Memproklamirkan Identitas Islam

April 1, 2012 § Leave a comment

بسم الله الرحمن الرحيم

Pada zaman dimana arus media dikuasai kaum kafir, dengan segala upaya mereka berusaha mencongokkan budaya rusak mereka kepada kaum muslimin.  Akibatnya banyak yang lupa dengan identitas islamnya,  banyak yang malu memakai atribut agamanya. Adalagi yang enggan menunjukkan keislaman karena takut dibilang ketinggalan jaman. Seolah-olah menjadi muslim yang benar adalah sebuah kehinaan…

Maha benar Allah ketika berfirman;

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

120. orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al-Baqarah 120)

Rasul Saw bersabda;

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الْيَهُودُ، وَالنَّصَارَى، قَالَ: فَمَنْ “

“Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampaipun seandainya mereka masuk ke lubang dhabb,niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya”, kami bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah mereka yang dimaksudkan itu Yahudi dan Nashrani ?” beliau menjawab : “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (Bukhari)

Dari itu semakin kuat pada masa ini, keharusan untuk menunjukkan identitas Islam dan menjauh dari keserupaan dengan kekufuran. Allah berfirman;

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

18. kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al-Jatsiyah 18)

Yang demikian dilakukan untuk membendung propaganda-propaganda busuk mereka, melindungi generasi penerus kita, dan demi tetap tegaknya agama Allah di muka dunia.

Menunjukkan identitas Islam

Allah Saw telah memberikan nama dan identitas kepada para pengikut nabinya yaitu “Muslimin”, Ia berkata;

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong. (Al-Hajj 78)

Ia juga memerintahkan kita agar dengan lantang menunjukkan keislaman kita, Ia berkata;

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

64. Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Ali Imron 64)

Dan tidak mungkin menyatakan “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim” sedang prilaku kita jauh dari Islam. Karena itu ayat diatas secara tidak langsung juga memerintahkan untuk melaksanakan ajaran-ajaran Islam, terutama yang merupakan Syi’ar-syi’ar-nya agar mereka dapat menyaksikan bahwa kita adalah kaum Muslimin.

Yang dimaksud Syi’ar-Syi’ar disini adalah perkara-perkara yang merupakan kekhususan kaum muslimin yang dengannya kaum muslimin dikenali. Allah berfirman;

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

32. Demikianlah (perintah Allah). Dan Barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari Ketakwaan hati. (Al-Hajj 32)

Assa’dy berkata;

والمراد بالشعائر: أعلام الدين الظاهرة

“Yang dimaksud dengan Syi’ar-syi’ar Allah adalah tanda-tanda agamanya yang tampak.”

Jadi, ayat ini menunjukkan bahwa salah satu tanda orang yang bertakwa kapada Allah adalah mengagungkan Syi’ar-syi’ar agamaNya.

Maka termasuk kedalam Syi’ar-syi’ar Islam diantaranya adalah;

1-Rukun Islam yang lima

 عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, hajji, dan puasa Ramadhan”. (HR Bukhari)

Terutama shalat, Allah berfirman;

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ4

29. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (Al-Fath 29)

Allah menjadikan shalat sekaligus bukti orang banyak shalat, yaitu kening yang menghitam akibat sujud sebagai tanda pengikut Rasul Muhammad Saw.

Karena itu Rasul bersabda;

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah)

2- Dakwah

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

71. dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah 71)

Ayat ini menunjukkan bahwa Amar Ma’ruf Nahi Munkar termasuk tanda orang mukmin. Imam Ghazali berkata ;

“Saya memahami dari ayat ini bahwa barang siapa yang meninggalkan keduanya (Amar Ma’ruf Nahi Munkar) telah keluar dari golongan Mukminin.”

3-Jihad fi Sabilillah

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

76. orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (An-Nisa’ 76)

4-Memakmurkan masjid

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

18. hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At-Taubah 18)

Rasul Bersabda;

عن أبي سعيد الخدري؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال اِذَا رَاَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوْا لَهُ باِلإِيْمَانِ.

Apabila kamu sekalian melihat seseorang biasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman (HR. Tirmidzi dari Abu Sa’id Al Khudri).

Memakmurkan masjid adalah dengan Shalat berjamaah, I’tikaf, dan melaksanakan kegiatan kegiatan Islami disana.

5-Mengucapkan ucapan-ucapan Islami

Seperti Salam, lafadz La ilaha Illallah, Subhanallah, Masya Allah, Astaghfitullah, Bismillah atau membaca Al-Quran.

Karena itu, dalam medan jihad, ketika bertemu orang yang mengucapkan ucapan seperti ini, tidak boleh dibunuh sehinggan jelas bahwa ia kafir.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

94. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, Maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. begitu jugalah Keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, Maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (An-Nisa’ 94)

6-Mengenakan atribut keislaman

Seperti mengenakan Hijab, dari itu Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

59. Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Ahzab 59)

Begitu juga dengan mengenakan kopiah, baju koko, sarung bagi laki-laki. Menghiasi dinding rumah dengan tulisan ayat-ayat suci Al-Quran, tulisan lafadz Allah maupun Muhammad.

7-Menggunakan bahasa Arab

Bisa dalam hal memanggil teman dengan “Ya Akhi” atau ucapan sapaan lannya, dalam hal memberi nama anak atau nama apapun asal tidak bermaksud melecehkan.[1] Adanya Sholat, Adzan, membaca Al-Quran menggunakan bahasa Arab dan tidak boleh diganti dengan selainnya menunjukkan bahwa bahasa Arab merupakan Syi’ar Islam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata;

وإنما الطريق الحسن اعتياد الخطاب بالعربية حتى يتلقنها الصغار في الدور والمكاتب فيظهر شعار الإسلام وأهله ويكون ذلك أسهل على أهل الإسلام في فقه معاني الكتاب والسنة وكلام السلف

Jalan terbaik adalah membiasakan berbicara dalam bahasa Arab di rumah-rumah maupun kantor sehingga anak-anak kecil dapat menerima, sehingga tampaklah Syi’ar Islam dan ahlinya. Yang demikian lebih mudah bagi pemeluk Islam untuk memahami makna Al-Quran, Sunnah, dan perkataan Ulama’ Salaf.

Hal-hal yang diagungkan oleh Syara’

Selain berupa perbuatan, syi’ar-syi’ar Islam juga berupa benda-benda, seperti Ka’bah, masjid, terutama Masjidil-Haram, masjid Nabawi, dan masjd Al-Aqsha, Al-Quran dan Hadits. Dalam kitab Hasyiyataan disebutkan;

ومثل المصحف الحديث وكل علم شرعي، أو ما عليه اسم معظم

 “Serupa dengan Mushaf adalah Hadits dan setiap ilmu Syara’, atau yang didalamnya terdapat nama yang diagungkan.”

Atau berupa manusia, seperti para nabi, ulama’, Qurra’, dan orang-orang saleh.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata mengomentari hadist “Ulama’ adalah pewaris para nabi”;

“Hadits ini juga mengandung petunjuk dan perintah kepada umat agar menaati, menghormati, mendukung, menghargai dan memuliakan mereka.Hadits ini juga mengandung peringatan bahwa menyintai mereka termasuk agama dan membenci mereka bertentangan dengan agama sebagaimana hal itu berlaku untuk apa yang mereka warisi. Begitu pula membenci dan memusuhi mereka berarti membenci dan memusuhi Allah sebagaimana hal itu berlaku pada apa yang mereka warisi.”

Atau berupa nama-nama yang wujud dzatnya tidak dilihat di dunia tetapi Allah menyebutkan dan mengagungkannya, seperti nama-nama Allah, para malaikat, nama surga, nama neraka, nama kiamat, dan lain sebagainya. Maka tidak boleh menghina dan meremehkan apa-apa yang termasuk kedalam perkara-pekara yang telah disebutkan.

Dalam fatawa Syabakah Islamiyyah (islamweb) disebutkan;

فإن وجوب احترام ما فيه أسماء الله تعالى وأسماء الرسل محل إجماع، لقول الله تعالى:ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ {الحج: 30}. وقوله: ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ {الحج:32}. ويلحق بذلك كل شيء عظمه الشرع.

“Sesungguhnya kewajiban menghormati perkara yang didalamnya terdapat nama-nama Allah dan namm-nama Rasulnya merupakan sebuah Ijma’, dikarenakan firman Allah;

Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. (Al-Hajj 30)

Dan juga firman Allah;

Demikianlah (perintah Allah). Dan Barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari Ketakwaan hati. (Al-Hajj 32)

Dan disamakan dengan hal itu, setiap perkara yang diagungkan oleh Syara’.”

Kewajiban menghormati ini sama saja apakah nama-nama itu ditulis dalam bahasa Arab atau tidak.

Tambahan penting dari Ibnu Hajar Rahimahullah;

المقصود بأسماء الأنبياء ما يفهم منه أنه لنبي، بحيث يقرن به من العبارات ما يفهم أنه لنبي، كمحمد رسول الله صلى الله عليه وسلم أو عيسى عليه الصلاة والسلام أو موسى كليم الله ونحو ذلك، أما مجرد اسم محمد وعيسى أو موسى فلا يأخذ هذا الحكم.

“Yang dimaksud dengan nama nabi adalah nama yang difaham bahwa itu untuk nabi, yaitu dengan sekiranya dibarengi dengan kata-kata yang menunjukkan bahwa ia untuk nabi, seperti Muhammad Rasulullah Saw, atau Isa Alaihis-Shalatu wassalam, atau Musa Kalimullah dan sebagainya, adapun nama Muhammad saja, atau Isa atau musa, maka tidak termasuk kedalam hukum ini.”

Contoh kasus sekarang yang disampaikan Ibnu Hajar adalah penggunaan nama Israel untuk sebuah negara, padahal nama Israel adalah nama lain dari nabi Ya’qub. Jadi tidak mengapa meneriakkan caci maki untuk Israel karena yang dituju bukan nabi Ya’qub tapi negara zionis israel.

Contoh tindakan yang meremehkan Syi’ar-Syi’ar Islam

Walaupun Allah telah memerintahkan untuk mengagungkan Syi’ar-syi’arNya, akan tetapi banyak sekali dari kita yang bukannya mengagungkanmalah membuatnya ledekan atau mainan. Misalnya ketika melihat wanita cantik berpakaian minim malah mengatakan “SubhanaAllah”, atau ucapan astagfirullah yang diucapkan sekadar guyonan dengan teman. Kata-kata semacam ini. selain ada unsur merendahkan syi’ar Islam juga ada unsur merendahkan nama Allah.

Begitu juga dengan pengucapan salam yang adakalanya diucapkan dengan dibuat-buat yang sayangnya justru banyak juga dilakukan orang-orang bergelar “Kyai”, atau disampaikan pada acara-acara yang merupakan syi’ar kefasikan, seperti konser musik. Hal ini tentu berlawanan dengan perintah Allah untuk mengagungkan Syi’ar-Syi’ar  agamaNya.

Begitu juga menertawakan adzan atau membuatnya mainan, bahkan ini termasuk perilaku ahli kitab zaman dulu;

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

58. dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. (Al-Maidah 58)

Karena itu jangan sampai menertawakan adzan walaupun suara muadzzin-nya terdengar jelek atau fals.

Begitu juga dengan membaca atau mendengarkan ayat suci Al-Quran dengan bercanda dan ramai. Hendaklah membaca dengan penuh ta’dzim dan tidak diselingi dengan canda tawa, sedang dalam mendengar hendaklah mendengarkan dengan tenang, tidak usah disoraki maupun diberi tepuk tangan.

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

204. dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenanglah agar kamu mendapat rahmat. (Al-A’raf 204)

Begitu sikap para da’i dan kyai Indonesia yang banyak menggunakan lawakan untuk menyampaikan ajaran Islam dengan alasan maslahah Da’wah, yakni untuk menarik perhatian. Para da’i adalah pembawa ajaran Islam seharusnya mereka menyampaikan dakwah dengan penuh hormat dan kewibawaan, bukannya malah dengan lawakan. Jikapun ada sedikit guyonan, maka sampaikanlah dengan tetap menjujung kehormatan.

Adapun alasan untuk menarik perhatian, maka tidak dapat dibenarkan karena tidak dapat dibenarkan mencapai tujuan benar dengan jalan salah. Apakah layak menyampaikan ayat Quran maupun ucapan Rasul Saw dengan diselingi gelak tawa? Adalagi yang kelewatan ketika meriwayatkan ucapan Rasul Saw, ia meriwayatkan dengan bahasa gaul dengan nada yang dibuat-buat seolah ia tak punya rasa hormat. Padahal, satu sisi tugas para da’i adalah memberi peringatan dan bukannya malah memberi bahan tertawaan.

Bagaimana masyarakat bisa takut neraka jika da’inya malah mengajak tertawa-tawa?? Jelas bagi saya bahwa dakwah model seperti ini cuma bisa menarik perhatian (tawa) tapi tidak bisa menarik hati menjadi takut kepada Allah.

Begitu juga dengan meletakkan kaligrafi ayat-ayat suci atau nama Allah atau nama Nabi pada tempat-tempat kotor, baik kotor karena najis atau kotor karena maksiat. Seperti menaruhnya di wc atau di bar. Semisal tulisan adalah gambar, maka tidak boleh menaruh gambar ka’bah atau gambar-gambar perkara yang diagungkan syara’ dalam tempat-tempat kotor seperti tadi.

Begitu juga dengan menghina bahasa Arab, menganggapnya bahasa kolot dan simbol kemunduran. Menghina bahasa arab berarti sama saja menghina Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw karena keduanya berbahasa Arab.

Begitu juga dengan mengolok-ngolok orang-orang yang menegakkan Amar ma’ruf nahi munkar, seperti yang dilakukan orang orang munafik;

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

206. dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya terhadap dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (Al-Baqarah 206)

Atau dengan mengolok-ngolok orang-orang yang berjihad di jalanNya dengan menganggapnya teroris, pemberontak, pembuat onar, dll.

Begitu juga dengan meremehkan hijab, seperti yang dilakukan oleh pengusung emansipasi dan orang-orang liberal. Mereka menganggap hijab sebagai simbol kemerosotan, simbol pengekangan dan keterbelakangan.

Setiap perbuatan yang merupakan penghinaan terhadap syari’at Islam dapat membuat pelakukunya menjadi murtad. Allah berfirman;

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

65. dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”

لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

66. tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman. (At-Taubah 65-66)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hâtim di dalam “Tafsirnya“, dan Ibnu Jarîr: dari Abdillah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, berkata:

قَالَ: قَالَ رَجُلٌ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ فِي مَجْلِسٍ يَوْمًا: مَا رَأَيْتُ مِثْلَ قُرَّائِنَا هَؤُلاءِ لا أَرْغَبَ بُطُونًا، وَلا أَكْذَبَ أَلْسِنَةً، وَلا أَجْبَنَ عِنْدَ اللِّقَاءِ، فَقَالَ رَجُلٌ فِي الْمَجْلِسِ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ مُنَافِقٌ، لأُخْبِرَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَزَلَ الْقُرْآنُ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَأَنَا رَأَيْتُهُ مُتَعَلِّقًا بِحَقَبِ نَاقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَنْكُبُهُ الْحَاجِرَةُ وَهُوَ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ،  وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «أَبِاللَّهِ، وَآيَاتِهِ، وَرَسُولِهِ، كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ».

Suatu hari seorang laki-laki berkata ketika perang Uhud dalam majlis: Aku tidak melihat seperti mereka para qurrôinâ (pembaca Al Qur’an) yang paling tamak dalam mengisi perutnya, dan yang paling pendusta lisannya, serta yang paling penakut ketika berperang, maka seseorang yang berada di majlis berkata: kamu telah berdusta akan tetapi kamu adalah munâfiq, sungguh akan kukabarkan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berita itu sampai kepada Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dan turun Al Qur’an, Abdullah bin Umar berkata: Maka aku melihatnya bergantung diboncengan unta Rosulullôh shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang dia terseret dibebatuan (batu mengenai dan melukainya), dan ia mengatakan: Wahai Rasulullah sesungguhnya kami sekedar bercanda dan bermain-main saja, lalu Rosulullôh shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan: “Apakah dengan Alloh, ayat-ayatNya, dan RosulNya kalian berolok-olok“.

Jika menghina para Qurro’ saja Allah katakan telah kafir, lalu bagaimana dengan orang-orang yang menghina hijab, menghina jihad, menghina dan menghalangi Amar ma’ruf nahi munkar, menghina shalat, zakat puasa dan haji, menghina Syari’at Islam dan Syi’ar-syi’arnya?

قال القاضي أبو بكر بن العربي : ” لايخلو أن يكون ما قالوه من ذلك جداً أوهزلاً ، وهو كيفما كان كفر؛ فإن الهزلَ بالكفر كفرٌ لا خلاف فيه بين الأمة”

Qadli Abu Bakar ibn Al-Araby; “Apa yang mereka (Munafikin) ucapkan bisa saja sungguh-sungguh atau bercanda, namun apapun adanya tetaplah kufur, dikarenakan bercanda dengan perkara yang menyebabkan kufur adalah kufur, tidak ada khilaf antara umat dalam hal ini.”

Perbuatan menghina agama dihukumi kufur jika memang perbuatan tersebut tidak dapat dita’wil. Artinya, perbuatan tersebut nyata-nyata menghina agama, misalnya; mengatakan Nabi Muhammad itu bodoh karena tidak bisa baca tulis. Adapun jika masih bisa dita’wil, maka tidak bisa dihukumi kufur kecuali ada pengakuan bahwa pelakunya memang bermaksud menghina.

Walhasil, hendakklah kita hati-hati dalam berucap maupun bertindak. Jangan sampai ucapan dan tindakan kita secara sadar atau tidak sadar  merupakan penghinaan terhadapNya, terhadap agamaNya dan terhadap RasulNya sehingga dapat menjerumuskan kita kedalam abadinya api neraka.

 

Menjauhi Tasyabbuh dengan orang kafir

Sesungguhnya termasuk alamat orang yang telah mendapatkan manisnya Iman adalah benci kekufuran, Rasul bersabda;

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ “

Dari Anas bin Malik ra berkata: Nabi Muhammad saw bersabda: “Seseorang tidak akan pernah mendapatkan manisnya iman sehingga ia mencintai seseorang, tidak mencintainya kecuali karena Allah; sehingga ia dilemparkan ke dalam api lebih ia sukai daripada kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya; dan sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya.” (Imam Al Bukhari)

Seseorang yang benci kepada suatu perkara, secara almiah akan benci untuk dekat dengannya. Apalagi jika kebencian itu demikian besar sehingga dilempar kedalam api lebih ia pilih dari pada kembali padanya. Tasyabbuh  dengan Kafir adalah perkara yang mendekatkan kepada kekufuran. Jadi bisa dikatakan bahwa tanda orang yang benci kepada kekufuran adalah benci serupa dengan para ahlinya.

Apalagi Rasul Saw telah bersabda;

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “

“Barangsiapa yang meniru satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata;

“Hadits ini menunjukkan larangan yang keras, peringatan, dan ancaman atas perbuatan menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan, perbuatan, pakaian, hari-hari raya, dan peribadahan mereka, serta perkara mereka yang lain yang tidak disyariatkan bagi kita dan syariat kita tidak mentaqrir (menyetujui)nya untuk kita.”

Rasul Saw juga bersabda;

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Bukan termasuk golongan kami, orang yang menyerupai (tasyabbuh) dengan selain kami.” (HR Tirmidzi)

Pengertian Tasyabbuh dengan Kafir

Tasyabbuh dengan Kafir ada yang pasti dilarang dan tidak. Yang pasti dilarang adalah Tasyabbuh dengan orang kafir dengan perkara-perkara yang merupakan syi’ar-syi’ar agama mereka. Sedang yang belum pasti dilarang adalah tasyabbuh pada selain hal itu berupa perkara-perkara duniawi. Maka hukum Tasyabbuh ini, bisa saja cuma mubah, makruh, mustahab, haram atau wajib, tergantung perkara yang menuntutnya. Lihat saja senjata-senjata yang dipakai Mujahidin bukankah itu semua buatan orang kafir?? Kalau tasyabbuh jenis ini dilarang, bagaimana mungkin kaum muslimin bisa menang melawan mereka? Begitu juga komputer dan segenap isinya yang dipakai jutaan kaum muslimin dunia.

Syeikh Dr Sulaiman bin Salimillah ar Ruhaili setelah menyampaikan materi kajian mendapatkan pertanyaan sebagai berikut,

ما هو الضابط في التشبه بالكفار ؟

“Apa tolok ukur supaya suatu perbuatan dinilai menyerupai orang kafir?”

فأجاب: الضابط للتشبه بالكفار- أن يفعل الإنسان فعلًا لا يفعله إلا الكفار لا بمقتضى الإنسانية- انتبهوا لهذه الضوابط -لا يفعله إلا الكفار- فيُخرج ما يفعله الكفار وغيرهم ،

Jawaban beliau, “Tolok ukur atau pengertian menyerupai orang kafir adalah melakukan suatu perbuatan yang hanya dilakukan oleh orang kafir bukan karena tuntutan kebutuhan manusia.”

Akan tetapi sebagian JUHALA’ menyamakan hukum tasyabbuh dalam hal agama dan tasyabbuh dalam hal dunia. Mereka mengatakan “Tidak dilarang melakukan perayaan tahun baru[2] karena Tasyabbuh dengan kafir, tidak usah berpikir picik lagi munafik, bukankah listrik, dan segala macam teknologi ini juga dari orang kafir?”. Ucapakan demikian tidak muncul kecuali dari kebodohan mereka dalam agama dan lemahnya iman mereka.

Adalagi yang bersikap terlalu ekstrim dalam hal larangan bertasyabbuh dengan kafir. Jadilah mereka mengharamkan apa saja yang datang dari mereka. Akibatnya hidup mereka diliputi kesulitan karena pada zaman sekarang hampir segala sesuatu yang kita nikmati datangnya dari orang kafir. Padahal Tasyabbuh dengan kafir dalam masalah duniawi hanya menjadi haram jika terdapat unsur yang bertentangan dengan Islam, seperti adanya niat untuk menyerupai orang kafir. Contoh lain adalah Demokrasi, ia terlarang karena sifatnya yang mampu merusak pundi-pundi agama.[3]

Contoh-contoh Tasyabbuh dengan Kafir dalam masalah agama

Tasyabbuh dengan kafir dalam agama mereka bisa menyangkut Tasaybbuh dalam hal ibadah, atau adat. Dalam hal ibadah mencakup;

1-Tasyabbuh dalam amal ibadah

Seperti; shalat pada waktu yang terlarang

Rasul Saw bersabda;

صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِيْنَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِيْنَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ؛ ثُمَّ صَلِّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُوْرَةٌ، حَتَّى يَسْتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ، فَإِنَّ حِيْنَئِذٍ تُسْجَرُ جَهَنَّمُ. فَإِذَا أَقْبَلَ الْفَيْءُ فَصَلِّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُوْدَةٌ مَحْضُورَةٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِيْنَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ

“Kerjakanlah shalat subuh kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat ketika matahari terbit sampai tinggi karena matahari terbit di antara dua tanduk setan dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari. Kemudian shalatlah karena shalat itu disaksikan dihadiri (oleh para malaikat) hingga tombak tidak memiliki bayangan, kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat karena ketika itu neraka Jahannam dinyalakan/dibakar dengan nyala yang sangat. Apabila telah datang bayangan (yang jatuh ke arah timur/saat matahari zawal) shalatlah karena shalat itu disaksikan dihadiri (oleh para malaikat) hingga engkau mengerjakan shalat ashar (terus boleh mengerjakan shalat sampai selesai shalat ashar, pent.), kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat hingga matahari tenggelam karena matahari tenggelam di antara dua tanduk syaitan dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari.” (HR. Muslim no. 1927)

Karena itu diharamkan shalat dengan sengaja untuk terus melakukannya pada waktu-waktu tersebut, yakni mengistmewakannya dari waktu yang lain.

Telah maklum bahwa orang kafir mempunyai waktu-waktu tertentu yang mereka agungkan dimana pada waktu itu mereka khususkan untuk ibadah. Maka haram bagi kaum muslimin ikut-ikutan meniru mereka, mengkhusukan waktu-waktu tersebut dengan ibadah, kecuali apa yang ditetapkan syara’ seperti puasa hari Asyura.

Termasuk dalam tasyabbuh ini adalah gerakan memegang kening dan dua pundak yang melambangkan salib bagi orang Nashrani. Memegang dupa dan mengangguk-anggukkannya seperti yang dilakukan orang budha maupun konghucu. Memberi hormat dengan bersujud atau menunduk sesuai yang mereka lakukan kepada berhala mereka.  Begitu juga dengan Yoga, yang sejatinya merupakan pratek penyembahan dewa matahari.

Dr. Ali Jum’ah

Mesir dengan muftinya Syaikh Dr Ali Jumuah, begitu juga Malaysia dan MUI telah mengeluarkan fatwa haram terhadap yoga. Syaikh Dr Abdullah Al-Faqih dalam fatwanya yang berjudul “Yoga itu penyembahan berhalaisme kepada matahari” tertanggal 17 Muharram 1422H/ 11 April 2001, berkata;

إن اليوجا ليست رياضة، وإنما هي نوع من العبادة الوثنية التي لا يجوز للمسلم أن يقدم عليها بحال

“Sesungguhnya yoga bukanlah olahraga, tetapi dia hanyalah jenis dari peribadahan berhalaisme (paganisme) yang tidak boleh bagi orang Muslim untuk mendatanginya sama sekali.

Dia menegaskan, yoga itu bukan murni olahraga badani, tetapi itu hanyalah penyembahan yang ditujukan oleh pelakunya kepada matahari selain Allah. Yoga itu tersebar luas di India sejak zaman dulu.

Nama aslinya berbahasa sanskerta, sastanaga surya nama sekar, artinya sujud kepada matahari dengan delapan anggota badan.
Olahraga ini bertumpu pada 10 anggota badan tertentu, di antaranya lima anggota badan yang terhampar di tanah dengan melebar dengan menyentuh tanah yaitu: dua tangan, hidung, dada, dua dengkul, dan jari-jari dua telapak kaki . Dengan ini maka terwujudlah sujud terhadap matahari dengan delapan anggota badan.

Latihan-latihan yoga itu dimulai dengan kondisi pertama yang menggambarkan penghormatan kepada yang disembah yaitu matahari. Latihan-latihan ini mesti disertai kata-kata yang menjelaskan penyembahan matahari dan mengarah kepadanya. Kata-kata itulah yang disebut mantra. Itu diulang-ulang dengan suara keras dan dengan cara tata letak yang teratur. Potongan-potongan mantra itu mengandung sebutan nama-nama matahari dua belas.”

Oleh karena itu Mufti ini setelah menjelaskan bunyi mantra-mantra dan maksudnya, kemudian mengatakan:

“Sesungguhnya yoga bukanlah olahraga, tetapi ia hanyalah jenis dari peribadahan berhalaisme (paganisme) yang tidak boleh bagi orang Muslim untuk mendatanginya sama sekali.”

Begitu juga dengan ikut melakukan upacara perayaan Natal, mengahadiri perayaan waisak, seperti, jika waisak dilakukan di borobudur ramai kaum Muslimin ikut datang untuk melihat. Dan perayaan-perayaan agama mereka yang lain.

Allah berfirman;

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

72. dan orang-orang yang tidak menghadiri perbuatan dosa, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Al-Furqan 72)

 قال الحافظ ابن كثيرٍ رحمه الله في تفسير هذه الآية: قال أبو العالية و طاوس ومحمد بن سيرين والضحاك والربيع بن أنس وغيرهم: هي أعيادُ المشركين

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata mengenai tafsir ayat ini; “Berkata Abul-Aliyah, Thawus. Muhammad bin Sirin, Dhahhak, dan Rabi’ bin Anas ; Ia (Zuur) adalah hari raya kaum musyrikin.”

Sahabat ’Umar Ra berkata :
اجتنبوا أعداء الله في عيدهم
”Jauhilah hari-hari perayaan musuh-musuh Allôh.” (Sunan al-Baihaqî).

Begitu juga putranya, yaitu Sahabat ’Abdullâh bin ’Umar Ra:
من بنى ببلاد الأعاجم وصنع نيروزهم ومهرجانهم ، وتشبه بهم حتى يموت وهو كذلك حُشِر معهم يوم القيامة
”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kâfir, meramaikan peringatan hari raya nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” (Sunan al-Baihaqî)

Imron Jamil

Akan tetapi sejumlah orang yang menyandang gelar Kyai seperti imron jamil,  justru memperbolehkan merayakan Natal secara Islami, dengan alasan Yesus adalah Nabi Allah. Maka, seperti halnya diperbolehkan merayakan kelahiran Nabi Muhammad begitu pula diperbolehkan merayakan kelahiran Nabi Isa.

Jelas ini adalah ucapan yang bathil, yang pertama; Hari raya kaum kafir adalah termasuk Syi’ar kekefuran mereka yang terbesar. Jadi bagaimana mungkin bagi kaum muslimin diperbolehkan untuk ikut meramaikannya?

Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah dalam Al-Amru Bil Ittiba berkata:

Termasuk bidah dan kemungkaran adalah sikap menyerupai (tasyabbuh) dengan orang-orang kafir dan mencocoki mereka dalam hari-hari raya dan perayaan-perayaan mereka yang dilaknat (oleh Allah). Sebagaimana dilakukan banyak kaum muslimin yang tidak berilmu tentang ilmu agama.

Kemudian beliau menyebutkan banyak sekali contoh-contoh kemunkaran-kemunkaran kaum Muslimin yang dilakukan pada hari raya orang kafir. Beliau lalu berkata;

Di antaranya adalah hari natal yang telah lewat penyebutannya, yang mereka sebut sebagai hari raya yang agung padahal ia hari raya yang hina, itulah hari raya kaum kristen nashrani terbesar. Maka seluruh yang diadakan kaum muslimin di dalam hari itu[4] adalah termasuk kemungkaran.

Beliau juga berkata;

Demikian juga dengan meliburkan pekerjaan pokok seperti pabrik-pabrik atau usaha perdagangan, menutup toko, dan menjadikannya sebagai hari istirahat dan hiburan dengan sengaja membedakan dari hari-hari sebelumnya dan sesudahnya. Semua itu termasuk kemungkaran dan bid’ah. Itu merupakan syiar kaum Kristen nashrani pada hari itu. Wajib atas seorang mukmin yang beriman dengan Allah dan Rasul-Nya untuk tidak melakukan perbuatan tersebut pada hari ini sama sekali, tetapi hendaknya memperlakukannya sebagaimana hari-hari biasa.

Yang kedua; bagaimana mungkin yang demikian bisa diperbolehkan? Bukankah Shalat menyembah Allah dalam waktu dimana orang kafir beribadah kepada tuhan mereka itu dilarang? apalagi dengan yang hari raya mereka yang merupakan Syi’ar agung kekufuran mereka.

Termasuk hari raya mereka adalah perayaan tahun baru masehi , imlek dan hari raya valentine. Maka setiap apa yang kaum muslimin lakukan pada hari itu, seperti meniup terompet, menyalakan kembang api, memakai pakaian merah-merah, memberikan bunga atau coklat, termasuk juga meliburkan aktivitas -seperti yang diterangkan oleh Imam Suyuti-yang bertujuan untuk memperingati atau mengagungkannya adalah haram.

Semisal dengan libur natal dan tahun baru adalah libur hari ahad atau hari sabtu dikarenakan keduanya adalah hari raya nasrani dan yahudi.  Syaikh Abdurrahman al Barrak berkata;

ولكن لما اشتد داء التشبه في الأمة الإسلامية تنوعت طرقهم في التقرب إلى مناهج الأمم الكافرة فمنهم من جعل عطلة الأسبوع السبت والأحد موافقة للدول اليهودية والنصرانية ، وهذا أقبح أنواع التشبه في هذه المسألة ،

Akan tetapi tatkala semangat tasyabbuh dengan orang kafir semakin membara di tengah tengah kaum muslimin maka ada banyak cara yang dilakukan oleh orang Islam untuk mendekati jalan hidup orang-orang kafir. Ada yang menjadikan hari Sabtu dan Ahad sebagai hari libur sehingga semisal dengan negara yahudi dan berbagai negara nasrani. Inilah bentuk tasyabbuh dengan orang kafir dalam masalah hari libur yang paling jelek.

Dalam Ahkamul-Fuqoha’ disebutkan mengenai Tasyabbuh dan contoh-contohnya;

وَهُوَ التَّلَبُّسُ بِمَا يَخْتَصُّ بِقَوْمٍ سَوَاءٌ كَانَ حَسَنًا أَوْ قَبِيْحًا كَالتَّحَلِّى بِوَسَامِ الصَّلِيْبِ وَكَلَبْسِ لِبَاسٍ يُشْعِرُ النَّاسَ بِأَنَّهُ غَيْرُ لِبَاسِ الْمُسْلِمِيْنَ وَكَإِغْلاَقِ الدُّكَّانِ يَوْمَ اْلأَحَدِ وَأَمْثَالِ ذَلِكَ مِمَّا يَطُوْلُ ذِكْرُهُ.

(Tasyabbuh yaitu) melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas sebuah kaum, entah itu baik atau buruk, seperti menggunakan hiasan salib, atau memakai  pakaian yang menjadi simbol non muslim, atau menutup toko pada hari ahad, dan seterusnya. 

Termasuk tasyabbuh dalam ibadah adalah melakukan upacara persembahan, berupa binatang, makanan, buah-buahan, kembang-kembang, seperti upacara larung saji di laut, atau pada tempat-tempat keramat. Yang demikian dilarang karena walaupun tidak adanya unsur penyembahan kepada selain Allah[5], didalamnya masih ada unsur Tasyabbuh dengan agama kafir; hindu dan animisme.

Begitu juga dengan menolak untuk menikah karena menganggapnya sebagai ibadah seperti yang dilakukan kaum nashrani dan budha. Begitu juga dengan mengharamkan binatang yang dihalalkan Allah dengan cara yang sama seperti yang dilakukan kaum Musyrik Quraisy. Begitu juga mengharamkan onta; serupa dengan yahudi, seperti yang dilakukan orang syi’ah.

2-Tasyabbuh dalam ucapan-ucapan mereka yang merupakan bentuk ibadah

Seperti; ikut menyakikan lagu-lagu untuk dewa-dewa hindu. Seperti yang terjadi ketika film Kuch-kuch Hota Hai populer, sebagian kaum muslimin ikut-ikutan menyanyi sebuah lagu yang memang terdengar enak tapi merupakan lagu nyanyian untuk dewa mereka.

Begitu pula lagu pujian yang dinyanyikan di gereja-gereja, atau ditempat-tempat peribadatan mereka. Begitu pula dengan ucapan “selamat natal”, dsb. Mengucapkan selamat natal berarti ikut mengagungkan hari raya mereka[6]. Selain itu, ia adalah bagian dari syiar-syiar agama kufur mereka, padahal Allah tidak meridhoi adanya kekufuran terhadap hamba-hamba-Nya.

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

7. jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mudan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya. (Az-Zumar 7)

Begitu pula mantra-mantra dan jampi-jampi yang berisi permohonan untuk tuhan-tuhan, dewa-dewa, arwah-arwah suci,  menurut kepercayaan mereka.

Begitu juga bersumpah dengan nama-nama tuhan mereka. Dan tidaklah orang bersumpah kecuali dengan perkara-perkara agung, sehingga ketika bersumpah dengan tuhan-tuhan orang kafir, selain mengandung unsur Tasyabbuh juga mengandung unsur pengagungan terhadap tuhan-tuhan mereka.

Tasyabbuh agama dalam hal adat

Tasyabbuh dalam hal adalah kebanyakan berupa tasyabbuh dalam hal pemakaian atribut-atribut dan simbol-simbol, bisa juga dalam tatacara, ungkapan, istilah-istilah yang khusus mereka gunakan ketika berbicara, bertingkah laku seperti; makan, berpakaian, dll. Intinya, setiap perkara yang berasal dari adat, tapi dibumbui dengan simbol-simbol agama. Untuk memudahkannya saya bagi menjadi dua, yaitu;

1-Tasyabbuh dalam hal perbuatan

Misalnya dengan mengenakan kalung salib atau baju-baju seragam para pastur dan pendeta. Begitu juga dengan memajang lambang-lambang maupun gambar-gambar kufur, seperti salib, pentagram[7], bintang david, lambang mata satu (dajjal)[8], gambar yesus, budha, dewa-dewa hindu, dsb. Bisa juga dengan mengekspresikan lambang tersebut kedalam gerakan tangan atau tubuh. Seperti gerakan tangan metal yang sejatinya merupakan simbol satanisme, atau gerakan menutup mata kanan -seperti yang dilakukan lady gaga- yang mengisyaratkan pada dewa matahari mesir atau dajjal, atau bisa juga gerakan tarian atau olahraga namun disusupi gerakan yang menunjukkan simbol-simbol kufur.

Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah disebutkan;

ذهب الحنفيّة على الصّحيح عندهم، والمِالكيّة على المذهب، وجمهور الشّافعيّة إلى : أنّ التّشبّه بالكفّار في اللّباس – الّذي هو شعار لهم به يتميّزون عن المسلمين – يحكم بكفر فاعله ظاهرا، أي في أحكام الدّنيا، فمن وضع قلنسوة المجوس على رأسه يكفر، إلا إذا فعله لضرورة الإكراه أو لدفع الحرّ أو البرد. وكذا إذا لبس زنّار النّصارى إلّا إذا فعل ذلك خديعة في الحرب وطليعة للمسلمين أو نحو ذلك لحديث : « من تَشَبَّه بقوم فهو منهم » لأنّ اللّباس الخاصّ بالكفّار علامة الكفر، ولا يلبسه إلّا من التزم الكفر، والاستدلال بالعلامة والحكم بما دلّت عليه مقرّر في العقل والشّرع. فلو علم أنّه شدّ الزّنّار لا لاعتقاد حقيقة الكفر بل لدخول دار الحرب لتخليص الأسارى مثلا لم يحكم بكفره.

ويرى الحنفيّة في قول – وهو ما يؤخذ ممّا ذكره ابن الشّاطّ من المالكيّة – أنّ من يتشبّه بالكافر في الملبوس الخاصّ به لا يعتبر كافراً ، إلا أن يعتقد معتقدهم ، لأنّه موحّد بلسانه مصدّق بجنانه . وقد قال الإمام أبو حنيفة رحمه الله : لا يخرج أحد من الإيمان إلّا من الباب الّذي دخل فيه ، والدّخول بالإقرار والتّصديق ، وهما قائمان .

وذهب الحنابلة إلى حرمة التّشبّه بالكفّار في اللّباس الّذي هو شعار لهم . قال البهوتيّ : إن تزيّا مسلم بما صار شعارا لأهل ذمّة ، أو علّق صليبا بصدره حرم ، ولم يكفر بذلك كسائر المعاصي . ويرى النّوويّ من الشّافعيّة أنّ من لبس الزّنّار ونحوه لا يكفر إذا لم تكن نيّة .

Golongan Hanafiyyah berpendapat –menurut yang sahih bagi mereka-, begitu juga malikiyyah berdasar madzhab mereka, dan juga Jumhur Syafiiyyah bahwa barang siapa bertasyabbuh dengan orang kafir dalam hal pakaian yang merupakan syi’ar mereka -yang dengannya mereka membedakan diri dari kaum muslimin– dihukumi kafir secara dzahir; yakni dalam hukum-hukum dunia. Maka barang siapa memakai kopiah majusi di kepalanya dihukumi kafir, kecuali jika ia melakukannya karena dlarurat (berupa) keterpaksaan, atau untuk melindungi dari panas atau dingin. Begitu juga dengan memakai sabuk nasrani, kecuali jika ia melakukannya untuk kamuflase dalam perang, dan menjadi mata-mata bagi kaum Muslimin, dan sebagainya, berdasarkan hadist; “Barang siapa menyerupai kaum maka ia termasuk golongan mereka”. Karena pakaian yang khusus bagi kaum kafir adalah adalah alamat kufur, dan tidak mengenakannya kecuali orang yang menetapi kekufuran. Sedang istidlal dengan alamat dan berhukum dengan apa yang ditunjukkannya ditetapkan oleh akal dan syara’. Maka jikalau diketahui bahwa ia mengikat sabuk nasrani tidak karena meyakini hakikat kekufuran, tapi untuk masuk negara musuh guna membebaskan tawanan -umpamanya- maka tidak dihukumi kafir.

Sedang dalam suatu pendapat -yaitu yang diambil dari apa yang disebutkan oleh Ibnu as-Syath dari Malikiyyah-, Hanafiyyah berpendapat ; bahwasanya orang yang menyerupai orang kafir dalam pakaian yang khusus bagi mereka tidak dianggap kafir kecuali jika meyakini keyakinan mereka, dikarenakan mereka menyatakan tauhid dengan lisannya dan percaya dengan hatinya. Imam Abu Hanifah berkata; “Tidak seorang keluar dari iman kecuali melalui pintu dimana dia masuk”, sedang masuknya itu dengan Iqrar (pernyataan) dan Tashdiq (percaya), dan keduanya masih berdiri (ada).

Hanabilah perpendapat akan keharaman menyerupai tasyabbuh dengan orang kafir dalam pakaian yang merupakan syi’ar bagi mereka. Al-Buhuty berkata; “jika seseorang mengenakan pakaian yang menjadi syi’ar ahli dzimmah, atau menggantungkan salib di dadanya, maka dihukmi haram, tidak dihukumi kafir sebagai mana perbuatan maksiat lain.” An-Nawawi dari Sayafiiyyah berpendapat; bahwasanya barang siapa memakai sabuk nasrani dan sebagainya tidak dihukumi kafir selagi tidak ada niat kufur.”

Yang harus diwaspadai adalah; bahwasanya orang-orang kafir banyak sekali memodifikasi  atau menyamarkan simbol-simbol kufur mereka sehingga menjadi samar agar kaum muslimin ikut memakainya. Seperti modifikasi lambang salib pada palang merah.[9] Atau lambang dewa matahari yang dimodifikasi menjadi berbagai macam bentuk.  Begitu juga dengan lambang-lambang klub-klub sepakbola seperti AC Milan maupun Intermilan yang terdapat lambang salib di logonya. Dalam Nadwah Fiqhiyyah Pondok Pesantren Al-Anwar disebutkan;

“Hukum memasang atau memakai logo AC Milan Haram, Karena tasabbuh bil kufri dan juga memperkuat golongan mereka.”

Dari itu Dr Sulaiman bin Salimillah Ar Ruhaili berkata;

“Dalam pandangan saya pribadi termasuk dalam kategori menyerupai orang kafir adalah memakai dasi. Dasi itu termasuk pakaian khas orang kafir. Memakai dasi hanya dilakukan oleh orang-orang kafir.

Pernah kubaca dalam sebuah literatur yang membahas sejarah orang kafir sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa dasi itu pengganti salib. Dulu orang Nasranu meletakkan salib dari kayu atau semisalnya dalam ukuran besar di leher mereka. Ketika mereka semakin modern dan merasa berat jika harus kemana-mana membawa salib maka mereka memakai dasi. Yaitu sebuah bentuk bunga yang berukuran panjang kemudian ada tali yang terjulur dari atas ke bawah. Dasi model ini lalu mereka kembangkan menjadi bentuk dasi saat ini. Syarat dasi menurut mereka adalah harus memiliki tonjolan di sisi kanan dan kiri dan ada kain panjang terjulur yang berada di tengah-tengah tonjolan tersebut. Ini adalah pengganti salib menurut orang Nasrani.”

Akan tetapi dalam masalah masih ini masih terdapat perbedaan. Adapun jika memang benar terbukti bahwa dasi asal mulanya adalah salib, maka hukumnya jelas tidak boleh memakainya.

2-Tasyabbuh dalam istilah dan ucapan

Seperti menyebut masjid dengan pura, ahli ibadah dengan biksu, ulama’ dengan pastur, begitu juga dengan menyebut maulid Nabi Muhammad dengan natal Nabi Muhammad. Tidak diragukan lagi bahwa yang demikian disamping terdapat unsur tasyabbuh juga terdapat unsur pelecehan dan pencampur adukkan agama.

Dari itu Sahabat Umar Ra melarang bahasa-bahasa dan kata kata khusus milik orang kafir;

وقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه إياكم ورطانة الأعاجم، وأن تدخلوا على المشركين في كنائسهم

 “Hendaklah kalian berhati-hati dari logat khusus orang-orang non muslim, dan jangan kalian masuk bersama musyrikin di gereja mereka.”

Yakni karena dikuatirkan -diantaranya- mengandung unsur-unsur kekufuran.

Termasuk dalam hal ini adalah pemakaian hitungan tahun masehi, dikarenakan walaupun perhitungan tahun matahari adalah perkara adat tapi kaum nashrani telah membubuhinya dengan istilah yang berhubungan dengan kekufuran mereka, seperti “anno domini” (AD) yang berarti tahun tuhan kami, atau BC (before christ) kalau diindonesiakan menjadi “Sebelum Masehi”. Selain itu, ditetapkannya permulaan tahun sesudah kelahiran Yesus, menunjukkan pengagungan mereka kepada Yesus yang bagi mereka adalah tuhan. Maka sudah sepantasnya kaum muslim beralih meninggalkan kalender kafir menuju kalender Islam, apalagi Allah telah berfirman;

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. (At-Taubah 36)

Apalagi nama-nama bulan tahun masehi banyak yang berasal dari nama dewa-dewa romawi[10] yang sudah tentu penamaan ini adalah wujud pengagungan kaum romawi kepada dewa-dewanya. Apakah kaum muslim yang hanya bertuhankan Allah ridla memakai tahun kafir yang nama bulannya menggunakan nama dewa-dewa pagan??

Tapi kenyataannya sebagian kaum muslimin justru memberikan nama-nama bulan yang berasal dari dewa-dewa romawi tersebut kepada anak-anak mereka. Untuk yang lahir dibulan januari mereka menamakannya “yanuar”, bulan februari menjadi “febri”, “yuni dan yuli untuk bulan juni dan juli. Innalillahi Wa inna ilaihi Roji’un…

Perbedaan Tasyabbuh dalam agama dalam masalah ibadat dan adat

Mengingat tasyabbuh dalam ibadat adalah tasyabbuh dalam hal-hal yang dari semula merupakan ibadah, sedangkan tasyabbuh dalam adat adalah tasyabbuh dalam perkara adat yang dibumbui simbol agama, maka terdapat perbedaan besar antara keduanya, yakni; tasyabbuh dalam ibadah keharamannya berlaku selamanya walaupun bentuk ibadahnya sudah tidak dilakukan oleh mereka, dengan kata lain unsur tasyabbuh itu masih dianggap ada. Sedang tasyabbuh dalam hal adat unsur tasyabbuh bisa saja hilang, dan ketika unsur tasyabbuhnya hilang maka keharamannya juga hilang.

Contoh; Shalat diwaktu terlarang, ia tetap haram walaupun sekarang tidak dijumpai orang-orang yang beribadah pada waktu-waktu itu, begitu juga gerakan ibadah-ibadah mereka; tetap terlarang walaupun mereka sudah tidak melakukannya lagi. Sedang pakaian khusus kaum nasrani bisa diperbolehkan jika pakaian tersebut tidak lagi menjadi pakaian khusus mereka sekarang. Begitu juga salib yang merupakah lambang nasrani, tidak haram membuat dan menggunakannya pada segi dimana tidak ditemukan unsur tasyabbuh. Bagaimana tidak, bukankah Allah telah memerintahkan diantara tiga pilihan yang salah satunya menyalib bagi orang-orang yang membangkang (Bughot)?[11] Lalu bagaimana mungkin menyalib tanpa membuat dan menggunakan salib?

Jadi, pemakaian salib menjadi tasyabbuh ketika dipakai sebagaimana kaum nasrani memakainya, seperti di leher, atau dijadikan hiasan dinding rumah. Adapun pemakaian selain itu diperbolehkan.

Dari itu saya berpendapat, dalam masalah pemakaian penanggalan masehi, dikarenakan sudah tidak mungkin menghindar, bahwa sebisa  tahunnya tidak usah diembel-embeli masehi tapi cukup tahun Syamsiyyah (Matahari) saja, seperti yang dilakukan oleh Al-Allamah Syaikh Maemoen Zubair. Dan ubahlah nama bulannya menjadi angka-angka saja, misal bulan januari menjadi bulan satu, dst.

Kapankah pelaku tasyabbuh dihukumi kufur?

Dari contoh-contoh yang telah lalu, dapat kita lihat bahwa tasyabbuh dengan kafir bisa jiadi kufur, bisa jadi tidak. Lalu kapankah pelaku tasyabbuh dihukumi kufur?

Pelaku tasyabbuh dihukumi kafir jika perbuatan tasyabbuh itu adalah perbuatan kufur, seperti sujud kepada berhala.

Adapun selain itu, maka jika tasyabbuhnya kuat, seperti memakai pakaian khusus mereka; pakaian yang merupakan syi’ar mereka -yang dengannya mereka membedakan diri dari kaum muslimin, maka para Ulama’ berbeda pendapat tentang kekekafirannya, sebagian menghukumi kafir sebagian tidak seperti yang telah lalu. Adapun jika tasyabbuhnya lemah maka hukumnya sekedar haram.

Kaedah untuk menentukan lemah atau tidaknya tasyabbuh adalah; jika diperkirakan apabila ada seorang melihat pelaku tasyabbuh, ia menyangka si pelaku bukan muslim, maka tasyabbuh itu adalah tasyabbuh yang kuat. Sedang selain itu adalah lemah.  Misalnya, kalung salib standar, orang yang melihat seseorang yang memakainya pasti akan menyangka pemakainya bukan muslim. Berbeda jika kalung salib itu telah dimodifikiasi, misalnya berbentuk sama panjang disemua sisi dan dikelilingi lingkaran.

Pendapat Sayid Alwi Almaliki;

وأما ما كان خاصا بالكفار وزيا من أزيائهم التى جعلوها علامة لهم كلبس برنيطة وشد زنار وطرطور يهودي وغير ذلك فمن لبسه من االمسلمين رضا بهم وتهاونا باالدين وميلا للكافرين فهو كفر وردة والعياذ بالله ومن لبسه استخفافا بهم واستحسانا للزي دون دين الكفر فهو اثم قريب من المحرم

واما من لبسه ضرورة كأسير عند الكفار ومضطر للبس ذلك فلا بأس به وكمن لبسه وهو لا يعلم انه زي خاص بالكفار وعلامة عليهم أصلا لكن اذا علم ذلك وجب خلعه وتركه وأما ما كان من الألبسة التى لا تختص بالكفار وليس علامة عليهم اصلا بل هو من الألبسة العامة المشتركة بيننا وبينهم فلا شيء فى لبسه بل هو حلال جائز وقال العز ابن عبد السلام واماما فعلوا على وفق الإيجاب والندب والإباحة فى شرعنا فلايترك لأجل تعاطيهم إياه فإن الشرع لاينهى عنه على التشبه بما أذن الله

“Adapun apa-apa yang terkhusus bagi orang-orang kafir dan pakaian-pakaian mereka, yang mereka jadikan identitas bagi mereka, seperti memakai beret (topi khusus yahudi), mengikat sabuk nasrani, thur thur (sejenis topi) yahudi, dan lain sebagainya, maka barang siapa dari kaum muslimin memakainya karena ridla dengan mereka, karena merendahkan agama islam, dan karena condong kepada orang-orang kafir, maka ia telah kafir dan murtad. Wal iyadz billah…

Sedang barang siapa memakainya dengan menganggap enteng orang-orang kafir[12], dan karena menganggap bagus pakaian tersebut tidak dengan agama kufur mereka maka perbuatan itu dosa yang dekat dengan haram.[13]

Adapun orang yang memakainya karena terpaksa, seperti tawanan orang kafir dan terpaksa memakainya maka tidak apa-apa. Begitu juga orang yang memakainya sedang ia tak tahu sama sekali kalau itu pakaian khusus mereka dan merupakan identitas mereka. Tetapi ketika ia mengetahuinya maka ia wajib mencopot dan meninggalkannya.

Adapun pakaian yang tidak terkhusus bagi orang kafir dan sama sekali bukan merupakan identitas bagi mereka, tetapi merupakan pakaian umum yang dipakai bersama oleh kita dan mereka, maka tidak ada dosa dalam memakainya, bahkan ia halal dan jaiz. Ibnu Abdis-Salam berkata; Adapun jika perkara yang mereka (kafir) lakukan mencocoki dengan hukum wajib, sunnah, atau ibahah, maka tidak ditinggalkan karena alasan mereka melakukannya. Dikarenakan Syara’ tidak melarang Tasyabbuh dalam hal-hal yang diijinkan Allah.”

Apakah Tasyabbuh harus ada niat?

Tasyabbuh dengan kafir tidak harus ada niat untuk dihukumi Tasyabbuh. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah;

وكذلك ما نهى عنه من مشابهتهم يعم ما إذا قصدت مشابهتهم أو لم تقصد فإن عامة هذه الأعمال لم يكن المسلمون يقصدون المشابهة فيها

 “Demikian pula larangan Tasyabbuh dengan mereka, mencakup perkara-perkara yang engkau niatkan untuk menyerupai mereka dan juga yang tidak engkau niatkan untuk menyerupai mereka, dikarenakan sesungguhnya kebanyakan perbuatan-perbuatan ini, kaum Muslimin tidak bertujuan menyerupai mereka didalamnya.”

Imam Suyuti berkata;

والتشبه بالكافرين حرام وإن لم يقصد ما قصده

“Tasyabbuh dengan  orang-orang kafir adalah haram meskipun tidak mempunyai maksud menyerupai mereka”

Kecuali pada perkara-perkara yang masih samar antara Tasyabbuh atau bukan. Misalkan gerakan senam yang pada sebagian gerakan mirip dengan ibadah orang kafir. Maka, jika ia memang bertujuan meniru gerakan ibadah orang kafir, berarti dihukumi Tasyabbuh, jika tidak, maka tidak dihukumi Tasyabbuh.   Begitu juga dengan seseorang yang memakai pakaian merah pada hari raya imlek, jika memang ada niat pengkhususan dan pengistimewaan[14] hari raya imlek, atau niat menyerupai orang kafir, maka dihukumi Tasyabbuh. Jika tidak ada, misalnya karena cuma kebetulan memakai baju merah, maka tidak mengapa.

Karena itu, Ibnu Hajar Al-Haitami berkata ketika ditanya tentang beberapa hal yang dilakukan kaum Muslimin pada hari raya nairuz;

فَالْحَاصِلُ أَنَّهُ إنْ فَعَلَ ذلك بِقَصْدِ التَّشْبِيهِ بِهِمْ في شِعَارِ الْكُفْرِ كَفَرَ قَطْعًا أو في شِعَارِ الْعيدِ مع قَطْعِ النَّظَرِ عن الْكُفْرِ لم يَكْفُرْ وَلَكِنَّهُ يَأْثَمُ وَإِنْ لم يَقْصِدْ التَّشْبِيهَ بِهِمْ أَصْلًا وَرَأْسًا فَلَا شَيْءَ عليه

“Kesimpulannya jika ia melakukan hal tersebut dengan tujuan tasyabbuh pada syi’ar-syi’ar kufur mereka, maka ia telah kafir secara pasti, atau (Tasyabbuh) dalam syi’ar hari raya dengan tanpa menegok kepada kekufuran, tidak kafir tapi berdosa, sedang jika tidak ada tujuan tasyabbuh dengan mereka sama sekali , maka tidak mengapa.”

Akan tetapi sebagian orang justru salah paham terhadap ucapan Ibnu Hajar ini, dan bahkan ada yang melegitimasinya untuk memperbolehkan ucapan selamat natal, sesuatu yang sudah jelas Tasyabbuhnya walau tidak diniati Tasyabbuh.

Kesimpulannya, jika perkara itu sudah nyata Tasyabbuhnya, maka tidak diperlukan niat, sedang jika masih ada ke-ihtimalan (kemungkinan-kemungkinan lain) maka diperlukan niat untuk menentukan Tasyabbuh atau bukan.

Penutup

Semoga kita dapat menjadi muslim seutuhnya, senatiasa dalam MillahNya sehingga tidaklah ketika maut menjemput kecuali kita berpegang pada taliNya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (Ali Imron 102)

Wallahu A’lam, kalau ada kesalahan mohon diingatkan.


[1] Contoh melecehkan adalah memberi nama hewan peliharaan dengan nama-nama yang diagungkan agama, seperti nama Muhammad untuk kucing.

[2] Awal muasal tahun baru 1 Januari jelas dari praktik penyembahan kepada dewa matahari kaum Romawi. Kita ketahui semua perayaan Romawi pada dasarnya adalah penyembahan kepada dewa matahari yang disesuaikan dengan gerakan matahari.

Sebagaimana yang kita ketahui, Romawi yang terletak di bagian bumi sebelah utara mengalami 4 musim dikarenakan pergerakan matahari. Dalam perhitungan sains masa kini yang juga dipahami Romawi kuno, musim dingin adalah pertanda ’mati’ nya matahari karena saat itu matahari bersembunyi di wilayah bagian selatan khatulistiwa.

Sepanjang bulan Desember, matahari terus turun ke wilayah bahagian selatan khatulistiwa sehingga memberikan musim dingin pada wilayah Romawi, dan titik tterjauh matahari adalah pada tanggal 22 Desember setiap tahunnya. Lalu mulai naik kembali ketika tanggal 25 Desember. Matahari terus naik sampai benar-benar terasa sekitar 6 hari kemudian.

Karena itulah Romawi merayakan rangkaian acara ’Kembalinya Matahari’ menyinari bumi sebagai perayaan terbesar. Dimulai dari perayaan Saturnalia (menyambut kembali dewa panen) pada tanggal 23 Desember. Lalu perayaan kembalinya Dewa Matahari (Sol Invictus) pada tanggal 25 Desember. Sampai tanggal 1-5 Januari yaitu Perayaan Tahun Baru (Matahari Baru)

Orang-orang Romawi merayakan Tahun Baru ini biasa dengan berjudi, mabuk-mabukan, bermain perempuan dan segala tindakan keji penuh nafsu kebinatangan diumbar disana. Persis seperti yang terjadi pada saat ini.

Ketika Romawi menggunakan Kristen sebagai agama negara, maka terjadi akulturasi agama Kristen dengan agama pagan Romawi. Maka diadopsilah tanggal 25 Desember sebagai hari Natal, 1 Januari sebagai Tahun Baru dan Bahkan perayaan Paskah (Easter Day), dan banyak perayaan dan simbol serta ritual lain yang diadopsi.

Bahkan untuk membenarkan 1 Januari sebagai perayaan besar, Romawi menyatakan bahwa Yesus yang lahir pada tanggal 25 Desember menurut mereka disunat 6 hari setelahnya yaitu pada tanggal 1 Januari, maka perayaannya dikenal dengan nama ’Hari Raya Penyunatan Yesus’ (The Circumcision Feast of Jesus). Ustadz Felix.

[3] Tiga kerusakan Demokrasi; Demokrasi bertumpu pada suara mayoritas, sedang islam bertumpu pada Al-Quran dan Hadist, Demokrasi menyebabkan perpecahan pada kaum Muslimin, Demokrasi menyebabkan maraknya paham paham dan tingkah laku sesat.

[4] Yakni dengan menjadikanya berbeda dengan hari-hari yang lain.

[5] Misalkan saja dengan niat untuk sedekah pada ikan-ikan di laut.

[6] Sedang pengangungan hari raya termasuk kedalam ibadah mereka.

[7] Lambang satanisme.

[8] Lambang dewa matahari milik mesir kuno, yang dimodifikasi kedalam uang dollar amerika.

[9] Mungkin, lambang salib digunakan karena Yesus bagi mereka adalah penyelamat, sehingga ada kesamaan bagi lembaga yang usahanya adalah menyelamatkan orang ini.

[10]Asal muasal nama bulan masehi;
Januari; dari nama dewa bangsa Roma yang berwajah dua, Janus. Satu menghadap depan dan satunya menghadap belakang, sebagai pelambang tatapan masa lalu dan pandangan masa datang. Janus menjadi Januari, yang dijadikan bulan perenung antara tahun lalu dan tahun baru.
Februari; dari kata latin Februa, istilah pesta penyucian yang diselenggarakan tiap 15 Feb oleh bangsa Romawi Kuno.
Maret; dari nama Dewa Perang bangsa Romawi Kuno, Mars, yang terkenal karena keberaniannya.
April; dari bahasa Yunani, Aperire yang berarti membuka. Orang Yunani menyebut musim semi yang dimulai bulan April dengan istilah ‘pembukaan’.
Mei;dari istilah Maia Majesta, Dewa Musim Semi.
Juni;berasal dari Juno, nama Dewi Feminin yang melambangkan harkat kewanitaan yang membawa kebahagiaan keluarga. Oleh karenanya, masyarakat Eropa percaya menikah pada bulan Juni akan membawa kebahagiaan.
Juli; awalnya bernama Quintilis dan diurutan kelima. Setelah Roma dikuasai Mark Anthony, nama bulan diganti Juli, dari nama Julius Caesar.
Agustus;berasal dari nama kaisar Romawi, Agustus. Demi kekuasaannya, ia mengubah jumlah hari pada bulannya dan mengurangi jumlah hari bulan Februari.
Selanjutnya, September, Oktober, November, Desember berasal dari bilangan tuju sampai sepuluh.

[11] Firman Allah;

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

33. Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (Al-Maidah 33)

[12] Maksudnya, ia masih menganggap Islam lebih tinggi daripada kafir.

[13] Yakni perbuatan tersebut haram namun tidak sampai kufur

[14] Pengkhususan dan pengistimewaan tidak perlu niat Tasyabbuh karena bentuk dari tindakan itu sudah mengandung kesamaan dengan prilaku orang kafir.

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Memproklamirkan Identitas Islam at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: