Perkara yang Membatalkan Islam

July 23, 2012 § 3 Comments

Perkara yang menyebabkan murtad -yakni keluar dari agama Islam- terbagi menjadi dua bagian;

1- Mendustakan Allah Swt dan RasulNya

2- Berpaling dari agama Allah Swt (walaupun ia membenarkan kebenarannya)

Hal ini seperti yg ditunjukkan oleh ayat;

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّى وَلَكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى

Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul Saw dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul Saw) dan berpaling. (Al-Qiyanah 31-32)

Dimana Allah Swt membedakan antara mendustakan dan berpaling dengan memisahkannya dengan huruf Athof ” و “ (dan).

Imam Nawawi berkata tentang pengertian murtad;

 وهي قطع الإسلام، ويحصل ذلك تارة بالقول الذي هو كفر، وتارة بالفعل، والأفعال الموجبة للكفر هي التي تصدر عن تعمد واستهزاء بالدين صريح ،

“(murtad) Yaitu memutus keislaman, yang demikian kadangkala terjadi dengan ucapan kufur, atau dengan perbuatan. Perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kufur adalah yang muncul dari kesengajaan dan dari penghinaan yang jelas terhadap agama.“[1]

Perlu diketahui bahwa Iman itu dalam dua perkara; dalam setiap kabar-kabar yang Allah dan RasulNya kabarkan dengan Tashdiq (percaya), dan dalam setiap perintah dan larangan Allah dan RasulNya dengan taat. Begitu juga dengan lawan kata Iman yaitu kufur, ia terdapat dalam dua perkara; dalam kabar yang Allah dan RasulNya kabarkan dengan takdzib (tidak percaya), dalam setiap perintah dan larangan Allah dan RasulNya dengan tawalli (berpaling). Setiap takdzib sudah pasti kufur, keluar dari agama, akan tetapi tidak dengan setiap tawalli, hanya sebagian kecil saja yang menjadikan kufur. Sedang sisanya walau tidak menjadikan kufur, akan tetapi ia tetap membahayakan Iman dan bahkan mampu menghilangkannya jika tidak ditaubati. Dari itu para Ulama membagi kufur menjadi dua bagian; kufur akbar bagi yang mengeluarkan dari agama Islam, kufur ashghar bagi yang tidak sampai mengeluarkan dari agama Islam.

Bagian yang pertama; Mendustakan Allah Swt dan RasulNya

Allah Swt berfirman;

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah 39)

Dan Rasul Saw bersabda

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَيُؤْمِنُوا بِى وَبِمَا جِئْتُ بِهِ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Aku diperintah untuk memerangi manusia, sehingga mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Swt dan beriman denganku, dan dengan apa yg aku bawa, maka jika mereka melakukan hal tersebut, mereka telah menjaga darah dan harta mereka kecuali dengan haknya sedang hisabnya atas Allah Swt. (HR. Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ »

Demi dzat yg jiwa muhammad berada dalam genggamannya, tidak mendengar seorang pun padaku dari umat ini, yahudi dan juga nasrani, kemudian mati dan tidak beriman dengan apa yg aku diutus dengannya kecuali termasuk penghuni neraka. (HR. Muslim)

Mendustakan mencakup dengan hati saja, dengan ucapan saja atau dengan keduanya. Segala sesuatu yang menunjukkan rasa ketidakpercayaan atau keingkaran terhadap kabar yang dibawa Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw baik yang Mutawathir maupun yang Ahad yang diriwayatkan melalui jalur Shahih adalah termasuk mendustakan Allah dan RasulNya. Termasuk mendustakan Allah Swt dan RasulNya yang disebutkan dalam Al-Quran diantaranya adalah;

Menyangkal ketauhidan Allah

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya telah kafir orang orang yang mengatakan; “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al-Maidah 73)

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata; “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata; “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (At-Taubah 30)

Dari sini pula diambil bahwasanya orang yang tidak menganggap kafir yahudi dan nashrani, orang-orang musyrik serta orang-orang yang jelas kekafirannya tanpa bisa dita’wil adalah orang kafir juga.

Berkata Qadli Iyadl dalam As-Syifa

وأن من لم يكفر من دان بغير الإسلام كالنصارى أو شك في تكفيرهم أو صحح مذهبهم فهو كافر وإن أظهر مع ذلك الإسلام واعتقده

“Bahwasanya barang siapa yang tidak mengkafirkan orang yang beragama selain agama Islam, seperti nashrani, atau ragu dalam mengkafirkan mereka, atau membenarkan madzhab mereka, maka ia kafir walau ia menampakkan Islam dan meyakininya.”

Imam Abu Hanifah berkata tentang Rawafidl;

 من شك في كفر هؤلاء “أي الرافضة” فهو كافر مثلهم

“Barang siapa ragu akan kekufuran orang-orang ini (rafidlah)[2] maka ia kafir seperti mereka”.

Yang demikian karena adanya unsur pendustaan Al-Quran tentang kekafiran yahudi dan nashrani, dan pendustaan kekafiran setiap orang yang mendustakan atau berpaling dari Agama Islam.

Ragu dalam Imannya

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا

 وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا

 قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata; “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.” Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya – sedang dia bercakap-cakap dengannya; “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? (Al-Kahfi 35-37)

Ketika ia berkata “Aku tidak mengira hari Kiamat itu akan datang” kawannya mengatakan “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah?!” yg menunjukkan bahwa ragu dalam Iman menyebabkan kafir.

Jadi, ragu dalam Iman kepada Allah, ragu dalam Iman kepada Malaikat, ragu dalam Iman kepada Rasul, ragu dalam Iman kepada Hari Akhir, dan ragu dalam Iman kepada Qodlo’ dan Qodar -yang telah kami jelaskan dalam bab Iman-, kesemuanya mampu mengeluarkan seseorang dari agama Islam.

Setiap perbuatan yang menunjukkan ketidak teguhan dalam beriman adalah kufur, Berkata Imam Al-Mutawalli;

والعزم على الكفر في المستقبل كفر في الحال، وكذا التردد في أنه يكفر أم لا، فهو كفر في الحال، وكذا التعليق بأمر مستقبل، كقوله; إن هلك مالي أو ولدي تهودت، أو تنصرت

“Berkeinginan untuk kufur dimasa mendatang adalah kufur seketika, begitu juga ragu apakah akan kufur atau tidak, maka ia kufur seketika, begitu juga menggantungkan kekufuran dengan perkara yang akan datang, seperti ucapan seseorang; “Jika hartaku rusak, atau anakku mati, maka aku menjadi yahudi atau nashrani”.[3]

Berputus asa dari rahmat Allah Swt dan aman dari makar Allah[4]

Allah berfirman;

إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah Swt, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf 87)

Itu karena barang siapa yg meyakini atau berkata bahwa Allah Swt tidak akan merahmatinya dengan tidak mengampuninya maka ia telah mendustakan Firman Allah Swt yaitu;

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah kepada hamba-hambaku (kaum mukminin); “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah Swt. Sesungguhnya Allah Swt mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar 53)

Berkata Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya tentang macam-macam dosa besar;

فالشرك أكبر ذلك كله، وهو الذي لا يغفر لنص الله تعالى على ذلك، وبعده اليأس من رحمة الله، لان فيه تكذيب القرآن، إذ يقول وقوله الحق; (ورحمتي وسعت كل شئ ) وهو يقول; لا يغفر له، فقد حجر واسعا.

هذا إذا كان معتقدا لذلك، ولذلك قال الله تعالى; (إنه لا ييئاس من روح الله إلا القوم الكافرون)

“Maka Syirik adalah yang paling besar melebihi semua, ialah yang tidak akan diampuni karena adanya nash yang menunjukkan itu. Dan setelah itu adalah berputus asa dari rahmat Allah, dikarenakan didalamnya terdapat pendustaan terhadap Al-Qur’an, karena Allah berfirman, sedang FirmanNya adalah Haq; “Rahmatku mencakup segala sesuatu” (Al A’rof 156), sedang ia berkata “Allah tidak akan mengampuninya”. Maka sungguh ia telah membatasi perkara yang luas. Ini jika ia mengi’tikadkan hal itu, dari itu Allah berfirman;

Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah Swt, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf 87)

Allah berfirman;

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (Al-A’raf 99)[5]

Yang dimaksud “orang-orang yang merugi” disini adalah orang-orang kafir. Imam At-Thahawy berkata;

والأمن والإياس ينقلان عن الملة وسبيل الحق بينهما لأهل القبلة

“Aman dari makar Allah dan putus asa dari rahmatNya mengeluarkan dari agama Islam, jalan yang benar bagi ahli Qiblat (mukmin) adalah tengah-tengah diantara keduanya.”

Contoh orang orang-orang yang merasa aman dari makar Allah adalah orang-orang yang mendakwa dirinya pengikut Tashawwuf -sedang Tashawwuf berlepas diri dari mereka-, yang menganggap dirinya telah diampuni segala dosanya, dijamin keselamatannya sehingga ia menerjang larangan-larangan Allah tidak peduli dengannya. Jadi, orang yang merasa aman dari makar Allah adalah orang yang yakin dirinya aman dari siksaNya, jelas yang demikian adalah kufur.

Sedang yang dimaksud “jalan tengah” adalah tidak berputus asa dari RahmatNya (Roja’) dan tidak merasa aman dari makarNya (Khouf). Putus asa membuat meninggalkan amal dan menerjang larangan karena sudah yakin celaka. Begitu pula aman juga membuat meninggalkan amal dan menerjang larangan karena yakin tidak mendapat siksa. Adapun Khouf dan Roja’ maka ia meningkatkan amal dan menjadikan takut menerjang larangan karena Roja’ adalah mengharap pahala dan rahmatNya, sedangkan Khouf adalah takut kepada siksaNya.

Allah Swt berfirman;

يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Mereka mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (Al-Isra’ 57)

Ia juga berfirman;

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Da Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya Rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-A’rof 56)

Mendebat ayat-ayat Allah Swt

مَا يُجَادِلُ فِي آَيَاتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا

Tidak mendebat dalam ayat Allah Swt kecuali orang-orang kafir. (Ghafir 4)

Mendebat dalam ayat Allah Swt menyebabkan kafir jika ada unsur menolak kebenaran suatu ayat. As-Sa’dy berkata;

والمراد بالمجادلة هنا، المجادلة لرد آيات الله ومقابلتها بالباطل، فهذا من صنيع الكفار، وأما المؤمنون فيخضعون لله تعالى الذي يلقي الحق ليدحض به الباطل

“Yang dimaksud dengan “perdebatan” disini adalah perdebatan untuk menolak ayat-ayat Allah dan menandinginya dengan perkara bathil. Maka yang demikian ini merupakan perbuatan orang-orang kafir, adapun orang-orang mukmin, maka mereka tunduk kepada Allah, Dzat yang menyampaikan kebenaran untuk untuk menghancurkan kebatilan.”[6]

 

Bagian yang kedua; Berpaling dari agama Allah Swt

Allah Swt berfirman

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

Katakanlah; “Ta’atilah Allah Swt dan Rasul Saw-Nya; maka jika mereka berpaling, maka sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai orang-orang kafir”. (Ali Imron 32)

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِّنْهُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُوْلَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

Dan mereka berkata; “Kami telah beriman kepada Allah Swt dan Rasul Saw, dan kami mentaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (An-Nur 47)

Jika, Takdzib (mendustakan) mencakup hati dan lisan, maka Tawalli mencakup keduanya ditambah perbuatan dengan anggota badan. Maka termasuk berpaling dari agama Allah Swt adalah yang Allah sebutkan dalam Al-Quran adalah;

Menyembah selain Allah Swt

وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Padahal Al Masih (sendiri) berkata; “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Swt Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah Swt, maka pasti Allah Swt mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.  (Al-Maidah 72)

Seseorang biarpun mengakui dengan hatinya dan bahkan mengucapkan dengan lisannya bahwa tiada tuhan selain Allah Swt, tapi ia melakukan perbuatan syirik maka ia tidak dikatakan mukmin karena telah berpaling dari shirathul-mustaqim (jalan lurus) yg Allah Swt jelaskan dalam Firmannya ketika menceritakan perkataaan Nabi isa;

إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

Sesungguhnya Allah Swt, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus. (Ali Imron 51)

Berkata Qodli ‘Iyadl menyebutkan perkara-perkara kufur;

وكذا من فعل فعلا أجمع المسلمون أنه لا يصدر إلا من كافر وإن كان صاحبه مصرحا بالإسلام مع فعله كالسجود للصليب أو النار والمشي إلى الكنائس مع أهلها بزيهم من الزنانير وغيرها

“Begitu juga orang yang melakukan perbuatan yang kaum Muslimin sepakat bahwa ia tidak muncul kecuali dari orang kafir, walaupun pelakunya menyatakan Islam disertai perbuatannya itu, seperti sujud kepada salib, atau api, atau berjalan menuju gereja bersama para ahlinya dengan pakaian mereka berupa zananir (sabuk nashrani) dan lainnya.”[7]

Menolak Syari’at Islam, tidak ridlo atau benci kepadanya.

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maidah 44)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al-Ahzab 36)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (An-Nisa’ 65)

Perhatikan bagaimana Allah Swt sampai bersumpah untuk menegaskan bahwa orang yg tidak mau ridlo menerima hukum Rasul Saw itu tidak beriman.

Dari itu pulalah iblis ketika membangkang perintah untuk bersujud kepada Adam, maka Allah menegaskan kalau ia termasuk golongan orang-orang kafir;

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat; “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah 34)

Hukuman dunia untuk orang murtad adalah dibunuh, Rasul Saw bersabda;

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

“Siapa yang mengganti agamanya maka bunuhah dia”. (HR. Bukhari)

Ketika turun larangan dari Allah;

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu Amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (An-Nisa’ 22)

ada seseorang laki-laki yang menolak dan membangkang perintah tersebut. Maka Rasul Saw mengutus Sahabatnya untuk membunuh laki-laki itu;

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ مَرَّ بِي عَمِّي الْحَارِثُ بْنُ عَمْرٍو وَمَعَهُ لِوَاءٌ قَدْ عَقَدَهُ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لَهُ أَيْ عَمِّ أَيْنَ بَعَثَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَعَثَنِي إِلَى رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةَ أَبِيهِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَضْرِبَ عُنُقَهُ

Dari Al Baraa` bin ‘Azib ia berkata; Pamanku Al Harits bin Amr lewat dihadapanku dengan membawa bendera yang diikat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka saya bertanya, “Wahai pamanku, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusmu kemana?” Ia menjawab, “Beliau mengutusku untuk menjumpai seorang laki-laki yang menikahi isteri bapaknya, dan beliau memerintahkanku untuk menebas lehernya.” (HR. Ahmad)

Termasuk dalam hal ini adalah menganggap halal perkara yg diharamkan Allah Swt. Seperti yg Allah Swt sebutkan dalam ayat pengharaman riba, dimana orang yang masih menganggap kehalalannya itu termasuk penghuni neraka selamanya.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Swt telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah Swt. Dan Orang yang kembali (kepada ucapan mereka “sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba”), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah 275)

Begitu juga dengan mengharamkan apa yang Allah halalkan, mewajibkan apa yang Allah tidak wajibkan dalam setiap penolakan hukum-hukum Syari’at  yang telah pasti dan jelas, seperti kewajiban Shalat dan Zakat, haramnya zina beserta muqaddimahnya, berupa kholwah, pegangan tangan, ciuman, yang mereka sebut dengan pacaran, haramnya minum khamr, sunnahnya Shalat Rawatib, dan sebagainya, penolakan ini semua kufur yang mengeluarkan dari agama Islam.

 Begitu juga dengan mentaati dan mendahulukan hukum selain Allah atas hukum Allah. Allah berfirman menampik pengakuan Iman dari orang-orang yang masih berhukum dengan thagut;

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (An-Nisa’ 60)

Allah juga berfirman;

 وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Dan jika kamu menuruti mereka,sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (Al-An’am 121)

Ibnu Katsir berkata tentang ayat diatas;

أي; حيث عدلتم عن أمر الله لكم وشرعه إلى قول غيره، فقدمتم عليه غيره فهذا هو الشرك،

“Yakni; sekiranya kalian berpindah dari perintah Allah yg allah perintahkan padamu, dan dari syariatnya, kepada ucapan selainNya, dan kalian mendahulukan yg selain Syari’at Allah atas Syari’at Allah, maka hal ini adalah syirik.”[8]

Taat kepada hukum selain buatan Allah dikatakan syirik dalam ayat diatas dikarenakan taat merupakan bagian dari Ibadah. Allah berfirman;

 اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At-Taubah 31)

Sahabat ‘Ady bin Hatim berkata pada Rasulullah tentang ayat diatas;

إنهم لم يعبدوهم

“Sesungguhnya mereka tidak menyembah Ulama’dan rahib-rahib mereka.”

Nabi pun menjawab

”بلى، إنهم حرموا عليهم الحلال، وأحلوا لهم الحرام، فاتبعوهم، فذلك عبادتهم إياهم”

“Akan tetapi tidak, sesungguhnya, mereka mengharamkan kepada Ahli kitab perkara halal dan menghalalkan bagi mereka perkara haram, kemudian ahli kitab itu mengikuti mereka, itulah penyembahan Ahli kitab kepada mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

As-Syahid Abdul Qadir Audah berkata;

 “Tidak ada perbedaan diantara Fuqoha’ dan Ulama’ bahwa setiap undang-undang yang menyelisihi Syari’at Islam adalah batil dan tidak wajib taat baginya. Dan bahwa setiap yang menyelisihi Syari’at adalah Haram walaupun diperintahkan atau diperbolehkan oleh penguasa kapan pun itu. Dan termasuk perkara yang disepakati adalah bahwasanya setiap orang yang Islam yang membuat hukum-hukum selain apa yang Allah turunkan, dan meninggalkan berhukum dengannya keseluruhan atau sebagian yang Allah turunkan dengan tanpa ta’wil (alasan) yang dibenarkan, maka sesungguhnya ia patut untuk sebutan yang Allah sebutkan (dalam Al-Quran) berupa “Kufur”, “Dzalim”, dan “Fasiq”[9] sesuai dengan keadaannya. Jadi, barang siapa berpaling dari Had mencuri, atau Had qadzaf atau zina karena ia mengunggulkan aturan  lain buatan manusia maka ia kafir secara pasti. Sedang jika ia tidak berhukum dengannya dikarenakan suatu alasan selain juhud  dan ingkar, maka ia dzalim jika dalam ia berhukum ada unsur penyianyiaan hak, atau meninggalkan rasa adil dan persamaan. Jika tidak, maka ia (dihukumi) fasiq.

Termasuk yang disepakati adalah bahwasanya barang siapa menolak suatu perkara yang termasuk perintah Allah, atau perintah RasulNya, maka ia telah keluar dari agama Islam, entah ia menolak dari segi ragu, atau dari segi menolak menerima, atau tidak mau tunduk. Sungguh para Sahabat telah menghukumi murtad orang-orang yang enggan membayar Zakat, dan menganggap mereka orang-orang kafir yang keluar dari Islam dikarenakan Allah menetapkan bahwa barang siapa yang tidak tunduk dengan apa yang Rasul Saw bawa, dan tidak mau tunduk dengan keputusan dan ketetapannya tidaklah termasuk Ahli Iman . Allah Swt berfirman;

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (An-Nisa’ 65)”[10]

 Menghina dan membuat mainan agama Allah Swt.

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ

 لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah; “Apakah dengan Allah Swt, ayat-ayat-Nya dan Rasul Saw-Nya kamu selalu berolok-olok?”, Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman” (At-Taubah 65-66)

Misalnya. “Mengatakan Nabi Muhammad Saw bodoh karena tidak bisa baca tulis”, mengatakan “Jilbab itu gak gaul, norak”, mengatakan “Syari’at Islam ketinggalan jaman”, mengatakan “Al-Quran itu porno”, menginjak-injak Al-Quran, meludahinya, membuangnya di tong sampah, dan setiap perkara yang melecehkan dan merendahkan Syi’ar-Syi’ar dan aja-ran-ajaran Agama.

Dari sinilah para Ulama’ mengatakan bercanda dengan perkara kufur -misalnya menyembah berhala atau mengatakan tuhan ada tiga dengan bercanda- adalah kufur. Berkata Qadli Abu Bakar ibn Al-Araby;

لايخلو أن يكون ما قالوه من ذلك جداً أوهزلاً ، وهو كيفما كان كفر؛ فإن الهزلَ بالكفر كفرٌ لا خلاف فيه بين الأمة

“Apa yang mereka (Munafikin) ucapkan bisa saja sungguh-sungguh atau bercanda, namun apapun adanya tetaplah kufur, dikarenakan bercanda dengan perkara yang menyebabkan kufur adalah kufur, tidak ada khilaf antara umat dalam hal ini.”[11]

Selain itu, bercanda dengan ucapan atau perbuatan kufur menunjukkan keridlo’an akan perkara kufur, sedang ridlo dengan kufur adalah kufur.

Membuat kebohongan atas Allah dan RasulNya

Allah berfirman;

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang dzalim tidak akan beruntung. (Al-An’am 21)

Ayat ini menunjukkan jika membuat kedustaan atas Allah sama tingkatannya dengan mendustakan ayat-ayatNya, sedang mendustakan ayat-ayatNya adalah kufur.

Termasuk dalam hal ini adalah mengubah-ubah ayat-ayat Al-Quran, menambah-nambahi menyelewengkannya, seperti perbuatan ahli kitab;

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan beriman kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar Firman Allah Swt, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Al-Baqarah 75)

Ayat ini menegaskan bahwa golongan yang seperti ini tidak bisa diharapkan keimanannya.  Karena itulah kita lihat, ahli bid’ah yang paling susah diajak kepada kebenaran adalah syi’ah rafidlah karena mereka telah berani mentahrif (mengubah) ayat-ayat Al-Quran. Mengubah-ngubah ayat Al-Quran juga berarti sama saja meremehan dan menganggap ia mainan yg dengan begitu termasuk dalam poin yg kami sebutkan sebelumnya.

Serupa dengan ini adalah membuat kebohongan-kebohongan (Hadits palsu) atas Nabi Muhammad Saw. Dan tidaklah samar bahwa didalamnya terdapat sikap meremehkan terhadap keagungan Nabi Saw.

Ibnu Hajar Al-Haitamy berkata;

عَدُّ هَذَيْنِ كَبِيرَتَيْنِ هُوَ مَا صَرَّحُوا بِهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ، بَلْ قَالَ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ الْجُوَيْنِيُّ; إنَّ الْكَذِبَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفْرٌ.

وَقَالَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ; وَقَدْ ذَهَبَتْ طَائِفَةٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ إلَى أَنَّ الْكَذِبَ عَلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ كُفْرٌ يُخْرِجُ عَنْ الْمِلَّةِ، وَلَا رَيْبَ أَنَّ تَعَمُّدَ الْكَذِبِ عَلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فِي تَحْلِيلِ حَرَامٍ أَوْ تَحْرِيمِ حَلَالٍ كُفْرٌ مَحْضٌ، وَإِنَّمَا الْكَلَامُ فِي الْكَذِبِ عَلَيْهِمَا فِيمَا سِوَى ذَلِكَ.

“Dibilangnya dua perkara ini (bohong terhadap Allah dan Rasulnya) adalah apa yang para Ulama’ katakan, dan yang demikian sudah jelas. Bahkan Syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini berkata; “Sesungguhnya bohong atas Nabi Saw adalah kufur”.

Sebagian Ulama’ Muta’akkhirin berkata; “Segolongan Ulama’ telah berpendapat bahwa bohong atas Rasul adalah kufur yang mengeluarkan dari agama, dan tidak ada keraguan bahwa yang sengaja bohong atas Allah dan RasulNya dalam menghalalkan perkara haram atau mengharamkan perkara halal adalah kufur murni, perdebatan hanyalah terdapat dalam masalah bohong atas keduanya pada selain masalah itu (menghalalkan perkara haram atau mengharamkan perkara halal).”[12]

Bekerja sama dengan orang kafir untuk melawan kaum muslimin.

Seperti dengan menjadi mata-mata, menjadi tentara mereka, bergabung secara langsung atau tidak langsung dalam golongan orang kafir untuk memerangi orang Islam.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman orang-orang Yahudi dan Nasrani sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi teman, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah Swt tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Maidah 51)

Perhatikan pada kata “Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi teman, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka” dan pemakaian adat taukid (penguat) إِنَّ pada lafadz فَإِنَّهُ مِنْهُمْ menghapus kemungkinan majaz.

Allah juga berfirman;

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah Swt dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah Swt dan Rasul Saw-Nya. (Al-Mujadalah 22)

Ketika Hathib Ra (Sahabat Ahli Badr) surat kepada Quraisy memberitahukan rencana Rasul Saw menyerang Makkah. Sahabat Umar Ra berkata ; “Wahai Rasulullah! Biarkan Aku memenggal kepalanya karena ia telah munafiq!”. Sahabat Umar menghukuminya murtad dan hendak memenggal kepalanya, akan tetapi Rasul mencegahnya, dan menerima alasan Sahabat Hathib mengirim surat kepada Quraisy. Walau begitu Rasul sama sekali tidak menyalahkan sikap Sahabat Umar, padahal menuduh seorang muslim sebagai kafir termasuk dosa besar.[13]

Ini sekaligus dalil bahwa orang yang melakukan perkara kufur tidak dikafirkan jika mempunyai udzur (alasan) yang dapat diterima dalam pandangan Syara’.

Allah berfirman;

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya; “Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab; “Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para Malaikat berkata; “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (An-Nisa 97)

Imam Bukhari meriwayatkan dari Sahabat  Ibnu Abbas Ra;

أنَّ ناسا من المسلمين كانوا مع المشركين، يُكَثِّرُونَ سوادَ المشركِينَ على رسولِ الله صلى الله عليه وسلم; يأتي السَّهْمُ يُرْمَى به، فيُصيبُ أَحَدَهُمْ فيقتُله، أو يُضْرَبُ فَيُقتَلُ، فأنزل اللهُ {إنَّ الذين تَوَفَّاهُم الملائكةُ ظالمِي أَنفُسِهم… } [ النساء;97 ].

Bahwasanya terdapat Kaum Muslimin Makkah[14] yang bergabung bersama pasukan musyrikin (dalam perang Badar). Mereka memperkuat golongan Musyrikin dalam berperang menentang Rasulullah SAW.Datanglah anak panah kemudian dilepaskan sehingga ada yang mengenai salah satu dari mereka atau dipukul dengan pedang sehingga terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat; (An-Nisa 97).  (HR. Bukhari)

Adanya Nabi memerintahkan untuk melempar seluruh tujuh puluh mayat kaum Quraisy kedalam sumur, tanpa memilah mana yang muslim untuk diperlakukan dengan layak menunjukkan bahwa mereka telah dianggap kafir karena bergabung dalam golongan musyrikin.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقَتْلَى أَنْ يُطْرَحُوا فِي الْقَلِيبِ فَطُرِحُوا فِيهِ إِلَّا مَا كَانَ مِنْ أُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ فَإِنَّهُ انْتَفَخَ فِي دِرْعِهِ فَمَلَأَهَا فَذَهَبُوا يُحَرِّكُوهُ فَتَزَايَلَ فَأَقَرُّوهُ وَأَلْقَوْا عَلَيْهِ مَا غَيَّبَهُ مِنْ التُّرَابِ وَالْحِجَارَةِ

Dari Aisyah berkata; “Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan bagi orang-orang yang terbunuh agar dilempar ke dalam sumur. Mereka pun melemparnya ke dalam sumur kecuali apa yang dilakukan pada Umayyah bin Khalaf. Badannya menggembung memenuhi baju perang yang dipakainya, mereka menuju kepadanya dan menggerak-gerakkannya (untuk melepaskan bajunya) sehingga dagingnya lepas, maka mereka membiarkannya di tempat, dan melemparinya dengan apa yang dapat menutupinya berupa pasir dan batu. (HR. Ahmad)

Sihir

Seperti yg disebutkan beberapa Ulama’ berlandaskan Firman Allah Swt

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ

Dan mereka mengikuti apayang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan SulaIman, padahal SulaIman tidak kafir, hanya syaitan-syaitan lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang Malaikat di negeri Babil yaitu Harut. (Al-Baqarah 102)

Orang-orang yahudi memang tidak mengatakan bahwa SulaIman itu kafir, mereka hanya menuduh bahwa Nabi SulaIman itu memakai sihir, tapi Allah Swt menampik tuduhan mereka dengan mengatakan bahwa SulaIman tidaklah kafir. Yg berarti menunjukkan bahwa sihir adalah kufur. Allah Swt juga mengatakan syaitan telah kufur, mereka mengajarkan sihir, yg juga menunjukkan mengajarkan sihir itu kufur.

Para Ulama’ berbeda pendapat tentang sihir apakah kufur atau tidak karena bergantung pada pandangan mereka tentang hakikat sihir.

Imam Abu Bakar Al-Jasshash berkata;

اتفق السلف على وجوب قتل الساحر، ونصَّ بعضهم على كفره لقوله عليه الصلاة والسلام; «من أتى كاهناً أو عرافاً أو ساحراً فصدّقه بما يقول ، فقد كفر بما أُنزل على محمد»

 “Mereka para salaf telah bersepakat atas wajibnya membunuh tukang sihir dan sebagian mereka telah menyatakan tentang kekufurannya, dikarenakan sabda Nabi Saw;

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad)[15]

Imam Nawawi berkata;

عمل السحر حرام وهو من الكبائر بالإجماع وقد يكون كفرا وقد لا يكون كفرا بل معصية كبيرة فإن كان فيه قول أو فعل يقتضي الكفر كفر وإلا فلا

“Sihir itu haram, ia termasuk dosa besar berdasarkan Ijma’, ada yg merupakan kufur ada yg tidak tapi merupakan maksiat yg besar. Jika didalamnya terdapat ucapan atau perbuatan yang menjadikan kufur maka ia kufur, jika tidak, maka tidak kufur”.[16]

Diantara Madzhab empat hanya Madzhab Syafi’i yang tidak mengkafirkan sihir secara mutlak tapi dengan syarat dibarengi perbuatan kufur.  Madzhab Abu Hanifah; Sihir itu kufur, pelakunya wajib dibunuh dan Taubatnya tidak diterima. Madzhab Malik; Sihir itu kufur dan pelakunya wajib dibunuh jika Muslim (karena dianggap murtad), jika kafir tidak dibunuh. Madzhab Ahmad; Sama seperti Madzhab Imam Malik.[17]

Dari ayat-ayat diatas dapat kita ketahui bahwa kafirnya seseorang itu tidak melulu karena I’tikad yg salah tapi bisa melalui ucapan maupun perbuatan walaupun hatinya masih memegang kalimat syahadat.

Karena itu Ulama’ menetapkan bahwa hal-hal yg membuat kafir dapat mengakibatkan kafir jika dilakukan dalam keadaan mengetahui dan dengan sengaja, entah dengan I’tikad kufur atau tidak.


[1] Raudlatut-Thalibin, Imam Nawawi.

[2] Rafidlah kufur diantaranya karena menganggap siti Aisyah berzina, padahal Al-Quran telah memberitakan bebasnya ia dari tuduhan zina. Menganggap Al-Quran telah dirubah, yang demikian mengingkari keterjagaan Al-Quran dari perubahan yang telah Allah tegaskan dalam Al-Quran.

[3] Raudlatut-Thalibin, Imam Nawawi.

[4] Dimaknai Istidroj, yakni pemberian nikmat oleh Allah untuk kemudian dijatuhkan adzab, atau dimaknai Siksa Allah.

[5] Tafsir Qurthubi.

[6] Tafsir Sa’dy.

[7] Raudlatut-Thalibin, Imam Nawawi.

[8] Tafsir Ibnu Katsir.

[9] Yakni dalam Firman Allah;

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maidah 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim. (Al-Maidah 45)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah 47)

[10] Tasyri’ Al-Jina’i, Abdul Qadir Audah.

[11] Tafsir Qurthubi.

[12] Az-Zawajir, Ibnu Hajar Al-Haitamy.

[13] عن عَلِي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا والزُّبَيْرَ والْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ، قَالَ: ” انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً وَمَعَهَا كِتَابٌ فَخُذُوهُ مِنْهَا فَانْطَلَقْنَا تَعَادَى بِنَا خَيْلُنَا حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الرَّوْضَةِ، فَإِذَا نَحْنُ بِالظَّعِينَةِ، فَقُلْنَا: أَخْرِجِي الْكِتَابَ، فَقَالَتْ: مَا مَعِي مِنْ كِتَابٍ، فَقُلْنَا: لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنُلْقِيَنَّ الثِّيَابَ فَأَخْرَجَتْهُ مِنْ عِقَاصِهَا، فَأَتَيْنَا بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا فِيهِ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى أُنَاسٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ يُخْبِرُهُمْ بِبَعْضِ أَمْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا حَاطِبُ مَا هَذَا، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا تَعْجَلْ عَلَيَّ إِنِّي كُنْتُ امْرَأً مُلْصَقًا فِي قُرَيْشٍ وَلَمْ أَكُنْ مِنْ أَنْفُسِهَا وَكَانَ مَنْ مَعَكَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ لَهُمْ قَرَابَاتٌ بِمَكَّةَ يَحْمُونَ بِهَا أَهْلِيهِمْ وَأَمْوَالَهُمْ، فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي ذَلِكَ مِنَ النَّسَبِ فِيهِمْ أَنْ أَتَّخِذَ عِنْدَهُمْ يَدًا يَحْمُونَ بِهَا قَرَابَتِي وَمَا فَعَلْتُ كُفْرًا، وَلَا ارْتِدَادًا، وَلَا رِضًا بِالْكُفْرِ بَعْدَ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ صَدَقَكُمْ، قَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ، قَالَ: إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَكُونَ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ، فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ ”

Dari Sahabat Ali Ra ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutusku, Az-Zubair, dan Al-Miqdaad. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Berangkatlah kalian hingga mendatangi kebun Khaakh, karena di sana ada seorang wanita yang membawa surat. Ambillah surat itu darinya”. Maka kami pun pergi dalam keadaan kuda-kuda kami berlari cepat hingga kami tiba di kebun tersebut. Ternyata benar kami dapati seorang wanita sedang dalam perjalanan. Kami berkata : “Keluarkan surat yang engkau bawa”. Wanita itu berkata : “Aku tidak membawa surat apapun”. Kami berkata : “Sungguh, engkau harus mengeluarkan surat itu atau kami buka pakaianmu”. Lalu ia pun mengeluarkan surat itu dari gelungan rambutnya. Lalu kami bawa surat itu kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang ternyata berasal dari Haathib bin Abi Balta’ah kepada orang-orang musyrikin penduduk Makkah untuk mengkhabarkan sebagian urusan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai Haathib, apa maksudnya ini ?”. Ia berkata : “Wahai Rasulullah, janganlah engkau terburu-buru kepadaku. Sesungguhnya aku adalah seorang anak angkat di tengah suku Quraisy, dan aku bukanlah termasuk dari kalangan mereka. Adapun kaum Muhaajirin yang bersama engkau, mereka mempunyai kerabat di Makkah yang akan melindungi keluarga dan harta mereka. Dikarenakan aku tidak punya hubungan nasab dengan mereka, aku ingin menolong mereka agar mereka pun menjaga kerabatku. Aku melakukan ini bukan karena kekafiran, murtad, ataupun ridlaa dengan kekufuran setelah Islam”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sungguh, dia telah jujur kepada kalian”. ‘Umar berkata : “Wahai Rasulullah, biarkanlah aku tebas leher orang munafik ini”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya ia (Haathib) adalah orang yang turut serta dalam perang Badr. Tahukah engkau bahwa barangkali Allah telah melihat ahlul-Badr dan berfirman : ‘Berbuatlah sekehendak kalian, karena Aku telah mengampuni kalian.” (HR. Bukhari)

[14] Yang masih lemah imannya, tidak ikut berhijrah padahal mereka mampu berhijrah ke Madinah.

[15] Rowai’ul Bayan, As-Shabuny.

[16] Nailul-Authar, Imam As-Syaukany.

[17] Lihat Rawa’iul-Bayan Syaikh As-Shabuny.

Tagged: , , , , , , , , , , , ,

§ 3 Responses to Perkara yang Membatalkan Islam

  • Wah terima kasih atas infonya nch sngat bermanfaat

  • iman says:

    Bagaimana jika seorang Muslim/Muslimah “ragu-ragu” menyatakan bahwa agama lain selain agama Islam adalah sesat/kafir dan tempatnya di Neraka. Apakah keragu-raguan itu bisa jadi pembatal keislaman ? syukron, Iman-Kranggan

    • niasato says:

      Al-quran telah menyatakan dengan jelas bahwa agama yang benar dan diterima disisiNya adalah Islam, sedang salah satu rukun iman adalah iman kepada kitabNya.

      Jadi, ragu seperti halnya yang anda sebutkan adalah ragu terhadap apa yang disampaikan Al-Quran. Dan jelas yang demikian adalah pembatal keislaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Perkara yang Membatalkan Islam at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: