Debat dengan Penyembah Thaghut GD

October 5, 2012 § Leave a comment

Untuk memperingati seribu harinya Gusdur, kami persembahkan debat KH. Lutfi Bashori dengan seorang penyembahnya. Debat ini kami nukil dari buku Konsep NU dan Krisis Penegakan Syari’at, karya KH. Lutfi Bashori alumni Ma’had Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Kami sebut penyembah karena memang seperti itulah bahasa Al-Quran dan Sunnah;

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْدُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَابْنَمَرْيَمَ وَمَاأُمِرُوا إِلَّالِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَاإِلَهَإِلَّاهُوَسُبْحَانَهُعَمَّايُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At-Taubah 31)

SahabatAdy bin Hatim berkata pada Rasulullah dalam hadist yg diriwayatkan Imam Ahmad dan Tirmidzi;

إنهملميعبدوهم

Sesungguhnya mereka tidak menyembah ulama’dan rahib-rahib mereka.

Nabi pun menjawab

بلى،إنهمحرمواعليهمالحلال،وأحلوالهمالحرام،فاتبعوهم،فذلكعبادتهمإياهم

Akan tetapi tidak, sesungguhnya, mereka mengharamkan kepada Ahli kitab perkara halal dan menghalalkan bagi mereka perkara haram, kemudian ahli kitab itu mengikuti mereka, itulah penyembahan Ahli kitab kepada mereka.

Ayat dan Hadits diatas walau menyinggung Ahli Kitab, akan tetapi Rasul Saw telah memperingatkan;

لتتبعن سنن الذين من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا في جحر ضب لاتبعتموهم قلنا يا رسول الله آليهود والنصارى ؟ قال فمن؟

“Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereke masuk lubang Dhab (sejenis kadal) niscaya akan kalian ikuti, para Sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah (maksudmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani?’  (jawab Rasulullah), ‘Siapa lagi.’” (HR. Bukhari & Muslim).

Semoga Allah melindungi kita dari mengikuti sunnah-sunnah orang yang Engkau benci dan tersesat, sunnah orang Yahudi dan Nasrani yang terlaknat. Aamiiin…

Berkata KH. Lutfi Bashori;

Di bawah ini, penulis (Pen) ingin menampilkan dialog via SMS antara penulis dengan beberapa warga/tokoh NU yang sering berkomunikasi dengan pembahasan seputar ke-NU-an. Semula penulis menerima operan SMS dari seorang teman seperjuangan dan sepemikiran. Karena suatu hal, maka penulis cukup menyebut inisial nama teman tersebut dengan KH. YR. Rupanya, telah terjadi sebelumnya dialog SMS antara KH. YR dan TI, tentang konsep ke-NU-an. Lantas KH. YR mengirim salah satu SMS tersebut kepada penulis, karena dirasa berkompeten untuk menjawabnya.

TI : Partai Rasulullah yang mana? Apakah Rasulullah punya partai? Memang Luthfi tak ubahnya seperti Ba’asyir. Apa Rasulullah menganjurkan Islam harus keras. Coba dia kalau bisa atur pikirannya. Bagaimana dengan para sunan-sunan dahulu dengan gendingnya? Bagaimana para wali dengan kesabarannya, dengan ilmu laddunni-nya, yang menarik dengan akhlak dan tak pernah kasar? Haruskah Islam itu kasar? Apa arti kupasan dari لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ (tiada paksaan dalam agama) atau “لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ“ (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) sedangkan Allah SWT berkata dalam Al-Quran  إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ (sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam). Tolong suruh kupas Luthfi. Ini Luthfi adalah faktor kebencian. Dalam Islam bolehkah seseorang terlalu membenci mukmin yang lain? Ya akhi KH. YR, tunjukkan SMS ini pada Luthfi.

Pen : Baik Pak Kiai KH. YR, tapi mohon saya diberi waktu dialog yang rileks, tidak tergesa-gesa, untuk mendapatkan hasil dakwah yang maksimal, sekalipun Allah Swt berfirman;

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang kau cintai, tapi Allah lah yang akan memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki.  (Al-Qashash 56)

Juga karena saya sedang melakukan persiapan, Jumat depan 23 sd 30 Juni saya dengan 10 santri akan berangkat jadi relawan korban gempa di wilayah Kristenisasi Ds. Dengkeng Kec. Wedi, Klaten (ini priode ke 2).

Ini jawaban saya, mohon Pak Kiai sampaikan kepada TI:

1) Penghancuran Masjid Dhirar oleh umat Islam yang dikomandani langsung oleh Rasulullah SAW adalah bukti bahwa pembasmian tempat munkarat boleh dilakukan secara fisik jika diperlukan. Apakah prilaku Rasulullah SAW menghancurkan Masjid Dhirar yang didirikan oleh kelompok munafiq ini dinamakan radikal? Dan apakah dengan prilaku ini juga Rasulullah SAW dikatakan tidak rahmatan lil alamin? Tentu konteksnya berbeda antara prilaku Beliau SAW saat berdakwah kepada umat dakwah, dengan prilaku Beliau SAW saat menghadapi kemungkaran hasil konspirasi kaum kuffar dan munafiqun. Sebaiknya tokoh-tokoh Nahdhiyyin mengkaji ulang tafsif Surat Attaubah mulai ayat 107, bagaimana konspirasi orang-orang munafiq dengan Pendeta Kristen Abu `Amir yang disifati oleh Al-Quran sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya.


Dengan secuplik dari surat ini saja, umat Islam yang bijak akan bisa meletakkan diri kapan harus tegas dan kapan harus lemah lembut (
أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ). Patut disangsikan pemahaman GD saat dia mengatakan Kristen dan Yahudi itu bukan kafir, tapi Alhul kitab (Jawa Pos Ahad 18 Juni 2006). Allah berfirman dengan jelas :

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sungguh kafir orang-orang (Kristen) yang mengatakan bahwa Allah adalah Almasih (Isa) bin Maryam”. (Al-Maidah 17)

Jadi kaum Nasrani yang tidak masuk Islam adalah kafir (bisa harbi/dhimmi/ummat dakwah) tergantung sikon mereka. Tapi tetap saja mereka ini disebut kafir.

2) المؤمن قد يعصي ولا يكذب

Seorang mukmin terkadang bermaksiat, tapi tidak akan berbohong.[1]

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدّثَ كَذَبَ. وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ. وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; jika berbicara dia berbohong, jika berjanji dia tidak menetapi, dan jika dipercaya dia berkhianat. (Muttafaq ‘Alaih)

Bohong bukan sifat orang Islam, bohong sebagai ciri khas orang-orang munafik. M. Guntur Romli telah melakukan kebohongan publik. Wawancara Guntur Romli dengan GD tentang penodaan terhadap Al-Quran (paling porno) telah dimuat di Website JIL (Islamlib.com) tanggal 10 Mei 2006 (data copy tersimpan), pada tanggal 16 Mei 2006 koran Duta Masyarakat menukil dan memuatnya ulang. Tatkala para Ulama ramai-ramai menuntut GD, maka Guntur cs (JIL) menghapusnya dari Website JIL untuk menghilangkan barang bukti. Bahkan Guntur membuat opini cerita yang dimuat Koran Harian Bangsa, bahwa perkataan GD itu telah dipelintir oleh lawan politiknya. Dia mengatakan di Website JIL (maksudnya yang telah direvisi) tidak ada penodaan GD terhadap Al-Quran.

Dari peristiwa ini, jadi semakin jelas, bahwa tidak ada kejujuran yang akan ditegakkan oleh Guntur Romli cs. Jadi mempercayai klarifikasi Guntur yang di muat koran Harian Bangsa, tidak ada manfaatnya di dunia dan akherat nanti. Apa ada manfaat bagi kejayaan umat Islam saat mereka terus-terusan disuguhi kebohongan-kebohongan publik yang sengaja dilakukan oleh `tokoh-tokoh publik figur`, hanya untuk menutup-nutupi kemungkaran aqidah yang dilakukan GD, yang terus menggerogoti keyakinan umat Islam terhadap “kesakralan, kesucian, ke-mahfudz-an, kehormatan, dan kemurnian Al-Quran?”

Wallahi, saya tidak akan pernah mempercayai keimanan dan keislaman `siapa saja` yang telah melecehkan `Al-Quran`, wa a`taqidu bikufri man ihtaqorol Quran, wahuwa kalamullah almunazzal alaa Sayyidina Muhammad SAW biwaashithoti Jibril AS, almuta`abbadu bitilaawatihi, almu`jizu li a`daaihi bisuurotin waahidah (saya meyakini kekufuran orang yang melecehkan Al-Quran, sedang Al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril AS, membacanya dihukumi ibadah, bisa melemahkan/menjadi mukjizat bagi musuh-musuhnya, walaupun dengan satu surat).


Jadi, masalahnya bukan “benci kepada sesama mukmin”, tapi saya akan terus memerangi kemungkaran-kemungkaran yang dilakukan dihadapan publik oleh siapa saja,

من رأى منكم منكراً فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

“Barang siapa diantara kalian melihat perkara munkar, hendaklah merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya; dan itulah selemah-lemah keimanan.” (HR Muslim)

Untuk itu pula Rasulullah SAW berkali-kali memimpin dan mengirim tentara-tentara perang, disamping dakwah bil mau`idhotil hasanah. Wali Songo sepakat membunuh Syeikh Siti Jenar, lantaran mereka menilainya telah keluar dari ajaran syariat. Jadi, dakwah para sunan tidak menggunakan pendekatan kultur (gendingan dll) saja, bahkan variatif disesuaikan sikon.

انزل الناس منازلهم وخاطب الناس بقدر عقولهم

Letakkanlah ummat itu sesuai dengan posisi kedudukannya, dan bicaralah kepada ummat sesuai kadar akal mereka.[2]

Mereka ini pewaris perjuangan Nabi SAW yang rahmatan lil ‘alamin, dan hasil didikan mereka, lahiRahmatan Lil Alamiinh P.Diponegoro, dll, yang dengan berjubah dan berimamah/sorban memerangi kemungkaran transfer kekufuran (kristenisasi) dan penjajahan yang dilakukan oleh tentara Kristen Belanda. (termasuk rahmatan lil ‘alamin adalah melawan kemungkaran dan menghindarkan umat dari (ancaman firman Allah);

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut sebab ulah tangan-tangan manusia. (Ar-Rum 41)

Termasuk fasad aqidah yang menyebabkan `kemurkaan Allah` dengan datangnya bencana-bencana alam. Bagaimana tidak terjadi, jika banyak tokoh-tokoh partai yang menolak pemberlakuan/formalisasi hukum-hukum Allah di Indonesia, hanya berdalih melindungi minoritas yang jelas-jelas kafir dan menentang `Penciptanya`. Padahal mereka juga makhluk Allah. Ketahuilah, hukum Allah sangat bijak untuk makhluk-makhluk-Nya. Pak Kiai, Saat ini saya `sedang` mampu berdakwah dan memerangi kemungkaran dengan `lisan dan tulisan`. Semoga mata hati umat Islam dibuka oleh Allah.

3) Arti ayat لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ (tidak ada paksaan dalam memilih agama). Mau masuk Islam Alhamdulillah, mau pilih kafir atau pilih nerakapun ya terserah, tapi harus diperhatikan terusan ayatnya:

قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

Sungguh telah jelas jalan yang benar/Islam dan jalan yang sesat/selain Islam/kekafiran. (Al-Baqarah 256)

Tetapi jika pilih masuk Islam ya harus ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً(masuklah ke agama Islam secara menyeluruh).[3] Termasuk bersedia melaksanakan secara mutlaq hukum Islam yang diturunkan oleh Allah lewat Al-Quran. Bukan berhukum dengan hukum bikinan manusia ala demokrasi atau ala kebangsaan,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ؟[4]

Apakah hukum produk jahiliyyah/demokrasi ala barat / kafir yang diinginkan?

Maka umat Islam tidak boleh pasif dalam memperjuangkan tatbiiqus syari`ah (penerapan syariat Islam) di muka bumi termasuk Indonesia. Jika suatu saat ada kesempatan untuk melaksanakan syariat Islam secara kaaffah, maka saat itu pula wajib bagi seluruh umat Islam melaksanakannya. Jadi tidak ada kata final dalam memperjuangkan tatbiiqus syari`ah sebelum benar-benar terwujud pemberlakuan syariat Islam.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya satu-satunya agama (yang diakui kebenaran syariatnya) oleh Allah (setelah Nabi Muhammad diutus) adalah Islam). (Ali Imron 19)

untuk itu segala sesuatu yang diperjuangkan pun termasuk negara maupun partai wajib berasaskan Islam.

TI : Saya tunggu waktu debat terbuka di TV dengan Luthfi.

Pen : Pak Kiai, tentang tantangan debat TI di TV, saya merasa sanksi, apa adu argumen yang ditampilkan di TV itu akan menghasilkan kejayaan bagi Islam dan umat Islam? Kita belum punya televisi dakwah Islam yang sesungguhnya. Saya kira kurang ada manfaatnya. Ilmu yang manfaat tidak harus dipublikasikan lewat TV. Semestinya Hasil ijtihad empat imam madzhab, lebih layak untuk ditampilkan di TV hingga dapat diserap oleh masyarakat, agar yang muslim lebih yakin keislamannya. Dan yang anti tatbiiqus syariah bisa dapat hidayah, sedangkan ilmu saya yang dhaif ini cukup :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu (Kristen itu kafir apa tidak?) maka kembalikan/rujuklah ke (firman) Allah dan (sabda) Rasul, itu jika kalian beriman kepada Allah dan hari Qiamat. (An-Nisa’ 59)

Jika sesuai Al-Quran dan Hadits akan kita jadikan pedoman/panutan, jika bertentangan dengan kedua-duanya, maka buang saja jauh-jauh dari kehidupan kita. Pak Kiai, saya ini bukan orang partai, jadi saya tidak tahu banyak tentang partai. Saya murni orang pondokan yang puritan, selalu bersarung dan berbaju takwa. Saya juga tidak beli TV untuk rumah tangga saya. Yang ingin tahu pemikiran saya, sebaiknya baca karangan saya Musuh Besar Umat Islam (Terbitan LPPI/ Gema Insani, tersedia di toko-toko buku umum) hingga tuntas.

4) Arti وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.

Tidaklah kami utus engkau (Hai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (AL-Anbiya’ 107)

Rahmatan Lil Alamiin bagi seluruh alam termasuk bagi umat Islam dan orang kafir. Tetapi setiap dari kedua kelompok ini ada bagiannya sendiri-sendiri, tidak disamaratakan. Seperti halnya seorang ayah yang dikatakan dermawan terhadap semua orang, tentu pembagian obyek kedermawanan shadaqahnya berbeda-beda. Misalnya kepada tetangga dia `sering` menyantuni. Sedangkan kepada anaknya, dia `tiap hari memberi nafkah makan dan uang saku`, tetapi kepada Istri tidak sekedar itu, disamping menyantuni juga menafkahi dan sekaligus mengumpuli. Jadi setiap kelompok dapat bagian sendiri-sendiri, tidak bisa disamaratakan. Jika ada pihak yang menerapkan penyemarataan, itu termasuk kedhaliman. Semisal, demi pemerataan, apa para wanita tetangganya juga dikumpuli? Apa anak gadisnya juga dikumpuli? Pemahaman penyamarataan inilah yang dikatakan `kalimatu haqqin uriida bihal baathil` (Kalimat yang benar tetapi dipergunakan untuk tujuan salah).

Hakikat Rahmatan Lil Alamiin bagi umat Islam: Allah menurunkan taufiq dan hidayah kepada umat Islam dan istiqamah di dalam agamanya adalah lantaran dakwah dan rahmat Nabi Muhammad SAW. Umat Islam yang benar-benar cinta Rasul akan terus mendapatkan kemudahan dalam hidup dan mendapatkan bimbingan untuk selalu beramal shaleh. Kelak, tatkala semua manusia di padang mahsyar ada yang akan masuk sorga atau neraka, Rasulullah terus memohon kepada Allah untuk keselamatan umatnya : ummatii…ummatii (Umatku…Umatku…).[5] Itulah gambaran simpel Rahmatan Lil Alamiin bagi umat Islam.

Adapun Rahmatan Lil Alamiin bagi orang kafir adalah takkhirul ‘adzaab; Allah mengakhirkan adzab/balasan siksa bagi orang yang kafir kepada Allah dan Rasulullah, tidak seperti kaumnya para Nabi terdahulu, yang begitu menentang syariat Nabinya langsung diturunkan adzab /siksa, seperti banjirnya Nabi Nuh, hujan batunya Nabi Luth, dll. Namun, Rasulullah SAW diberi keistimewaan sebagai Rahmatan Lil Alamiin, sehingga kaum kafirpun masih ditolelir dan tidak dimintakan adzab secara langsung oleh Rasulullah, karena rahmat beliau kepada umat manusia. Sekalipun demikian, Rasulullah SAW juga masih melakukan peperangan-peperangan dengan orang kafir agar ditiru oleh umatnya bahwa kekafiran kepada Allah di mana pun tetap harus diperangi. Sebagai ilustrasi, Bangsa Yahudi Bani Qainuqa` dan Bani Nadhirpun diusir oleh Rasulullah karena mengkhianati pemberlakuan syariat Islam di negara Islam Madinah yang dicetuskan dalam bentuk Miitsaaqul Madinah (Piagam Madinah). Nah, hingga kini pun orang-orang kafir Yahudi dan Nasrani, serta pemeluk agama-agama selain Islam haram masuk Kota Suci Madinah dan Makkah. Makkah dan Madinah adalah kota suci, di antaranya suci dari kekafiran manusia yang tidak mengucapkan;

اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمد رسول الله

Jadi arti Rahmatan Lil Alamiin bukan berarti harus terlalu moderat, apalagi jika kebablas hingga pada taraf kerjasama dalam bentuk ritual, aliansi partai, apalagi mengatur undang-undang untuk mengatur hidup manusia.

TI : Ya akhi, KH. YR, SMS ini tolong diteruskan ke Luthfi. NU lahir bukan untuk memproduksi ekstrimis. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy`ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri dan kiai pendiri NU lain tak pernah bersikap ekstrim dan tak punya sopan santun seperti itu. NU lahir sangat menghargai tradisi lokal. Bukan seperti Wahabi yang mau menyeragamkan tafsir agama seperti itu. Bahkan NU juga lahir sebagai reaksi atas sikap Raja Ibnu Saud yang mau menyeragamkan paham agama di Saudi, yakni ajaran Wahabi. Nah, sekarang orang seperti Luthfi Bashori ini Wahabi pura-pura berkedok NU. Padahal ia sama sekali tak paham nilai-nilai dan ajaran NU. Buktinya, tindak tanduknya selalu bertentangan dengan NU yang santun dan penuh tabayyun. Belakangan ini kelompok Islam aliran keras memang berusaha ngaku-ngaku NU dan mendekati orang NU untuk memasukkan ajaran mereka agar bisa diterima oleh warga NU. Padahal, kiai-kiai sudah paham siapa mereka.


Jangan lupa, Din Syamsudin yang sekarang ketua umum PP Muhammadiyah dulu juga ketua IPNU. Jadi kalau sekedar pernah sekolah di muslimat NU, sebagaimana yang ada dalam biodata Luthfi, lalu memproklamirkan diri sebagai orang NU, ditertawakan orang. Seseorang bisa dikategorikan NU atau tidak, dilihat dari paham keagamaan dan perilakunya. Bagaimana mungkin orang yang sangat mudah mengkafirkan orang lain mengaku orang NU. Orang NU yang sangat awwam pun paham ajaran bahwa orang yang mengkafirkan orang lain, padahal yang dikafirkan itu baca syahadat, maka yang mengkafirkan itulah yang kafir. Ajaran ini sangat populer di desa-desa karena orang awwam itu mengaji kitab Sullamut Taufiq dan Safinatun Najah. Jadi sejak kecil mereka diajari bersikap moderat, bukan agitasi ekstrim mengkafirkan sesama Islam. Aneh, mereka secara lisan menyatakan Islam rahmatan lil-alamin, tapi sesama muslim yang beda pendapat saja dikafirkan. Kalau semua umat Islam yang beda pendapat dicap kafir, lalu tinggal berapa umat Islam? Bagaimana umat Islam bisa punya kekuatan kalau yang beda pendapat diusir dari Islam? Memangnya Islam hanya diturunkan kepada mereka saja. Siapa yang punya otoritas dan merasa punya hak paten soal Islam? Kok makin menggelikan. Rasululah menebar kasih sayang, tapi mereka malah menebar permusuhan. Apa komentar Luthfi tentang ini.

Pen : Apapun tuduhan yang mengatakan kalau saya, Luthfi Bashori sebagai Wahabi, sama sekali tidak berdasar. Seorang ahli jarh wat ta`dil (ilmu menilai seseorang dalam musthalah Hadits, untuk menentukan perawi itu tsiqat / shahih atau tidak) harus benar-benar berdasarkan realita di lapangan, bukan sekedar analisa. Saya sendiri sangat menghormati siapapun lawan bicara saya, asalkan benar-benar sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.

Mengapa terkadang saya terkesan keras, sebab seringkali saya menghadapi lawan bicara yang asal tuduh dan asal comot kata-kata. Mereka mengatakan saya Wahabi, tetapi tidak tahu Wahabi itu hakekatnya bagaimana. Kemudian mereka mengaku dirinya paling NU.

Saya ingin memberi contoh masalahnya. Dalam kitab Sullamut Taufiq, terdapat pembahasan anwaa`ur riddah yang justu bertentangan dengan perilaku kesekuleran dan keliberalan mereka. Lucu jadinya kalau dakwah saya di-counter dengan Sullamut Taufiq dengan alasan saya adalah penganut Wahabi. Kalau boleh saya terangkan, bahwa salah satu ciri penganut Wahabi adalah anti talqin mayyit dan mengharamkan Peringatan Maulid Nabi SAW. Padahal saya sangat meyakini kebenaran talqin bagi mayyit, bahkan sudah berkali-kali mentalqin mayyit (bisa di-cros chek kepada masyarakat di daerah tempat tinggal saya).

Di pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami yang saya asuh, tiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal selalu menyelenggarakan Peringatan Maulid Nabi SAW yang dihadiri oleh para habaib, Ulama, dan umat Islam. Wahabikah saya? Kini saya balik bertanya kepada para pengaku bahwa dirinya NU tulen, yang terang-terangan mendirikan partai sekuler dan liberal, yang mana sesuai pengakuan GD sendiri bahwa anggota partai yang didirikannya 50 % NU, 25 % non NU, 25 % non Muslim (Kristen, Budha, Hindu, Khong hucu, PKI, dsb). Akan saya tanyakan: Kalau di antara mereka meninggal dunia, dan saya disuruh mentalqin, saya akan membaca : Man rabbuka (siapa tuhanmu?). Kemudian saya tuntun jawabannya: Allahu Rabbi (Allah adalah Tuhanku). Man Nabiyyuka (siapa Nabimu?), Muhammadun Nabiyyi (Muhammad adalah Nabiku). Maa dinuka (apa agamamu?), Al Islamu diini (Islam agamaku). Maa qiblatuka (Apa qiblatmu?), Al-Ka’batu qiblati (Ka`bah adalah qiblatku). Sampai disini pertanyaan dan jawaban masih aman dan lancar. Tetapi talqin berikutnya: Maa imaamuka (apakah pegangan/hukum yang kau tegakkan dalam hidupmu?). Kalau saya talqin, Al-Quran pedoman hidupku pasti tidak sesuai realita, sebab mereka menolak penerapan hukum Al-Quran/syariat Islam. Terpaksa saya mentalqin mereka dengan : “Demokrasi sekuler dan liberal adalah pedoman hidupku”. Apa Malaikat Munkar Nakir mau menerima jawaban mereka? Belum lagi jika sampai pada pertanyaan talqin terakhir: Man ikhwaanuka (siapa teman/mitra aliansi partai/idola/cs hidupmu?). Kalau saya talqin seperti ajaran NU : “Orang muslim dan mukmin adalah teman-temanku” jelas tidak sesuai realita. Maka dengan berat hati akan saya talqin mereka: “Teman-temanku adalah orang muslim, mukmin, Yahudi Simon Peres, orang Nasrani, pendeta Franz Magnis Suseno, artis porno, waria, Budha, Hindu, PKI, dukun, kejawen, pokoknya segala macam manusia dengan latar belakang berbeda-beda yang penting mau gabung dengan `partai terbuka`-ku, maka mereka inilah teman `gado-gado`ku…! Kira-kira apa reaksi Malaikat Munkar-Nakir?.

Saya yakin jika kita mau kembali merujuk ajaran KH. Hasyim Asy`ari dalam kitab beliau Risalah Ahlis Sunnah Wal Jama`ah, pasti tidak akan ada warga NU yang mau masuk partai bikinan GD yang sekuler. Bagaimana tidak, asas NU saja Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah, tetapi partainya GD menolak asas Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah? Yakinlah bahwa figur KH. Hasyim Asy`ari sama sekali berbeda dengan GD. Konsep ke-NU-nya KH. Hasyim Asy`ari juga sangat jauh berbeda dengan konsep partai-nya GD. Mau bukti? Adakan studi banding antara Qanun Asasi Nahdlatul Ulama dengan Mabda` Siyasi partainya GD itu. Pasti akan didapati perbedaan yang sangat jauh. Perlu diketahui, saya hanyalah pengamat partai. Semoga warga NU lebih senang mengamalkan wong kang shalih kumpulono (bergaul dengan orang-orang shalih), bukan mengamalkan wong kang tenar/sugih kumpulono (bukan memilih bergaul dengan orang-orang terkenal dan kaya saja).

TI : Ya akhi, KH. YR, Luthfi tidak faham, kalau GD posisinya di politik untuk merangkul orang-orang non Islam dalam ring-ring politik, agar orang-orang non Islam tadi bisa menilai dan memberi suntikan, juga agar mereka tahu bahwa Islam ini rahmatan lil ‘alamin. Cuma memang GD sering membuat move politik dengan cara yang tajam. Kenapa mereka orang kafir kok bisa menyelusup di kalangan Islam?

Pen : Pak Kiai, jawaban saya untuk TI sebagai berikut: Sekali lagi saya tidak yakin bahwa pendukung GD mengaku belajar Sullamut Taufiq, kitab pegangan dasar warga NU. Dalam Sullamut Taufiq pada faslun Fiima yuuqi`u fir riddah (Pasal tentang perkara-perkara yang menjerumuskan ke arah kemurtadan) jelas diterangkan: Murtad ada tiga macam, diantara penyebab kemurtadan :

1.I’tiqad ,misalnya: ragu terhadap kebenaran dan relevansi syariat Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits Nabi untuk diterapkan di segala zaman). GD menentang formalisasi Syariat Islam.

2.Af ’aal, misalnya: dalam kitab Assyifa, Al-Imam Qadhi Iyadl Al-Yahshubi Al-Maliki beliau mengatakan; di antara penyebab kemurtadan adalah “Berjalan menuju Gereja bersama kaum Nasrani”(untuk memeriahkan Natal atau ibadah mereka di Gereja, maupun ritual lain di luar Gereja). GD hadir di Senayan bersama 10 ribu kaum Nasrani dalam kegiatan ritual agama Kristen, dan didoakan oleh Pendeta wanita dari luar negeri, atas nama “Tuhan Yesus” untuk kesembuhan mata GD. Kaset CD-nya tersimpan.

3.Aqwaal ,misalnya: Perkataan yang menghina Allah atau Al-Quran, atau mengatakan bahwa penganut Yahudi dan Nasrani yang tidak mengimani kerasulan Nabi Muhammad itu tidak kafir, jadi ucapannya jelas bertentangan dengan Nash Al-Quran. GD mengatakan Kitab suci paling porno di dunia adalah Al-Quran, ini bentuk pelecehan yang paling keji. GD menyatakan di Bali saat diangkat jadi Presiden: “Semua agama itu sama benarnya”. Saya dengar sendiri di TV dan kliping korannya tersimpan, dan diulang lagi beberapa kali dengan kalimat berbeda tapi artinya sama. Termasuk yang baru dimuat Jawa Pos 18 Juni 2006, dia mengatakan : “Yahudi dan Nasrani itu tidak kafir, tetapi Ahlul kitab”. Ucapan-ucapan GD ini bertentangan dengan firman Allah yang sharih. Tujuan dia untuk mendapat simpati dan dukungan orang-orang kafir tersebut.

Beberapa kali di atas mimbar dan dimuat di koran-koran, dengan bangga GD menyatakan keberhasilan partai yang dirintisnya : 50 % warga NU, 25 % warga Non NU, 25 % sisanya adalah Non Muslim (alias Kafir). Ini adalah konsekuensi sebagai partai terbuka. Allah berfirman:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi walidengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari Allah sama sekali (Ali Imron 28)

Umat Islam jangan mengambil orang-orang kafir sebagai mitra setia untuk bekerja sama (termasuk dalam aliansi partai) dengan meninggalkan sesama muslim (karena di partai yang berbeda, yang selama ini dibaca oleh orang-orang non partai terkesan sikut-sikutan demi sebuah ‘kepentingan`) barang siapa melakukan hal tersebut, maka Allah tidak akan memperdulikan atau menerima sesuatupun darinya. 

Perlu diingat, resiko fanatisme buta yang menyebabkan ketidakberanian untuk mengoreksi perilaku dan pemikiran GD yang jelas-jelas bertentangan dengan ayat suci Al-Quran, tersirat dalam sabda Nabi SAW :

من مات على عصبية مات ميتة الجاهلية

 Barang siapa mati karena fanatisme buta, maka mati dalam keadaan jahiliyah.[6] 


Satu lagi yang perlu diingat bahwa pencampuradukan ritual agama, seperti pelaksanaan doa bersama tokoh-tokoh lintas agama adalah bertentangan dengan nash Al
Quran:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Sungguh telah Kami turunkan peringatan untuk kalian, apabila kalian mendengar ayat-ayat/ajaran agama Islam dikufuri/diingkari dan di olok-olok/dilecehkan (dengan cara menyebut-nyebut dan berdoa kepada Tuhan selain Allah) maka jangan sekali-kali kalian duduk bersama mereka (saat pelaksanaan ritual/acara baca doa para penyembah selain Allah), hingga mereka berbincang dalam pembahasan yang lain (misal: urusan bisnis yang tidak ada syarat `Islam` bagi penjual maupun pembeli. Dan jika kalian tetap `nekat` duduk bersama orang-orang kafir penyembah selain Allah saat mereka melaksanakan ritual keagamaannya) niscaya kalian (dihukumi oleh Allah) sama seperti mereka (dalam kekafiran), sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafiq dan orang-orang kafir bersama-sama di neraka Jahannam. (An-Nisa’ 140)

Dalam surat Annisa ayat 140 ini, sangat jelas diterangkan bahwa hadir dalam perayaan ritual agama selain Islam, oleh Allah disamakan statusnya dengan orang-orang kafir. Adapun dua ayat sebelumnya sangat jelas prilaku pencampuradukan ritual agama adalah pekerjaan orang-orang munafiq yang selalu menjadikan orang-orang kafir sebagai teman/sahabat/mitra/aliansi dalam menjalani kehidupan. Padahal berapa banyak dari tokoh-tokoh sekuler-liberal bahkan telah berkali-kali hadir ritual Natal bersama penganut Nasrani penyembah Tuhan Bapa, Tuhan Anak, Roh Kudus (Trinitas). Belum lagi yang menghadiri ritual agama-agama lainnya semisal Khong hucu, yang salah satu tradisi ritualnya adalah Barongsai. Tak ubahnya semisal kesenian hadrah diyakini warga NU sejati sebagai salah satu bentuk ritual karena mengandung bacaan shalawat Nabi, maka Barongsai juga adalah salah satu ritual umat Khong hucu. Jadi hadir dalam pagelaran Barongsai bukanlah sekedar nonton kesenian. Warga NU yang arif dan shaleh, tidak akan mengorbankan aqidahnya hanya karena mengikuti keinginan hawa nafsunya untuk menonton Barongsai. Apalagi hanya karena membela suatu partai.Patut disayangkan, saat ini tokoh-tokoh publik justru ramai-ramai hadir dalam perayaan-perayaan ritual agama selain Islam.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari (syariat dan ritual) agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (syariat dan ritual itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (karena masuk neraka). (Ali Imron 85)

Coba perhatikan lagi perilaku tokoh-tokoh lintas agama dengan ekspos besar-besaran secara nasional oleh media cetak dan TV. Apa tujuannya? Supaya kemungkarannya diikuti umat? Imbasnya, kini di daerah-daerah perbuatan munkar tersebut menjadi marak. Dakwah mereka mengajak umat Islam menentang firman Allah cukup berhasil. Saya infokan bahwa di daerah-daerah cukup banyak tokoh yang mengikuti ajakan dan ajaran kemungkaran tokoh-tokoh sekuler-liberal. Bahkan ada juga santri pondok pesantren NU yang ke mana-mana membawa tas map berlambang salib, salah satunya pernah mampir ke rumah saya. Tatkala saya tanya dari mana tas itu? dia menjawab; “Hadiah dari gereja saat ikut program tukar menukar santri-pelajar antar pesantren (NU) dan gereja, dalam kegiatan ukhuwah lintas agama”. Hingga saat ini, santri tersebut masih aktif mengikuti kegiatan misa di gereja-gereja demi solidartitas kebersamaan. Dengan keberhasilan ini banggakah tokoh-tokoh sekuler-liberal? Senangkah mereka? Gembirakah mereka? Tetangga saya pun, yang sejak masa kecilnya selalu tidur dan aktif di mushalla, sekarang sudah menjadi Nasrani karena menganut Fiqih lintas agama kaum liberal yang melegalkan kawin campur beda agama. Orang awampun menganggap remeh perilaku pindah agama, terimbas oleh ajaran liberalisme. Mereka berdalil : “Kata GD, Yahudi dan Nasrani itu tidak kafir, jadi mending sekalian pindah ke Kristen saja agar tidak direpotkan oleh kewajiban shalat lima waktu, dan tidak usah mandi besar (junub) setelah berhubungan dengan istri. Kalau di Kristen kan ibadahnya cuma seminggu sekali!”. Persepsi semacam ini kah target kaum liberal, yakni mengkristenkan warga NU? Apa sesuai dengan tujuan didirikannya Ormas Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan para Ulama?

TI : Kita adakan debat terbuka saja dengan Luthfi. Tolong sampaikan!

Pen : Pak Kiai KH. YR, sekali lagi, saya tidak berhasrat untuk debat terbuka, karena madlaratnya lebih besar dari pada manfaatnya, terutama yang ditampilkan di TV atau media cetak. Sebab saat ini media tidak berpihak pada perjuangan ummat dalam penegakan syariat Islam. Hal tersebut sudah sering terjadi. Pemberitaan di media tidak sesuai realita dalam forum.

KH. YR : Saya setuju ustadz, dengan pendapat Antum. Media-media Indonesia mayoritas bukan milik ummat Islam. Perlu Antum ketahui bahwa pengikut GD akan mati-matian membelanya dengan segala macam cara.

Pen : Benar Pak Kiai KH. YR, di pondok-pondok pesantren sudah banyak forum bahtsul masail. Coba kita lemparkan pertanyaan kepada forum bahtsul masail, tentang apa yang dilontarkan oleh GD di Jawa Pos 18 Juni 2006 kemarin, dia mengatakan bahwa penganut Kristen itu tidak kafir, tetapi ahlul kitab. Kalau masalah ini diangkat dalam perdebatan terbuka, maka kita sebagai warga NU dan ummat Islam tidak akan mendapatkan jawaban yang kongkrit, bahkan bisa mengundang anarkisme. Tapi kalau kita lempar dalam forum bahtsul masail, maka kita akan tahu hakikat statemen GD tersebut. Dengan kata lain, kalau semua peserta bahtsul masail mengatakan penganut Kristen “tidak kafir”, berarti GD pintar. Tapi kalau semua peserta bahtsul masail mengatakan penganut Kristen kafir dengan dalil firman Allah;

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sungguh kafir orang-orang (Kristen) yang mengatakan bahwa Allah adalah Almasih (Isa) bin Maryam”. (Al-Maidah 17)

berarti GD tidak mengerti isi Al-Quran. Bukankah demikian logikanya, Pak Kiai?

TI : Di sini masyarakat menilai GD baik. Ingat bahwa GD berdiri di partai, GD merangkul segala lapisan masyarakat. GD berkorban. Sedangkan partai siapa saja boleh bersimpatik bahkan membantu partai. GD seorang figur yang jadzab dan khilaf. Siapa tahu orang itu bisa berhenti dari perbuatannya? Bagaimana cerita Abu Nawas dengan himarnya? Dengan gaya maksiat? Apa Luthfi tidak hafal syair Abu Nawas dengan taubatnya? Apakah seorang waria atau pelacur, bahkan pembunuh, simpatik dengan GD atau ingin didatangi, apa tidak boleh? Sekali go publik GD nggak tanggung-tanggung. Kiai dan Ulama nggak mau asal partai menang, semua cara dilakukan GD. Lihat saja, makin bertambah waktu; tiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, GD tambah jadzab. Itu kehendaknya ‘khairu wa syar terserah GD wa Minallah’ (baik dan buruk itu terserah GD dan Allah). Betul tidak?

KH. YR : Begitulah ustadz fanatisme pengikut GD yang sangat berlebihan. Semua perilaku GD, termasuk yang bertentangan dengan syariat, akan dipandang baik dan benar.

Pen : Dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani, Sulthanul Auliya itu mengatakan:

اياك ان تحب او تبغض احدا قبل ان تعرضه على الكتاب والسنة حتى لا تحبه او تبغضه بهوى نفسك

 “Jangan kau mencintai atau membenci serorang sebelum kau cocokkan prilakunya dengan Al-Quran dan Hadits/Syariat, sehingga kau tidak mencintai atau membenci seorang karena hawa nafsumu”.

Jadi perilaku dan pemikiran GD harus diteropong dengan syariat. Jika sesuai dengan syariat silakan dipakai, jika tidak sesuai, kita tinggalkan saja figur GD dari kehidupan kita. Warga NU harus cerdas dan belajar ulang perbedaan khariqul ‘adah (keluar dari kebiasaan umum/jadzab) dengan mukhalifus syari’ah (melanggar syariat). Warga NU harus berani tanya kepada PBNU, apakah GD masih istiqamah shalat? Jawaban mereka (rahasia umum) akan mengatakan tidak shalat, hanya kadang-kadang saja GD shalat. Jadi GD ini pelanggar syariat, bukan jadzab/khariqul `aadah. Kaidah mengatakan, orang jadzab atau maghrum atau majnun tidak boleh diangkat jadi pimpinan, jika dipaksa jadi pimpinan, pasti pengangkatnya adalah masyarakat awwam yang tidak mengerti tata tertib Fiqhus Siyasah. Jadi, jika GD jadzab maka dia tidak layak memimpin Ormas atau partai. Jika dia `sakit` atau `tidak waras` karena pengaruh strok, maka dia harus `dirumahsakitkan`. Tapi, kalau dia ini sehat segar bugar jasmani rohani dan dianggap sebagai maskot dan sentral Ormas/partai, maka dia adalah figur “pemimpin yang ahli maksiat”, dan haram umat Islam mengikutinya, apa lagi menjadikannya sebagai idola panutan.

Kiai As`ad Situbondo telah memberi contoh warga NU agar mufaraqah (memisahkan diri) dari kepemimpinan GD yang dianggap seperti “imam shalat yang kentut” (patut dikatakan bahwa Kiai As`ad adalah Waliyullah. Sedang GD…?).  Pak Kiai KH. YR, ini sekilas info dari saya. GD tadi (Minggu) malam, 26 Juni 2006, di TMII Jakarta menghadiri kontes waria se Indonesia. Di tengah berbagai musibah, gempa, awan panas Merapi, banjir lumpur, terus saja GD mendukung kemaksiatan. Tidakkah Allah akan lebih murka lagi,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut sebab ulah tangan-tangan manusia. (Ar-Rum 41)

Apakah kelakuan GD ini lantaran hanya karena rasa kemanusiaan yang jelas-jelas merugi,

 إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Sungguh manusia itu pada merugi.

Apa dia tidak tahu kalau

 إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ بِالصَّبْرِ

Kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh. (Al-Ashr 2-3)

Kontes waria adalah kontes kemaksiatan secara terang-terangan. Dan siapa saja yang terlibat di dalamnya sekecil apapun, adalah ahli maksiat. Laa haula wala quwwata illaa billah. Ini kajian saya murni dari sisi aqidah Islamiyah, bukan dari kacamata Ormas atau partai.

TI : Memang kalau orang seperti Luthfi yang sudah bughut (benci) atau tidak senang dengan seseorang, ada saja cara mengungkapkan ketidaksenangannya. Apa lagi Ulama besar semacam GD yang berjuang demi bangsa, negara, dan agama, pasti segala gerakannya dimonitor sampai sekecil-kecilnya, kemudian dicari kesalahannya. Suatu saat kebenaran GD pasti kelihatan nyata.

Pen : Benar Pak Kiai KH. YR yang Antum katakan bahwa fanatisme sering kali menghalangi hati seseorang dari kebenaran syariat. Semoga kita dilindungi oleh Allah SWT.

* * *

 


[1] Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Jarir dengan sanad sangat dlo’if disebutkan;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَرَادٍ، قَالَ: قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ يَسْرِقُ الْمُؤْمِنُ؟ قَالَ: «قَدْ يَكُونُ ذَلِكَ» . قَالَ: فَهَلْ يَزْنِي الْمُؤْمِنُ؟ قَالَ: «بَلَى، وَإِنْ كَرِهَ أَبُو الدَّرْدَاءِ» قَالَ: هَلْ يَكْذِبُ الْمُؤْمِنُ؟ قَالَ: «إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ مَنْ لَا يُؤْمِنُ، إِنَّ الْعَبْدَ يَزِلُّ الزَّلَّةَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى رَبِّهِ فَيَتُوبُ، فَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِ

Dari Abdullah bin Jarad, dia berkata, Abu Ad-Darda` berkata, “Wahai Rasulullah, apakah seorang mukmin mungkin berdusta? Beliau menjawab, “Kadang ada.” Dia bertanya lagi, “Apakah seorang mukmin mungkin berzina?” Beliau menjawab, “Bisa jadi. Meski Abu Ad-Darda` tidak suka.” Dia bertanya lagi, “Apakah seorang mukmin berdusta?” Beliau menjawab, “Tidak, karena yang berdusta itu hanyalah orang yang tidak beriman. Sesungguhnya seorang hamba bisa saja tergelincir (dalam dosa) kemudian kembali kepada Tuhannya dan bertaubat lalu Allah pun menerima taubatnya.”

Imam Malik meriwayatkan dalam Muwattho’nya secara mursal;

عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَانًا فَقَالَ نَعَمْ فَقِيلَ لَهُ أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ بَخِيلًا فَقَالَ نَعَمْ فَقِيلَ لَهُ أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ كَذَّابًا فَقَالَ لَا

Dari Shafwan bin Sulaim berkata; “Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah seorang mukmin bisa menjadi penakut?” Beliau menjawab: ‘Ya.” Kemudian ditanya lagi; “Apakah seorang mukmin bisa menjadi bakhil?” Beliau menjawab: “Ya.” Lalu ditanyakan lagi; “Apakah seorang mukmin bisa menjadi pembohong?” Beliau menjawab: “Tidak.”

[2]عن عائشة رضي الله عنهاء أنها قالت: أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن ننزل الناس منازلهم

Dari ‘Aisyah Ra, ia berkata; Rasulullah Saw memerintahkan kita untuk meletakkanlah manusia sesuai dengan posisi kedudukannya. (Diriwayatkan oleh imam Muslim secara Ta’liq, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Al-Bazzar dan lainnya)

عن ابن عباس قال رسول الله صل الله عليه وسلم  اُمِرْنَا أَنْ نُكَلِّمَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saw bersabda; Kami (para Rasul) diperintahkan untuk berbicara kepada manusiasesuai dengan kadar aqal mereka. (HR. Dailami)

Imam Bukhari meriwayatkan secara mauquf kepada sahabat ‘Aly;

حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

“Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan rasul-Nya didustakan?”

[3]Al-Baqarah 208

[4]Al-Maidah 50

[5] HR. Bukhari.

[6] Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلَا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلَا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ 

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan Jama’ah kemudian ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. Dan barangsiapa mati di bawah bendera kefanatikan, dia marah karena fanatik kesukuan atau karena ingin menolong kebangsaan kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. Dan barangsiapa keluar dari ummatku, kemudian menyerang orang-orang yang baik maupun yang fajir tanpa memperdulikan orang mukmin, dan tidak pernah mengindahkan janji yang telah di buatnya, maka dia tidak termasuk dari golonganku dan saya tidak termasuk dari golongannya.”

Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan;

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

Dari Jubair bin Muth’im bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari kami orang yang mengajak kepada golongan, bukan dari kami orang yang berperang karena golongan dan bukan dari kami orang yang mati karena golongan.”

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Debat dengan Penyembah Thaghut GD at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: