Kaedah Menerima dan Menyampaikan Berita

April 5, 2012 § 2 Comments

بسم الله الرحمن الرحيم

Ilmu Ushulul-Hadits sebenarnya tidak hanya digunakan untuk meneliti Hadits dan mengetahui kedudukannya, ia bisa juga digunakan untuk mencari keotentikan suatu berita. Berikut ulasannya;

A-Pengertian berita dan pembagiannya
Khabar atau berita adalah perkara yang mungkin benar dan mungkin salah dengan tanpa memandang sang pembawa berita maupun bukti-bukti yang menyokongnya.
Dalam Sullam Al-Munawroq, Al-Akhdlary berkata;

ما احتمل الصدق لذاته جرى ـــــ بينهمُ قضية وخبرا

Perkara yang mungkin benar dengan (memandang) dzatnya (esensinya saja), bagi mereka (Ulama) berlaku istilah “qadliyyah dan “khabar”.

Ditinjau dari sisi sampainya suatu khabar kepada kita, dapat dibagi menjadi dua:

  1. Apabila suatu kabar memiliki beberapa jalur yang jumlahnya tidak terbatas dengan bilangan tertentu, maka itulah yang dinamakan dengan Mutawatir.
  2. Apabila suatu kabar memiliki jalur yang terbatas dengan bilangan tertentu, maka itulah yang dinamakan dengan Ahad.

a-Berita Mutawatir

Menurut istilah yaitu; Khabar yang diriwayatkan oleh banyak orang (rawi), yang menurut kebiasaan mustahil mereka sepakat untuk berdusta.

Khabar Mutawatir adalah berita yang pasti benarnya dengan berbagai syarat;

  1. Diriwayatkan oleh banyak rawi. Terdapat perselisihan mengenai jumlah minimal tentang banyaknya rawi (pembawa berita). Menurut pendapat yang terpilih, paling sedikit ada sepuluh orang.
  2. Jumlah bilangan rawi tersebut terdapat pada seluruh tingkatan (thabaqat) sanad (jalur berita).[1]
  3. Menurut kebiasaan, mustahil mereka sepakat untuk berdusta.
  4. Khabar mereka disandarkan kepada panca indera. Misalnya, perkataan mereka kami telah mendengar, kami telah melihat, dan sejenisnya. Jika khabar mereka itu disandarkan pada akal, maka khabar seperti itu tidak dinamakan Mutawatir.

Khabar Mutawatir menunjukkan pada pengetahuan yang sifatnya yakin dengan cara spontan (al-‘ilmu al-yaqini ad-dlauri). Dengan kata lain, manusia dipaksa untuk membenarkannya secara pasti (tashdiqan jaziman), sama seperti dia menyaksikan perkara itu dengan mata kepalanya sendiri. Oleh karena itu, Khabar Mutawatir─seluruhnya─ diterima. Tidak diperlukan lagi pembahasan mengenai kondisi para perawinya.

b-Berita Ahad

Khabar Ahad adalah Khabar yang tidak terkumpul syarat-syarat Mutawatir. Khabar Ahad menunjukkan kepada pengetahuan yang bersifat yakin setelah adanya angan-angan (al-‘ilmu al-Yaqin an-nadhary). Angan-angan yang dimaksud adalah dengan cara meneliti keadaan rawi, apakah bisa dipercaya atau tidak, maupun dengan meneliti dan mencari bukti atau penguat kebenaran berita tersebut. Maka dari itu, tidak seperti Khabar Mutawatir yang langsung diterima kebenarannya, Khabar Ahad ada yang diterima ada pula yang tidak.

B-Propaganda

Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan;

“Propaganda adalah penerangan (paham, pendapat, dsb) yg benar atau salah yg dikembangkan dng tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu: — biasanya disertai dng janji yg muluk-muluk.”

Sedang menurut Wikipedia;

“Propaganda (dari bahasa Latin modern: propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan) adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya.

Propaganda kadang menyampaikan pesan yang benar, namun seringkali menyesatkan dimana umumnya isi propaganda hanya menyampaikan fakta-fakta pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional. Tujuannya adalah untuk mengubah pikiran kognitif narasi subjek dalam kelompok sasaran untuk kepentingan tertentu.

Propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan memengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku propaganda.”

Propaganda dilakukan dengan cara menyebar berita terus-menerus secara intens dengan variasi berita yang berbeda untuk mendapatkan keyakinan dari massa dengan maksud mencapai tujuan tertentu. Contoh nyata adalah kasus penyerangan FPI oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan warga dayak. Disini FPI yang seharusya ditolong karena menjadi korban justru dijadikan tersangka. Seketika itu pula sekelompok bencong yang tidak lebih dari 60 orang berdemo menuntut pembubaran FPI. Media-media pun ramai memberitakan sehingga tidaklah muncul progam berita kecuali terdapat berita tuntutan pembubaran FPI oleh “Masyarakat”.

Berita penyerangan FPI oleh oknum dayak adalah berita Mutawatir namun media-media mengubah persepsi dimana seharusnya FPI yang menjadi korban justru FPI yang dianggap bersalah. Begitu juga ketika beberapa kelompok berdemo menuntut pembubaran FPI, ini adalah berita benar dan Mutawatir, namun media-media membesar-besarkannya sehingga seolah-olah mayoritas masyarakat menginginkan FPI bubar. Inti dari tujuan perbuatan ini adalah pembubaran FPI. Inilah yang disebut “propaganda”.

Karena berita bahwa “FPI bersalah” dan “Mayoritas masyarakat menuntut pembubaran FPI” disampaikan oleh banyak media dan secara terus-terus menerus, maka secara tidak sadar masyarakat menerima bahwa yang bersalah adalah FPI dan ia harus dibubarkan. Dengan kata lain berita ini seolah menjadi Mutawatir dimana manusia dipaksa untuk membenarkannya secara pasti (tashdiqan jaziman), sama seperti dia menyaksikan perkara itu dengan mata kepalanya.

Jadi, propaganda mampu membelokkan kebenaran dan merubah kebohongan menjadi kebenaran.

Jika menengok sejarah, kita akan melihat bagaimana propaganda yang dilakukan pemuka-pemuka kafir Quraisy agar masyarakat menjauhi Nabi Muhammad Saw. Mereka mengatakan Muhammad itu tukang sihir, orang gila, dan sebagainya kepada orang-orang dari kabilah-kabilah Arab yang datang ke Makkah pada musim Haji.  Begitu pula tuduhan zina yang menimpa Sayyidah ‘Aisyah yang sengaja ditiupkan dan disebar-luaskan oleh golongan munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul. Begitulah mereka membuat makar

وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ

46. dan Sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. dan Sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. (Ibrahim 46)

 

C-Isu

Isu yang dimaksud adalah kabar yg tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya atau bisa disebut kabar angin, desas-desus.

Isu adalah berita yang tidak terlalu kuat, dan biasanya digunakan untuk sekedar memecah belah persatuan dengan cara membuat kabar yang menimbulkan sikap saling curiga dan tidak percaya. Contoh isu adalah kabar bahwa FPI adalah bentukan para jenderal dengan berdasar pada laporan yang dirilis Wikileaks. Tidak jelas karena apa yang disampaikan Wikileaks adalah data mentah yang bersumber dari satu orang yang tidak jelas. FPI sendiri telah menyampaikan bantahannya terhadap isu ini. Tujuan dari isu ini jelas adalah untuk membuat kaum muslimin curiga dan tidak percaya lagi pada FPI.

Dan kalau kita cermati model isu seperti ini sebenarnya banyak dipakai bukan hanya kepada FPI saja tapi kepada organisasi-organisasi Islam dan gerakan-gerakan dakwah lainnya. Sebut saja Al-Qaeda atau Thaliban yang dikatakan bentukan Amerika melalui CIA. Memang mungkin saja amerika sengaja memanfaatkan Al-Qaeda sebagai alasan untuk menyerang Afganistan dan negeri-negeri muslim lain, seperti halnya israel memanfaatkan HAMAS dengan roket-roketnya sebagai alasan menyerang Gaza. Tapi tentu terlalu jauh untuk menyebut bahwa Al-Qaeda bahkan HAMAS sebagai bentukan amerika dan israel.

Selain digunakan untuk memecah belah, isu juga bisa digunakan untuk menggertak lawan. Akan tetapi ketika isu dihembuskan dengan kencang dan terus-terus secara intens, maka isu tersebut berarti telah meningkat bukan hanya isu tapi menjadi sebuah propaganda.

D-Bagaimana menentukan benar atau tidaknya suatu berita dan bagaimana menyingkapinya

a-Ayat dan Hadist yang meyatakan kewajiban Tatsabbut ketika menerima khabar

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

83. dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka. (An-Nisa’ 83)

Berkata Imam Ibnu Katsir;

وقوله: { وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ } إنكار على من يبادر إلى الأمور قبل تحققها، فيخبر بها ويفشيها وينشرها، وقد لا يكون لها صحة.

Firman Allah  { وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ }“Suatu larangan bagi orang yang tergesa-gesa (menyikapi) urusan sebelum memastikan kebenarannya lalu dia menyebar-luaskannya, padahal bisa jadi tidak shohih.”[2]

Ulil Amri disini bisa jadi dimaknai pimpinan, atau bisa jadi dimaknai yang mempunyai perkara, yakni pihak-pihak yang terlibat dalam perkara itu.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra’ 36)

مَّايَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ 

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

 Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS Al Hujurat 6)

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ قِيلَ وَقَالَ

Dari Al Mughiroh bin Syu’bah r.a bahwa Rosululloh SAW melarang ‘katanya’ – ‘katanya’.

Ibnu Katsir berkata; “Yaitu orang yang banyak berbicara tentang apa yang dikatakan orang tanpa tatsabbut, tanpa tadabbur dan tanpa tabayyun.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: “كفى بالمرء كذبا أَنْ يُحدِّث بِكُلِّ مَا سَمِعَ” (رواه مسلم)

Artinya: Dari Abi Hurairoh r.a dari Nabi SAW bersabda, “Cukuplah seseorang sebagai pendusta bila membicarakan semua yang ia dengar.” (HR Muslim)

قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ لأَبِى مَسْعُودٍ مَا سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى « زَعَمُوا ». قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « بِئْسَ مَطِيَّةُ الرَّجُلِ زَعَمُوا

Abu Abdillah yaitu Hudzaifah bertanya kepada Ibnu Mas’ud, “Apa yang pernah kau dengar dari Rasulullah tentang katanya?”. Ibnu Mas’ud berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sejelek-jelek kendaraan seseorang adalah menjadikan lafazh ‘mereka berpraduga’ (sebagai kendaraan menuju maksudnya).” (HR. Abu Dawud)

b-Ciri-ciri berita palsu

Ciri-ciri berita palsu adalah sebagai berikut;

  • Beritanya terlalu mengada-ngada, aneh dan tidak masuk akal.
  • Biarpun beritanya aneh dan isinya menghebohkan, jarang media yang meliput. Kalaupun ada, media itu cuma sekedar mencopy apa adanya dari sumber berita pertama dan tidak mencek langsung kepada sumber berita.
  • Berita itu bertentangan dengan berita-berita lain yang lebih valid.
  • Pembawa berita diragukan kepercayaannya. Entah karena ia dikenal pembohong, atau karena ia ditenggarai bersikap berlebihan dalam membenci atau menyukai obyek yang ia jadikan berita.
  • Sumber yang disebutkan tidak jelas bahkan ada kecenderungan menutup-nutupi. misalnya dengan menyebut kata “pejabat” tanpa menyebut nama pejabat itu, atau kata “pengurus” tanpa menyebut namanya.

c-Ketika berita saling bertentangan

Ketika ada berita-berita yang terlihat bertentangan dan sama kuat, maka jika mungkin, harus dikompromikan. Misalnya, berita “Zaid hari ini pergi ke Kudus” dan berita “Zaid hari ini pergi ke Jepara”. Berita ini bisa dikompromikan dengan menggabungkan keduanya menjadi “Zaid hari ini pergi ke Kudus dan Jepara” dikarenakan dekatnya kedua kota itu.

Akan tetapi jika keduanya tidak sama kuat, yang satu kuat yang satu lemah, maka tentu yang lebih kuat yang dipilih.

Dan ketika berita bertentangan dan tidak bisa dikompromikan, maka harus dicari berita manakah yang benar dengan cara;

  • Mencari bukti-bukti dan penguat yang menguatkan salah satunya
  • Meneliti keadaan masing-masing pembawa berita; mana yang lebih bisa dipercaya.

Jika tidak dapat dicari kebenarannya, entah karena sama-sama kuat atau sama-sama lemah, maka berita-berita yang bertentangan itu dianggap gugur dan obyek berita dikembalikan kepada keadaan asal sebelum munculnya berita.


d-Metode dan contoh praktek

Jika berita itu sudah menetapi syarat-syarat Mutawatir maka berita itu dapat dipastikan kebenarannya dan tidak diperlukan lagi pembahasan tentang pembawa berita maupun bukti-bukti yang menyokongnya. Akan tetapi sebagian berita -seperti yang telah saya utarakan-, sengaja dibuat seolah-olah Mutawatir dengan metode propaganda, jadi bagaimanakah mengenali Mutawatir asli dan Mutawatir jadi-jadian?

Jawabnya adalah dengan cara menerapkan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Ulama’ tadi. Sebagai contoh, diantara syarat itu adalah “Menurut kebiasaan (adat), mustahil mereka (Rawi) sepakat untuk berdusta.”. Nabi Muhammad Saw dituduh macam-macam oleh banyak orang kafir Quraisy, akan tetapi diketahui bahwa mereka memang musuh dakwah Nabi Saw, jadi sangat wajar jika mereka bersekongkol membuat tuduhan-tuduhan itu. Dengan begitu, kabar-kabar yang mereka sampaikan mengenai Nabi Saw, biarpun disampaikan oleh banyak orang tetap tidak dianggap Mutawatir.

Contoh lain adalah kasus FPI, media-media ramai memberitakan bahwa mayoritas masyarakat menuntut pembubaran FPI. Akan tetapi jika kita teliti ternyata yang memberitakan demikian cuma media-media sekuler yang “kebetulan” mampu menguasai dunia pemberitaan. Sedang media-media Islami seperti Eramuslim, Hidayatullah, SuaraIslam, Arrahmah, Nahimunkar dll, justru melakukan pembelaan-pembelaan kepada FPI. Dari sini tercium aroma persekongkolan diantara media-media sekuler pembenci Islam dalam menggebuk FPI.

Sedang jika berita itu berupa berita Ahad, maka diperlukan pembahasan mengenai kualitas dan kredibilitas pembawa berita. Pembawa berita haruslah seorang Mukmin yang jujur, bukan pelaku maksiat (Fasik). Dan jika tidak cukup, maka diperlukan bukti-bukti penyokongnya. Intinya, tidak boleh meyakini bahkan menyebarkan suatu berita sebelum nyata kebenarannya.

Contoh berita yang masih dipertanyakan adalah berita terbakarnya pembuat kartun Nabi, disebutkan bahwa pembuat kartun Nabi tewas setelah tubuhnya terbakar dengan sendirinya. Saya mencoba meneliti berita ini dengan cara mencopi paste sebagian paragraf dan mencarinya di mbah google, namun ternyata sumber berita ini cuma satu dan tidak ada penguat berupa konfirmasi dari pemerintahan Denmark maupun saksi-saksi. Apalagi ada berita yang berlawanan yang menyebutkan bahwa pembuat kartun Nabi tewas karena penyakit jantung (ini juga masih dipertanyakan). Jadi berita-berita seperti ini hendaknya tidak usah disebarluaskan karena masih diragukan kebenarannya. Begitu juga dengan beredarnya video malaikat diatas Ka’bah atau gambar batu melayang, jangan terburu-buru menyebarkan berita macam ini, dan ternyata belakangan terbukti bahwa itu semua cuma HOAX.

Foto asli batu melayang

Menyebarkan berita-berita yang belum terbukti benar dan justru pada kenyataannya adalah bohong akan membuat kita jadi bahan olok-olok si pembuat berita. Lebih dari itu, orang-orang kafir juga ikut menertawakan sembari berkata “Lihatlah bagaimana mudahnya orang Islam dibodohi”.

1-Praktek Tabayyun yang dilakukan Nabi dan Sahabat Umar

1-Tabayyun Nabi Saw

Kisah ini terjadi ketika muncul berita memberontaknya Bani Mustholiq kepada Rasul Saw. Al Harits bin Dhoror r.a, ayah Ummul Mukminin Juwairiyah r.a kepala kabilah Bani Mustholiq telah menyepakati suatu waktu untuk penyerahan zakat Bani Mustholiq kepada Rosulullah SAW. Namun ketika telah tiba masanya, kurir Rosulullah SAW petugas pengambilan zakat tak kunjung tiba. Ternyata kurir tersebut membatalkan niatnya di tengah jalan dan kembali ke Madinah lalu menyampaikan berita yang tidak benar kepada Rosulullah SAW dengan berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ الْحَارِثَ مَنَعَنِي الزَّكَاةَ وَأَرَادَ قَتْلِي

 “Wahai Rosululloh, sungguh Al Harits menolak penyerahan zakat dan hendak membunuhku.”

Dalam riwayat Qatadah disebutkan bahwa utusan itu berkata;

إن بني المصطلق قد جمعت لك لتقاتلك وإنهم قد ارتدوا عن الإسلام

“Sesungguhnya Bani Mushtaliq telah berkumpul untuk memerangimu dan sesungguhnya mereka telah murtad dari Islam”

Rasululloh pun mengirim pasukan ke Bani Mustholiq dipimpin oleh Kholid bin Walid r.a dan memerintahkannya agar bertatsabbut dan tidak bertindak tergesa-gesa. Ketika tiba di malam hari, Kholid bin Walid r.a mengirim mata-mata dan didapati fakta bahwa ternyata mereka masih berpegang teguh kepada Islam dan mereka mendengar adzan dan sholat mereka. Ketika pagi, Khalid bin Walid r.a mendatangi mereka dan ia melihat hal yang menyenangkannya. Maka iapun kembali dan melaporkan hal tersebut kepada Rasul Saw.

Dan pada saat Al Harits menjumpai Rasululloh SAW bertanya kepadanya:

“مَنَعْتَ الزَّكَاةَ وَأَرَدْتَ قَتْلَ رَسُولِي؟”

 “Anda tidak menyerahkan zakat dan hendak membunuh kurirku?”

Al Harits pun menjawab,

لَا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا رَأَيْتُهُ وَلَا أَتَانِي، وَمَا أَقْبَلْتُ إِلَّا حِينَ احْتُبِسَ عَلَيَّ رَسُولُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ، خَشِيتُ

أَنْ يَكُونَ كَانَتْ سُخْطَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِه

 “Tidak, demi yang mengutusmu dengan benar, aku tidak melihatnya dan dia tidak mendatangiku, dan tidaklah aku menghadap (datang ke Madinah) melainkan karena ketidakdatangan kurir Rasululloh SAW dan aku khawatir disebabkan adanya murka Allah dan RosulNya.”[3]

2-Tabayyun Sahabat Umar

Kisah ini terjadi ketika terjadi konflik rumah tangga antara Rasul Saw dengan sebagian istri beliau yakni ‘Aisyah dan Hafshah. Sahabat Umar mendapatkan laporan dari sahabatnya, Sang Sahabat berkata;

“Telah terjadi masalah besar”.

Sahabat Umar bertanya: “Masalah apa itu? Apakah suku Ghassan sudah datang?”

Dia menjawab: “Bukan, bahkan urusannya lebih penting dan lebih panjang dari masalah itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceraikan isteri-isteri Beliau.

Sahabat ‘Umar berkata: “Sungguh celaka dan rugilah Hafshah. Aku mengira hal ini tidak akan terjadi.”

Kemudian Sahabat Umar melipat pakaiannya lalu shalat Shubuh bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah Shalat Rasul memasuki bilik yang tinggi dan mengasingkan diri disana. Maka Sahabat Umar menemui Hafshah yang ternyata sedang menangis dan bertanya: “Apa yang membuatmu menangis, bukankah aku sudah peringatkan kamu? Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceraikan kalian?” Dia menjawab: “Aku tidak tahu, sekarang Beliau berada di tempat pengasingannya”.

Sahabat Umar lalu berinisiatif untuk menanyakan langsung kepada Rasulullah Saw tentang masalah ini. Ia meminta izin untuk masuk ke bilik pengasingan Nabi Saw, dan ketika diijinkan beliau bertanya;

أطلقتهن؟

“Apakah engkau mentalak mereka?”

Rasul Saw menjawab;
“لا”
 “Tidak”

Sahabat Umar lalu berdiri di pintu masjid sembari berteriak dengan kencang;

لم يطلق رسول الله صلى الله عليه وسلم نساءه

“Rasul Saw tidak mentalak istri-istri beliau!!”[4]

Dari kisah-kisah diatas menunjukkan bahwa Tatsabbut dan Tabayyun yang disyari’atkan adalah sebagai berikut:

  1. Pencarian bukti.

Yaitu; Dikirimnya Khalid bin Walid kepada Bani Mustholiq dan diutusnya mata-mata untuk mengetahui apakah benar mereka telah murtad dengan mencari bukti-bukti.

  1. Konfirmasi berita dengan bertanya langsung kepada yang pihak bersangkutan.

Yaitu; Konfirmasi Nabi Saw kepada Al Harits bin Dhoror dan konfirmasi Sahabat Umar kepada putrinya Hafshah r.a maupun kepada Rasul Saw.

2-Contoh berita yang bertentangan

Misalnya pernyataan Ulama’ kita yang menyatakan bahwa Syi’ah Rafidloh mencaci maki Sahabat yang kemudian dibantah oleh mereka, manakah yang benar??

Ternyata ditemukan bukti dari pernyataan Imam-imam mereka yang terdapat pada kitab-kitab mereka, juga ditemukan bukti-bukti daris situs-situs mereka dan juga video-video yang menunjukkan bahwa Syi’ah memang mencaci maki Sahabat.

Apalagi para Ulama telah menyatakan bahwa Syi’ah adalah ahlinya bohong;

قال شيخ الاسلام ابن تيمية – رحمه الله رحمة واسعة – : وقد اتفق أهل العلم بالنقل والرواية والاسناد على أن الرافضة أكذب الطوائف، والكذب فيهم قديم، ولهذا كان أئمة الاسلام يعلمون امتيازهم بكثرة الكذب

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Ahli ilmu telah sepakat bahwa Syi’ah Rafidhah merupakan kelompok paling pendusta, dan kedustaan mereka sudah lama dan usang. Oleh karena itu para ulama Islam mengetahui kekhususan mereka dengan banyaknya kedustaan yang ada pada mereka”.

سئل مالك – رحمه الله – عن الرافضة فقال : لاتكلمهم ولا تروي عنهم فإنهم يكذبون

Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang Rafidhah, beliau mengatakan : “ Jangan berbicara dengan mereka, jangan meriwayatkan dari mereka karena mereka adalah pendusta”.

Begitu juga Imam Syafi’i;

وقال أبو حاتم : حدثنا حرملة قال : سمعت الشافعي – رحمه الله – يقول لم أرَ أحداً أشهد بالزور من الرافضة

Abu Hatim mengatakan : “Telah menceritakan kepadaku Harmalah, dia berkata : “Aku mendengar Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan” : “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih parah kejelekannya daripada Syi’ah Rafidhah”[5]

Jadi, berita bahwa Syi’ah mencaci Sahabat adalah benar, sedang sangkalan mereka adalah implementasi dari ajaran Taqiyyah mereka.

Contoh lain -menurut pandangan saya- adalah tentang hakikat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, apakah benar ia ia seperti yang dituduhkan orang-orang selama ini atau tidak, mengingat banyaknya bukti yang saling bertentangan. Namun saya lebih memilih bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang ‘Alim yang masih teguh dibawah bendera Ahlus-Sunnah. Adapun sikap ghuluw yang terlihat adalah murni dari sebagian pengikutnya, bukan dari beliau sendiri.

Hal ini didapat dengan mempraktekkan apa yang telah saya sampaikan tadi, yakni;

“Ketika tidak dapat dicari kebenarannya, entah karena sama-sama kuat atau sama-sama lemah, maka berita-berita yang bertentangan itu dianggap gugur dan obyek berita dikembalikan kepada keadaan asal sebelum munculnya berita.”

Jadi berita yang menuduh dan menyangkal dianggap gugur, dan keadaan Syaikh dikembalikan kepada asal yakni minimal sebagai seorang muslim yang baik. Selain itu, dengan begini saya lebih selamat dari menuduhkan kebohongan kepada seorang muslim dan terhindar dari fitnah berpecah belah.

E-Penutup

Semoga dengan tulisan ini, umat Islam menjadi tidak mudah dibodohi dan bersikap kritis terhadap berita-berita yang datang walau beritanya terlihat menyenangkan. Semoga pula umat Islam tidak mudah dibodohi, diadu domba dan digiring seperti sapi oleh media-media sekuler yang dikuasai yahudi.
اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه و أرنا الباطل باطلا و ارزقنا اجتنابه و لا تجعله ملتبسا علينا فنضل و اجعلنا للمتقين إماما

Ya Allah perlihatkanlah kepada kami yang benar itu adalah benar, lalu bimbinglah kami untuk mengikutinya, dan perlihatkanlah kepada kami yang salah ltu adalah salah, dan kemudian bimbinglah kami untuk menghindarinya. Janganlah dijadikan yang benar dan salah itu samar-samar bagi kami, yang akan menyebabkan kami sesat. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang takwa. (HR Bukhari dan Muslim)

– تم بحمد الله-

 


[1] Misalnya sebuah berita kebakaran diriwayatkan oleh 10 orang, sepuluh orang tadi meriwayatkan dari 10 orang lagi atau lebih, begitu seterusnya hingga sampai kesumber berita pertama yang juga berjumlah sepuluh orang atau lebih.

[2] Tafsir Ibnu Katsir.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Minhajus-Sunnah An-Nabawiyyah, Ibnu Taimiyyah.

Tagged: , , , , , , , , , , , , , ,

§ 2 Responses to Kaedah Menerima dan Menyampaikan Berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kaedah Menerima dan Menyampaikan Berita at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: