Tanaman Manusia (Kaedah dasar menghasilkan keturunan shaleh)

March 23, 2012 § Leave a comment

(Ini adalah repost dari postingan dulu berjudul Manusia Adalah Tanaman dengan sedikit tambahan dan takhrij hadist.)
Allah adalah sebaik-baik dzat yg membuat perumpamaan . perhatikanlah perumpamaan yg dibuat Allah berikut ini, dalam surat an-Nuh Allah berfirman:

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا

Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebenar-benarnya. (Nuh 18)

Dalam ayat ini Allah menggambarkan pertumbuhan manusia itu seperti petumbuhan sebuah tanaman seperti yg tersirat dari kata nabat yg juga berarti tanaman.[1]

Allah berfirman;
أَلَمْ تَرَى كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan (pemilik)[2] kalimat Thayyibah seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.
Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Ibrahim 24-25)

Yang dimaksud Kalimah Thayyibah adalah kalimat tauhid.

Dalam sebuah hadist, pohon yang dimaksud adalah pohon kurma;

عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إن من الشجر شجرة لا يسقط ورقها، وإنها مثل المسلم، فحدثوني ما هي). فوقع الناس في شجر البوادي، قال عبد الله: ووقع في نفسي أنها النخلة، فاستحييت، ثم قالوا: حدثنا ما هي يا رسول الله؟ قال: (هي النخلة)

Dari ibnu umar bahwasanya Rasulullah berkata sesunnguhnya dari jenis pohon terdapat pohon yg tidak gugur daunnya, dan sesungguhnya ia adalah perumpamaan seorang mukmin. maka beritahulah aku pohon apa itu? Maka orang-orang merasa itu adalah pohon yg terdapat di desa-desa. Abdullah ibn umar berkata : aku merasa dalam hatiku bahwa ia adalah pohon kurma namun aku malu mengatakannya. Kemudian orang-orang berkata beritahukan pada kami ya rasulullah pohon apakah itu?! Rasul berkata ia adalah pohon kurma. (HR. Bukhari-Muslim)

Pohon kurma adalah pohon yang setiap bagiannya bisa dimanfaatkan dan mampu berbuah sepanjang tahun. Seperti inilah seorang mukmin; senantiasa memancarkan kebaikan dalam setiap tingkah lakunya.

Sekarang ketika manusia diumpamakan sebuah pohon maka seorang wanita yg mengandung dan melahirkannya Allah serupakan dengan ladang Allah saw berfirman :

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Isteri-isterimu adalah (seperti) ladang tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah ladang tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah 223)

Tentu saja agar dapat menumbuhkan pohon dengan baik dibutuhkan ladang yg baik, lalu siapakah wanita yg merupakan ladang yg baik yg dapat melahirkan manusia-manusia pilihan?!

Jawabnya terdapat pada sabda nabi saw:

“الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة، إن نظر إليها سرَّته، وإن أمرها أطاعته، وإن غاب عنها حفظته في نفسها وماله”

Dunia adalah harta benda dan sebaik-baik hartanya adalah wanita yg soleh (baik), jika suaminya memandangya wanita itu membuatnya senang, jika suaminya memerintahnya ia mentaatinya, dan jika suaminya pergi darinya ia menjga dirinya dan hartanya. (HR. Muslim)

Allah saw berfirman mejelaskan kriteria wanita soleh

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (An-Nisa’ 34)

Jadi bisa disimpulkan bahwa wanita yg soleh adalah wanita mukmin yg taat kepada Allah dan taat kepada suaminya. Karena itulah Rasul Saw memperingatkan kaum laki-laki[3] agar berhati-hati dalam memilih wanita untuk dijadikan istri;
لا تزوجوا النساء لحسنهن  فعسى حسنهن ان يرديهن  ولا تزوجوهن لاموالهن  فعسى اموالهن ان تطغيهن  ولكن تزوجوهن على الدين  ولامة خرماء سوداء ذات دين افضل

 “Janganlah kau nikahi wanita disebabkan kecantikannya, karena kecantikannya dapat mencelakakan dirinya, jangan pula kau nikahi wanita karena kekayaannya, karena kekayaanya membuat dia berani berbuat maksiyat, nikahilah wanita karena agama nya. Sesungguhnya seorang budak wanita yang hitam dan pesek hidungnya Tapi ber dien yang baik, ini adalah lebih baik.” (HR Ibnu Majah)

Dan tentu saja diperlukan bibit tanaman yg baik pula agar tanaman dapat tumbuh dengan baik sehingga dapat dimanfaatkan. Tanaman yg baik muncul dari benih yg baik pula, akan tetapi adalah sebuah kebodohan dan kesia-siaan yg tiada berguna menanam benih yg baik pada ladang yg buruk. Begitu pula merupakan sebuah kesia-siaan sebuah ladang yg baik namun ditanami tanaman tak berguna.

Maka menghasilkan manusia yg soleh selain diperlukan ibu yg soleh diperlukan pula bapak yg sholeh. Inilah yg terkandung dalam firman Allah

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia. (An-Nur 26)

Akan tetapi bibit dan ladang yg baik tidaklah cukup untuk menumbuhkan tanaman, diperlukan air supaya tanaman dapat tumbuh. Allah saw berfirman :

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam. (Qaf 9)

Lalu apakah air itu jika dinisbatkan pada manusia!? Ketahuilah air itu adalah ilmu yakni ilmu agama! Rasullullah bersabda :

مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم، كمثل الغيث الكثير أصاب أرضا،

Perumpamaan apa yg dengannya Allah mengutusku yaitu berupa petunjuk dan ilmu itu seperti hujan yg deras yg mengenai bumi. (HR. Bukhari)

Dengan kata lain air itu adalah Alquran dan Sunnah Rasul. Allah saw berfirman :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Al-Jumuah 2)

Banyak ulama ahli tafsir yg menafsirkan Alhikmah dengan sunnah rasul.

Begitu hebatnya air ini sehingga ia bahkan mampu merubah tanah yg tandus menjadi subur. Allah saw berfirman

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَسُوقُ الْمَاءَ إِلَى الْأَرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَامُهُمْ وَأَنْفُسُهُمْ أَفَلَا يُبْصِرُونَ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makanan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan? (As-Sajdah 27)

Begitu pula alquran dan sunnah rasul mampu mengubah kaum yg tidak beradab yg tenggelam dalam kebodohan menjadi kaum yg maju dan bepengetahuan tinggi hanya dalam waktu hitungan kurang dari 100 tahun.

Ladang yg baik, benih yg baik, air, lalu apalagi?! Ya ketiganya memang belum cukup untuk membuat tanaman tumbuh, masih ada satu lagi yaitu cahaya matahari. Allah berfirman :

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًاوَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًالِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا

Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan. (An-Naba’ 13-14)

Cahaya matahari ini jika dinisbatkan kepada manusia adalah hidayah dari Allah saw. Ia berfirman :

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[1039], yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An-Nur 35)

Itulah sebabnya mengapa banyak sekali orang yg telah sampai kepadanya alquran bahkan ia mampu memahaminya, mengakui kehebatannya namun ia justru perpaling darinya. Begitu pula banyak dari kaum ahli kitab yg mengetahui bahwa muhammad adalah rasullullah namun mereka malah berpaling darinya.

Semoga Allah menjadikan al-quran sebagai cahaya petunjuk bagi kita dan menjadikan kita selalu berada dalam naungannya.


[1] Aslinya  masdar dari “Anbata” adalah “Inbatan” bukan “Nabatan”.

[2] Tambahan kata “pemilik” dari saya dan tidak dijumpai dalam terjemah depag. Ini karena jika pohon itu adalah permupamaan mukmin seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Dahhak, Sa’id ibn Jubair, Ikrimah, Qatadah dan lainnya, maka maknanya tidak pas kecuali dengan pentaqdiran kata “pemilik”.

[3] Laki-laki mendapat peringatan bukan perempuan karena merekalah yang meminang dan melaksanakan aqad. Sedang perempuan, baik atau buruknya laki-laki tergantung dari keputusan wali dikarenakan lemahnya mereka ketika menghadapi rayuan laki-laki. Tapi bukan berarti wanita tidak punya pilihan karena wanita boleh saja menolak pilihan walinya walaupun ia laki-laki soleh jika si wanita tidak suka. Sedang wali tidak boleh menolak pilihan wanita jika laki-laki tersebut sudah termasuk kategori laki-laki soleh.

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tanaman Manusia (Kaedah dasar menghasilkan keturunan shaleh) at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: