Mukmin Jahat Lebih Baik daripada Kafir yang Baik

October 9, 2012 § Leave a comment

 

Snap_2012.09.01 13.32.30_001

Telah tersebar dimedia cetak, kampus-kampus serta ditengah masyarakat, paham batil “Theosofi” atau kebatinan yang menyatakan agama tidak penting, yang penting adalah bagaimana berbuat baik terhadap sesama. Paham ini salah satunya disebarkan oleh setan Gusdur dengan pernyataannya;

“Tidak penting agama dan sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah Tanya apa agamamu”

Begitu juga dengan pernyataan Masdar Farid, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama;

“Surga tidak milik satu agama, ajaran apapun termasuk ajaran Islam, orang yang terbaik adalah orang yang berbuat baik terhadap sesama, orang yang terburuk adalah orang berbuat buruk terhadap sesame.”

Sumanto Al-Qurthubi dalam buku Lubang hitam agama bertkata;

“Kita umat Islam nantinya jangan kaget jika di surga bertemu dengan Mother Theresia, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, dan lain-lain yang merupakan pejuang-pejuang kemanusiaan.”

Begitulah ucapan mereka, dan jika seumpama ucapan mereka benar mengapa Allah harus mengutus RasulNya? Menunjukkan Tauhid dan menjelaskan Syari’atNya? Pada ujungnya paham ini akhirnya berlabuh kepada paham ateisme karena sama-sama tidak menganggap penting sebuah agama.

Orang-orang yang mengikuti paham ini akan cuek dengan kesesatan yang terjadi didepan matanya, bahkan malah mati-matian membelanya. Lihat saja pembelaan mereka terhadap Ahmadiyyah! Aliran sesat yang menganggap adanya Nabi setelah Nabi Muhammad. Mereka berkata “Ada banyak jalan menuju Roma, begitu pula ada banyak jalan menuju Tuhan”.

Dari itu, kami akan menerangkan dua hal penting untuk menolak paham ini, yang pertama adalah bahwasanya Allah hanya mau menerima amal orang yang beragama Islam. Yang kedua, orang mukmin akan masuk Surga walau sejahat apapun, sedang orang kafir masuk Neraka walau sebaik apapun.

Yang pertama, Allah hanya mau menerima amal orang yang beragama Islam. Allah berfirman;

Allah Swt berfirman;

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah Swt hanyalah Islam. (Ali Imron 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imron 85)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang pengertian Islam;

وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم،

Islam adalah mengikuti Rusul dalam apa-apa yg Allah Swt mengutus mereka dengannya pada setiap masa (dimana Rusul diutus), sampai pada akhirnya Allah Swt mengutus Nabi Muhammad Saw sebagai pemungkas para Nabi. (dimana syariat yg dibawanya adalah syariat penutup yg menghapus syariat Nabi-Nabi yg telah lalu)[1]

Dikarenakan Nabi Muhammad Saw adalah Nabi terakhir yang diutus untuk seluruh manusia, maka mukmin sekarang adalah yang beriman kepada Nabi Muhammad Saw dengan percaya kepadanya dan menerima segala perintah dan larangannya.

Rasul Saw bersabda;

والذينفسمحمدبيده! لايسمعبيأحدٌمنهذهالأمَّةيهوديولانصراني،ثميموتولميؤمنبالذيأُرسلتبهإلاَّكانمنأصحابالنار

Demi Dzat yg jiwa Muhammad berada dalam genggamannya, tidak mendengar padaku seorang pun dari umat ini, yahudi dan juga nasrani, kemudian mati dan tidak beriman dg apa yg aku diutus dengannya kecuali termasuk penghuni neraka (HR. Muslim).

Karena Allah hanya menerima Islam sebagai agama yang diridloi, maka Allah tidak akan mau menerima amal kebaikan dari orang kafir walau jumlahnya melebihi dunia dengan segala isinya;

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun Dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. bagi mereka Itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (Ali Imron 91)

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Al-Furqon 23)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini;

وذلك لأنها فقدت الشرط الشرعي، إما الإخلاص فيها، وإما المتابعة لشرع الله. فكل عمل لا يكون خالصا وعلى الشريعة المرضية، فهو باطل. فأعمال الكفار لا تخلو من واحد من هذين، وقد تجمعهما معا، فتكون أبعد من القبول حينئذ

“Yang demikian karena amal-amal itu tidak terdapat syarat Syar’I, adakalanya Ikhlas,[2] adakalanya sesuai dengan Syari’at Allah. Maka setiap amal yang tidak ikhlas dan tidak sesuai syari’at yang diridloi adalah batil. Amal orang kafir tidak lepas sati diantara dua ini, bahkan dua-duanya bersamaan, jadilah ia semakin jauh untuk diterima ketika itu.”[3]

Allah Swt berfirman;

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi. (Az-Zumar 65)

Syirik adalah dosa terbesar bagi Allah, dan Allah tidak akan mengampuninya ketika di hari Qiyamat nanti;

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang agung. (Luqman 13)

وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Padahal Al Masih (sendiri) berkata; “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Swt Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah Swt, maka pasti Allah Swt mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.  (Al-Maidah 72)

Syirik adalah dosa paling besar melebihi semua termasuk membunuh, mencuri, memfitnah dan sebagainya dikarenakan syirik berarti menyembah selain Allah padahal Ialah yang menciptakan manusia dan memberi mereka rizki.

عَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَيُّ اَلذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: ( أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا, وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, dosa apakah yang paling besar?. Beliau menjawab: Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” Aku bertanya lagi: Kemudian apa?. Beliau menjawab: “Engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.” Aku bertanya lagi: Kemudian apa?. Beliau bersabda: “Engkau berzina dengan istri tetanggamu” (Muttafaq Alaihi)

Syirik tidaklah terbatas pada bentuk suatu ibadah seperti sujud kepada patung berhala, akan tetapi orang yang memilih mentaati manusia melebihi taat kepada Allah juga merupakan syirik. Dari itu Yahudi dan agama selain Islam yang mengaku hanya menyembah satu Tuhan juga termasuk agama syirik. Allah berfirman tentang kelakuan Yahudi dan Nasrani;

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At-Taubah 31)

Sahabat ‘Ady bin Hatim berkata pada Rasulullah tentang ayat diatas;

إنهم لم يعبدوهم

“Sesungguhnya mereka tidak menyembah Ulama’dan rahib-rahib mereka.”

Nabi Saw pun menjawab

بلى، إنهم حرموا عليهم الحلال، وأحلوا لهم الحرام، فاتبعوهم، فذلك عبادتهم إياهم

“Akan tetapi tidak, sesungguhnya, mereka mengharamkan kepada Ahli kitab perkara halal dan menghalalkan bagi mereka perkara haram, kemudian ahli kitab itu mengikuti mereka, itulah penyembahan Ahli kitab kepada mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Maka setiap agama apapun selain agama Islam walaupun mengaku sebagai agama monoteisme, yang menyembah satu Tuhan, adalah agama syirik dan batil yang tidak akan diterima oleh Allah dan pengikutnya tidak akan diampuni dosanya ketika bertemu Allah dihari kiamat kelak. Mengapa bisa demikian? Karena mereka lebih memilih agama buatan manusia daripada buatan Tuhan, jelas ini adalah syirik dan bentuk kesombongan.

Adanya Allah memberikan Iman dihati seseorang adalah bukti bahwa Allah mencintainya, sedang adanya kekafiran dihati seseorang adalah bukti Allah membencinya.

عن عبد الله قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إن الله قسم بينكم أخلاقكم كما قسم بينكم أرزاقكم و إن الله يعطي الدنيا من يحب و من لا يحب و لا يعطي الإيمان إلا من يحب

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, Rasul Saw bersabda; “Sesungguhnya Allah membagi akhlak kalian sebagaimana membagi rizki, dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberikan dunia kepada orang yang Dia cinta, dan yang tidak Dia cinta, tetapi Dia tidak mengaruniai Iman kecuali kepada orang yang Dia cinta”. (HR. Hakim)

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

Katakanlah; “Ta’atilah Allah Swt dan Rasul Saw-Nya; maka jika mereka berpaling, maka sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai orang-orang kafir” (Ali imron 32)

Maka bagaimana mungkin orang yang tidak dicintai Allah dikatakan lebih baik dari pada orang yang dicintai Allah? Bagaimana mungkin orang yang amalnya tidak diterima dan tersiasia dikatakan lebih baik dari pada orang yang amalnya diterima disisiNya? Bagaimana mungkin seorang yang menyekutukan Allah dikatakan lebih baik daripada seorang yang mengesakanNya?

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Maka Apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang orang kafir?

Bagaimanakah kalian bisa mengambil keputusan (demikian)? (Al-Qalam 35-36)

 

Yang kedua, orang mukmin akan masuk Surga walau sejahat apapun, sedang orang kafir masuk Neraka walau sebaik apapun.

Dalam sebuah hadits Qudsy riwayat Abu Dzar Allah Swt berfirman;

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً

“Barang siapa berbuat kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan yang semisalnya dan terkadang Aku tambahkan lagi. Dan Barangsiapa yang berbuat keburukan, maka balasannya adalah keburukan yang serupa atau Aku mengampuninya. Barangsiapa mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari. Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Muslim)

Jadi seorang mukmin sejahat apapun ketika ia “bertemu” Allah untuk memohon ampun, Allah pasti mengampuninya. Tidak demikian halnya dengan orang kafir selagi masih dalam kekafirannya.

Seorang pendosa, akan mendapat Syafa’at (pertolongan) dengan dientaskan dari api Neraka jika ia masih memegang kalimat “La Ilaaha IllaAllah”. Allah Swt berfirman;

وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا

 لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا

Dan Kami akan menggiring orang-orang yang berdosa ke neraka Jahannam dalam Keadaan dahaga.mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan Perjanjian di sisi Tuhan yang Maha Pemurah.(Maryam 86-87)

Yang dimaksud dengan “Perjanjian” disini adalah iqrar bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Rasul Saw juga mengabarkan bagaimana orang Mukmin dikeluarkan dari Neraka dikarenakan Iman yang ia punya walau cuma sebesar jemawut;

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ وَيَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ وَيَخْرُجُ مِنْ النَّار مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ ِخَيْرٍ 

Dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Akan dikeluarkan dari neraka siapa yang mengatakan tidak ada Ilah kecuali Allah dan dalam hatinya ada kebaikan sebesar jemawut. Dan akan dikeluarkan dari neraka siapa yang mengatakan tidak ada ilah kecuali Allah dan dalam hatinya ada kebaikan sebesar biji gandum. Dan akan dikeluarkan dari neraka siapa yang mengatakan tidak ada ilah kecuali Allah dan dalam hatinya ada kebaikan sebesar biji sawi. (HR. Bukhari)

Bahkan, dalam sebuah Hadits yang panjang Rasul menceritakan bagaimana Allah mengeluarkan dari Neraka siapapun yang dihatinya terdapat Iman, walau tidak pernah beramal kebaikan sekalipun;

 فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : شَفَعَتْ الْمَلَائِكَةُ ، وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ ، وَلَمْ يَبْقَ إِلا أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنْ النَّارِ فَيُخْرِجُ مِنْهَا قَوْمًا لَمْ يَعْمَلُوا خَيْرًا قَطُّ ، قَدْ عَادُوا حُمَمًا ، فَيُلْقِيهِمْ فِي نَهَرٍ فِي أَفْوَاهِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لَهُ نَهَرُ الْحَيَاةِ ، فَيَخْرُجُونَ كَمَا تَخْرُجُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ ،  َيَخْرُجُونَ كَاللُّؤْلُؤِ فِي رِقَابِهِمْ الْخَوَاتِمُ يَعْرِفُهُمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ ، هَؤُلَاءِ عُتَقَاءُ اللَّهِ الَّذِينَ أَدْخَلَهُمْ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ عَمَلٍ عَمِلُوهُ وَلا خَيْرٍ قَدَّمُوهُ

“Maka Allah Azza Wajallah berfirman, ‘Para malaikat telah memberikan syafaat, para Nabi telah memberikan syafaat, orang-orang mukmin telah memberikan syafaat. Tidak tersisa kecuali Yang Maha memberikan kasih sayang kepada orang-orang yang dikasihani. Maka (Allah) menggenggam satu genggaman dari neraka dan mengeluarkan suatu kaum yang belum pernah sama sekali melakukan kebaikan. Telah gosong kembali, maka dilemparkan ke sungai surga yang disebut ‘Sungai kehidupan (Nahrul Hayah). Maka mereka keluar bagaikan biji-bijian yang cepat tumbuhdi tanah. Mereka keluar bagaikan mutiara di leher mereka dan tanda yang penduduk ahli surga mengetahuinya. Mereka adalah yang dimerdekakan oleh Allah. Allah masukkan mereka ke dalam surga tanpa amalan yang mereka lakukan dan kebaikan yang mereka persembahkan.” (HR. Muslim)

Ibnu Hajar Al-Asqalany berkomentar mengenai Hadits ini;

ان المراد بالخير المنفي ما زاد على أصل الإقرار بالشهادتين كما تدل عليه بقية الأحاديث

Sesungguhnya kebaikan yang dinafikan adalah kebaikan yang lebih dari sekedar Iqrar dengan dengan dua Syahadat seperti yang ditunjukkan Hadits-Hadits yang lain.[4]

Hadits-Hadits yang dimaksud diantaranya adalah Sabda Rasul Saw;

 وَفَرَغَ اللَّهُ مِنْ حِسَابِ النَّاسِ وَأَدْخَلَ مَنْ بَقِيَ مِنْ أُمَّتِي النَّارَ مَعَ أَهْلِ النَّارِ فَيَقُولُ أَهْلُ النَّارِ مَا أَغْنَى عَنْكُمْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْبَدُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا تُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا فَيَقُولُ الْجَبَّارُ عَزَّ وَجَلَّ فَبِعِزَّتِي لَأُعْتِقَنَّهُمْ مِنْ النَّارِ فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ فَيَخْرُجُونَ وَقَدْ امْتَحَشُوا فَيَدْخُلُونَ فِي نَهَرِ الْحَيَاةِ فَيَنْبُتُونَ فِيهِ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي غُثَاءِ السَّيْلِ وَيُكْتَبُ بَيْنَ أَعْيُنِهِمْ هَؤُلَاءِ عُتَقَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُذْهَبُ بِهِمْ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ هَؤُلَاءِ الْجَهَنَّمِيُّونَ فَيَقُولُ الْجَبَّارُ بَلْ هَؤُلَاءِ عُتَقَاءُ الْجَبَّارِ عَزَّ وَجَلَّ

Setelah itu Allah selesai dari penghisapan manusia, dan memasukkan yang tersisa dari umatku ke dalam neraka. Lalu para penghuni neraka berkata: “Tidak cukupkah bagi kalian menyembah kepada Allah Azza wa Jalla dengan tidak berbuat syirik kepada-Nya!”, maka Sang Maha Penguasa Azza wa Jalla berfirman: “Demi keagungan-Ku, sungguh Aku akan membebaskan mereka dari neraka, lalu Dia mengutus malaikat untuk membebaskan mereka dan mereka pun keluar dalam keadaan hangus terbakar, lalu mereka masuk ke dalam sungai kehidupan hingga mereka tumbuh di dalamnya sebagaimana biji bijian yang tumbuh dalam genangan buih dan ditulis di antara kedua mata mereka orang-orang yang telah dibebaskan oleh Allah Azza wa Jalla. Lalu mereka dibawa masuk ke surga dan para penghuni surga berkata: “Mereka adalah para penghuni Jahanam”, maka Allah Yang Maha Kuasa berfirman: “Akan tetapi mereka adalah orang orang yang telah dibebaskan oleh Sang Maha Penguasa Azza wa Jalla”. (HR. Ahmad)

Begitu juga Hadits yang diriwayatkan Sahabat Abu Dzar bahwasanya Rasulullah Saw bersabda;

أتاني جبريل فبشرني أنه من مات لا يشرك بالله شيئًا من أمتك، دخل الجنة. قلت: وإن زنا وإن سرق؟ قال: وإن زنا وإن سرق. قلت: وإن زنا وإن سرق؟ قال: وإن زنا وإن سرق. قلت: وإن زنا وإن سرق؟ قال: وإن زنا وإن سرق، وإن شرب الخمر

Jibril datang menemuiku dengan memberi kabar gembira bahwa sesungguhnya barang siapa yang meninggal dari ummatmu dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah, maka dia akan masuk surga! Aku (Rasulullah) katakan sekalipun dua berzina dan mencuri? Dia berkata : Sekalipun dia berzina dan mencuri! Aku (Rasulullah) katakan sekalipun dua berzina dan mencuri? Dia berkata : Sekalipun dia berzina dan mencuri! Aku (Rasulullah) katakan sekalipun dua berzina dan mencuri? Dia berkata : Sekalipun dia berzina dan mencuri! Walaupun dia minum minuman keras! (Muttafaq Alaih)

Jika ini adalah keadaan orang Mukmin, maka tidak demikian halnya keadaan orang-orang kafir;

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.(Al-Bayyinah 6)

Lihatlah bagaimana Allah menyebut mereka seburuk-buruk makhluk!

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ خَالِدِينَ فِيهَا وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka Itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalmnya. dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali. (At-Taghabun 10)

Bagi mereka siksa yang teramat pedih karena kelancangan mereka mendustakan Firman-firmanNya? Adakah kelancangan yang melebihi mendustakan Firman Tuhan?

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. (An-Nisa’ 56)

وَاسْتَفْتَحُوا وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ

 مِنْ وَرَائِهِ جَهَنَّمُ وَيُسْقَى مِنْ مَاءٍ صَدِيدٍ

 يَتَجَرَّعُهُ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِنْ وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ

Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka) dan binasalah semua orang yang Berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala,

Di  hadapannya ada Jahannam dan Dia akan diberi minuman dengan air nanah,

Diminumnnya air nanah itu dan hampir Dia tidak bisa menelannya, maut (rasa sakitnya) datang kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat. (Ibrahim 15-17)

Perlu diketahui bahwa hakikat kerugian adalah kerugian akhirat, dan hakikat keuntungan adalah keuntungan akhirat;

قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Az-Zumar 15)

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

 تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ

Apabila sangkakala ditiup Maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.

Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, Maka mereka Itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.

Dan Barangsiapa yang ringan timbangannya, Maka mereka Itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.

Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam Keadaan cacat. (Al-Mukminun 101-104)

Mata manusia seringkali tertipu oleh dunia sehingga menganggap orang kafir yang baik itu lebih baik daripada orang mukmin yang jahat, padahal di akhirat nanti orang kafir berendam dalam api Neraka selamanya, sedang orang mukmin yang jahat adakalanya Allah bermurah hati mengampuni semua dosanya dan langsung memasukkannya kedalam Surga atau memaksukkannya kedalam Neraka dulu untuk kemudian mengeluarkannya dan memasukkannya kedalam ni’mat SurgaNya. Jadi, manakah yang lebih baik?

Akan tetapi dengan semua yang kami sebutkan disini, Allah menganjurkan untuk bersikap adil kepada sesama;

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan. (An-Nahl 90)

Dan termasuk adil adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita, walau ia seorang kafir. Allah berfirman;

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. (Al-Mumtahanah 8)

Jadi kewajiban bagi seorang Mukmin adalah meyakini bahwa seorang Mukmin yang jahat lebih baik dari pada kafir yang baik dikarenakan itulah yang disampaikan Al-Quran sedang kita wajib untuk mengimaninya. Adapun dalam berinteraksi dengan mereka, maka dengan sikap adil dan bijaksana, seperti yang telah Allah sampaikan dalam FirmanNya. Wallahu A’lam.


[1] Tafsir Ibu Katsir.

[2] Yakni tidak menyekutukan Allah.

[3] Tafsir Ibnu Katsir.

[4] Fathul-Bary, Ibnu Hajar Al-Asqalany.

Tagged: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mukmin Jahat Lebih Baik daripada Kafir yang Baik at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: