Antara Fitnah Khair dan Syarr

December 7, 2012 § Leave a comment

tumblr_m2mrwrBB2y1r56qlx(Ini adalah pembahasan seputar ayat Al-Quran pada surat Al-Anbiya’35. Semoga bermanfaat untuk segenap kaum Muslimin. Postingan ini sangat panjang jadi saya buat versi ebooknya)

Bismillah…

Allah berfirman;

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Kami akan menguji kamu dengan Syarr (keburukan) dan Khair (kebaikan) sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Al-Anbiya’ 35)

Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini;

نبتليكم بالشر والخير فتنة، بالشدة والرخاء، والصحة والسقم، والغنى والفقر، والحلال والحرام، والطاعة والمعصية والهدى والضلال..

 “Kami mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai firnah, dengan susah dan senang, sehat dan sakit, kaya dan miskin, halal dan haram, taat dan maksiat, petunjuk dan kesesatan…”

Yang dimaksud fitnah disini adalah sesuatu yang mampu mengakibatkan kecelakan. Cinta harta dunia, pangkat kekuasaan, wanita adalah fitnah karena mampu memalingkan dari dzikir Allah, dan barang siapa berpaling dari dzikir Allah, maka baginya adzab yang pedih;

وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. (Al-Jin 17)

Begitu juga bencana-bencana, akan berakibat celaka jika tidak diterima dengan sabar. Perbuatan Ibadat dan taat juga merupakan fitnah karena mampu menimbulkan sifat sombong seperti yang terjadi pada Iblis sehingga ia mendapat laknat dari Allah. Perbuatan maksiat adalah fitnah bagi pelakunya juga bagi orang yang mengetahui karena dapat tergoda untuk melakukan sehingga akhirnya sama-sama terjerumus kedalam kecelakaan. Petunjuk itu berat bagi nafsu, sedang kesesataan ringan baginya, maka jadilah nafsu lebih condong kepada kesesatan dari pada petunjuk, dari itu keduanya menjadi fitnah.

Tujuan dari cobaan-cobaan itu adalah agar terlihat siapakah yang paling bagus amalnya;

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk 2)

Jadi, ujian adalah untuk melihat siapa yang paling baik amalnya, bukan siapa yang paling banyak. Ini menunjukkan bahwa kualitas amal lebih penting dari kuantitas. Amal yang sedikit tapi berkualitas lebih baik dari amal yang banyak tapi tidak berkualitas. Kualitas suatu amal ditentukan dengan banyaknya Dzikir dalam amal tersebut;

عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ أَيُّ الْجِهَادِ أَعْظَمُ أَجْرًا

 قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَىذِكْرًا

 قَالَ فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا

قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا

 ثُمَّ ذَكَرَ لَنَا الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا 

Dari sahl bin Muadz bin Anas Al Juhani, dari ayahnya Rasulullah, sesungguhnya seorang laki-laki menanyai beliau,”jihad apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, “Yang paling banyak diantara mereka berdzikir kepada Allah Tabaroka Ta’ala” lalu dia bertanya: orang puasa apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, “Yang paling banyak diantara mereka berdzikir kepada Allah Tabaroka Ta’ala. Dan dia menanyakan juga sholat zakat, haji dan shodakoh . setiap itu pula Rasulullah menjawab: “Yang paling banyak diantara mereka berdzikir kepada Allah Tabaroka Ta’ala. (HR. Ahmad)

 

Timbulnya Fitnah Khair dan Syarr

a-Timbulnya Fitnah Khair

Fitnah Khair bisa timbul dari perbuatan baik yang atau dari perbutan dosa. Adapun yang timbul dari perbuatan dosa adalah seperti Firman Allah Swt;

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al-An’am 44)

Dari ayat diatas dapat dilihat bahwa tujuan dari diberikannya kesenangan-kesenangan para pendosa adalah untuk menambah kecelakan pada mereka.

Karena itu Rasul Saw bersabda;

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

{فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}

Jika engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba kenikmatan duniawi yang dia senangi dengan melakukan kemaksiatan, sesungguhnya itu adalah istidraj. Kemudian Rasulullah membaca ayat –yang artinya-:

“Maka tatkala mereka telah melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”. (Q.S al-An’am:44)(H.R Ahmad)

Harta benda dan kekayaan mereka selain merupakan fitnah bagi diri mereka, juga merupakan fitnah bagi Kaum Mukminin. Dari itu Allah memperingatkan;

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Thaha 131)

فَلا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (At-Taubah 55)

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ

مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerakdi dalam negeri.

Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. (Ali Imron 19-6-197)

Akan tetapi sungguh disayangkan kelakuan para munafikin yang lemah iman. Mereka tertipu dengan kemegahan Negara-negara kafir, kemajuan dan kecanggihan teknologi yang mereka, sehingga mereka mengikuti sunan mereka lagi meninggalkan sunan Nabi Muhammad yang mulia.

أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya kemuliaan semuanya adalah kepunyaan Allah. (An-Nisa’ 139)

Dan adapun Fitnah Khair yang timbul dari perbuatan baik adalah seperti yang Allah Swt firmankan;

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (Al-A’rof 96)

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ وَمَا أُنزلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لأكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ

Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. (Al-Maidah 66)

Karena fitnah Khair dapat timbul dari maksiat maupun taat, maka terdapat dua pendapat dalam menafsiri Firman Allah Swt;

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا,  لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap teguh di atas jalan itu, benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak), supaya kami menimpakan fitnah kepada mereka dengannya. (Al-Jin 16-17)

Yang pertama, yang dimaksud dengan Thoriqoh (jalan) adalah Thoriqoh Islam. Jadilah makna ayat “jikalau mereka tetap teguh pada Islam, dengan melaksanakan taat dan menjauhi maksiat, maka Kami benar-benar akan memberi mereka rizki yang melimpah, untuk menguji mereka siapakah yang tetap istiqomah dan siapakah yang berpaling dan lalai.”

Yang kedua, yang dimaksud dengan Thoriqoh (jalan) adalah Thoriqoh Kufur. Jadilah makna ayat; “jikalau mereka tetap teguh di atas jalan kufur dan kesesatan, maka Kami benar-benar akan memberi mereka rezki yang melimpahkan supaya kami menimpakan fitnah kepada mereka dengannya.” [1]

 

 

b-Timbulnya Fitnah Syarr

Sedang timbulnya fitnah Syarr adalah akibat terjadinya perbuatan salah, walau tidak sampai ke derajat Haram atau bahkan tidak sampai ke derajat Makruh.[1] Allah berfirman;

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS 42/30)

 

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. (An-Nisa 79)

 

Tujuan dari ditimpakannya fitnah ini adalah supaya manusia tersadar dari kesalahannya;

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (Al-An’am 42)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Ruum 41)

 

Allah juga berfirman;

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

 

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang hilang dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Al-Hadid 22-23)

 

Jadi, adanya musibah merupakan ketentuan Allah bertujuan agar manusia tidak sedih, berduka dan putus asa atas apa yang hilang dengan menerima (taslim) terhadap keputusan (Qodlo’) Allah. Juga  agar manusia tidak berbangga-bangga atas apa yang Allah berikan, karena apa-apa yang ia terima itu bisa saja tiba-tiba hilang.

 

Terkadang Allah menimpakan fitnah Syarr secara umum kepada suatu kaum tidak peduli mana yang berbuat kesalahan dan mana yang tidak. Allah berfirman;

 

 وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

 

Dan takutlah pada dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al-Anfal 25)

 

Yang demikian misalnya terjadi pada perang Uhud, kemaksiatan yang dilakukan satuan pemanah menyebabkan bencana bagi semua. Satuan pemanah meninggalkan pos yang dijaganya dan melanggar perintah Rasul Saw, hanya Abdullah bin Jubair sang pemimpin satuan panah yang tetap teguh sembari memperingatkan; “Rasul mengambil janji dari kita agar tidak pergi”, sehingga ia Syahid menghadapi musuh hanya dengan kurang dari sepuluh orang yang mau mentaatinya. Allah berfirman tentang musibah ini;

 

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

 

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah mengetahui (manakah) orang-orang yang beriman, dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, (Ali Imron 140)

 

Dan juga seperti halnya yang terjadi pada Bani Israil ketika seorang pemimpin kabilahnya yang bernama  Zamry bin Syalum berzina dengan seorang wanita. Dimana hal ini memang tipudaya dari Bal’am bin Baa’ura agar Bani Israil tertimpa bencana.

Ketika ia berdiri dihadapan Nabi Musa dengan membawa wanita itu, ia berkata, “Aku kira kamu akan mengatakan bahwa wanita ini haram bagiku?” Musa berkata, “Benar, wanita ini haram bagimu dan jangan kau dekati.” Ia menjawab “Demi Allah aku tidak akan menurutimu untuk masalah ini”. Ia pun membawa wanita itu ke kemahnya dan menyetubuhinya. Kemudian Allah Azza wajalla mengirimkan penyakin Tho’un kepada bani Israel. Diceritakan bahwa to’un ini menewaskan tujuh puluh ribu orang. Adapun Zamry dan wanita itu, keduanya dibunuh oleh Finhash bin Al-Aizar bin Harun ketika sedang tidur sehingga hilanglah Tho’un.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian dosa mempunyai akibat tidak hanya bagi pelakunya tapi juga bagi yang tidak tahu apa-apa, bahkan bagi orang yang melaksanakan Nahi Munkar terhadap dosa itu. Yang demikian terdapat hikmah yang luhur, diantara;

-Untuk membangkitkan perasaan kesatuan diantara sesama. Jika seorang menyadari bahwa perbuatannya mendatangkan celaka tidak hanya bagi dirinya tapi bagi orang-orang disekitarnya, termasuk orang-orang yang dicintainya, niscaya timbul dari dirinya sikap waspada. Atau jika suatu kaum menyadari jika perbuatan satu orang anggotanya mampu mengakibatkan celaka bagi semua, niscaya mereka akan sedapat mungkin mencegahnya agar tidak sampai tertimpa bencana. Beratnya bencana juga mampu mempersatukan semua dan melupakan segenap permusuhan yang terjadi sebelumnya.

-Untuk membersihkan jiwa atau meninggikan derajat bagi orang-orang sholeh, dan hukuman bagi pelaku kejahatan. Seperti firman Allah;

وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ

 

Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman dan membinasakan orang-orang yang kafir. (Ali Imron 141)

 

-Untuk mengetahui siapakah mukmin sejati dan siapakah yang menyembunyikan kemunafikan di hati. Allah berfirman;

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ

 

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). (Ali Imron 179)

 

Dua ayat diatas dari surat Ali Imron adalah Madaniyyah (turun dikota Madinah), dimana waktu itu kaum Mukminin bercampur baur dengan kaum Munafikin.

Dan terkadang Allah menimpakah fitnah Syarr, tidak karena perbuatan dosa tapi karena murni untuk menguji. Allah berfirman;

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

 وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

 

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji?

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya,dan mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabut 2-3)

 

Dari itu Rasul Saw bersabda;

أَشَدُ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُوْنَ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسْبِ دِيْنِهِ ، فَإِنْ كَانَ فِيْ دِيْنِهِ صَلاَبَةً زِيْدَ فِي البَلاَءِ

 

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shaleh, lalu orang-orang yang mendekati mereka, kemudian orang yang mendekati mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila dalam agamanya terdapat keteguhan pada agamanya, maka akan semakin bertambah pula ujian pada dirinya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

 

Para Sahabat Ra, menerima berbagai macam siksaan yang keras diantaranya adalah Khabbab bin Arat.Kafir Quraisy telah merubah besi yang terdapat di rumah Khabbab yang dijadikannya sebagai bahan baku untuk membuat pedang, menjadi belenggu dan rantai besi. Lalu mereka masukkan ke dalam api hingga menyala dan merah membara, kemudian mereka lilitkan ke tubuh, pada kedua tangan dan kedua kaki Khabbab.  Umar bin Khattab pernah bertanya kepadanya tentang apa-apa yang ia timpa dari kaum Musyrikin, maka Khabbab pun menjawab; “Wahai Amirul Mukminin, lihatlah pada punggungku!”. Umar lalu melihatnya dan berkata; “Aku tidak melihat seperti halnya yang aku lihat hari ini!”, Khabbab berkata; “Sungguh telah dihidupkan api, kemudian aku diseret kepadanya, maka tidak memadamkan api itu kecuali minyak yang keluar dari punggungku!”.

Karena itu Khabbab bersama beberapa Sahabat lain mendatangi Rasul Saw. Imam Bukhari meriwayatkan;

عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ قَالَ شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ فَقُلْنَا أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو لَنَا فَقَالَ قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهَا فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ فَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَاللَّهِ لَيَتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

 

Dari Khabbab bin Al Arat ia berkata, kami pernah mengeluhkan penderitaan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam yang ketika itu beliau beralaskan kain panjangnya di naungan ka’bah. Maka kami mengadu; Tidakkah engkau meminta pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami? “ maka beliau bersabda; “Sungguh sebelum kalian ada orang yang diringkus kemudian digalikan lubang baginya dan ia ditimbun disana, lantas didatangkan gergaji dan diletakkan di kepalanya, sehingga kepalanya terbelah menjadi dua, dan ada yang disisir dengan sisir besi sehingga memisahkan tulang dan dagingnya namun semua siksaan itu tidak memalingkannya dari agamanya, demi Allah, perkara ini akan sempurna sehingga seorang pengendara bisa berjalan dari Shan’a hingga Hadramaut, dan ia tidak khawatir selain kepada Allah dan srigala yang akan menerkam kambingnya, namun kalian ini orang yang suka tergesa-gesa.” (HR. Bukhari)

 

Termasuk diantaranya adalah fitnah yang menimpa Nabi Yusuf putra Ya’qub Alaihimassalam, ketika ia dibuang kedalam sumur oleh sepuluh orang saudara tuanya, sedang usianya belum menginjak baligh. Ketika ia telah baligh dan Allah berikan ia ilmu dan kebijaksanaan, Allah mengujinya dengan fitnah wanita yang mengajaknya berzina, hampir saja ia terjatuh dalam dosa seumpama tidak ada penjagaan dari Tuhannya. Kemudian ia dimasukkan kedalam penjara selama bertahun-tahun tanpa salah apa, namun itu hanyalah reka daya dari para wanita ia tolak ajakannya untuk berbuat dosa. Semua yang diterima Nabi Yusuf itu justru untuk menunjukkan tingginya derajat beliau disisi Allah, sehingga pada akhir kisah, Nabi Ya’qub dan kesebelas putranya bersujud kepadanya sesuai dengan mimpinya dimasa kecil dahulu, dimana ia melihat sebelas bintang dan rembulan bersujud padanya.

Sikap Manusia ketika Tertimpa Dua Macam Ftnah Ini

 

Sikap manusia ketika tertimpa dua macam fitnah ini terbagi menjadi tiga, yang pertama;sebagian ketika ditimpa kesusahan, mereka berdoa, menunduk, memohon-mohon kepadaNya. Akan tetapi ketika ia dikarunia kesenangan jadilah ia lupa dan lalai akanNya.

Allah berfirman;

 

وَإِذَامَسَّالْإِنْسَانَالضُّرُّدَعَانَالِجَنْبِهِأَوْقَاعِدًاأَوْقَائِمًافَلَمَّاكَشَفْنَاعَنْهُضُرَّهُمَرَّكَأَنْلَمْيَدْعُنَاإِلَىضُرٍّمَسَّهُكَذَلِكَزُيِّنَلِلْمُسْرِفِينَمَاكَانُوايَعْمَلُونَ

 

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus 12)

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.  (Fusshilat 51)

Contoh nyata adalah sikap Fir’aun dan para pengikutnya, ketika mereka ditimpa berbagai bencana karena menentang Nabi Musa, mereka memohon kepadanya agar bencana itu dihilangkan sembari mengaku-ngaku bahwa mereka telah sadar dan berjanji bakal beriman kepada Nabi Musa. Akan tetapi ketika bencana dihilangkan mereka tidak mau menepati janjinya.

وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ

 فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ

Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.

Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkari janji mereka. (Al-A’rof 134-135)

Begitu pula kelakuan kafir Quraiys ketika mereka ditimpa bencana kelaparan karena mendurhakai Nabi Muhammad Saw, mereka berkata;

 رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ

“Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman.” (Ad-Dukhon 12)

Sahabat Ibnu Mas’ud ketika menjelaskan ayat 10-16 dari surat Ad-Dukhon berkata;

عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ هَذَا لِأَنَّ قُرَيْشًا لَمَّا اسْتَعْصَوْا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا عَلَيْهِمْ بِسِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ فَأَصَابَهُمْ قَحْطٌ وَجَهْدٌ حَتَّى أَكَلُوا الْعِظَامَ فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ فَيَرَى مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا كَهَيْئَةِ الدُّخَانِ مِنْ الْجَهْدِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ } قَالَ فَأُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتَسْقِ اللَّهَ لِمُضَرَ فَإِنَّهَا قَدْ هَلَكَتْ قَالَ لِمُضَرَ إِنَّكَ لَجَرِيءٌ فَاسْتَسْقَى لَهُمْ فَسُقُوا فَنَزَلَتْ { إِنَّكُمْ عَائِدُونَ } فَلَمَّا أَصَابَتْهُمْ الرَّفَاهِيَةُ عَادُوا إِلَى حَالِهِمْ حِينَ أَصَابَتْهُمْ الرَّفَاهِيَةُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ } قَالَ يَعْنِي يَوْمَ بَدْرٍ

Dari Masruq dia berkata; Abdullah berkata; sesungguhnya ayat ini adalah bagi orang-orang Quraisy tatkala mereka durhaka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. lalu beliau mendoakan mereka agar tertimpa kelaparan seperti kaum Yusuf. Mereka tertimpa kemarau dan penderitaan hingga seseorang melihat ke langit, ia melihat seperti wujud kabut antara dirinya dan langit, hingga mereka memakan tulang karena musim kemarau itu. Maka Allah menurunkan ayat:

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia.” (Ad Dukhaan: 10).

Seseorang kemudian mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, mintakan hujan pada Allah untuk Mudlar karena mereka telah binasa!”. Beliau bersabda kepada Mudlar: “Sesungguhnya kau gegabah.”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa meminta hujan untuk mereka lalu Allah ‘azza wajalla menurunkan hujan, lalu turunlah ayat:

“Sesungguhnya kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit. Sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar).” (Ad Dukhaan: 10-15).

Dan saat mereka mendapatkan kemakmuran, mereka kembali lagi seperti semula. Lalu Allah ‘azza wajalla menurunkan:

(Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan. (Ad Dukhaan: 16). Abdullah berkata: Maksudnya yaitu perang Badar. (HR. Bukhari)

 

Yang kedua, ketika ditimpa fitnah Syarr tidak mau sadar dan kembali pada Allah, dan ketika ditimpa Fitnah Khair justru bertambah kekufuran.

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ

 وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi sangat berputus asa lagi kufur.

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. (Hud 9-10)

وَإِنَّا إِذَا أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً فَرِحَ بِهَا وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ كَفُورٌ

Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami, dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat). (Asy-Syuro 48)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُون

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (Rasul-Rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.

Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al-An’am 42-44)

لَا يَسْأَمُ الْإِنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ

 وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.” Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. (Fusshilat 49-50)

Ucapannya yang menyatakan; “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya” tidak lain timbul karena kesalahan anggapan bahwa fadlal  (karunia) yang Allah berikan adalah karena ia seorang yang utama disisinya, padahal fadlal itu adalah ujian, seperti ucapan Nabi Sulaiman;

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk menguji aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (An-Naml 40)

Allah juga berfirman;

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

 وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.”

Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (Al-Fajr 15-16)

Yakni Manusia ketika menerima kenikmatan berupa harta dan kekayaan, ia menganggap itu sebagai kemuliaan dari Tuhan karena ia merasa ia adalah orang yang istimewa disisi Tuhan. Dengan begitu ia menjadi sombong dan melecehkan terhadap orang dibawahnya, tidak mau memuliakan anak yatim, tidak mau memberi makan orang miskin (seperti yang disebutkan kelanjutan ayat; 17-18). Akan tetapi ketika ia ditimpa kemelaratan dan kesengsaraan ia menjadi putus asa, marah dan mencaci maki keadaannya, bahkan akhirnya mencaci maki Tuhannya dengan mengatakan “Tuhan telah menghinakanku”.

 

Yang ketiga; ketika ditimpa fitnah Syarr ia bersabar, dan ketika ditimpa fitnah Khair ia berrsyukur, yang demikian adalah sikap orang Mukmin.

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِبْتُ لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَ الْمُؤْمِنِ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ لَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ وَكَانَ خَيْرًا وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ وَكَانَ خَيْرًا

Dari Shuhaib ia berkata; Rasulullah Saw berkata; “Aku heran kepada urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, tidaklah yang demikian bagi seorang pun kecuali untuk Mukmin. Jika sesuatu yang menyenangkan menimpanya ia memuji kepada Allah dan itu baginya adalah baik. Jika sesuatu yang menyusahkan menimpanya, lalu bersabar, maka itu pun juga baik.” (HR. Ahmad)

عن أنس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :الإِيمان نصفان: فنصف في الصبر، ونصف في الشكر

Dari Anas Ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda; “Iman ada dua bagian, bagian dalam sabar dan bagian dalam syukur. (HR. Baihaqi)

Qatadah Rahimahullah berkata;

نعم العبد، عبد إذا ابتُلِي صَبَر، وإذا أعطي شكر.

Sebaik-baiknya hamba adalah hamba yang jika ditimba musibah bersabar dan jika diberi ia bersukur.

Sabar dan Syukur

Jadi sabar dan syukur merupakan jalan untuk lulus dari kedua ujian ini. Allah berfirman mengenai keutamaan orang-orang sabar;

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِوَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

 أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

 Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

(Al-Baqarah 2/155)

عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، قَالَ: بَلَغَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ أَحَدٍ أُصِيبَ بِمُصِيبَةٍ وَاسْتَرْجَعَ إِلا اسْتَوْجَبَ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى ثَلاثَ خِصَالٍ، كُلُّ خَصْلَةٍ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: يَعْنِي )أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ(

 

Dari Ibnu Juraih (Tabi’i), ia berkata, telah sampai pada kita bahwa Rasulullah bersabda “Tidak ada seorang pun yang ditimpa musibah dan membaca  Istirja’, kecuali Allah mewajibkan baginya tiga perkara ; setiap satu diantaranya lebih baik dari dunia dan seisinya. Abu Ubaid (salah satu rawi hadist) berkata ;”Yakni (yang terdapat pada) Firman Allah ; Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 2/157) (HR. Abu

Nu’aim dan Rafi’i)

 

Allah menyertai orang sabar, mencintainya dan memberikan mereka ganjaran yang tak terhitung jumlahnya;

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta rang-orang sabar. (Al-Anfal 46)

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan Allah mencintai orang-orang sabar (Ali Imron 146)

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Fathir 10)

 

Dengan sabarlah diperoleh keberuntungan berupa surga dan segala bentuk kenikmatan yang ada didalamnya;

 

إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ

Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang beruntung(Al-Mukminun 111)

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا

Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera, (Al-Insan 12)

 

Para Ulama menyatakan sabar terbagi kedalam tiga perkara; yaitu sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam menjalankan taat, dan sabar dalam meninggalkan maksiat. Jadi sabar adalah menahan diri dari apa yang dibenci oleh Allah swt.

Adapun syukur, maka Imam Ghazali berkata;

اعلم ان الله تعالى قرن الشكر بالذكر في كتابه مع انه قال ولذكر الله اكبر فقال تعالى

Ketahuilah bahwa Allah Swt menyandingkan Syukur dengan Dzikir dalam KitabNya, sedang Dzikrullah (Al-Quran) adalah yang paling agung. Allah berfirman;

 

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al-Baqarah 152)[2]

Imam Thabrani meriwayatkan;

عنأبيهريرةعنالنبيصلىاللهعليهوسلمقال: (إناللهتباركوتعالىيقول: ياابنأدمإنكإذاذكرتنىشكرتنى, وإذانسيتنىكفرتنى)

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai keturunan Adam, sesungguhnya apabila kamu berdzikir kepadaKu, maka kamu sungguh telah bersyukur kepadaKu, dan apabila kamu lupa, maka kamu telah kufur kepadaKu”. (HR. Thabrani)

Allah berfirman;

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim 7)

Maka syukur dapat menambah nikmat sedang kufur mendatangkan adzab, karena itu dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa Allah tidak akan mengadzab orang yang mau beriman dan bersyukur;

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah adalah Maha Mensyukurilagi Maha Mengetahui. (An-Nisa’ 147)

Al-Junaid berkata;

كان السري إذا أراد أن ينفعني يسألني؛ فقال لي يوماً: يا أبا القاسم، ما الشكر! فقلت له: أن لا يستعان بشيء من نعم الله، تعالى، على معاصية.

Dahulu Sirri As-Saqathy jika hendak memberi kemanfaatan padaku ia bertanya padaku. Suatu hari ia berkata padaku, “Wahai Abul Qasim apa itu Syukur?”, aku berkata padanya; “(Yaitu) Tidak menggunakan suatu apapun dari nikmat Allah untuk bermaksiat.”[3]

Maka Syukur adalah menggunakan nikmat yang Allah berikan untuk apa yang Allah ridloi dan cintai. Karena itu dalam Hadits disebutkan;

عن عائشة ـ رضي الله عنها ـ قالت : ( كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إذا صلى قام حتى تفطر رجلاه .. قالت عائشة : يا رسول الله أتصنع هذا وقد غُفِرَ لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر ؟! ، فقال ـ صلى الله عليه وسلم ـ : يا عائشة أفلا أكون عبدا شكورا )

Dari Aisyah Ra “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat sehingga kakinya pecah-pecah. Kemudian aku mengatakan kepada beliau, “Wahai rasulullah, kenapa engkau melakukan hal ini padahal engkau telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidakkah engkau menyukai aku menjadi hamba yang bersyukur.” (HR. Muslim)

Imam Ghazali menuturkan;

مر بعض الانبياء بحجر صغير يخرج منه ماء كثير فتعجب منه فأنطقه الله تعالى فقال منذ سمعت قوله تعالى وقودها الناس والحجارة فأنا ابكي من خوفه فسأله ان يجيره من النار فأجاره ثم رآه بعد مدة على مثل ذلك فقال لم تبكي الآن فقال ذاك بكاء الخوف وهذا بكاء الشكر والسرور

Sebagian Nabi melewati sebuah batu kecil yang keluar darinya air yang banyak, iapun heran, lalu Allah membuat batu itu berbicara, ia berkata; “Semenjak aku mendengar firman Allah Swt (Bahan bakarnya adalah manusia dan batu) aku menangis karena takut”. Nabi itu lalu memohon kepada Allah agar batu itu diselamatkan dari Neraka, maka Allah pun menyelamatkannya. Kemudian Sang Nabi melihatnya lagi setelah beberapa waktu dengan masih dalam keadaan yang sama, ia lalu berkata; “Mengapa engkau menangis sekarang?”, batu menjawab; “Yang dulu adalah tangisan takut dan yang ini adalah tangisan Syukur dan bahagia.[4]

 

Manakah yang lebih berat, Fitnah Khair atau Syarr?

 

Ketahuilah bahwa Fitnah Khair lebih berbahaya daripada Fitnah Syarr dikarenakan sifatnyayang melalaikan. Sedang Fitnah Syarr lebih banyak mendorong kepada sikap sabar. karena itu Allah bersabda;

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. (As-Syuro 27)

وَلَكِنْ مَتَّعْتَهُمْ وَآبَاءَهُمْ حَتَّى نَسُوا الذِّكْرَ وَكَانُوا قَوْمًا بُورًا

“Akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingat (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa.” (Al-Furqon 18)

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى، أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (Al-Alaq 6-7)

Rasul Saw bersabda;

فوالله ما الفقر أخشى عليكم ولكني أخشى أن تبسط عليكم الدنيا كما بسطت على من كان من قبلكم فتنافسوها كماتنافسوها وتهلككم كما أهلكتهم

“Demi Allah bukanlah kefakiran yang paling aku takutkan padamu tetapi aku takut dibukanya dunia untukmu sebagaimana telah dibuka bagi orang-orang sebelummu dan kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan akan menghancurkanmu sebagaimana telah menghancurkan mereka” (HR Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda;

إِنِّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا

“Sesungguhnya diantara perkara yang aku khawatirkan atas kalian setelahku adalah dibukakan kepadamu kesenangan dunia dan perhiasannya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Ketika pintu-pintu dunia dibukakan untuk para Sahabat mereka berkata;

ابتلينا بفتنة الضراء فصبرنا وابتلينا بفتنة السراء فلم نصبر

Kita diuji dengan fitnah kesengsaraan kemudian kita sabar. Dan kita diuji dengan fitnah kesenangan kemudian kita tidak (mampu) sabar.[5]

Karena itulah Allah menyatakan;

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (Saba’ 13)

Syaikh Abu Bakr Al Jazairi berkata;

هذا إخبار بواقع وصدق الله العظيم الشاكرون لله على نعمه قليل وفي كل زمان ومكان وذلك لإِستيلاء الغفلة على القلوب من جهة ولجهل الناس بربهم وإنعامه من جهة أخرى

“Ini adalah pengkhabaran yang sesuai kenyataan. Sungguh Maha Benar Allah. Sungguh yang benar-benar mensyukuri nikmat Allah amatlah sedikit di setiap waktu dan tempat. Demikian karena berkuasanya kelalalaian atas hati dari satu sisi, dan di sisi lain karena jahilnya mereka terhadap Rabbnya, dan jahilnya mereka atas pemberian nikmatNya dari sisi yang lain”[6]

Bukan hanya dalam bentuk harta dunia saja akan tetapi Ibadah pun bias menjadikan kita tertipu seperti yang terjadi pada Iblis dan golongan ahli bid’ah. Rasulullah Saw bersabda;

يَخْرُجُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ وَلَمْ يَقُلْ مِنْهَا قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حُلُوقَهُمْ أَوْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَيَنْظُرُ الرَّامِي إِلَى سَهْمِهِ إِلَى نَصْلِهِ إِلَى رِصَافِهِ فَيَتَمَارَى فِي الْفُوقَةِ هَلْ عَلِقَ بِهَا مِنْ الدَّمِ شَيْءٌ

Akan muncul di kalangan umat ini -dan ia tak mengatakan dari umat ini- suatu kaum yg akan meremehkan shalat kalian bila di bandingkan dgn shalat mereka, mereka membaca Al Qur`an namun tak melewati kerongkongan atau tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama sebagimana anak panah keluar dari busurnya, lantas sang pelempar melihat anak panahnya, mata panahnya hingga kain panahnya, hingga seolah-olah anak panah itu keluar dalam tempat senar, apakah ada darah yg menempel? (HR. Bukhari)

Dari Hadits ini sebagian Ulama’ Salaf berkata; “Orang paling hebat Ibadahnya adalah orang yang terkena fitnah”. Yakni mereka sangat giat dalam beribadah melebihi yang lain, akan tetapi mereka meremehkan dan merendahkan golongan diluar mereka.

Diriwayatkan bahwa Nabi Musa bertanya pada Iblis;

 فأخبرني بالذنب الذي إذا أذنبه ابن آدم استحوذت عليه؟

“Beritahu aku akan dosa yang jika dilakukan anak Adam engkau dapat mengusai mereka!”

Iblis menjawab;

إذا أعجبت نفسه، واستكثر عمله ونسي ذنبه استحوذت عليه

“Jika seseorang kagum akan dirinya sendiri, mengangggap banyak amalnya dan melupakan dosanya, maka aku dapat menguasainya.”[7]

Jalan untuk lepas dari godaan dunia adalah dengan mengingat Akhirat, bahwasanya ia lebih utama dari dunia yang fana, mengingat Hari Kiamat dan apa yang ada didalamnya, dan mengingat mati. Sedang jalan untuk lepas dari tertipu dari Ibadah sendiri adalah dengan mengingat bahwa Ibadah itu dilakukan hanya dengan pertolongan Allah,  dan bahwasanya engkau tidak tahu apakah Ibadahmu diterima atau tidak sedang dosa dan kecerobohanmu teramat banyak, ingat bahwa Ibadahmu sebanyak apapun tidak dapat menandingi besarnya nikmat Allah, dan bahwa dosamu sekecil apapun adalah besar karena menyelewengkan nikmat.

هذا ما يسرالله لي من الكتابة عسى الله ان يغمرني ولابي وامي بالرحمة الواسعة

ولله الحمد والمنة والصلاة والسلام على خير البرية


[1] Ini banyak terjadi pada hamba-hamba yang terpilih, yang mempunyai kedekatan khusus dengan Allah sehingga kesalahan kecilpun bisa berakibat fatal.

[2] Ihya’ Ulumiddin.

[3] Risalah Qusyairiyyah.

[4] Ihya’ Ulumiddin.

[5] Ihya’ Ulumiddin.

[6] Aysarut-Tafasir.

[7] Tanbihul-Ghofilin.

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Antara Fitnah Khair dan Syarr at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: