Kaum Muslimin, Ayo Tinggalkan Penanggalan Masehi!

January 4, 2013 § Leave a comment

Bismillah….

Penggunaan penanggalan Masehi sebenarnya adalah salah satu cara yang digunakan orang kafir untuk menjauhkan orang Islam dari Syiar agamanya. Kaum Muslimin dari awal munculnya Islam telah menggunakan penanggalan rembulan, sampai akhirnya ditetapkan oleh sahabat Umar dan disepakati oleh para sahabat penetapan permulaan tahun, yang dimulai dari Hijrah Nabi. Dan tidaklah kaum Muslimin bergeser dari penanggalan Hijriyyah kecuali setelah datangnya para kafir penjajah. Dari itu kami sebutkan beberapa alasan mengapa kaum Muslimin harus menolak, atau paling tidak, sebisa mungkin berusaha menjauhi penggunaan penanggalan masehi.

Alasan pertama; semua hukum yang yang berkaitan dengan waktu ditentukan oleh penanggalan Hijriyyah tidak dengan penanggalan masehi. Contoh, umur baligh, masa haidh, iddah, puasa -baik sunnah maupun wajib-, hari raya, haji, zakat dan lain sebagainya menggunakan penanggalan Hijriyyah (Rembulan). Allah berfirman mengenai bulan, bahwasanya ia adalah tanda waktu bagi manusia;

يَسْأَلونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” [Al-Baqarah: 189]

Allah juga berfirman;

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. (At-Taubah 36)

Rasul Saw bersabda;

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ، السَّنَّةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ؛ ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُوْ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ  

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya termasuk empat bulan yang dihormati: Tiga bulan berturut-turut; Dzul Qoidah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang terdapat antara bulan Jumadal Tsaniah dan Sya’ban.”  (HR. Bukhari-Muslim)

Ar-Rozzy berkata;

قال أهل العلم: الواجب على المسلمين بحكم هذه الآية أن يعتبروا في بيوعهم ومدد ديونهم وأحوال زكاتهم وسائر أحكامهم بالأهلة، لا يجوز لهم اعتبار السنة العجمية والرومية

Ahli Ilmu berkata; “Wajib bagi kaum Muslimin dengan hukum ayat ini, untuk berhitung dalam urusan dagang mereka, jumlah hutang mereka, keadaan zakat mereka dan hukum-hukum mereka yang lain dengan perhitungan rembulan, dan tidak diperkenankan bagi mereka berhitung menggunakan penanggalan Ajam atau Romawi.”[1]

Dengan tidak digunakannya penanggalan Hijriyyah, maka lenyaplah sedikit demi sedikit ajaran Islam yang disyariatkan dalam waktu-waktu khusus. Jadilah orang Islam bingung bahkan salah dalam menentukan kapan puasa Ayyamul Biidh, kapan puasa Asyuro, kapan masa anak baligh, kapan waktu kewajiban menyuruh anak Sholat.

Alasan kedua; pengunaan penanggalan masehi berarti menjauh dari petunjuk dan jalan kaum Muslimin dan termasuk dalam prilaku tasyabbuh dengan kafirin. Penanggalan Hijriyyah ditetapkan oleh Khalifah Umar Ra berdasarkan kesepakatan para Sahabat, sedang Nabi telah memerintah untuk berpegang teguh pada Sunnahnya dan Sunnah Para Khalifah Sesudahnya;

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah khulafaur-rasyidin sesudahku, berpeganglah padanya dan gigitlah dengan gerahammu” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Sedang walaupun perhitungan penanggalan matahari merupakan perkara adat, tapi kaum nashrani telah membubuhinya dengan istilah yang berhubungan dengan kekufuran mereka, seperti “anno domini” (AD) yang berarti tahun tuhan kami, atau BC (before christ) kalau diindonesiakan menjadi “Sebelum Masehi”.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “

“Barangsiapa yang meniru satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Jadi menggunakan penanggalan Hijriyyah berarti menghidupkan Sunnah, sedang menggunakan penanggalan masehi berarti bertasyabbuh dengan Ahli Dholalah.

Alasan ketiga; Tahun Gajah (Aam Fiil) ditetapkan permulaannya untuk memperingati dan mengagunggkan peristiwa dihancurkannya tentara Abrahah yang hendak menyerang Ka’bah. Tahun Hijriyyah ditetapkan permulaannya untuk mengagunggkan dan memperingati peristiwa Hijrah Nabi. Begitu pula tahun masehi, ditetapkannya permulaan tahun sesudah kelahiran Yesus, untuk mengagungkan kelahiran Yesus yang bagi mereka adalah tuhan. Maka bagaimana mungkin seorang Muslim yang beriman kepada Allah bisa ridlo terhadap penggunaan tahun yang digunakan untuk mengagungkan sesembahan selain Allah.

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mudan Dia tidak meridhai kekufuran bagi hamba-Nya. (Az-Zumar 7)

Alasan Keempat;Bulan-bulan dalam tahun masehi banyak diambil dari nama dewa-dewa romawi, padahal penggunaan nama-nama dewa, berhala, dan sesembahan Allah lainnya, telah sepakat diharamkan oleh para Ulama’.

Bulan Januari dari nama dewa Janus. Februari dari kata latin Februa, istilah pesta penyucian yang diselenggarakan tiap 15 Feb oleh bangsa Romawi Kuno atau berasal dari nama dewa Februus, dewa penyucian. Maret dari nama dewa perang Mars. April Berasal dari nama dewi Aprilis, atau dalam bahasa Latin disebut juga Aperire yang berarti “membuka”. Mei dari istilah Maia Majesta, dewa musim semi. Juni berasal dari Juno. Juli dari nama Julius Caesar. Agustus berasal dari nama kaisar Romawi, Agustus. Selanjutnya, September, Oktober, November, Desember berasal dari bilangan tuju sampai sepuluh.[2]

Dan tidaklah mereka memberi nama seperti itu kecuali sebagai bentuk pengagungan mereka kepada dewa-dewa mereka, seperti halnya kita memberi nama anak dengan nama Muhammad sebagai wujud pengagungan dan kecintaan kepadanya. Jadi bagaimana mungkin seorang Mukmin bersekutu kepada orang kafir dalam pengagungan sesembahan selain Allah?! Namun yang lebih menyedihkan lagi, sebagian kaum Muslimin justru menjadikan nama dewa-dewa itu sebagai nama anak mereka.

Dengan demikian sebagai Muslim sebisa mungkin harus menghindar dari pemakaian penanggalan masehi. Dan jikalau terpaksa pun, maka sebisa mungkin selalu mengedepankan penanggalan Hijriyyah, selain itu tahunnya tidak usah diembel-embeli masehi tapi cukup tahun Syamsiyyah (Matahari) saja, seperti yang dilakukan oleh Al-Allamah Syaikh Maemoen Zubair. Dan juga ubahlah nama bulannya menjadi angka-angka saja, misal bulan januari menjadi bulan satu, dst, Seperti yang dilakukan oleh Ahli Falak Muslim Syaikh Muhammad Kadzim Habib.[3]

Fatwa dan Pendapat Para Ulama

a-Fatwa Lajnah Da’imah


بسم الله الرحمن الرحيم

Fatwa al-Lajnah ad-Dâ`imah Lil Buhûtsil ‘Ilmiyyah Wal Iftâ`
[komisi tetap untuk pembahasan ilmiah dan fatwa – ( saudi ‘arabia )]
Pertanyaan Ke-2 dari fatwa nomor 2072

Pertanyaaan : Bolehkah berinteraksi dengan kalender masehi dengan orang-orang tidak mengetahui kalender hijriyah, seperti kaum muslimin non arab atau atau orang-orang kafir mitra kerja?

Jawaban : Tidak boleh bagi kaum muslimin menggunakan kalender masehi karena sesungguhnya hal tersebut merupakan bentu tasyabbuh (menyerupai)  orang-orang nashara dan termasuk syiar agama mereka. Sebenarnya kaum muslimin, walhamdulillâh telah memiliki kalender yang  telah mencukupi diri mereka yang mengaitkan mereka dengan Nabi mereka Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam sekaligus ini merupakan kemuliaan yang besar. Namun apabila ada suatu kebutuhan yang sangat terdesak maka boleh menggabung kedua kalender tersebut.

Wabillahit Taufiq. Washallallâhu ‘ala Nabiyinâ Muhammad wa Âlihi wa Shabihi wa sallam

Al-Lajnah Ad-Dâ`imah Lil Buhûtsil ‘Ilmiyah Wal Iftâ`
Anggota : Bakr Abû Zaid
Shâlih Al-Fauzân
‘Abdullâh bin Ghudayyân
Wakil Ketua : ‘Abdul ‘Azîz Âlusy Syaikh
Ketua : ‘Abdul Azîz Bin ‘Abdillâh bin Bâz

 

b-Syaikh Abdul-Lathif Al-Qarny

Beliau berkata dalam artikel yang membahas penggunaan penanggalan masehi setelah menjelaskan asal mula penanggalan Hijriyyah dan masehi;

“Berdasarkan atas apa yang telah lalu, jelaslah bagi kita bahwa tarikh milady (masehi) berhubungan dengan agama nasrani dan perkembangannya. Yang demikian jelas terlihat pada nama-nama bulan pada tarikh milady, kebanyakan berupa paganisme yang berhubungan dengan “tuhan” kaum nasrani hasil sanggkaan, atau nama-nama para kaisar dan para rahib besar. Dari itu, sesungguhnya menjadikan penanggalan matahari yang berupa tahun milady sebagai syi’ar negara, dan berhitung dengannya dalam hitungan waktu dan kondisi adalah tasybih (penyerupaan) yang jelas terhadap kaum nasrani, sedang telah datang nash-nash yang mengaharamkan hal itu, seperti yang ditunjukkan oleh sabda Rasul Saw;

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “

“Barangsiapa yang meniru satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Beliau juga berkata;

“Petunjuk Syara’ telah datang atas pengamalan penanggalan rembulan yang berupa tarikh Hijriyyah ini, dan bahwsanya perhitungan waktu dan kondisi menggunakan tahun ini bukan yang lainnya. Ia adalah Syi’ar dan simbol ummat Islamiyyah”[4]

 

c-Syaikh Shalih bin Fauzan

Seorang bertanya padanya;
Apakah menggunakan kalender masehi termasuk sebagai bentuk wala’ (loyalitas) terhadap Nashara?

Beliau menjawab;

Tidak termasuk sebagai bentuk loyalitas tetapi termasuk bentuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan mereka (Nashara). Para Shahabat pun tidak menggunakannya, padahal kalender masehi telah ada pada zaman tersebut. Bahkan mereka berpaling darinya dan menggunakan kalender hijriyyah. Ini sebagai bukti bahwa kaum muslimin hendaknya melepaskan diri dari adat kebiasaan orang-orang kafir dan tidak membebek kepada mereka. Terlebih lagi kalender masehi merupakan simbol agama mereka, sebagai bentuk pengagungan atas kelahiran Al-Masîh dan perayaan atas kelahiran tersebut yang biasa dilakukan pada setiap penghujung tahun (masehi). Ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh Nashara (dalam agama mereka).

Maka kita tidak ikut andil dengan mereka dan tidak menganjurkan hal tersebut sama sekali. Apabila kita menggunakan kalender mereka, berarti kita menyerupai mereka. Padahal kita -dan segala pujian bagi Allah semata- telah memiliki kalender hijriyyah yang telah ditetapkan oleh Amîrul Mu`minîn ‘Umar bin Al-Khaththâb bagi kita di hadapan para sahabat Muhajirin dan Anshar ketika itu. Maka ini sudah cukup bagi kita.[5]

 

d-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Seseorang bertanya kepadanya;

Fadhîlatusy Syaikh, pertanyaanku ini ada 2 hal. Yang pertama bahwa sebagian orang mengatakan kita tidak boleh mengedepankan kalender masehi daripada kalender hijriyyah, dasarnya adalah karena dikhawatirkan terjadinya loyalitas kepada orang-orang kafir. Akan tetapi kalender masehi lebih tepat dari pada kalender hijriyyah dari sisi yang lain. Mereka mengatakan sesungguhnya mayoritas negeri-negeri menggunakan kalender masehi ini sehingga kita tidak bisa untuk menyelisihi mereka.

Beliau menjawab;


Bahwa realita penentuan waktu berdasarkan pada hilâl merupakan asal bagi setiap manusia, sebagaimana firman Allah subhanahu wa Ta’ala :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang hilâl. Katakanlah: “Hilâl itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; [Al Baqarah: 189]

Ini berlaku untuk semua manusia

Dan bacalah firman Allah ‘Azza wa Jalla :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” [At Taubah: 36]

Bulan-bulan apakah itu? Maka tidak lain adalah bulan-bulan yang berdasarkan hilâl. Oleh karena itu NabiShalallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan bahwasannya empat bulan tersebut adalah : Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Inilah yang merupakan pokok asal.

Adapun bulan-bulan yang ada di tengah-tengah manusia sekarang ini adalah bulan-bulan yang bersifat perkiraan dan tidak dibangun di atas dasar yang tepat. Kalau seandainya hal itu berdasarkan bintang niscaya hal itu ada dasarnya karena bintang sangat jelas keberadaannya di atas langit dan waktu-waktunya. Akan tetapi bulan-bulan yang didasarkan atas prasangka tersebut tidaklah memiliki dasar. Sebagai bukti, di antara bulan tersebut ada yang 28 hari dan sebagiannya 31 hari yang semua itu tidak ada dasarnya sama sekali. Akan tetapi apabila kita dihadapkan pada dilema berupa kondisi harus menyebutkan kalender masehi ini, maka kenapa kita harus berpaling dari kalender hijriyyah kemudian lebih memilih kalender yang sifatnya prasangka dan tidakmemiliki dasar tersebut?! Suatu hal yang sangat mungkin sekali bagi  kita untuk menggunakan penanggalan hijriyyah ini kemudian kita mengatakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian. Karena melihat kebanyakan dari negeri-negeri Islam yang telah dikuasai oleh orang-orang kafir kemudian mereka merubah kalender hijriyyah tersebut kepada kelender masehi yang hakekatnya itu adalah dalam rangka untuk menjauhkan mereka dari perkara tersebut dan dalam rangka menghinakan mereka.

Maka kita katakan, apabila kita dihadapkan pada musibah yang seperti ini sehingga kita harus menyebutkan kalender masehi juga, maka jadikanlah yang pertama kali disebut adalah kalender hijriyyah terlebih dahulu kemudian kita katakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian.

Kemudian si penanya tadi mengatakan bahwa sisi yang kedua dari pertanyaan tersebut bahwa beberapa perusahaan mereka mengatakan bahwa kami tidak menggunakan kalender masehi ini untuk maksud berloyalitas kepada orang-orang kafir, akan tetapi karena keadaan perusahaan-perusahaan yang ada di dunia ini yang kita menjalin hubungan perdagangan bersamanya, menggunakan kalender masehi juga sehingga akhirnya kita pun mau tidak mau menggunakan kalender masehi juga. Kalau tidak maka disana ada suatu hal yang bisa memudharatkan diri kami baik dari hal-hal yang berkaitan dengan transaksi dagang dan sebagainya. Maka apa hukum permasalahan ini?

Jawabanya: Bahwa hukumnya adalah suatu yang mudah. Sebenarnya kita bisa menggabung antara keduanya. Misalnya engkau mengatakan bahwa aku dan fulan bersepakat dalam kesepakatan dagang pada hari ahad misalnya, yang hari tersebut bertepatan dengan bulan hijriyyah sekian, kemudian setelah itu baru kita sebutkan penanggalan masehinya, kira-kira mungkin tidak?

Penanya menjawab: Tentu, sesuatu yang mungkin.[6]

 

Penutup

Janganlah tertipu dengan banyaknya pelaku kemunkaran, sehingga sampai menganggap hal munkar menjadi benar.

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. (Al-Maidah 100)

Dan tidaklah kemuliaan kecuali dengan mengikuti Sunnah, sahabat umar berkata :

نحن قوم اعزنا الله بالاسلام فاذاابتغينا العزة بغيره اذلنا الله

“Kami adalah kaum yang Allah mulyakan dengan Islam, maka jika kami mencari kemulyaan dengan selain Islam Allah akan menghinakan kita.”

Hidupkanlah Sunnah karena dijaman akhir, orang yang yang menghidupkan Sunnah baginya pahala limapuluh orang Sahabat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامِ الصَّبْرِ ، لِلْمُتَمَسِّك فِيْهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ : أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ. قَالُوا : يَا نَبِيَّ الله! أَوْ مِنْهُمْ ؟ قَالَ : بَلْ مِنْكُمْ

“Sesungguhnya dibelakang kalian ada hari-hari kesabaran, bagi orang yang berpegang teguh dengan sunnah disaat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang beramal dari kalian.”
Sahabat bertanya : “Wahai Nabi Alloh, bukannya lima puluh dari mereka?”
Beliau menjawab : “Tidak, bahkan lima puluh kali lipat dari pahala kalian.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, Ibnu Hibban)

Wallahu A’lam.

 

 


[1] Tafsir Al-Kabir.

[2] Lihat Wikipedia.

[3] Seorang Ahli Falak fenomenal yang menyatakan adanya kekeliruan dalam penanggalan masehi.

[5] Al-Muntaqâ min Fatâwa Al-Fauzân.

[6] Liqâ`âtul Bâbil Maftûh.

Tagged: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kaum Muslimin, Ayo Tinggalkan Penanggalan Masehi! at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: