensunnahkan untuk membaca;

صَدَقْتَ وَبَرِرْتَ

Akan tetapi tidak hadist sahih yang menerangkan itu, dAshar  para Ulama’ dalam hal ini adalah Istihsan.

-Dzikir yang dibaca setelah Shalat Subuh, bisa berupa dzikir-dzikir yang sudah terkenal dibaca sesudah Shalat, ataupun dzikir-dzikir khusus yang dibaca pada waktu tersebut. Para ulama’ rahimahumullah telah menyusun dzikir yang khusus dibaca pada waktu setelah Subuh sampai terbitnya matahari, juga pada waktu selesai Ashar sampai terbenamnya matahari. Misalnya; Wirdul-Lathif, Ratib Al-Haddad yang dapat dengan mudah ditemukan, bisa juga menggunakan kitab Al-Ma’tsuraat karya Asy-Syahid Imam Hasan Al-Banna. Atau jika tidak, maka bisa dilakukan dengan membaca Al-Quran.

-Jikalau bisa, Shalat Dluha dilaksanakan ketika matahari telah terasa panas (Jam 9 keatas) dan dilakukan dalam rumah  karena itu lebih baik dikarenakan kuatnya dalil.[23] Akan tetapi melaksanakannya secara langsung seperti yang telah disebutkan lebih mudah dilaksanakan karena belum terganggu kesibukan. Atau bisa juga bagi orang yang tidak punya kesibukan, terus-menerus berdzikir sehingga matahari terasa panas lalu ia Shalat Dluha, seperti yang dilakukan ulama-ulama Salaf, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah.


[1] يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ، قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ، نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا، أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari , kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan Tartil (Jelas). (Al-Muzammil 1-4)

[2] كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ،  وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam, Dan selalu memohon ampunan diwaktu Sahur. (Ad-Dzariyat 17-18)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ أَوْ ثُلُثَاهُ يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَنْفَجِرَ الصُّبْحُ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Apabila separuh malam atau dua pertiga malam telah berlalu, Allah Azza wa Jalla turun ke langit dunia lalu berfirman : Adakah orang meminta ? Dia akan diberi ! Adakah orang yang berdo’a ? dia mesti akan dikabulkan permohonannya ! Adakah orang yang memohon ampunan ? Dia diberi ampunan sampai shubuh menjelang. (Muslim)

[3] عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِى مَيْمُونَةَ فَقُلْتُ لأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَطُرِحَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وِسَادَةٌ ، فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى طُولِهَا ، فَجَعَلَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ  ثُمَّ قَرَأَ الآيَاتِ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ آلِ عِمْرَانَ حَتَّى خَتَمَ (البخاري)

Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata: “Saya tidur di rumah bibi saya yaitu Maimunah. Kemudian aku berkata kepadanya: ‘Aku benar-benar ingin melihat Shalat Rasululläh shallallähu ‘alaihi wa sallam.” Maka disediakanlah bantal untuk Rasululläh shallallähu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidur dengan cukup lama. (Ketika ia bangun), ia mulai menghilangkan kantuk dengan mengusapkan kedua tangannya pada wajahnya, kemudian ia membaca 10 ayat terakhir Surat Ali Imran hingga akhir.” (HR. Imam Bukhari)

[4] عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ: (بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا). وَإِذَا قَامَ قَالَ: (اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ)

Dari Hudzaifah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika mendatangi kasurnya, beliau memanjatkan doa: (Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan dengan nama-Mu aku meningga) ‘, sebaliknya jika beliau bangun di pagi hari, beliau membaca: (Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kita kembali)

[5] عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِى مَيْمُونَةَ ، فَتَحَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ ، فَلَمَّا كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ قَعَدَ فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ ( إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِى الأَلْبَابِ ) ، ثُمَّ قَامَ فَتَوَضَّأَ وَاسْتَنَّ ، فَصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، ثُمَّ أَذَّنَ بِلاَلٌ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الصُّبْحَ (البخاري)

Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata: “Aku menginap di rumah bibiku Maimunah. Maka Rasululläh shallallähu ‘alaihi wa sallam berkata-kata dengan keluarganya beberapa sa’at kemudia beliau tidur. Ketika sepertiga malam terakhir, ia bangun kemudian duduk dan melihat ke langit dengan mengucapkan: inna fi khalqi al-samawati wa al-ardh (10 ayat terakhir dari surat Ali Imran). Kemudian ia berdiri dan berwudhu dengan bersiwak. Ia kemudian Shalat sebelas raka’at. Beberapa waktu kemudian Bilal adzan, maka ia halat dua raka’at, kemudian ia keluar untuk Shalat shubuh.” (HR. Imam Bukhari)

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

Dari Anas Ra,Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk ke kamar kecil berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan.” (Muttafaq ‘alaih)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنْ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ

Dari Aisyah Ra, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila sudah keluar dari kamar kecil beliau membaca: Ghufraanaka.” (HR. Tirmidzi)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ فِى الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثًا فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ ».

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Nabi Muhammad shallallähu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah ia membenamkan tangannya ke dalam bejana sehingga ia mencucinya tiga kali, karena ia tidak tahu dimanakah tangannya waktu tidur itu berada.” (HR. Imam Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ.” (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Nabi Muhammad shallallähu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila bangun salah seorang diantara kalian dari tidurnya, maka hendaklah ia beristintsar (memasukkan air ke dalam hidung kemudian dikeluarkan) sebanyak tiga kali karena syetan tidur di dalam hidungnya.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

عن عمر بن الخطاب قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من توضأ فأحسن الوضوء ثم قال أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله اللهم اجعلني من التوابين واجعلني من المتطهرين – فتحت له ثمانية أبواب الجنة يدخل من أيها شاء

Dari Umar bin Khaththab ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berwudlu dan menyempurnakan wudlunya kemudian membaca; (aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mensucikan diri), niscaya akan dibukakan baginya delapan pintu surga, ia dipersilahkan masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Tirmidzi)

[6] عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوَتْرِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Dari Ubay bin Ka’b “Rasulullah SAW melakukan Shalat wiitir dengan Surat Al-A’la, Al-Kafirun dan Al-Ikhlash. Setelah salam beliau mengucapkan “Subhanal Malikil Quddus” tiga kali.” (HR. Ahmad)

[7] عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِى وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِى وَجْهِهِ الْمَاءَ ».  (أبو داود)

Dari Abu Hurairah radhiya alläh ‘anh, ia berkata: “Rasululläh shallallähu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Allah akan merahmati seorang yang ia bangun tengah malam untuk melaksanakan Shalat malam kemudian membangunkan istrinya. Jika ia menolak, maka ia memercikkan air ke mukanya. Begitupula Allah akan merahmati seorang perempuan yang ia bangun tengah malam untuk melaksanakan Shalat malam kemudian membangunkan suaminya. Jika ia menolak, maka ia memercikkan air ke mukanya.” (HR. Abu Dawud)

[8] عَنْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شَىْءٍ مِنْهُ فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ ».

“Siapa saja yang ketiduran, sehingga tidak melaksanakan kebiasaan Shalat malamnya, kemudian dia baca (mengerjakannya) di antara Shalat Subuh dan Shalat zuhur maka dia dicatat seperti orang yang melaksanakan Shalat tahajud di malam hari.” (Hr. Muslim, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah)

[9] عَنْ جَدِّهِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ فَقَالَ أَحَدُكُمُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ. قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ. قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ».

“Jika muazin mengucapkan  (Allah Maha Besar Allah Maha Besar), maka hendaklah seseorang  mengucapkan Allahu Akbar, Allahu akbar, kemudian jika dia (muadzin) mengucapkan   Asyhadu allaa ilaaha illallah (aku bersaksi tiada tuhan melainkan Allah) maka mengucapkan Asyhadu allaa ilaaha illallah, kemudian jika dia (muazin) mengcapkan Asyhadu annaa Muhammadarrasuulullah  (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), maka dia mengucapkan Asyhadu annaa Muhammadarrasuulullah. Kemudian, jika dia (muazin) mengucapkan hayyaa ‘alashshalaah  (Mari menunaikan Shalat), hendaklah dia  mengucapkan Laa haula walaa  quwwataa illaa billaah (Tiada daya dan kekuatan melainkan dari Allah). Kemudian jika (muazin) mengucapkan hayaa ‘alal falaah (Mari meraih kemenangan), maka hendaknya dia mengucapkan Laa haula walaa  quwwataa illaa billaah . Kemudian jika (muazin) mengucapkan Allahu Akbar, Allahu akbar, (maka dia mengikuti dengan) mengucapkan Allahu Akbar, Allahu akbar . Kemudian (jika muazin) mengucapkan Laa ilaaha illallah   (Tiada tuhan melainkan Allah). (Maka dia mengikuti dengan) mengucapkan Laa ilaaha illallah. (Jika semua itu diucapkan ikhlas) dari hatinya, maka (dia akan) masuk surga.” (HR. Muslim)

[10] عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما  : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( من قال حين يسمع النداء اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة آت محمدا الوسيلة والفضيلة وابعثه مقاما محمودا الذي وعدته حلت له شفاعتي يوم القيامة

Dari Jabir ibnu Abdillah radhiallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berdoa ketika selesai mendengar adzan: ”Ya Allah, Rabb (pemilik) panggilan yang sempurna ini dan (pemilik) Shalat yang (hendak) didirikan. Berilah Al-Wasilah dan Al-Fadhilah kepada Muhammad, dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan”, maka dia berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

[11] عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة

Dari Anas bin Malik, ia berkata; Rasulullah Saw bersabda; “Doa tidak tertolak di antara adzan dan iqamat”. (HR. Tirmidzi)

[12] عَنْ عائشة قال النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dari Aisyah RA, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua rakaat fajar (Subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari-Muslim)

عن زيد بن ثابت : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال …فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ
“Wahai manusia, Shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya Shalat yang paling utama adalah Shalatnya seseorang yang dilakukannya di rumahnya, kecuali Shalat wajib.” (HR. Al-Bukhari)

[13] عن ابن عمر  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً. وَفِى رِوَايَةٍ : بِخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah lebih baik dari Shalat sendirian dua puluh derajat.” Dan dalam satu riwayat: “Dua puluh lima derajat.” (Muttafaqun ‘alaih).

[14]عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إذا اقيمت الصلاة فلا تأتوها و أنتم تسعون و أتوها و أنتم تمشون عليكم السكينة فما أدركتم فصلوا و ما فاتكم فاقضوا

Jika Shalat telah didirikan, maka janganlah mendatanginya dengan tergesa-gesa (berlari). Tetapi datangilah dengan berjalan. Berjalanlah dengan tenang. Kesempatan yang dapat kalian capai, gunakan untuk Shalat, dan kalau ada rakaat yang tertinggal (tidak bersama imam), maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari-Muslim)

[15] عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ». قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

Dari AbuHurairah, Rasulullah Saw bersabda “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus kesalahan dan meninggikan derajat”, mereka menjawab: “Mau ya Rasulullah”, “Berwudhu pada saat yang tidak menyenangkan dan memperbanyak langkah ke Masjid, dan menunggu Shalat setelah Shalat, itulah Ribath! itulah Ribath! (berjaga di medan perang)“ (HR. Muslim)

[16] عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَال فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَخَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ وَهُوَ يَقُولُ « اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِى قَلْبِى نُورًا وَفِى لِسَانِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى سَمْعِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى بَصَرِى نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِى نُورًا وَمِنْ أَمَامِى نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِى نُورًا وَمِنْ تَحْتِى نُورًا. اللَّهُمَّ أَعْطِنِى نُورً

Dari Ibnu Abbas beliau berkata; “Muadzin mengumandangkan adzan -yakni adzan Shubuh- maka Nabi berangkat untuk Shalat sambil mengucapkan, ‘Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya dari belakangku, cahaya dari depanku, cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah berilah aku cahaya’.”

Dalam riwayat lain;

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَعَظِّمْ لِي نُورًا

“Ya Allah! Jadikanlah dalam hatiku suatu cahaya, dalam pandanganku suatu cahaya, dalam pendengaranku suatu cahaya, dari arah kananku suatu cahaya, dari arah kiriku suatu cahaya, di atasku suatu cahaya, di bawahku suatu cahaya, di depanku suatu cahaya, di belakangku suatu cahaya dan limpahkanlah kepadaku dengan cahaya (HR.Bukhari-Muslim)

[17]عَنْ أَبِى حُمَيْدٍ – أَوْ عَنْ أَبِى أُسَيْدٍ – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ».

Jika salah seorang di antara kalian memasuki Masjid, maka ucapkanlah, ‘Allahummaftahlii abwaaba rahmatik’(Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu). Jika keluar dari Masjid, ucapkanlah: ‘Allahumma inni as-aluka min fadhlik’ (Ya Allah, aku memohon pada-Mu di antara karunia-Mu).” (HR. Muslim)

[18] عَنْ أَبِى قَتَادَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ ».

 “Apabila salah seorang daripada kamu masuk ke Masjid, maka hendaklah dia melakukan rukuk (Shalat) sebanyak dua rakaat sebelum dia duduk” (H.R. Bukhari-Muslim)

[19] عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة

Dari Abu Hurairah, Rasul Saw berkata; “Jika Shalat telah didirikan (Qomat) maka tidak ada Shalat kecuali yang diwajibkan”(HR. Baihaqi, Tirmidzi)

[20] عن النعمان بن بشير قال كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يسوينا في الصفوف حتى كأنما يحاذى بنا القداح فلما أراد ان يكبر رأى رجلا شاخصا صدره فقال لتسون صفوفكم أو ليخالفن الله بين وجوهكم

Rasulullah pernah merapikan shaff kita sehingga seolah-olah beliau  meratakan anak panah dengan kita, kemudian ketika beliau hendak takbir, beliau melihat seseorang  yang dadanya maju, beliau lalu berkata ; “Kalian benar-benar akan meratakan shaf kalian atau Allah akan menimpakan perselisihan diantara hati kalian (Muslim)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقِيمُوا الصُّفُوفَ فَإِنَّمَا تَصُفُّونَ بِصُفُوفِ الْمَلَائِكَةِ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا فِي أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ

Dirikanlah shaff, karena sesunguhnya kalian berbaris dengan shafnya malaikat, dan sejajjarkanlah diantara pundak-pundak, tutuplah celah-celah, dan bersikap lembutlah pada tangan-tangan saudaramu, dan jangan biarkan celah-celah bagi syaitan, dan barang siapa menyambung shaff, maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmatNya), dan barang sipa memutus shaff, Allah akan memutusnya (dari rahmatNya). (HR. Ahmad)

[21] عن أبي أمامة قال : قيل لرسول الله صلى الله عليه و سلم أي الدعاء أسمع ؟ قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات

Dari Abu Umaamah, ia berkata : Dikatakan : ‘Wahai Rasulullah, kapankah waktu yang paling baik saat doa dikabulkan ?’. Beliau bersabda : ‘Akhir waktu malam dan akhir Shalat-Shalat yang diwajibkan”. (HR. Tirmidzi)

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam. (Thaha 130)

[22] عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى »

“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan Shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim)

عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ الْجُهَنِىِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ قَعَدَ فِى مُصَلاَّهُ حِينَ يَنْصَرِفُ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتَّى يُسَبِّحَ رَكْعَتَىِ الضُّحَى لاَ يَقُولُ إِلاَّ خَيْرًا غُفِرَ لَهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ ».

Barang siapa duduk di tempat Shalatnya ketika selesai Shalat Subuh hingga  melakukan  dua rakaat Shalat Dluha dan tidak berkata kecuali yang baik ,  dosa-dosanya diampuni sekalipun lebih banyak dari pada  busa air laut.  (HR. Abu Dawud)

[23] عَنِ الْقَاسِمِ الشَّيْبَانِيِّ أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ مِنْ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ صَلَاةَ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Sesungguhnya Zaid bin Arqam  melihat  orang –orang menjalankan Shalat Dhuha  ,lalu berkata : “Apakah  mereka tidak mengerti bahwa  menjalankan Shalat di lain waktu ini  lebih baik . Sesungguhnya Rasulullah SAW   bersabda :”Shalat otrang yang  Orang yang kembali kepada Allah adalah  ketika anak onta merasa panas. (HR. Muslim, Ahmad)

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Keseharian Seorang Mukmin part1 at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: