Islam dan Iman

July 17, 2012 § Leave a comment

Islam

Islam adalah agama yang diridlai Allah Swt mulai dari Adam hingga sekarang, setiap Nabi diutus dengan membawa agama ini;

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah Swt hanyalah Islam. (Ali Imron 19)

Allah Swt swt tidak akan mau menerima siapapun yg beragama selain agama Islam;

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imron 85)

Allah Swt saw telah memerintahkan untuk berpegang teguh pada agama Islam sampai ujung hayat;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang berIman, bertakwalah kepada Allah Swt dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imron 102)

Syariat Islam yg diturunkan kepada kita melalui Nabi besar Muhammad saw adalah syariat yg sempurna, bersih dari segala aib dan kekurangan, mencakup pada seluruh aspek kehidupan manusia dan sesuai dengan segala perkembangan zaman.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepAdamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al-Maidah 3)

Sesuatu yg sempurna tidak butuh pengurangan maupun penambahan. Dan segala sesuatu yg bertentangan dengan Islam adalah kesesatan.

 فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaImanakah kamu dipalingkan. (Yunus 33)

maka wajiblah bagi kita untuk mengetahui apa itu Islam sebenarnya sehingga kita selamat dunia dan akhirat kita, dan meninggal dengan tetap dalam keadaan seorang muslim.

Salah Kaprah Pengertian Islam

Kebanyakan masyarakat kita ternyata masih banyak yang tidak mengerti tentang pengertian Islam yang benar, hal ini bisa berbahaya karena dengan begitu bisa dengan mudah diombang-ambing oleh syubhatnya kaum liberal dan plural. Diantara omongan mereka adalah bahwa semua agama itu benar, dan bahwasanya Islam yang berarti pasrah itu lebih dari sekedar agama, artinya setiap orang yang berpasrah kepada tuhannya adalah muslim.

Kita juga sering mendengar pengertian yang salah kaprah mengenai Islam, bahwasanya Islam adalah agama yang dibawa Nabi Muhammad. Pengertian ini ada benarnya tapi tidak komprehensif. Lalu bagaImana dengan agama yang dibawa Nabi Ibrahim, Musa, Nabi isa dan lainnya?! Karena itu terkadang kita mendengar bahwa agama yahudi atau nashrani itu mulanya benar, dengan asumsi bahwa para Nabilah yang membawa agama itu. Ini semua adalah pemahaman yang salah karena tidak diutus seorang Rasul Saw kecuali dengan membawa agama Islam.

Karena itu untuk meluruskan pemahaman dan pengertian tentang Islam, ada dua hal perlu kami benahi dengan mengembalikannya kepada Al-Quran dan Hadits, pertama; pengertian tentang Islam, kedua; semua Rasul Saw diutus hanya dengan membawa agama Islam.

1-Pengertian Islam

Selama ini pengertian yang berkembang dalam masyarakat adalah bahwasanya Islam adalah agama yang dibawa Nabi Muhammad, pengertian ini tidak komprehensif (menyeluruh) karena tidak memasukkan agama yang dibawa Nabi-Nabi yang lain yang juga merupakan agama Islam. Dan celakanya pengertian seperti ini menimbulkan pemahaman yang salah seperti yang kami utarakan sebelumnya.

Nah pengertian yang benar dan enak tentang Islam sebenarnya cukup sederhana yaitu “mengikuti Rasul Saw” ya Islam adalah mengikuti Rasul Saw. Hal ini seperti yang diungkapkan Ibn Katsir dalam tafsirnya;

وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم،

Islam adalah mengikuti Rusul dalam apa-apa yg Allah Swt mengutus mereka dengannya pada setiap masa (dimana Rusul diutus), sampai pada akhirnya Allah Swt mengutus Nabi Muhammad Saw sebagai pemungkas para Nabi. (dimana syariat yg dibawanya adalah syariat penutup yg menghapus syariat Nabi-Nabi yg telah lalu)[1]

Pengertian ini berdasarkan ayat:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

Katakanlah: “Ta’atilah Allah Swt dan Rasul Saw-Nya; maka jika mereka berpaling, maka sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai orang-orang kafir” (Ali imron 32)

Dengan kata lain; barang siapa yg mau mengikuti Rusul ia adalah muslim dan barang siapa yg tidak mau mengikuti Rasul Saw ia adalah kafir.

Jadi ketika Allah Swt mengutus Nabi Musa kepada bani Israel, maka bani Israel wajib mengikuti Nabi Musa, orang yang mengikutinya adalah muslim dan orang yang tidak mengikutinya adalah kafir, begitu pula ketika Nabi isa diutus, sampai akhirnya Allah Swt mengutus Nabi Muhammad kepada seluruh manusia, karena itu seluruh manusia wajib mengikutinya dan yang tidak mengikutinya disebut kafir.

Dan dengan begitu batallah ucapan orang yang mengatakan setiap orang yang telah berpasrah kepada tuhannya adalah muslim, walaupun agamanya nasrani, yahudi, budha, dsb. Karena bagaImana mungkin mereka disebut berpasrah atau tunduk kepada Allah Swt jika mereka tidak mau mengikuti Rasul Saw terakhir yang diutusnya kepada seluruh manusia?! Padahal Allah Swt berfirman;

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barang siapa mentaati Rasul Saw, maka sungguh ia telah mentaati Allah Swt” (An-Nisa 80)

Apa bisa dibenarkan orang yang mengaku berpasrah atau tunduk kepada Allah Swt tapi tidak mau mentaatiNya?!

2- Setiap Rasul diutus hanya dengan membawa agama Islam

Akibat dari pengertian yang salah diatas adalah timbulnya pemahaman yang salah bahwa agama Kristen maupun yahudi mulanya adalah agama yang benar, dengan asumsi bahwasanya Nabi Isa itu diutus dengan membawa agama Kristen, begitu pula Nabi Musa, diutus dengan membawa agama yahudi.

Pemahaman seperti ini jelas salah dan berbahaya, karena dengan demikian kita telah menisbatkan kebohongan kepada Nabi Isa dan Nabi Musa. Allah Swt telah menegaskan bahwa agama yang diridloinya itu cuma satu yaitu Islam, jadi bagaImana mungkin Ia mengutus para Rasul Saw dengan membawa agama selain Islam?!

Allah Swt berfirman;

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah Swt hanyalah Islam. (Ali Imron 19)

Begitu juga Allah Swt tidak akan mau menerima siapapun yg beragama selain agama Islam,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imron 85)

Apakah masuk akal Allah Swt mengutus Rasul mengajak kepada agama selain Islam sedang Allah Swt tidak mau menerima orang yang beragama selain Islam?!

Rasul Saw saw bersabda:

الانبياء اخوة من علات وامهاتهم شتى ودينهم واحد

Para Nabi itu bersaudara keturunan satu ayah, sedang ibu mereka berbeda-beda, dan agama mereka satu. (HR Ahmad)

Simaklah ucapan Nabi ibrahim dan Nabi Ya’kub kepada putranya:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Swt telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (Al-Baqoroh 132)

Begitu juga ucapan Nabi Musa kepada kaumnya;

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ

Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu berIman kepada Allah Swt, maka bertawakkAllah Swt kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang-orang muslim” (Yunus 83)

Lihat pula ucapan Hawaary Nabi Isa, kepada beliau;

قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Para Hawaary berkata “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah Swt, kami berIman kepada Allah Swt; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah kaum muslimin” (Ali imron 51)

Semua hal tadi menunjukkan kalau nama “Islam” sudah digunakan sejak lama, semenjak Nabi Ibrahim bahkan semenjak Nabi Nuh, karena beliaulah Rasul Saw yang pertama.[2]

Iman

Ketahuilah bahwasanya Iman dan amal sholeh adalah kunci hidup bahagia di dunia dan akhirat, Allah Swt berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan berIman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (An-Nahl 97)

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

barangsiapa berIman kepada Allah Swt dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah Swt akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya (Ath-Thalaq 11)

Sedang orang yang tidak beriman maka amalnya tidak berguna dan diakhirat menjadi orang yang rugi.

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa yang kafir dengan Iman (perkara yang wajib diImani) maka hapuslah amalannya dan ia di hari Kiamat termasuk orang-orang merugi. (Al-Maidah 5)

Pengertian Iman

Iman secara bahasa berarti percaya;

وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ

Allah Swt berfirman : “kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar” (Yusuf 17)

Sedang secara Syara’ Iman  adalah percaya dengan hati, yakni dengan I’tiqad, dengan lisan dengan Ikrar (Syahadat), dan beramal. Beramal disini mencakup melaksanakan kewajiban, atau meninggalkan larangan.

Adapun yg menunjukkan bahwa Iman itu percaya dengan hati adalah firman Allah Swt;

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آَمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ

Hari Rasul Saw, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman

Sampai dengan firman Allah Swt;

أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah Swt tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (Al-Maidah 41)

Sedang yg menujukkan bahwa Iman adalah berikrar dengan lisan adalah firman Allah Swt;

قُولُوا آَمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah Swt dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya (Al-Baqoroh 136)

Dan sabda Rasul Saw;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَإِذَا قَالُوهَا مَنَعُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Aku diperintah untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan “Tiada tuhan selain Allah Swt dan seseunggunya aku adalah utusan Allah Swt”, maka jika mereka mengucapkannya, berarti mereka telah menjaga darah dan harta mereka kecuali dengan haknya sedang hisabnya atas Allah Swt. (HR. Tirmidzi)

Sedang yg menunjukkan bahwa Iman adalah beramal adalah;

جاء رجل إلى أبي ذر فسأله عن الإيمان، فقرأ: {ليس البر أن تولوا وجوهكم قبل المشرق والمغرب ولكن البر من آمن بالله} تلا إلى قوله: {أولئك الذين صدقوا وأولئك هم المتقون} فقال الرجل: ليس عن البر سألتك. قال أبو ذر: جاء رجل إلى النبي – صلى الله عليه وسلم – فسأله عن الذي سألتني عنه، فقرأ عليه النبي – صلى الله عليه وسلم – كما قرأت عليك، فقال له الذي قلت لي. فلما أبى أن يرضى قال له: ادن. فدنا، قال: إن المؤمن إذا عمل الحسنة سرته ورجا ثوابها، وإذا عمل السيئة ساءته وخاف عقابها

Seorang laki-laki datang kepada Abu Dzar dan bertanya kepadanya tentang Iman, maka beliau membaca ayat :

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah Swt, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-Nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (Imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqoroh 177)

Maka laki-laki tadi berkata : bukan kebajikan yg aku tanyakan kepadamu. Abu dzar berkata : seorang laki-laki datang kepada Nabi saw, dan bertanya kepadanya tentang sesuatu yg kamu tanyakan kepadku, maka Nabi saw membacakan padanya (ayat) sebagaImana aku membacakan kepadamu, maka ia berkata sma dengan apa yg kamu katakan kepadaku. Maka ketika ia mulai menolak untuk ridlo (dengan jawaban Nabi), Nabi berkata kepadanya :‘mendekatlah”. maka ia pun mendekat, Nabi berkata : seorang mukmin ketika beramal kebaikan, maka kebaikan itu menyenangkannya, dan mengharap pahalanya, dan ketika beramal kejelekan, kejelekan itu tidak mengenakkannya dan takut akan akibatnya. (Diriwayatkan oleh Ishak bin Rahawaih dalam musnadnya)[3]

Perhatikan bagaImana Iman itu dijawab oleh Rasul Saw dan sahabat Abu Dzar dengan “kebajikan” dImana kebajikan itu, sebagai mana dalam ayat diatas, mencakup “beriman kepada Allah Swt, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-Nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Hal ini menunjukkan bahwa Iman itu mencakup amal.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw, beliau bersabda,

الإيمان بضع وستون- أو بضع وسبعون – شعبة؛ أفضلها لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان

“Iman itu ada 60 lebih (atau 70 sekian) cabang. Iman yang paling utama adalah [ucapan] Laa ilaaha illAllah Swt dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, sedangkan malu termasuk cabang dari Iman.” (Muttafaq Alaih)

Maka, Seolah-olah Iman itu adalah sebuah pohon akarnya adalah percaya dengan hati, batangnya adalah pernyataan tiada tuhan selain Allah Swt, sedang cabang-cabangnya adalah amal. Karena itu Iman dapat bertambah dan berkurang, yakni bertambah dengan bertambah nya amal dan berkurang dengan berkurangnya amal.

Allah Swt berfirman :

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Tidakkah kamu perhatikan bagaImana Allah Swt telah membuat perumpamaan kalimat yang baikseperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (Ibrahim 24)

Yang dimaksud Kalimah Thoyyibah (yang baik) adalah kalimat laa ilaa ha illallaah.

Untuk lebih jelasnya kami ambilkan contoh: bahwasanya seseorang biarpun sudah meyakini dengan hati, berikrar dengan lisan namun orang itu melakukan perkara yg membuatnya keluar dari agama, maka orang tersebut tidak bisa dikatakan mukmin. Ia harus meyakini dengan hati, berikrar dengan lisan dan meninggalkan hal yg membuat keluar dari agama islam untuk menjadi mukmin. Dan telah kami sebutkan bahwa meninggalkan perbuatan adalah termasuk beramal.

Hadits Jibril tentang Islam dan Iman
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Umar bin Khaththab RadhiyAllah Swtu anhu ia berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasul Sawulah ShallAllah Swtu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasul Sawullah ShallAllah Swtu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Swt, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Saw Allah Swt; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah Swt; malaikatNya; kitab-kitabNya; para Rasul SawNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah Swt yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi ShallAllah Swtu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah Swt seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”
Aku menjawab,”Allah Swt dan Rasul SawNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” (HR Muslim)]

Hadits ini tidak menunjukkan Islam terpisah dari Iman, akan tetapi menunjukkan pembagian tingkatan keislaman seseorang. Ini karena Islam itu sendiri sudah mencakup ajaran tentang Iman maupun Ihsan. Sedang Iman juga sudah mencakup Islam karena Iman itu batal tanpa adanya amal.

Maka tingkatan keislaman seseorang itu yang pertama adalah Islam itu sendiri;
Yaitu dengan; membaca syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa ramadlan, berhaji ke Baitullah. Orang yang melaksanakan ini disebut Muslim walau hatinya tidak ada Iman sama sekali.

Yang kedua adalah Iman, yakni beriman kepada Allah Swt, iman kepada malaikatnya, iman kepada kitab-kitabnya, iman kepada Rasul Sawnya, iman kepada hari qiyamat, iman kepada qodlo’ dan qodar. Orang-orang yang benar-benar beriman kepada enam perkara ini, akan tampak pada mereka ketekunan mereka dalam beribadah dan keengganan mereka dalam bermaksiat kepadaNya.

Adapun Ihsan, maka ia adalah membaguskan tingkah laku kita dihadapan Allah Swt yang maha melihat lagi maha mengetahui. Dari itu Rasul Saw Saw bersabda “Beribadah kepada Allah Swt seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Orang yang sampai pada tingkatan ini akan tampak padanya kehalusan dan keindahan tingkah lakunya, mereka menjauh dari perkara makruh seperti halnya menjauh dari perkara haram karena merasakan bahwa Allah melihat tingkah laku perbuatannya.

Dari sini dapat dipetik kesimpulan; setiap mukmin adalah muslim akan tetapi tidak setiap muslim adalah mukmin. Setiap yang tidak mukmin bukan berarti tidak muslim dan setiap yang tidak muslim pasti tidak mukmin dikarenakan Iman syaratnya adalah amal.


Rukun Islam

Dari Hadits Jibril inilah para Ulama’ menyatakan Rukun Islam ada lima dan Rukun Iman ada enam.
Adapun Rukun Islam;

Yg pertama; adalah bersyahadat yakni menyatakan bahwa tiada tuhan yg berhak disembah selain Allah Swt dan Muhammad adalah utusan Allah Swt, dengan membaca syahadat maka berlakulah hukum-hukum Islam padanya, dan tetaplah padanya hak-hak sebagai seorang muslim, seperti dijenguk ketika sakit, diucapkan padanya salam, wajib dimandikan dan disholati jenazahnya dsb.

Dengan mengucapkan syahadat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, seseorang akan terpelihara darah dan hartanya kecuali dengan hak.

عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام وحسابهم على الله

Dari Ibnu Umar semoga Allah Swt meridhoi keduanya, Rasul Sawullah shalAllah Swtu ‘alaihi wa sallam berkata: “ Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah melainkan Allah Swt dan Muhammad Utusan Allah Swt, menegakkan sholat, menunaikan zakat jika mereka melakukan hal yang demikian maka terjagalah dariku akan darah dan harta mereka kecuali dengan haq Islam dan perhitungannya terserah Allah Swt.” (muttafaqun ‘alaihi)

Adapun orang yg membaca syahadat cuma dilisannya saja maka ia dihukumi muslim dari segi dzahir dan berlaku padanya hukum-hukum Islam namun secara hakikat ia adalah kafir, itulah yg dinamakan orang munafik.

Yang kedua;Shalat, ia adalah kewajiban yg sangat penting bagi seorang muslim, Rasul Saw bersabda;

 العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة، فمن تركها فقد كفر

Perjanjian antara kita dan mereka (orang kafir) adalah shalat, barang siapa meninggalkannya maka ia telah kafir. (HR. Ahmad)

Karena itulah sebagian Ulama’’ mengkafirkan orang yg meninggalkan sholat dengan sengaja secara mutlak yakni dengan tanpa memandang apakah ia meniggalkannya karena malasatau karena ingkar terhadap kewajibannya.

Allah Swt telah memerintahkan kepada kita untuk sholat dalam situasi apapun sebisa mungkin

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ، فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[152]. Berdirilah untuk Allah Swt (dalam shalatmu) dengan khusyu’. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah Swt (shalatlah), sebagaimana Allah Swt telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Al-Baqarah 238)

Shalat juga menjadi tolok ukur amal perbuatan seseorang seperti yg Nabi Saw katakan;

أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة فإن صلحت صلح سائر عمله، وإن فسدت فسد سائر عمله

Permulaan perkara yg seorang hamba dihisab atasnya pada hari qiyamat adlah shalat, maka jika shalatnya baik, baik pula seluruh amalnya, dan jika shalatnya jelek, jelek pula seluruh amalnya. (HR. Thabrani)

Orang yg menjaga shalat dan melaksanakannya dengan khusyuk sungguh telah mendapat keberuntungan dan terbebas dari penyakit keluh-kesah dan kikir;

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya. (Al-Mukminun 1-2)

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا، إِلَّا الْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. (Al-Ma’arij 19-22)

Sedangkan orang yg lalai dari sholat akan mendapat kecelakaan dan kebinasaan;

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (Al-Maa’un 3-5)

عن عبد الله بن عمرو عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أنه ذكر الصلاة يوما فقال : من حافظ عليها كانت له نورا وبرهانا ونجاة يوم القيامة ومن لم يحافظ عليها لم يكن له برهان ولا نور ولا نجاة وكان يوم القيامة مع قارون و هامان و فرعون و أبي بن خلف

Dari Abdullah ibn Umar Ra; Rasul Saw pada suatu ketika menuturkan tentang sholat, beliau berkata “Siapa yang menjaganya, ia akan memperoleh cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari Kiamat. Dan siapa yang tidak menjaganya, ia tidak akan punya cahaya, petunjuk, dan tidak selamat. Dan kelak pada hari Kiamat ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Hamman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad)

Shalat mempunyai dua fungsi utama yaitu sebagai sarana untuk berdzikir kepada Allah Swt dan untuk menyucikan diri, dan satu fungsi tambahan yaitu; sebagai wasilah untuk minta tolong kepada Allah.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Dirikanlah sholat untuk berdzikir padaku. (Thaha 14)

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabut 45)

Kesemuanya terkumpul jadi satu dalam firman Allah Swt

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى , وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

Sesungguhnya beruntunglah orang yang (hendak) membersihkan diri, dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. (Al-A’la 14-15)

Sedang fungsi tambahan shalat yakni sebagai wasilah untuk minta tolong kepada Allah;

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Mintalah pertolongan kepada Allah dg sabar & sholat. Dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (Al-Baqarah 45)
Sahabat Ibn Abbas ketika diberitahukan padanya perihal kematian putranya beliau langsung shalat (sunnah) dan setelah selesai beliau berkata “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un” lalu membaca ayat di atas.

Walaupun begitu tidak berarti fungsi ini hanya dilaksanakan pada waktu tertimpa musibah saja, namun juga ketika anda mempunyai hajat atau kepentingan. Karena itu Rasulullah mengajarkan kepada kita apa yang oleh para Ulama’ disebut shalat hajat.[4]

Yang ketiga; menunaikan zakat. Zakat adalah nama bagi apa yg manusia keluarkan berupa hak Allah Swt kepada para fuqoro’. Allah Swt berfirman;

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Allah Swt telah menjadikan perbuatan menunaikan kewajiban zakat termasuk salah satu sifat orang yg bertakwa. (At-Taubah 103)

Menunaikan Zakat adalah tanda orang bertakwa;

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah Swt, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-Nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (Imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqoroh 177)

Dimana orang-orang yg bertakwa telah Allah Swt persiapkan baginya surga;

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (Ali Imron 133)

Sedang orang yg tidak mau menunaikan zakat baginya siksa yg teramat pedih;

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah Swt berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari Kiamat. (Ali Imron 180)

Rasul Saw bersabda

من آتاه الله مالا فلم يؤد زكاته مثل له ماله شجاعا أقرع له زبيبتان يطوقه يوم القيامة يأخذ بلهزمتيه – يعني بشدقيه – يقول أنا مالك أنا كنزك ) . ثم تلا هذه الآية { ولا يحسبن الذين يبخلون بما آتاهم الله من فضله } . إلى آخر الآية

Barang siapa yg Allah Swt beri harta, kemudian ia tidak memberikan zakatnya, maka dirupakan hartanya baginya berupa ular yg gundul yg mempunyai dua titik hitam dikepalanya, ia membelit lehernya pada hari Kiamat, ia menggigit dengan kedua mulutnya, berkata aku hartamu aku simpananmu. Kemudian Nabi membaca ayat;

 “ولا يحسبن الذين يبخلون بما آتاهم الله من فضله”

sampai dengan akhirnya. (HR. Bukhari)

Yang keempat; berpuasa dibulan Ramadlan. Berpuasa adalah menahan dari perkara-perkara yg membatalkannya dimulai dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari disertai niat

Puasa ramadlan hukumnya wajib, Allah Swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah 183)

Puasa adalah ibadah yg mempunyai keutamaan besar Rasul Saw bersabda;

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata,’Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’. Dan Al-Qur’an pula berkata,’Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Beliau bersabda, ‘Maka syafaat keduanya diperkenankan.’” (HR. Ahmad)

Abu Umamah menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

بينا أنا نائم إذ أتاني رجلان ، فأخذا بضبعي، فأتيا بي جبلا وعرا ، فقالا : اصعد ، فقلت : إني لا أطيقه ، فقالا : إنا سنسهله لك ، فصعدت حتى إذا كنت في سواء الجبل إذا بأصوات شديدة ، قلت : ما هذه الأصوات ؟ قالوا : هذا عواء أهل النار ، ثم انطلق بي ، فإذا أنا بقوم معلقين بعراقيبهم ، مشققة أشداقهم ، تسيل أشداقهم دما قال : قلت : من هؤلاء ؟ قال : هؤلاء الذين يفطرون قبل تحلة صومهم

”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata, ”Naiklah”. Lalu kukatakan, ”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.”

Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Rasul Saw bersabda;

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ ، مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ ، وَإِنْ صَامَهُ

“Barangsiapa berbuka di siang hari bulan Ramadhan tanpa ada udzur (alasan) dan bukan pula karena sakit, maka perbuatan semacam ini tidak bisa digantikan dengan puasa setahun penuh jika dia memang mampu melakukannya.” (HR. Abu Dawud)

Imam Adz-Dzahabi berkata :

وعند المؤمنين مقرر: أن من ترك صوم رمضان بلا مرض، أنه شر من الزاني، ومدمن الخمر، بل يشكون في إسلامه، ويظنون به الزندقة، والانحلال

“Bagi Kaum Mukminin terdapat ketetapan bahwa barang siapa saja yang sengaja tidak berpuasa Ramadhan, bukan karena sakit (atau udzur lainnya), maka dosa yang dilakukan lebih jelek dari dosa berzina, lebih jelek dari dosa menegak minuman keras, bahkan orang seperti ini diragukan keislamannya dan disangka sebagai orang-orang Zindiq dan penganut ajaran Hulul.”[5]

Yang kelima; berhaji ke Baitullah bagi yg mampu. Haji yaitu menghendaki makkah untuk melaksanakan ibadah thowaf, sa’i, wukuf di arafah, dan ibadah-ibadah yg lain untuk memenuhi perintah Allah Swt dan mencari ridlonya

Allah Swt berfirman

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah Swt, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.  Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Swt Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali Imron 97)

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

Dan sempurnakanlah haji dan umrah untuk Allah Swt. (Al-Baqarah 196)

Ibadah haji mempunyai keutamaan yg sangat besar, Rasul Saw bersabda;

مَنْ حَجَّ ، فَلَمْ يَرْفُثْ ، وَلَمْ يَفْسُقْ ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أمُّهُ

“Barangsiapa yang melaksanakan haji lalu ia tidak rafats (mengeluarkan perkataan yang menimbulkan berahi yang tidak senonoh atau bersetubuh) dan tidak berbuat fasiq, maka ia kembali seperti saat dilahirkan ibunya (tidak punya dosa) (HR. Bukhari-Muslim)

العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَينَهُمَا ، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الجَنَّةَ

“Satu umrah keumrah lain adalah panghapus (dosa-dosa) antara keduanya, sedangkan haji yang mabrur tiada balasan lain, melainkan surga. (HR. Bukhari)

Orang yang mampu berhaji, tapi tidak mau melaksanakan, dikawatirkan mati yahudi atau nashrani. Rasulullah Saw bersabda;

مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً وَلَمْ يَحُجَّ بَيْتَ اللهِ، فَلا يَضُرُّهُ مَاتَ يَهُودِيّا أوْ نَصْرانِيّا، ذَلِكَ بِأنَّ اللهَ قَالَ: { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ } .

Barang siapa yang telah memiliki bekal dan kendaraan (alat-alat pengangkutan) yang bisa mendatangkannya ke Baitullah dan tidak mau berhaji, maka wajib baginya  mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani. Dan demikian itulah hukum wajibnya haji, sebab sesungguhnya Allah telah berfirman dalam Al Qur’an (surat Ali Imran/3 : 97) yang artinya : Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (HR. Tirmidzi)

Hadits ini dhoif tapi dikuatkan oleh ucapan sahabat Umar dengan sanad yg Shahih seperti yang dikatakan Ibnu Katsir bahwasanya beliau berkata :

من أطاق الحج فلم يحج، فسواء عليه يهوديا مات أو نصرانيا

Barang siapa mampu berhaji kemudian tidak berhaji, maka sama saja atasnya mati yahudi atau dalam keadaan mati nasrani.[6]

عن الحسن البصري قال: قال عمر بن الخطاب: لقد هممت أن أبعث رجالا إلى هذه الأمصار فينظروا كل من كان له جَدةٌ فلم  يحج، فيضربوا عليهم الجِزْية، ما هم بمسلمين! ما هم بمسلمين!

Dari Hasan Al-Basri, Umar bin Khattab Ra berkata : Aku berkeinginan untuk mengutus beberapa orang menuju ke wilayah-wilayah ini agar meneliti siapa yang memiliki kecukupan harta namun tidak menunaikan haji supaya diwajibkan atas mereka membayar pajak, mereka bukanlah orang Islam! Mereka bukanlah orang Islam![7]

Kelima hal tadi merupakan pokok-pokok kewajiban yg merupakan asas dalam Islam dan barang siapa melakukan semuanya, maka Islamnya telah sempurna.

Namun perlu diketahui bahwa Islam tidak hanya terbatas pada lima hal tersebut, namun Islam menyangkut semua peraturan dan hukum-hukum yg terkandung dalam Al-Quran dan Hadits, termasuk juga iman dan ihsan. Hal ini seperti yg ditunjukkan oleh Hadits;

عَنْ أَبِي مُوسَى ، قَالَ : قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الإِسْلامِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ : مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Dari Abu Musa Ra, ia berkata, mereka (para sahabat) bertanya, “Ya Rasulullah, Islam (seperti) apa yang paling afdhal (paling utama)? Beliau Saw menjawab, “Yaitu orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dan aman dari (gangguan) lisan dan tangannya” (HR. Bukhari)

عَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ،عَنْ أبيه، أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، مَا أَتَيْتُكَ حَتَّى حَلَفْتُ عَدَدَ أَصَابِعِي هَذِهِ أَنْ لا آتِيَكَ، فَمَا الَّذِي بَعَثَكَ بِهِ؟ قَالَ: ” الإِسْلامُ “، قَالَ: وَمَا الإِسْلامُ؟، قَالَ: ” أَنْ تُسْلِمَ قَلْبَكَ لِلَّهِ، وَأَنْ تُوَجِّهَ وَجْهَكَ لِلَّهِ، وَأَنْ تُصَلِّيَ الصَّلاةَ الْمَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ، أَخَوَانِ نَصِيرَانِ، لا يَقَبْلُ الِلَّهِ مِنْ عَبْدٍ تَوْبَةً أَشْرَكَ بَعْدَ إِسْلامِهِ

Dari  Hakim bin Muawiyah dari Ayahnya (Muawiyah) bahwasanya ia berkata; Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku berkata; “Demi Dzat yang mengutusmu dengan Haq, Tidaklah aku datang kepadamu kecuali aku telah bersumpah dengan beberapa jariku ini bahwa aku tidak akan datang kepadamu  -‘Affan memperlihatkan dan menengadahkan telapaknya-,  Demi Dzat yang mengutusmu dengan Haq, dengan apakah kamu di utus?.” Beliau menjawab: “Dengan Islam.” kepada Rasul Saw tentang Islam, maka beliau menjawab “ yaitu hatimu tunduk kepada Allah Swt dan hanya menghadapkan wajahmu kepada Allah Swt, dan engkau mendirikankan shalat maktubah, dan menunaikan zakat yg difardlukan. Shalat dan Zakat adalah dua saudara yan saling tolong menolong. Allah tidak akan menerima taubat seorang hamba yang musyrik setelah keislamannya ”. (HR. Ibnu Hibban)


عَنْ عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا اْلإِسْلاَمُ ؟ قَالَ أَنْ يَسْلِمُ قَلْبُكَ وَأَنْ يَسْلِمَ اْلمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِكَ وَيَدِكَ قَالَ فَأَيُّ اْلإِسْلاَمِ أَفْضَلُ؟قَالَ: اَلإِْ يْمَانُ قَالَ :وَمَااْلإِ يْمَانُ؟ قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ قَالَ فَأَيُّ اْلإِيْمَانِ أَفْضَلُ؟ قَالَ اَلْهِجْرَةُ قَالَ وَمَا الْهِجْرَةُ؟ قَالَ أَن ْتَهْجَرَ السُّوْءَ قَالَ فَأَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ اَلْجِهَادُ قَالَ وَمَا الْجِهَادُ؟ قَالَ أَنْ تُقَاتِلَ الْكُفَّارَ إِذَا لَقِيْتَهُمْ قَالَ فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ؟ قَالَ مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ وَأُهْرِيْقَ دَمُهُ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثُمَّ عَمَلاَنِ هُمَا أَفْضَلُ اْلأَ عْمَالِ إِلاَّ مَنْ عَمِلَ بِمِثْلِهَا: حَجَّةٌ مَبْرُوْرَةٌ أَوْعُمْرَةٌ.

Dari Amru bin Abasah ra. beliau berkata,” Ada orang bertanya kepada Rosululloh,”Wahai Rosululloh, apakah Islam itu ?” Beliau menjawab,” Hatimu merasa aman, dan juga orang-orang muslim merasa aman dari gangguan lidah dan tanganmu.” Orang tersebut bertanya,”Lalu Islam bagaimanakah yang paling utama?’ Beliau menjawab,”Iman.” Orang tersebut bertanya lagi,” Apakah iman itu?” Beliau menjawab,” Kamu beriman kepada Alloh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rosul-rosul-Nya dan kebangkitan setelah mati.” Orang tersebut bertanya lagi,”Lalu iman bagaimanakah yang paling utama itu?” Beliau menjawab,”‘Hijroh.” Orang tersebut bertanya lagi,” Apakah hijroh itu?” Beliau menjawab,”Engkau meninggalkan amalan jelek.” Orang tersebut bertanya lagi,”Lalu hijroh bagaimanakah yang paling utama itu?” Beliau menjawab,” Jihad.” Orang tersebut bertanya lagi,”Apakah jihad itu?” Beliau menjawab,” Engkau memerangi orang kafir jika kamu bertemu mereka.” Orang tersebut bertanya lagi,” Lalu bagaimanakah jihad yang paling utama itu?” Beliau menjawab,” Siapa saja yang terluka kudanya dan tertumpah darahnya”, Rosulullah Shollallahu ‘Alahi wasallam berkata: kemudian dua amalan yang merupakan amalan yang paling utama kecuali barang siapa yang bisa beramal yang menyerupainya ; haji mabrur dan ‘umroh. (HR. Ahmad)

Karena itulah Allah Swt menafikan Iman dari orang yg tidak ridlo kepada hukum Rasul Nya :

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيماً

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (An-Nisa’ 65)

Itulah makna Islam yg sesungguhnya, Allah Swt berfirman;

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Akan tetapi barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah Swt, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al-Baqarah 112)

Maka hendaklah kita menjalankan Islam dengan sepenuhnya dalam setiap lini kehidupan kita seperti yg Allah Swt perintahkan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah 208)

Rukun Iman

Adapun Rukun Iman ialah;

Yang pertama; Iman kepada Allah. Wajib bagi mukallaf beri’tikad dengan pasti, tidak tercampur dengan keraguan akan wujudnya Allah tuhan yang Esa, yang menciptakan dan mengatur alam semesta, tidak mempunyai anak dan tidak diperanakkan, tidak ada yang setara, semisal dan serupa dengannya dan ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (As-Syuro 11)

Ia Maha sempurna, suci dari segala kekurangan dan kecelakaan, zaman tidak berlalu padaNya dan Ia tidak dapat diliputi oleh tempat. Dialah Awal tanpa permulaan, yang Akhir tanpa ujung.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin[1452]; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadid 3)

Dialah yang mengetahui segala sesuatu, entah yang  ada, yang tidak ada, atau yang akan ada, entah yang mungkin atau yang tidak mungkin. MilikNya lah langit dan bumi beserta segala isinya, dan Ia  berkuasa atas segala sesuatu.

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Jika kamu Menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui”. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imron 29)

Ia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, mengampuni siapa Ia kehendaki dan mengadzab siap yang Ia kehendaki.

يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imron 29)

Ia Maha Kaya, tidak butuh kepada makhluknya. Maha Adil dan Bijaksana, melakukan apa yang ia kehendaki dan tidak seorang pun berhak untuk menanyai.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. (Al-Anbiya’ 23)

Hanya kepadaNya lah kita menyembah, meminta pertolongan dan hanya kepadaNya lah kita bersandar.

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Allah tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja. (At-Thaghabun 11)

Segala sesuatu di langit maupun bumi bertasbih memuji keagunganNya.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

 هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Hasyr 22-24)

Dan wajib beriman terhadap sifat-sifat Allah, maupun perbuatan Allah yang tercantum dalam ayat-ayat Al-Quran maupun Hadits yang oleh Ulama’ dikategorikan perkara Mutasyabihat, yang tidak seorang pun mengetahui ta’wilannya kecuali Allah.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imron 7)

Imam Hasan Al Banna, berkata;

ومعرفة الله تبارك وتعالى وتوحيده وتنزيهه أسمى عقائد الإسلام ، وآيات الصفات وأحاديثها الصحيحة وما يليق بذلك من التشابه , نؤمن بها كما جاءت من غير تأويل ولا تعطيل , ولا نتعرض لما جاء فيها من خلاف بين العلماء, ويسعنا ما وسع رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه (وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا)

Ma’rifah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan mengesakanNya, serta mensucikan zatNya merupakan setinggi-tingginya aqidah Islam. dan Ayat-ayat sifat serta Hadits-Hadits Shahih tentangnya, serta berbagai keterangan mutasyabihat tentangnya, kita mengimaninya sebagaimana datangnya tanpa ta’wil [8] dan tanpa ta’thil (mengingkari), serta tidak mempertajam perselsihan yang terdapat pada ulama, kita telah cukupkan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam dan sahabatnya telah mencukupkan,  (yaitu firman Allah) “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami” (Ali Imron 7).[9]

Al Khallal berkata: telah mengabarkanku Ali bin ‘Isa bahwa Hambal berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hambal) tentang Hadits yang meriwayatkan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia, Allah melihat, Allah meletakkan kakiNya,[10] dan Hadits-Hadits semisalnya?

Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu menjawab:

نؤمن بها ونصدق بها، ولا نَرُدُّ منها شيئاً، ونعلم أن ما جاء به رسول الله صلى الله عليه وسلم حق إذا كانت أسانيد صحاح، ولا نرد على الله قوله، ولا يوصف بأكثر مما وصف به نفسه بلا حد ولا غاية ” لَيْسَ كَمِثْلِهِ شيءٌ وَهُوَ السّمِيع البَصيرُ

“Kami mengimaninya dan membenarkannya, kami tidak membantahnya sama sekali, dan kami mengetahui bahwa apa-apa yang datang dari RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah benarjika sanadnya Shahih, dan kami tidaklah membantah firmanNya, dan kami tidaklah mensifatiNya lebih banyak dari Dia sifatkan terhadap diriNya, dengan tanpa batas, dan tanpa ujung. “Tidak ada yang serupa denganNya, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.”[11]

Imam Tirmidzi berkata;

وَقَدْ رُوِيَ عَن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِوَايَاتٌ كَثِيرَةٌ مِثْلُ هَذَا مَا يُذْكَرُ فِيهِ أَمْرُ الرُّؤْيَةِ أَنَّ النَّاسَ يَرَوْنَ رَبَّهُمْ وَذِكْرُ الْقَدَمِ وَمَا أَشْبَهَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ وَالْمَذْهَبُ فِي هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ الْأَئِمَّةِ مِثْلِ اليِّ وَمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ وَابْنِ وَابْنِ عُيَيْنَةَ وَ وَغَيْرِهِمْ أَنَّهُمْ رَوَوْا هَذِهِ الْأَشْيَاءَ ثُمَّ قَالُوا تُرْوَى هَذِهِ الْأَحَادِيثُ وَنُؤْمِنُ بِهَا وَلَا يُقَالُ كَيْفَ وَهَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ أَهْلُ الْحَدِيثِ أَنْ تُرْوَى هَذِهِ الْأَشْيَاءُ كَمَا جَاءَتْ وَيُؤْمَنُ بِهَا وَلَا تُفَسَّرُ وَلَا تُتَوَهَّمُ وَلَا يُقَالُ كَيْفَ وَهَذَا أَمْرُ أَهْلِ الْعِلْمِ الَّذِي اخْتَارُوهُ وَذَهَبُوا إِلَيْهِ

Dan banyak sekali riwayat serupa yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang tidak menyebutkan bahwa manusia melihat Rabb mereka, tidak menyebut kedatangkan Rabb dan hal-hal serupa. Madzhab yang benar tentang hal ini menurut ahlul ilmi dari kalangan para imam serperti Sufyan Ats Tsauri, Malik bin Anas, Ibnu Al Mubarak, Ibnu Uyainah, Waki’ dan lainnya bahwa mereka meriwayatkan hal-hal tersebut, kemudian berkata: Hadits-Hadits ini diriwayatkan dan kami mengimaninya, tidak ditanyakan bagaimananya (kaif). Inilah madzhab yang dipilih oleh ahli Hadits; hal-hal itu akan terlihat seperti yang disebutkan dalam Hadits dan seperti yang diimani, tidak ditafsirkan, diduga dan ditanyakan bagaimananya. Inilah pandangan ahlul ilmi yang mereka pilih dan kemukakan.[12]

Yahya ibn Al-Harmalah meriwayatkan;

سمعت مالك بن أنس يقول : من وصف شيئا من ذات الله عز وجل مثل قوله: (وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللهِ مَغْلُولَةٌ) (المائدة:64)  فأشار بيده إلى عنقه , ومثله قوله (وهو السميع البصير)  فأشار إلى عينيه أو أذنه أو شيء من يديه , قطع ذلك منه ، ؛ لأنه شبه الله تعالى بنفسه) , ثم قال مالك : (أما سمعت قول البراء حين حدث أن النبي صلى الله عليه وسلم لا يضحي بأربع من الضحايا و أشار البراء بيده كما أشار النبي صلى الله عليه وسلم , قال البراء : و يدي أقصر من يد رسول الله , فكره البراء أن يصف يد رسول الله إجلالا له و هو مخلوق , فكيف الخالق الذي ليس كمثله شيء ؟

Aku mendengar Imam Malik berkata “Barangsiapa yang mensifati Zat Allah Ta’ala dengan sesuatu, misal firmanNya: “Orang Yahudi berkata tangan Allah terbelenggu” lalu dia mengisyaratkan tangannya ke lehernya, menyilangkan tangannya, dan demikian msalnya kata ‘Mendengar’, ‘Melihat’,  dia mengisyaratkan tangannya ke telinga, mata, atau sebagian dari kedua tangannya, maka ia telah melakukan kesalahan, karena dia telah menyerupakan Allah Ta’ala dengan dirinya.”

Lalu Malik berkata: “Tidakkah kau dengan ucapan Al Barra’ ketika dia berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah berkurban dengan empat kurban, dia mengisyaratkan dengan  tangannya sebagaimana Nabi mengisyaratkan dengan tangannya. Al Barra berkata: Tanganku lebih pendek dari tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka, Al Barra tidak suka menyifati tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai penghormatan terhadapnya, padahal Nabi adalah makhluk. Maka, bagaimana dengan Al Khaliq yang tiada satu pun yang serupa denganNya?”[13]

Yang kedua; Iman kepada Malaikatnya. Malaikat adalah hamba Allah yang diciptakan dari cahaya seperti yg disebutkan dalam Shahih Muslim;

خُلقت الملائكةُ من نور، وخُلق الجانُّ من مارج من نار، وخُلق آدم مِمَّا وُصف لكم

Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan jilatan api, dan adam diciptakan dari apa yg telah diperincikan kepada kamu.(HR. Muslim)

Ia tidak disifati laki-laki maupun perempuan, ia tidak makan, tidak minum, tidak tidur tidak menikah dan tidak berketurunan. Malaikat jumlahnya sangat banyak dan tidak terhitung jumalahnya, Allah berfirman :

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ

Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.(Al-Mudatstsir 31)

عن أبى ذر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أطت السماء وحق لها أن تئط ما منها موضع أربع أصابع إلا وعليه ملك واضع جبهته

Dari Abi Dzar bahwasanya Rasulullah bersabda ; “Langit bersuara berisik, dan memang seharusnya ia berisik, tidak ada tempat dilangit seukuran empat jari kecuali terdapat Malaikat yang meletakkan dahinya (bersujud). (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah, Hakim)

 

Mereka adalah Hamba Allah yang dimuliakan karena tidak pernah mendurhakai Allah atas apa yang Ia perintahkan, dan senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan pada mereka.

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim 11)

Mereka bermacam-macam tugasnya, sebagian ada yang disebutkan namanya, seperti Jibril  sebagai penyampai wahyu, Mika’il sebagai pembagi air, Israfil peniup terompet, Malik penjaga neraka, Munkar dan Nakir yang bertugas menanyai orang mati dalam kubur. Sebagian ada yang disebut tugasnya saja, seperti Malaikat pembawa ‘Arys, Malaikat yang berkeliling di sisi ‘Arsy, Malaikat penghuni langit, Malaikat pencabut nyawa, Malaikat penjaga surga, Malaikat pencatat amal, Malaikat penjaga manusia.[14]

Malaikat mempunyai bentuk yang berbeda-beda, ada yang mempunyai sayap dua, ada yang tiga, ada yang empat,  sesuai dengan yang Allah kehendaki. Mereka diberi kemampuan yang tidak diberikan kepada jin maupun manusia. Mereka mampu berubah wujud seperti manusia, seperti yg terjadi dalam kisah Nabi Luth dan dalam kisah yg disebutkan dalam Hadits Jibril. Mereka mampu selamanya dalam taat Allah dan mampu beribadah terus menerus tanpa henti.

Yang ketiga;Iman kepada kitabnya.Yakni percaya bahwa Allah menurunkan kitab maupun lembaran-lembaran (Shuhuf) kepada para utusannya sebagai petunjuk bagi umat manusia.

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النبيينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بالحق

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar. (Al-Baqarah 213)

Ada yang tidak disebutkan namanya, ada pula yang disebutkan namanya, yaitu Taurat untuk Nabi Musa,[15] Zabur untuk Nabi Dawud,[16] Injil untuk Nabi Isa,[17] dan Al-Quran kitab paling mulia untuk Rasul yang paling utama Muhammad Shallallahu Alaihi Wa’alaihim  Wasallam, yang menjadi pembenar dan penghukum[18] kitab-kitab yang sebelumnya;

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan penghukum terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (Al-Maidah 48)

Maka wajib bagi kita untuk beriman kepada Al-Quran dengan segala isinya, berupa ayat yang telah jelas maknanya (Muhkamat), maupun yang samar (Mutasyabihat), dan beriman akan kitab-kitab dan lembaran-lembaran sebelumnya yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul sebelumnya.

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Al-Baqarah 136)

Imam Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya;

أرشد الله تعالى عباده المؤمنين إلى الإيمان بما أنزل إليهم بواسطة رسوله محمد صلى الله عليه وسلم مفصلا وبما أنزل على الأنبياء المتقدمين مجملا

Allah memberi petunjuk kepada hamba-hambaNya yang beriman agar beriman dengan apa yang Allah turunkan kepada mereka dengan perantara Rasul Muhammad Saw secara terperinci, dan kepada apa-apa yang diturunkan kepada para Nabi secara global.[19]

Beriman secara terperinci yakni beriman kepada setiap kabar  yang Allah ceritakan dalam Al-Quran, yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi, yang dapat dipahami maupun yang tidak dipahami, serta menerima (taslim) dan patuh kepada setiap perintah dan larangan yang Allah canangkan;

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al-Ahzab 36)

Sedang beriman secara global kepada kitab-kitab yang dahulu adalah beriman kepada apa yang ada didalamnya berupa iman pada Allah Swt dan pengesaanNya. Yang demikian karena kitab-kitab yang ada sekarang telah mengalami pemalsuan dan perubahan.

Yang Keempat; Iman kepada RasulNya. Yakni meyakini bahwa Allah Swt mengutus Rasul-Rasulnya karena kasih sayangNya, yg telah diberi wahyu olehNya, kepada manusia disertai dg mukjizat. Percaya kepada apa-apa yang mereka bawa dan mentaati perintah dan larangannya.

Maka barang siapa mengikuti Rasul ia kan selamat, dan barang siapa mendurhakainya ia kan celaka.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُالْعَظِيمُ

Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar. (An-Nisa’ 13)

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An-Nisa’ 14)

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا

Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. (Al-Fath 17)

Rasul adalah Manusia yang Allah beri keistimewaan, mereka terjaga dari bohong, khianat dan segala dosa. Al-Quran telah menyebut Nama-nama Nabi dan Rasul, yaitu; Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud, Sholeh, Ibrahim, Luth, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syu’aib, Musa, Harun, Dzul Kifli, Dawud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakaria, Yahya, ‘Isa, dan Nabi Muhammad alaihimussholatu wassalam.

Setiap laki-laki yang menerima wahyu adalah Nabi, ketika ia diutus kepada kaum yang kafir, maka ia juga disebut Rasul, sedangkan ketika ia tidak diutus, atau diutus tapi kepada kaum yang sudah tunduk dengan syariat dari Rasul sebelumnya maka ia disebut Nabi saja.[20] Dalam sebuah Hadits diebutkan jumlah Rasul 315. Sedang jumlah Nabi mencapai 124 ribu, dan kesemuanya adalah laki-laki;

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (An-Nahl 43)

Dari Sahabat Abu Dzar ia berkata;

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ كُمْ عَدَدُ الأَنْبِيَاءِ؟ قَالَ مِئَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفاً ، الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ ثَلاَثُمِئَةٍ وَخَمْسَةََ عَشَرَ جَمّاً غَفِيراً

Aku bertanya wahai Rasulullah, berapakah jumlah Nabi? Beliau Saw menjawab; 124 ribu, diantaranya yang menjadi Rasul 315, jumlah yang sangat banyak. (HR. HR. Ibnu Hibban)

Kesemuanya diutus dengan membawa agama yang satu yaitu Islam, walaupun dengan Sya’riat yang berbeda, satu dengan yang lainnya.

Rasul bersabda;

الانبياء اخوة من علات وامهاتهم شتى ودينهم واحد

Para Nabi itu bersaudara keturunan satu ayah, sedang ibu mereka berbeda-beda, dan agama mereka satu. (HR Ahmad)

Dari itu tidak diperkenankan memisah-misahkan Rusul, yakni dengan beriman kepada yang satu dan kafir kepada yang lain.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا

  أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan Rasul-Rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian, merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (An-Nisa’ 150-151)

Iman kepada Rasul sama seperti Iman kepada kitab. Yakni, iman kepada Rasul kita, Nabi Muhammad adalah iman yang bersifat terperinci, sedang Iman kepada Rasul dan Nabi sebelumnya bersifat global. Bersifat terperinci yakni beriman kepada setiap apa yang Rasul kabarkan, yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi, yang dapat dipahami maupun yang tidak dipahami yang datang dari jalur yang Shahih, dan menerima serta patuh kepada setiap perintah dan larangannya;

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيماً

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (An-Nisa’ 65)

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang Rasul datangkan kepadamu, maka ambillah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (Al-Hasyr 7)
Rasul Saw bersabda;

والذي نفس محمد بيده! لا يسمع بي أحدٌ من هذه الأمَّة يهودي ولا نصراني، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أُرسلت به إلاَّ كان من أصحاب النار

Demi Dzat yg jiwa muhammad berada dalam genggamannya, tidak mendengar padaku seorang pun dari umat ini, yahudi dan juga nasrani, kemudian mati dan tidak beriman dg apa yg aku diutus dengannya kecuali termasuk penghuni neraka (HR. Muslim).

Adapun Iman kepada para Nabi dan Rasul sebelumnya, adalah beriman bahwa mereka adalah utusan Allah, dan bahwasanya apa yang mereka bawa berupa Iman dan penyembahan Allah satu-satunya adalah Haq dariNya.

Iman kepada hari Akhir, Yaitu Iman akan terjadinya hari Kebangkitan, dan segala perkara yg tercakup didalamnya, seperi kebangkitan, hisab, timbangan amal, jembatan, surga dan neraka, dan lain sebagainya yg dinuqilkan dari Al-Quran maupun Hadits Shahih.

Hari Akhir mempunyai banyak nama, diantaranya; Al-Qiyamah, Al-Haqqah, Al-Qari’ah, Ad-Dien, At-Taghabun, Al-Ba’ts, dan Al-Waqi’ah. Pada hari inilah Allah memutuskan segala perkara dengan Haq, pada hari inilah ditentukan siapa penghuni Surga dan siapa penghuni Neraka.

Hari kiamat adalah hari yang menakutkan dan menyeramkan, hari dimana Manusia seperti anai-anai yang bertebaran, gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).

(ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu Lihat manusia dalam Keadaan mabuk, Padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya. (Al-Hajj 1-2)

Hari itu adalah hari yang menampakkan segala hakekat yang tertutup oleh dunia dan kemolekannya. Maka, orang yang benar-benar beruntung adalah orang yang beruntung di Akhirat walaupun di dunia ia merugi tak punya apa-apa, dan orang yang benar-benar celaka adalah orang celaka di Akhirat walau di dunia ia memiliki segalanya.

قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Az-Zumar 15)

Iman pada hari kiamat adalah iman yang penting. Dengan dalil  seringnya ia disebut berdua bersama Iman kepada Allah. Misalnya,  Firman Allah Swt;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Akhir (An-Nisa’ 59)

Begitu pula ayat;

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.  (At-Taubah 18)

Demikian juga Sabda Rasul Saw;

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه

Barang siapa beriman pada beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berbicara baik atau diam. Barang siapa beriman pada beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya. Barang siapa beriman pada beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah memuliakan tamunya. (HR. Bukhori)

Dan banyak lagi ayat maupun Hadits yang lainnya….

Hal itu karena Iman kepada hari Qiyamat mempunyai pengaruh penting dalam diri seorang muslim, karena jika seseorang percaya bahwa kelak setelah mati ia akan dibangkitkan dihisab semua amalnya, dan bertemu dg Tuhannya, ditanya tentang amalnya di dunia, kemudian ditentukan padanya apakah ia masuk surga atau masuk neraka, maka ia akan merasa takut untuk berbuat kejelekan walau sekecil apapun dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbanyak amal ibadahnya guna meraih ridloNya dan selamat dari siksa nerakaNya.

Oleh karena itu Allah berfirman

فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا

Maka bagaimana kamu bisa bertakwa, jikalau kamu inkar terhadap hari yg menjadikan anak-anak beruban. (Al-Muzammil 17)

 

Yang keenam;Iman kepada qodar baik dan buruk, Yaitu beriman bahwasanya tiada suatu hal, baik dan buruk kecuali telah ditakdirkan Allah.

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya kami menciptakan sesuatu dg qodar (ukuran). (Al-Qomar 49)

وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraansedikitpun? (An-Nisa’ 78)

Jadi tidak ada suatupun yg terjadi, entah baik atau buruk, kecuali Allah telah menghendakinya.

Allah juga berfirman;

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِين

Dan kalian tidak menghendaki, kecuali Allah tuhan sekalian alam menghendakinya. (At-Takwir 29)

Dan Allah telah menulis semuanya dalam Lauh Mahfudz;

وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Segala sesuatu telah kami tulis di Lauh Mahfudz. (Yasin 12)

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِين

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (Al-An’am 59)

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ

Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Suatu saat saya berada dibelakang nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.  (HR. Tirmidzi)

Namun dengan begitu tidaklah bukan berarti kita diperkenankan menjadikan Qadar Allah sebagai Hujjah untuk bermaksiat kepadaNya, perhatikanlah Firman Allah;

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya Kami dan bapak-bapak Kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) Kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta. (Al-An’am 148)

Juga dengan begitu tidaklah bukan berarti kita diperkenankan pasrah meninggalkan amal, karena Rasul Saw bersabda;

ما منكم من أحد إلا وقد كتب مقعده من الجنة ومقعده من النار ) . فقالوا يا رسول الله أفلا نتكل ؟ فقال ( اعملوا فكل ميسر . ثم قرأ { فأما من أعطى واتقى . وصدق بالحسنى – إلى قوله – للعسرى }

“Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali tempat duduknya dari surga atau dari neraka telah ditulis.” Para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kita sebaiknya hanya bertawakkal saja?” beliau menjawab: “Beramallah kalian, sebab setiap orang akan dimudahkan.” Kemudian Nabi membaca;

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. (Al-Lail 5-10)”  (HR. Bukhori)

Berkata Syaikh Muhammad Najih Maimoen;

Perbincangan dalam masalah Qodar adalah aktifitas yang tidak bermakna, sedang berhujjah dengannya adalah lemah dan bodoh, berpegang dengannya adalah kecerobohan dan keteledoran.[21] Jadi, wajib atas mukmin untuk berjalan sesuai petunjuk Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya. Dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi Saw;

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun masing-masing ada kebaikan. Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah janganlah mengatakan, “Seandainya aku berbuat begini dan begitu, niscaya hasilnya akan lain.” Akan tetapi katakanlah, “Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat.” Sebab, mengandai-andai itu membuka pintu setan.” (HR. Muslim)[22]

Keterkaitan Rukun-Rukun Iman

Rukun Iman satu sama lain saling terkait, kufur dengan salah satunya berarti kufur dengan yang lainnya.  Syaikh Muhammad Najih Maimoen berkata;

“Rukun-Rukun ini saling terkait satu sama lain secara Syara’, dengan kata lain, Iman kepada sebagian berkonsekuensi Iman kepada yang lain. Dan jika ditemukan Al-Quran mencukupkan menyebut sebagian, maka tidaklah berarti sebagian itu cukup dalam beriman -seperti yang dipahami secara salah oleh sebagian orang-orang jaman sekarang-, akan tetapi itu karena penyebutan itu secara lazim mengikutkan tempat-tempat yang lain menurut ‘Urf (istilah) Syara’.

Firman Allah;

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al-Baqarah 62)

Sebagian orang memahami dari ayat diatas bahwa Iman dengan Allah dan Hari Akhir cukup untuk keselamatan, dan tidak disyarakatkan Iman kepada Rasul. Ia berusaha dengan ayat itu untuk mengeluarkan Fatwa dari Al-Azhar untuk dijadikan dasar penyatuan antara tiga agama. Akan tetapi ia ditentang dengan sangat, sehingga keinginannya tertolak.

Kefahaman seperti itu menunjukkan kalau ia tidak mengerti kaidah-kaidah Syara’ dan tidak tahu Uslub (metode bahasa) Al-Quran. Kalau seandainya ia mau mengangan-angan dan mencurahkan perhatian niscaya ia akan menemukan bahwa ayat itu berjalan atas uslub Iktifa’ (menganggap cukup) dimana hal itu termasuk cabang-cabng Bahasa Arab.

Yang demikian karena Iman kepada Allah dan Hari Akhir berkonsekuensi Iman kepada Rasul dan Rukun-Rukun yang lain, dikarenakan kita tidak akan tahu tentang keduanya (Iman kepada Allah dan Hari Akhir) kecuali melalui Para Rasul. Maka Iman kepada keduanya  adalah Malzum, sedang Iman kepada Para Rasul adalah Lazim. Dan tidak masuk akal, adanya Malzum (akibat) tanpa adanya Lazimnya (sebab).

Kemudian Iman kepada satu Rasul berkonsekuensi Iman kepada seluruh Rasul, seperti halnya tidak percaya kepada satu Rasul berarti tidak percaya kepada seluruh Rasul. Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah;

كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ

Kaum Nuh telah mendustakan Para Rasul. (As-Syu’aro 105)

كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ

Kaum ‘Aad telah mendustakan Para Rasul. (As-Syu’aro123)

كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ

Kaum Tsamud telah mendustakan Para Rasul. (As-Syu’aro 141)

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ

Kaum Luth telah mendustakan Para Rasul. (As-Syu’aro 160)

كَذَّبَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ الْمُرْسَلِينَ

Penduduk Aikah[23] telah mendustakan Para Rasul (As-Syu’aro 176)

Padahal mereka cuma tidak percaya masing-masing Rasul mereka saja, ini menunjukkan bahwa tidak percaya kepada satu Rasul adalah tidak percaya kepada seluruh Rasul.”[24]

Kemudian beliau berkata;

“Jika demikian, makan jalan bagi orang-orang yang mencari keselamatan bagi orang yahudi, nashrani, dan lainnya adalah dengan Iman kepada seluruh Rasul dan beramal Saleh dalam Syari’at Islam. Dalil yang menunjukkan ini adalah;

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk. (At-Taubah 29)

Dari ayat ini, diambil bahwa ahli kitab, yaitu yahudi dan nashrani, tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Kenapa? Dikarenakan yahudi tidak beriman dengan Nabi Isa dan Nabi Muhammad alaihimassalam, sedang nashrani tidak beriman kepada Nabi Muhammad Saw. Maka, sah menafikan Iman kepada Allah dan Hari Akhir dalam diri mereka secara Syara’ karena tidak ada lazimnya. Dan pengakuan mereka dengan lisan mereka tidak dianggap, karena Hakikat Syar’iyyah dikembailkan pada ‘Urf Syara’.”[25]

 

 

 

 

 


[1] Tafsir Ibu Katsir.

[2] Dalam sebuah Hadits yang sangat panjang di kitab Shahih al-Bukhari yang menceritakan tentang peristiwa di hari Kiamat, sekelompok manusia mencoba mencari syafa’at kepada para Nabi, salah satunya adalah kepada Nabi Nuh ‘alaihis salam, berikut potongan Haditsnya:

فيأتون نوحا، فيقولون: يا نوح، أنت أول الرسل إلى أهل الأرض، وسماك الله عبدا شكورا، أما ترى إلى ما نحن فيه، ألا ترى إلى ما بلغنا، ألا تشفع لنا إلى ربك؟

Maka mereka menemui Nuh Alaihissalam dan berkata; “Wahai Nuh, kamulah Rasul pertama kepada penduduk bumi ini dan Allah menamakan dirimu sebagai ‘Abdan syakuura (hamba yang bersyukur). Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kami hadapi?, Tidakkah sebaiknya kamu memohon syafa’at kepada Rabbmu untuk kami?. 

[3] Tafsir Ibnu Katsir.

[4] عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِيْ أَوْفَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: “مَنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةً إِلَى اللهِ تَعَالَى أَوْ إِلَى أَحَدٍ مِنْ بَنِيْ آدَمَ فَلْيَتَوَضَّأْ وَلِيُحْسِنَ وُضُوْءَهُ، ثُمَّ لِيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَثَنَّي عَلَى اللهِ تَعَالَي، وَلِيُصَلِّ عَلَى النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِيَقُلْ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمِ سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، اَلْحَمْدُللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمِ مَغْفِرَتِكَ، وَالْعِصْمَةَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ لاَ تَدَعْ لِىْ ذَنْباً إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَماً إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ”. ثُمَّ يَسْأَلُ مِنْ أُمُرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ مَاشَاءَ ، فَإِنَّهُ يُقَدَّرُ

Dari Abdullah bin Abi Aufa r.a. ia berkata: Rasulullah saw keluar kepada kami, maka beliau bersabda: barang siapa mempunyai kebutuhan kepada Allah Ta’ala atau kebutuhan pada seseorang dari anak Adam, maka agar berwudhu dan memperbagus wudhunya, kemudian shalat dua rakaat, kemudian (sesudah shalat) agar memuji-muji Allah Ta’ala, dan membaca shalawat Nabi, kemudian membaca do’a:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمِ سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمِ مَغْفِرَتِكَ، وَالْعِصْمَةَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ لاَ تَدَعْ لِىْ ذَنْباً إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَماً إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Tidak ada Tuhan selain Allah yang maha Penyantun lagi mulia, maha suci Allah, pemelihara ‘Arsy yang agung, segala puji bagi Allah Tuhan Pemelihara semesta alam, saya mohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang mengabulkan, dan mengharap ampunan-Mu, dan penjagaan dari semua dosa, dan keberuntungan dari semua yang baik, dan keselamatan dari semua dosa, jangan Engkau biarkan kami berdosa kecuali Kau ampuni, dan jangan biarkan saya sedih kecuali Kau beri jalan keluar, dan jangan biarkan saya punya kebutuhan yang Engkau senangi kecuali Kau mengabulkannya, wahai yang maha Penyayang dari semua yang penyayang.
Kemudian agar meminta dari urusan dunia atau akhirat sesuai keinginannya, maka sesungguhnya hajat itu akan ditakdirkan (oleh Allah). (HR. Tirmidzi Ibnu Majah)

[5] Fiqhus-Sunnah.

[6] Tafsir Ibnu Katsir.

[7] Ibid.

[8] Terdapat banyak riwayat dari Sahabat dan Tabi’in, juga para Ulama’ Salaf tentang adanya Ta’wil (hal ini juga disebutkan oleh Imam Hasan Al-Banna). Seperti yang dinukilkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab Daf’u Syubhatut-Tasybih bi Akaffit-Tanzih. Hal ini menunjukkan bahwa para Ulama’ Salaf tidak menginkari adanya Ta’wil, tapi menginkari orang-orang yang tidak menetapkan adanya “yad”, “ain”,  “wajah” dan lain sebagainya pada Allah. Orang-orang ini adalah golongan Jahmiyyah dan Mu’tazilah.

Adapun golongan Asy’ariyyah, maka Imam Ibnu Taimiyah berkata:

وَأَمَّا الْأَشْعَرِيُّ نَفْسُهُ وَأَئِمَّةُ أَصْحَابِهِ فَلَمْ يَخْتَلِفْ قَوْلُهُمْ فِي إثْبَاتِ الصِّفَاتِ الْخَبَرِيَّةِ وَفِي الرَّدِّ عَلَى مَنْ يَتَأَوَّلُهَا كَمَنْ يَقُولُ : اسْتَوَى بِمَعْنَى اسْتَوْلَى . وَهَذَا مَذْكُورٌ فِي كُتُبِهِ كُلِّهَا كَ ” الْمُوجَزِ الْكَبِيرِ ” وَ ” الْمَقَالَاتِ الصَّغِيرَةِ وَالْكَبِيرَةِ ” وَ ” الْإِبَانَةِ ” وَغَيْرِ ذَلِكَ . وَهَكَذَا نَقَلَ سَائِر النَّاسِ عَنْهُ حَتَّى الْمُتَأَخِّرُونَ كَالرَّازِيَّ وَالْآمِدِيَّ يَنْقُلُونَ عَنْهُ إثْبَاتَ الصِّفَاتِ الْخَبَرِيَّةِ وَلَا يَحْكُونَ عَنْهُ فِي ذَلِكَ قَوْلَيْنِ .

“Ada pun Al Asy’ari sendiri dan juga para imam yang mengikutinya, mereka tidaklah berbeda pendapat  dalam menetapkan (itsbat) sifat-sifat khabariyah dan dalam membantah orang-orang yang menta’wilkannya, seperti orang yang mengatakan: istawa (bersemayam) maknanya adalah istawla (menguasai). Ini disebutkan dalam semua kitabnya, seperti Al Mujazi Al KabirAl Maqallat Ash Shaghirah wal Kabirah, dan Al Ibanah,  dan yang lainnya. Dan seperti itulah semua manusia mengutip darinya, sampai generasi muta’akhirun (belakangan) seperti Ar Razi dan Al Amidi, mengutip  darinya tentang itsbat (penetapan) terhadap sifat-siifat khabariyah, dan tidak diceritakan darinya tentang hal ini adanya dua pendapat.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah)

[9] Majmu’ah Rasa’il Imam Hasan Albanna.

[10] Dalam Shohih Bukhori-Muslim disebutkan Allah SWT di hari kiamat akan membuka betis-Nya untuk orang-orang mukmin agar mereka bersujud kepada-Nya dan mengikuti di belakang untuk menuju surga-Nya dan Allah akan meletakkan kaki-Nya di atas Neraka Jahannam setelah Jahannam meminta tambahan penghuninya dan Allah akan menampakkan- wajah-Nya di surga untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, tentunya semua ini dengan arti-arti yang suci yang pantas bagi-Nya.

[11] Ijtima’ Al Juyusy Al Islamiyah, Imam Ibnul Qayyim.

[12] Sunan Tirmidzi.

[13] Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah.

[14] Alquran dan Hadits telah menyebutkan beberapa nama Malaikat yaitu, Jibril, Mika’il, Israfil, Malik, Munkar, Nakir. Maka wajib bagi kita beriman pada keberadaan mereka. Sedang Malaikat yg tidak disebutkan namanya, atau mungkin terdapat khilaf apakah ini nama atau sekedar sifat, seperti Raqib dan Atid, begitu pula nama Malaikat Maut, apakah benar bernama Izrail atau tidak, dan juga nama Malaikat Penjaga Surga (Ridlwan) mengingat tidak ditemukannya Hadits Shahih yang menyebutkan nama keduanya, maka yg terpenting adalah wajib beriman dan percaya kepada keberadaan Malaikat besarta tugas-tugas mereka dan juga kabar-kabar tentang mereka yg datang dari Al-Quran maupun Hadits Shahih.

[15] Kitab Taurat menjelaskan hukum-hukum syari’at, aqidah-aqidah yang benar dan diridloi, memberi kabar gembira akan adanya Nabi dari keturunan Isma’il AS yaitu Nabi Muhammad SAW, dan memberikan isyarat bahwa beliau membawa syari’at baru yang menunjukkan jalan menuju surga.

[16] Zabur adalah salah satu dari kitab-kitab Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Dawud AS. Kitab Zabur mengandung do’a-do’a, Dzikir, mau’idloh, dan hikmah. Dalam kitab ini tidak dijelaskan hukum-hukum syari’at karena Nabi Dawud AS sendiri diperintahkan untuk mengikuti syari’atnya Nabi Musa AS.

[17] Injil merupakan salah satu kitab Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa AS untuk menjelaskan hakikat-hakikat, mengajak manusia agar meng-esakan Sang Pencipta, serta menghapus sebagian hukum kitab Taurat karena menyesuaikan tuntutan zaman, dan memberi kabar gembira akan munculnya Nabi yang terakhir (Nabi Muhammad SAW).

[18] Maksudnya: Al Quran adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya isi dari Kitab-Kitab sebelumnya.

[19] Tafsir Ibnu Katsir.

[20] Ini pendapat pribadi saya.

[21] Yakni dengan meninggalkan amal.

[22] Aqidah Firqoh An-Najiyah, KH. Muh. Najih Maimoen.

[23] Yang dimaksud dengan penduduk Aikah ialah penduduk Mad-yan Yaitu kaum Nabi Syu’aib a.s.

[24]Aqidah Firqoh An-Najiyah, KH. Muh. Najih Maimoen.

[25] Ibid.

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Islam dan Iman at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: