Keseharian Seorang Mukmin Part2

November 2, 2011 § Leave a comment

Pulang-Keluar dari rumah

Masuk rumah ucapkanlah bismillah. Juga ketika hendak makan-minum, dan setiap hendak melakukan perbuatan baik.[1] Makanlah dengan tiga jari kanan, jangan ada makanan yang tersisa walau hanya sebutir nasi. Jika ada makanan jatuh, maka ambil dan bersihkan, kemudian makanlah, dan jangan membiarkannya untuk Syaithan.[2] Dan ketika selesai makan bersyukurlah kepadanya, dan ucapkan;

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ

 “Segala puji bagi Allah yang memberi makan ini kepadaku dan yang memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.”[3]

Pakailah pakaian yang menutup aurat dan mampu menjaga kehormatan seorang mukmin, serta jauhilah pakaian orang kafir dan fasik[4]. Ketika memakainya, mulailah dengan bagian kanan dan ucapkan;

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلا قُوَّةٍ

“Segala puji bagi Allah yang memakaikanku pakaian ini dan yang memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.”[5]

Ketika keluar dari rumah untuk mencari fadlal Allah berupa ilmu atau rizki[6], maka niatkan lah untuk mentaati perintahNya. Bertakwa dan bertawakkallah kepada Allah[7] dan ucapkanlah doa;

بِسْمِ اللَّهِ ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّه

“Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja”.[8]

Jika berangkat naik kendaraan, bertakbirlah tiga kali lalu ucapkanlah doa;

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُون، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنْا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْل

Maha Suci Tuhan yg menundukkan kendaraan ini untuk kami sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami . Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kebaikan dan taqwa dalam bepergian ini kami mohon perbuatan yg meridhakanMu. Ya Allah! Permudahlah perjalanan kami ini dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah! Engkaulah teman dalam bepergian dan yg mengurusi keluarga. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian pemandangan yg menyedihkan dan perubahan yg jelek dalam harta dan keluarga.

Dan ketika kembali (yakni masih dengan menggunakan kendaraan), maka ucapkanlah seperti tadi dan tambahkanlah;

آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ

“Kami kembali dgn bertaubat tetap beribadah dan selalu memuji kepada Tuhan kami.”[9]

Jika bertemu sesama muslim maka ucapkanlah Assalamualaikum,[10] tidak dengan selamat pagi, hai, maupun sekedar memanggil nama. Ketika berbincang-bincang dengan saudaramu maka gunakanlah kata-kata yang baik, bukan kata-kata yang mendurhakai Allah dan RasulNya, begitu pula jauhilah ucapan-ucapan yang tiada guna dan tegakkanlah Amar ma’ruf Nahi Munkar.[11] Dan ketika engkau berdiri (selesai) dari suatu majlis, maka ucapkanlah;

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

“Maha suci Engkau, Ya Allah. Dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.[12]

Jauhilah sikap sombong[13], ghibah, caci maki, dengki, benci, dan hal-hal yang dapat menyakiti sesama muslim.[14] Bekerjalah dengan jujur[15], adil dan tanggung jawab,[16] dan jauhilah menipu, bohong dan khianat,[17] serta bantulah saudaramu yang membutuhkan.[18]

Ketika engkau mendapatkan rizki yang engkau cari, maka bersyukurlah kepada Allah dan jangan merasa ta’ajjub (besar kepala), dan ingatlah bahwa yang engkau dapat adalah pemberian Allah.[19] Dan jika engkau merasa kagum dengan apa yang kau dapat, maka ucapkanlah;

مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“(Semua ini terwujud) Atas kehendak Allah, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”.[20]

Sedang jika engkau rugi atau tertimpa musibah maka bersabarlah dan ucapkanlah;

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَ

“Wahai Allah, berilah aku pahala pada (musibah) yang menimpaku dan berilah ganti bagiku yang lebih baik darinya”.[21]

Usahakanlah untuk bersedekah semampumu setiap hari.[22] Isilah waktu-waktu kosongmu dengan berdzikir, maupun betafakkur pada ciptaan Allah,[23] serta perbanyaklah membaca Salawat.[24] Senantiasalah menjaga wudlu, karena Nabi Saw telah bersaksi atas keimanan seseorang yang selalu menjaga wudlu. [25]

Jika ada waktu, tidurlah sebentar sebelum waktu Dzuhur (Qailulah) untuk membantu bangun malam.[26]

Keterangan;

-Ketika lupa membaca bismillah waktu awal makan, maka ucapkanlah;

ِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Dengan nama Allah, pada awal dan akhirnya”. [27]

Begitu pula pada setiap perbuatan baik yang lupa membaca bismillah.

-Disunnahkan mengutamakan bagian kanan dalam hal-hal baik semampunya.[28]

-Diantara niat baik adalah untuk menafkahi keluarga, membantu sesama muslim entah yang dibantu itu seorang majikan, yakni dengan bekerja padanya, atau seorang pekerja, yakni dengan memberinya pekerjaan. Jika engkau seorang penuntut Ilmu agama, maka niatkanlah untuk mencari bekal dakwah  menolong agama Allah. Dengan begitu, usahamu dianggap setara dengan berjihad fisabilillah dan Allah akan membantumu dan meneguhkan jalanmu.[29]

 

Dzuhur sampai Ashar

Ketika adzan Dzuhur berkumandang, maka lakukanlah seperti yang telah kami sebutkan pada Adzan Subuh,[30] Ambillah wudlu, bersiwak dan Shalatlah 4 rakaat Qabliyyah Dzuhur.[31] Kemudian pergilah ke Masjid dan lakukan seperti halnya keterangan yang telah lalu.[32] Selesai Shalat berdzikir dan berdoalah[33] kepada Allah sesuai kebutuhanmu, dan Shalatlah 2 rakaat Ba’diyyah Dzuhur[34] di rumah[35] kecuali jika urusan rumah membuatmu meninggalkannya.

Ketika Adzan Ashar berkumandang, maka lakukanlah seperti yang telah lalu, dan Shalatlah 4 Rakaat Qabliyyah Ashar.[36] Kemudian pergilah ke Masjid dan lakukan seperti halnya keterangan yang telah lalu. Setelah selesai Shalat Ashar, berdoa dan berdzikirlah sebanyak-banyaknya sampai tebenamnya matahari.[37]

Jangan sampai pekerjaanmu melalaikanmu dari Shalat berjamaah, maka jadilah kamu orang yang rugi.[38] Terlebih Shalat Ashar yang disebut Shalat wustho (Shalat terbaik)[39], Shalat Subuh dan Isya’ .[40]

Keterangan

Seperti halnya setelah subuh dianjurkan berdzikir sampai terbitnya matahari, begitu pula dianjurkan memperbanyak dzikir sampai terbenamnya matahari. Adapun dzikir-dzikir yang dibaca bisa dilihat pada keterangan yang telah lalu.


[1] عن جابر أنه سمع النبي صلى الله عليه و سلم يقول إذا دخل الرجل بيته فذكر الله عند دخوله وعند طعامه قال الشيطان لا مبيت لكم ولا عشاء ها هنا وإذا دخل فلم يذكر الله قال الشيطان أدركتم المبيت وإن لم يذكر الله عند طعامه قال الشيطان أدركتم المبيت والعشاء

“Jika seseorang menyebut nama Allah ketika hendak masuk rumahnya dan ketika hendak makan, maka setan berkata, “Kalian (bangsa setan) tidak mempunyai tempat menginap dan makan malam.” Jika seseorang tidak menyebut nama Allah ketika hendak masuk rumahnya, maka setan berkata, “Kalian sudah mendapatkan tempat menginap.” Dan jika seseorang tidak menyebut nama Allah sewaktu hendak makan, maka setan berkata, “Kalian sudah mendapatkan tempat menginap dan makan malam.” (HR. Muslim)

عن أبي هريرة كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أبتر

“Segala perkara penting yang tidak diawali dengan hamdalah, maka perkara tersebut terputus.” (HR. Abu Dawud)

[2] عَنْ أَنَسٍ: ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ إِذَا أَكَلَ طَعَامًا لَعِقَ أَصَابِعَهُ الثَّلَاثَ، قَالَ: وَقَالَ: “إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ، فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ”، قَالَ: “فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمُ الْبَرَكَةُ”

Dari Anas Ra, Ia berkata; “Sesungguhnya Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam apabila makan, beliau menjilat tiga jarinya (yang digunakan untuk makan). Beliau bersabda: “Apabila makanan kalian jatuh, ambillah dan cucilah kotorannya, lalu makanlah. Dan jangan biarkan bagian untuk syaithon. Beliau memerintahkan kami untuk membersihkan piring makanan. Beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak tahu, makanan kalian yang mana berbarokah”. (HR. Muslim)

[3] عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Sahal bin Mu’adz bin Anas dari ayahnya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang makan makanan lalu berucap, Alhamdulillah al-Ladzii Ath’amanii Haadzaa wa Razaqaniihi min Ghairi Haulin minni walaa Quwwatin, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi)

[4] عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda“Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat hingga hanya Allah semata lah yang disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya; dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku; dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perkaraku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. (HR. Ahmad)

[5] عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ لَبِسَ ثَوْبًا، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ”

Dari Sahal bin Mu’adz bin Anas dari ayahnya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang memakai pakaian lalu berucap, Alhamdulillah al-Ladzii kasaanii Haadzaa wa Razaqaniihi min Ghairi Haulin minni walaa Quwwatin, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Dawud, Hakim)

[6] فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan Shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al-Jumuah 10)

[7] وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا،  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.  Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (At-Thalaq 2-3)

 

[8]عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ ». قَالَ « يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ ».

“Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:  (Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah). ‘ Beliau bersabda, “Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan, dan mendapat penjagaan’, hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata kepadanya (setan yang akan menggodanya, pent.), “Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan, dan penjagaan.” (HR. Abu Daud)

[9] عن ابْنَ عُمَرَ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ كَبَّرَ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: ” سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُون، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى،وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنْا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ، وَإِذَا رَجَعَ، قَالَ: ” هُنَّ وَزَادَ فِيهِنَّ آيِبُونَ، تَائِبُونَ، عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ ”

Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah Saw ketika naik diatas untanya keluar bepergian, bertakbir tiga kali dan berkata “Allah Maha Besar . Maha Suci Tuhan yg menundukkan kendaraan ini untuk kami sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami . Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kebaikan dan taqwa dalam bepergian ini kami mohon perbuatan yg meridhakanMu. Ya Allah! Permudahlah perjalanan kami ini dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah! Engkaulah teman dalam bepergian dan yg mengurusi keluarga. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian pemandangan yg menyedihkan dan perubahan yg jelek dalam harta dan keluarga.”Apabila kembali doa di atas dibaca dan ditambah: “Kami kembali dgn bertaubat tetap beribadah dan selalu memuji kepada Tuhan kami.” (HR. Muslim)

 

[10] عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ : قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ , لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّة حَتَّى تُؤْمِنُوا , وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَلَا أَدُلّكُمْ عَلَى شَيْء إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ : أَفْشُوا السَّلَام بَيْنكُمْ “

“Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, kamu tidak akan masuk surga sampai kamu beriman. Dan kamu tidak beriman sampai kamu saling mencintai. Tidakkah aku tunjukkan sesuatu kepada kamu, jika kamu melakukannya niscaya kamu saling mencintai? Sebarkan salam di antara kamu.” (H.R. Muslim)

[11] لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ru (kebaikan)f, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (An-Nisa’ 114)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan berbuat durhaka kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan. (Al-Mujadalah 9)

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imron 104)

[12] عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بِأَخَرَةٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجْلِسِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ » فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلاً مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى. قَالَ « كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِى الْمَجْلِسِ ».

Dari Abu Barzah Al-Aslamy Ra, ia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan pada akhir jika dia hendak bangun dari majelis: “Maha Suci Engkau, Ya Allah dengan memujiMu, Aku bersaksi Tiada Ilah Kecuali Engkau, aku memohon ampunanMu, dan aku bertobat kepadaMu.” Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhna engkau mengatakan perkataan yang tidak engkau katakan pada waktu yang lalu.” Beliau menjawab: “Itu sebagai kifaarah (penebus kesalahan) terhadap apa yang terjadi di majelis.” (HR. Tirmidzi)

[13] وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Luqman 18)

[14] عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَا هُنَا ». وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ « بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ ».
Dari Abu Hurairah Ra; Nabi Bersabda “Jangan kalian saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim bagi lainnya, karenanya jangan dia menzhaliminya, jangan menghinanya, jangan berdusta kepadanya, dan jangan merendahkannya. Ketakwaan itu di sini -beliau menunjuk ke dadanya dan beliau mengucapkannya 3 kali-. Cukuplah seorang muslim dikatakan jelek akhlaknya jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim diharamkan mengganggu darah, harta, dan kehormatan muslim lainnya.” (HR. Muslim)

[15] أبو سعيد الخدري – رضي الله عنه – أن رسولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قال : «التَّاجِرُ الأمينُ الصَّدُوقُ : مع النَّبيِّينَ والصِّدِّيقين والشُّهداء ».

Dari Abu Said Al-Khudry  berkata; Rasulullah SAW bersabda,”Pengusaha yang dapat dipercaya dan jujur bersama dengan para Nabi, Shidiqqin, dan para Syuhada’ (pada hari kiamat).” (HR. Tirmidzi)

[16] إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. (An-Nisa’ 58)

[17] عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ. أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ « مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ ». قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى ».

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah. Maka beliaupun bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Dia menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas agar manusia dapat melihatnya?! Barangsiapa yang menipu maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ ».

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, apabila berkata dia dusta, apabila berjanji dia mengingkari, dan apabila diberi amanat dia khianat’.” (Muttafaq Alaih)

[18]وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al-Maidah 2)

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ».

Dari Abu Musa, ia berkata ; Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bersabda : “Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan”. (HR. Bukhari-Muslim)

[19] وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim 7)

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. (An-Nisa’ 79)

[20] وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (Semua ini terwujud Atas kehendak Allah, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). (Al-Kahfi 39)

عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ما أنعم الله على عبد من نعمة من أهل أو مال أو ولد فيقول ما شاء الله لا قوة إلا بالله فيرى فيه آفة دون الموت  

Dari Anas, Rasulullah bersabda “Tidaklah Allah mengaruniakan kepada seorang hamba suatu kenikmatan, berupa anggota keluarga (istri), harta atau keturunan, lalu ia berkata, ‘Maasya Allahu, laa quwwata illa billah’, bakal melihat petaka kecuali kematian.(HR. Baihaqi)

[21] عَنْ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَقُولُ: ” مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا “. قَالَتْ: فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ، قُلْتُ: أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا، فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِي رَسُولَ اللَّهِ

Dari Ummu Salamah beliau berkata ; Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda ; “Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah (yaitu : Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) : ‘Wahai Allah, berilah aku pahala pada (musibah) yang menimpaku dan berilah ganti bagiku yang lebih baik darinya’, kecuali Allah memberikan kepadanya yang lebih baik darinya”. Ummu Salamah berkata; Ketika Abu Salamah telah meninggal, saya bertanya, “Orang muslim manakan yang lebih baik daripada Abu Salamah? Dia adalah orang-orang yang pertama-tama hijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian akupun mengucapkan doa tersebut. Maka Allah pun menggantikannya bagiku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim)

[22] عَنْ عَدِىِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ اللَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلاَ يَرَى إِلاَّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ ».

“Tidak ada seorang pun di antara kalian, kecuali nanti (pada hari kiamat) akan diajak bicara oleh Allah, yang antara dia dengan Allah tidak ada seorang penerjemah pun. Lalu dia melihat ke sebelah kanannya, maka dia tidak meilihat kecuali apa yang telah dilakukannya dan dia melihat ke sebelah kirinya, maka dia tidak melihat kecuali apa yang telah dilakukannya. Kemudian dia melihat ke depan maka dia tidak melihat kecuali neraka berada di hadapannya. Maka takutlah terhadap neraka walaupun (hanya berinfaq) dengan sebelah/setengah kurma!” (HR. Bukhari-Muslim)

[23]إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ،  الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imron 190-191)

عن أنس رضي الله عنه : أن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن الشيطان واضع خطمه على قلب ابن آدم فإن ذكر الله خنس وإن نسى الله التقم قلبه

Dari Anas bin Malik ia berkata ; Rasul Saw bersabda ; “Sesungguhnya Syaithon menaruh belalainya (hidung) diatas hati anak Adam, maka ketika ia ingat (Allah) ia bersembunyi, dan ketika ia lupa setan pun menelan hatinya, itulah yang disebut “Al-Waswas Al-Khannas”. (HR. Baihaqi)

[24] ن أبى بن كعب قال قُلْتُ يا رسول الله إنى أكثر الصلاة عليك ، فكم أجعل لك من صلاتى، قال : ما شئت قلت الربع قال ما شئت ، فإن زدت فهو خير قلت فالنصف قال ما شئت فإن زدت فهو خير قلت فالثلثين قال ما شئت ، فإن زدت فهو خير قلت أجعل لك صلاتى كلها ، قال إذا تكفى همك ، ويغفر لك ذنبك

Sahabat Ubay bertanya kepada Rasulullah : “Wahai Rasulullah saya telah memperbanyak sholawat kepada engkau, berapa saya harus membacanya?” Rasulullah menjawab : “terserah kamu” sahabat Ubay menjawab : “seperempat dari waktuku”, Rasulullah menjawab : “terserah kamu jika kamu mau menambah maka itu lebih baik” sahabat Ubay menjawab : setengah dari waktuku, Rasulullah menjawab : “terserah kamu jika kamu mau menambah maka itu lebih baik” sahabat Ubay menjawab : dua pertiga dari waktuku”, Rasulullah menjawab : “terserah kamu jika kamu mau menambah maka itu lebih baik”, sahabat Ubay menjawab : “saya akan menjadikan semua waktuku untuk sholawat kepadamu”. Rasulullah menjawab : “jika demikian maka kesusahanmu akan dihilangkan dan dosamu akan diampuni”. (HR. Tirmidzi)

[25] عن ثوبان عن النبي صلى الله عليه وسلم قال استقيموا ولن تحصوا واعلموا ان من افضل قال أبو بدر من خير اعمالكم الصلوة ولن يحافظ على الوضوء الا مؤمن.

Dari Tsauban, Rasul Saw bersabda; “Istiqamahlah, dan kalian tidak akan mampu ber-istiqamah dengan sempurna. Ketahuilah, sebaik-baik amalan kalian ialah Shalat. Dan tidak akan menjaga wudhu, kecuali seorang mukmin.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad)

[26]  عن طاوس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال استعينوا برقادِ النهارِ على قيامِ الليلِ واستعينوا بأَكْلَةِ السَّحَرِ على صيامِ النهارِ

Dari Thawus (Mursal), Nabi Saw bersabda “Bantulah dengan tidur siang untuk bangun malam, dan bantulah dengan makan sahur untuk puasa di siang hari.” (HR. Baihaqi)

[27] عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ، فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Dari Aisyah Ra; Rasul Saw bersabda “Jika kalian hendak makan, maka sebutlah nama Allah ta’ala (dengan ucapan bismillah), dan jika lupa menyebut nama Allah ta’ala pada awal makan, maka ucapkanlah Bismillahi awwalahu wa akhirohu”. (HR. Abu Dawud)

[28] عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “كَانَ يُحِبُّ التَّيَامُنَ مَا اسْتَطَاعَ فِي طُهُورِهِ وَنَعْلِهِ وَتَرَجُّلِهِ”

Dari Aisyah Radliyallahu’anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencintai tayamum (mendahulukan yang sebelah kanan) semampunya dalam bersuci, memakai sandal, serta menyisir rambutnya.” (HR.Nasa’i)

[29] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman apabila kalian menolong (agama) Allah, Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kaki kalian” (Muhammad 7)

[30] Yakni; Menjawab Adzan, meminta wasilah untuk Nabi Saw dan berdoa antara Adzan dan Iqamat.

[31] عن عائشة تقول : كان رسول الله صلى الله عليه و سلم لا يدع أربعا قبل الظهر وركعتين قبل الفجر على حال

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak meninggalkan (sholat sunat) empat rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat sebelum Shubuh dalam keadaan apapun. (HR. Ahmad)

[32] Membaca doa ketika berangkat, pergi sebelum iqamat, dengan tenang, membaca doa masuk Masjid, dan Shalat Tahiyyatul Masjid.

[33] Lihat note no 21.

[34] عن أم حبيبة قالت : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من صلى في يوم وليلة ثنتي عشرة ركعة بني له بيت في الجنة أربعا قبل الظهر وركعتين بعدها وركعتين بعد المغرب وركعتين بعد العشاء وركعتين قبل صلاة الفجر

Dari Ummu Habibah Ummul Mu’minin Ra berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan sholat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga. (Yaitu) Empat rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya dan dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah Isya’, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi)

[35] عن زيد بن ثابت : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال …فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ
“Wahai manusia, Shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya Shalat yang paling utama adalah Shalatnya seseorang yang dilakukannya di rumahnya, kecuali Shalat wajib.” (HR. Al-Bukhari)

[36] عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Allah memberi rahmat orang yang sholat empat rakaat sebelum Ashar.” (HR. Ahmad)

[37]فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ رِجَالُُ لاَّتُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَبَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَآءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَاْلأَبْصَار

Di rumah-rumah yang di sana Allah telah memerintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, di sana ber-tasbih (menyucikan)-Nya pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan Shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hari dan penglihatan menjadi goncang.” (An-Nur: 36-37).

[38] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari Dzikir Allah (Shalat). Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al Munafiqun 9)

[39] عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم صلاة الوسطى صلاة العصر

Dari Ibnu Mas’ud, Rasul Saw bersabda; “Shalat Wustho adalah Shalat Ashar” (HR. Tirmidzi)

[40] عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ

Sesungguhnya salat yang paling berat pagi kaum munafik adalah salat Isyak dan Salat Fajar. (HR. Muslim)

 

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Keseharian Seorang Mukmin Part2 at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: