Taubat Nasuha

July 27, 2012 § Leave a comment

Allah Swt memerintahkan orang-orang beriman untuk Taubat Nasuha ;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubat lah kepada Allah dengan Taubatan nasuhaa (Taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (QS 66/8)

Lalu apakah Taubat Nasuha itu?

Taubat Nasuha secara mudahnya bisa diartikan sebagai merubah sikap-sikap buruk menjadi baik secara keseluruhan.  Imam Ghazali berkata;

وهي عند التحصيل  في  قول العلماء تنزيه  القلب  عن الذنب

“Ia (Taubat Nasuha) dari kesimpulan pendapat para Ulama adalah penyucian hati dari dosa.”[1]

Jadi, bukan hanya meninggalkan perbuatan buruk saja, tapi menggantinya dengan perbuatan taat. Bukan hanya meninggalkan satu perbuatan jelek saja, tapi meninggalkan seluruh perbuatan buruk yang biasa kita lakukan.

Itulah yang terkandung dalam Firman Allah ;

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

Dan orang-orang yang bertaubat  dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat  kepada Allah dengan Taubat yang sebenar-benarnya.  (QS 25/71)

Lihatlah bagaimana Allah menyatakan bahwasanya orang yang bertaubat  kemudian dikuti dengan beramal saleh adalah orang yang beTaubat dengan sebenarnya!

و روي عن علي رضي الله عنه أنه رأى رجلا قد فرغ من صلاته و قال; اللهم إني أستغفرك و أتوب إليك سريعا فقال له; يا هذا إن سرعة اللسان بالاستغفار توبة الكذابين و توبتك تحتاج إلى توبة قال يا أمير المؤمنين; و ما التوبة ؟ قال; إسم يقع على ستة معان; على الماضي من الذنوب الندامة و لتضييع الفرائض الإعادة ورد المظالم إلى أهلها و إذاب النفس في الطاعة كما أذابتها في المعصية و إذاقة النفس مرارة الطاعة كما أذقتها حلاوة المعصية و أن تزين نفسك في طاعة الله كما زينتها في معصية الله و البكاء بدل كل ضحك ضحكته

Diriwayatkan dari Sahabat Ali; Sahabat Ali melihat seorang laki-laki selesai dari salatnya dan berkata dengan cepat; ”Wahai Allah aku meminta ampunan dan bertaubat  kepadamu”, maka Sahabat Ali pun berkata padanya ; “Oh.. ini…!! sesungguhnya cepatnya lisan dalam istighfar adalah Taubatnya para pembohong, dan Taubatmu membutuhkan Taubat yang lain”. Laki-laki tadi berkata ; “Wahai Amirul Mukminin, apa itu Taubat?”, beliau menjawab ; “Sebuah nama yang terletak pada enam perkara; Penyesalan atas perkara yan telah lalu, mengganti kewajiban-kewajiban yang disiasiakan dan mengembalikan perkara yang ia rebut secara dzalim kepada pemiliknya, meluluhkan jiwa dalam taat seperti halnya kau meluluhkannya dalam maksiat, menjadikan jiwa merasakan pahitnya taat seperti halnya kau membuatnya merasakan manisnya maksiat, menghiasi diri dalam taat Allah seperti halnya kau menghiasinya dalam maksiat Allah, menjadikan tangis sebagai pengganti tawa yang kau ucapkan”.[2]

Lalu, jika  ada orang berkata ; “Sesungguhnya yang mencegahku untuk bertaubat  adalah bahwasanya aku tau aku akan kembali melakukan dosa lagi, jadi tidak ada gunanya bertaubat ”. Bagaimana jawabnya?

Ketahuilah bahwa sesungguhnya manusia memang tempat salah dan lupa, jadi kemungkinan kembali kepada suatu dosa yang telah ditaubati senantiasa ada. Maka yang penting disini adalah segera bertaubat  dari dosa dan jangan tebujuk oleh bisikan setan terkutuk itu, adapun jika ternyata kembali lagi pada dosa itu, maka ulangilah Taubatmu, dan Taubatmu yang lalu tidak berarti batal. Dan sesungguhnya dosa yang lalu itu telah hilang dan tidak kembali.

Bukankah Rasul Saw bersabda ;

أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ “

Rasul Saw bersabda ; setiap bani Adam adalah yang banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah orang-orang yang banyak bertaubat . (HR. Tirmidzi, Ibn Majah, Hakim)

Jadi, tidak mungkin ada manusia cukup Taubat satu kali saja, senantiasa Taubat dilakukan ketika kembali melakukan kesalahan.

Cukuplah Al-Quran sebagai pedoman dan Rasul sebagai tauladan ;

عَنْ عبد الله بن قيس الأشعري قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَتُوبُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

Dari Abdullah bin Qais, Rasul Saw bersabda ; “Susungguhnya Aku bertaubat  kepada Allah dalam sehari seratus kali” (HR. Ahmad)

Taubat sepotong-sepotong

Jika Taubat Nasuha adalah Taubat dari segala dosa, lalu bagaimana dengan Taubat sepotong-sepotong, yakni Taubat dari suatu dosa tapi masih melakukan dosa yang lain?

Dalam masalah ini terdapat perbedaan dari para Ulama’, yakni sebagian mengganggap sah dan sebagiannya tidak.

Ibnu Qayyim berkata; menurut saya, dalam masalah ini, Taubat itu tidak sah dari dosa tertentu, jika dosa yang sejenis tetap dilakukan. Adapun Taubat dari satu dosa tertentu disertai tetap melakukan dosa lain yang tidak ada hubungannya dengan dosa pertama dan tidak juga termasuk kedalam jenisnya, maka ia dianggap sah. Contoh; Taubat dari riba dan tidak Taubat dari minum khamr, Taubat orang itu dianggap sah. Adapun jika ia bertaubat  dari riba fadl tapi tidak bertaubat  dari riba nasiiah, maka Taubatnya tidak sah.

Menurut saya, Taubat sepotong-sepotong itu boleh karena tidak adanya larangan, akan tetapi masalah diterima atau tidaknya tidak dapat dipastikan karena Allah sendiri menyatakan;

Janjiku tidak akan sampai kepada orang-orang dzalim (Al-Baqarah/124)

Bagaimana Allah mengampuni suatu dosa seseorang sedang ia masih saja melakukan perkara yang membuatNya murka??

Akan tetapi tidak juga dapat dipastikan bahwa Taubat seperti itu tidak diterima oleh Allah dikarenakan Allah memberikan fadlalNya bagi yang ia suka, dan seseorang yang mulia tidak akan berkurang kemuliaannya bahkan bertambah, jika tidak melaksanakan ancamannya. Untuk selengkapnya, baca artikel “Amal Saleh antara diterima dan tidak”.

Jika demikian, maka Taubatlah kepada Allah dengan Taubat Nasuha dengan momohon taufiq dan pertolongaNya, jangan biarkan ada dosa sekecil apapun kau biarkan menumpuk di hatimu, sehingga jadilah engkau termasuk golongan orang yang merugi.


[1] Minhajul-Abidin, Imam Al-ghozali.

[2] At-Tadzkirah, Imam Al-Qurthubi.

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Taubat Nasuha at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: