Menjadi Santri; Menjadi Mukmin Sejati

February 19, 2015 § Leave a comment

Bismillah….

Sebuah pemikiran saya tentang reformasi pesantren di Indonesia, agar pesantren tidak jadi tempat penetasan telur kadal-kadal liberal…

Sekelumit tentang pesantren

Pesantren atau pondok pesantren adalah sekolah Islam berasrama, para pelajar pesantren disebut santri. Kata santri menurut profesor Johns berasal dari bahasa Tamil yg berarti guru mengaji. Sedang kata pondok berasal dari bahasa arab funduq yg berarti hotel atau asrama. Selain itu kata santri juga bermakna orang Islam yang taat, sebagai lawan kata Abangan, inilah yang akan ditekan pada pembahasan ini. Tujuan dari didirikannya pesantren adalah untuk mendidik dan menempa kader dakwah, yang mengajarkan Islam, menjaga dan membela agama agar Indonesia menjadi Negara Islam yang kaffah.

Pesantren adalah lembaga pendidikan pertama di Indoneisa. Pendiri pertama pesantren adalah dari kalangan wali songo, yakni Maulana Malik Ibrahim, dilanjutkan oleh Raden Rahmat atau Sunan ampel, kemudian Sunan Bonang dan juga Sunan Giri. Pesantren-pesantren ini menggembleng kader-kader dakwah yang kemudian punya peran besar dalam mengislamkan Nusantara.

Dalam bukunya “Tradisi Pesantren” Zamakhsyari Dhofier menyatakan; “pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab islam klasik dan kyai merupakan lima elemen dasar dari tradisi pesantren”. Jadi bisa dibilang kelima hal tersebut adalah syarat atupun rukun berdirinya pondok pesantren.

Santri di jaman Rasul saw

Jika kita menengok kebelakang, kepada awal mula sejarah Islam, kita akan temukan contoh kehidupan santri dan kyai yang juga kita temukan di jaman sekarang. Di masjid Nabawi terdapat tempat untuk berteduh  yang disebut shuffah, yang digunakan oleh para santri Rasulullah untuk tinggal, sambil belajar, menghafal Al-Quran, mengambil Hadits, dan bersiap diri jika suatu saat datang panggilan jihad. Mereka inilah yang disebut dalam Al-Quran;

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا

kepada orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak.

Yakni mereka ini telah mendermakan hidupnya untuk jalan Allah dengan mencari Ilmu, berkhidmah kepada Allah dan Rasulnya, dan siap berjihad membela agamaNya, mereka tidak punya harta akan tetapi mereka tidak mau meminta minta-minta.  Mereka ini adalah orang-orang yang wajib dibantu denagn sadaqah.

Diantara alumni ‘Shuffah’ yang menonjol adalah sahabat Abu Hurairah yang bernama lengkap Abdurrahman bin Shakhr, cuma tiga tahun lebih ia nyantri, tapi karena keteguhan dan kegigihannya, dan berkat doa dari Rasul Saw ia menjadi sahabat yang Alim dan paling banyak meriwayatkan Hadits. Abu hurairah menceritakan perihal rahasia kesuksesan dia menjadi santri:

إن الناس يقولون أكثر أبو هريرة ولولا آيتان في كتاب الله ما حدثت حديثا ثم يتلو { إن الذين يكتمون ما أنزلنا من البينات – إلى قوله – الرحيم } . إن إخواننا من المهاجرين كان يشغلهم الصفق بالأسواق وإن إخواننا من الأنصار كان يشغلهم العمل في أموالهم وإن أبا هريرة كان يلزم رسول الله صلى الله عليه و سلم بشبع بطنه ويحضر ما لا يحضرون ويحفظ ما لا يحفظون

Sesungguhnya orang-orang mengatakan: sungguh Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits!! dan sesungguhnya jika bukan karena dua ayat dalam al-Qur’an niscaya aku tidak akan meriwayatkan sebuah hadits-pun, kemudian beliau membaca firman Allah. (artinya) :”Sungguh, orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan dan petunjuk, setelah Kami tunjukkan kepada manusia dalam kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh orang yang melaknat. kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskannya, mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah maha penerima tobat”. Sesungguhnya saudara-saudara kami dari kalangan muhajirin disibukan dengan perniagaan di pasar, sedangkan saudara kami dari kalangan Anshor disibukan dengan pekerjaan-pekerjaan mereka, sedangkan Abu Hurairah senantiasa melazimi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- dengan kenyangnya perutnya, dan dia menghadiri yang tidak dihadiri para sahabat yang lain, dan menghafal hadits-hadits yang tidak dihafal oleh para sahabat yang lainnya. (HR. Bukhari)

Beliau juga berkata:

: قلت يا رسول الله إني أسمع منك حديثا كثيرا أنساه ؟ قال ( أبسط رداءك ) . فبسطته قال فغرف بيديه ثم قال ( ضمه ) فضممته فما نسيت شيئا بعده

Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengarkan hadits yang banyak darimu, namun aku melupakannya. Maka Rasulullah mengatakan: hamparkanlah selendangmu!!, maka aku hamparkan selendangku, maka Nabi mengambilnya dengan tangannya, kemudian beliau bersabda: peluklah selendangmu!!, maka akupun memeluklnya, dan aku tidak lupa sedikitpun setelah itu. (HR. Bukhari)

Rasul berkata kepadanya memuji kegigihannya dalam mengambil hadits:

لقد ظننت – يا أبا هريرة – أن لا تسألني عن هذا الحديث أحد أول منك لما رأيت من حرصك على الحديث اسعد الناس بشفاعتي يوم القيامة من قال لا إله إلا الله خالصا من قلبه أو نفسه )

Sungguh aku telah mengira wahai Abu Hurairah, bahwa tidak akan ada seorangpun mendahului engkau untuk bertanya kepadaku tentang hadits ini, karena aku telah melihat semangatmu yang besar untuk mempelajari hadits. sesungguhnya orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat kelak adalah semua yang mengucapkan kalimat “Laa Ilaha Illallah” dengan penuh keikhlasan. (HR. Bukhari)

Karena tidak bekerja dan hanya mengabdikan diri pada agama, tidak jarang Abu hurairah tertimpa kelaparan, terkadang ia berdiri di jalan  menyapa orang lewat, pura-pura bertanya tentang suatu ayat Al-Quran dengan tujuan agar orang yang lewat tadi mengajak ke rumahnya sembari berharap mendapat sedekah makanan. Ia berkata:

آلله الذي لا إله إلا هو إن كنت لأعتمد بكبدي على الأرض من الجوع وإن كنت لأشد الحجر على بطني من الجوع ولقد قعدت يوما على طريقهم الذي يخرجون منه فمر أبو بكر فسألته عن آية من كتاب الله ما سألته إلا ليشبعني فمر ولم يفعل ثم مر بي عمر فسألته عن آية من كتاب الله ما سألته إلا ليشبعني فمر ولم يفعل ثم مر بي أبو القاسم صلى الله عليه و سلم فتبسم حين رآني وعرف ما في نفسي وما في وجهي

Demi, Allah. Tidak ada sesembahan yang benar, kecuali Dia. Sungguh aku  pernah sampai menempelkan perutku ke tanah karena lapar dan aku ganjal perutku dengan batu menahan lapar. Sungguh, pada suatu hari aku duduk di jalan yang biasa keluar darinya. Lalu Abu Bakar melintasi jalan itu. Aku pun bertanya kepadanya tentang satu ayat Al-Qur’an. Dan tidaklah aku menanyakannya, kecuali agar Abu Bakar menjamuku. Dia pun melewatiku dan tidak berbuat apa-apa. Lalu melintas di jalan itu, Umar bin Al Khaththab. Aku pun bertanya kepadanya satu ayat A-Qur’an. Dan tidaklah kutanyakan hal itu, kecuali agar ia menjamuku. Namun ia pun melintas dan tidak berbuat apa-apa. Kemudian setelah itu Abul Qasim Shalalllahu ‘alaihi wa sallam melintas di jalan itu seraya tersenyum ketika memandangku. Beliau mengetahui yang yang ada dalam hatiku dan yang tersirat dari wajahku. (HR. Bukhari)

Bahkan pernah pula ia sampai pingsan karena kelaparan, ia bercerita mengenang masa perjuangannya menjadi santri:

لَقَدْ رَأَيْتُنِي وَإِنِّي لَأَخِرُّ فِيمَا بَيْنَ مِنْبَرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحُجْرَةِ عَائِشَةَ مَغْشِيًّا عَلَيَّ فَيَجِيءُ الْجَائِي فَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى عُنُقِي يَرَى أَنَّ بِي جُنُونًا ، وَمَا بِي جُنُونٌ ، وَمَا هُوَ إِلَّا الْجُوعُ.

Sungguh aku terbayang ketika aku jatuh tersungkur di Antara mimbar Rasul dan bilik ‘Aisyah, tidak tersadarkan diri, maka datang seseorang kemudian menaruh kakinya di atas leherku, mengira kalau aku punya penyakit gila, padahal aku tidak gila, tidaklah yang demikian ini kecuali lapar. (HR. Tirmidzi dalam kitab Syamail)

Ada juga santri yang kalau sekarang disebut kilatan, mereka ini adalah utusan dari qabilah-qabilah dari luar madinah yang diutus untuk mempelajari Islam dari sumbernya untuk kemudian mengajarkanya pada kaumnya:

عن مالك بن الحويرث قال : أتينا رسول الله صلى الله عليه و سلم ونحن شببة متقاربون فأقمنا معه عشرين ليلة قال وكان رسول الله صلى الله عليه و سلم رحيما رفيقا فظن أنا قد اشتقنا أهلنا فسألنا عمن تركنا في أهلنا فأخبرناه فقال ارجعوا إلى أهليكم فأقيموا فيهم وعلموهم ومروهم إذا حضرت الصلاة فليؤذن لكم أحدكم ثم ليؤمكم أكبركم

Dari Malik ibn al-Huwayris berkata: Kami, beberapa orang pemuda sebaya  datang kepada Nabi saw., lalu kami menginap bersama beliau selama 20 malam. Beliau menduga bahwa kami telah merindukan keluarga dan menanyakan apa yang kami tinggalkan pada keluarga. Lalu, kami memberitahukannya kepada Nabi. Beliau adalah seorang yang halus perasaannya dan penyayang lalu berkata: “Kembalilah kepada keluargamu! Ajarlah mereka, suruhlah mereka dan salatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya mengerjakan salat. Apabila waktu salat telah masuk, hendaklah salah seorang kamu mengumandangkan azan dan yang lebih senior hendaklah menjadi imam. (HR. Bukhari)

Allah berfirman sebagai anjuran untuk pergi mencari ilmu:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Menjadi Santri

Dari sekelumit cerita diatas kita dapat ketahui bahwa agar sukses menjadi santri harus melalui perjuangan yang berat dan tekad yang sangat kuat.

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu- berkata:

ذللت طالبا فعززت مطلوبا

Aku letih ketika menuntut ilmu maka aku mulia dengannya [menjadi tujuan rihlah para penuntut ilmu].

Berkata Yahya bin Abi Katsir –rahimahullah-: saya mendengar ayahku mengatakan:

لا يستطاع العلم براحة الجسم

Ilmu tidak akan bisa diperoleh dengan santai.

Imam Syafi’i –rahimahullah menegaskan-:

ما افلح في العلم الا طلبه بالقلة

Tidak akan beruntung seorang penuntut ilmu kecuali yang menuntutnya dengan kesengsaraan.

Apalagi menjadi santri bukan Cuma sekedar menuntut ilmu tapi ada tugas besar yang diemban, yaitu yang terkandung dalam firman Allah

وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Allah juga berfirman;

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.

Hendak pula diketahui bahwa kesuksesan pendididikan pesantren bergantung pada santri itu sendiri, sang ulama, materi yang diajarkan, serta kondisi lingkungan yang mendukung.

Sering sekali ungkapan kita dengar kalau ilmu itu seperti air, akan tetapi kita lupa kalau tanaman jika disiram air tapi tidak terkena cahaya matahari maka justru tanaman itu menjadi cepat busuk. Begitu juga iman, karena iman adalah ibarat pohon, akarnya yang menghujam di hati adalah tashdiq (percaya), batangnya adalah kalimah tauhid, sedang cabang dan rantingnya adalah amal-amal sholeh kita.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Yang dimaksud kalimah thoyyibah adalah kalimah tauhid atau kalimah lailaha illah. Dalam hadits riwayat ibnu Umar, ia berkata;

عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إن من الشجر شجرة لا يسقط ورقها، وإنها مثل المسلم، فحدثوني ما هي). فوقع الناس في شجر البوادي، قال عبد الله: ووقع في نفسي أنها النخلة، فاستحييت، ثم قالوا: حدثنا ما هي يا رسول الله؟ قال: (هي النخلة).

Dari ibnu umar bahwasanya Rasulullah berkata sesungguhnya dari jenis pohon terdapat pohon yg tidak gugur daunnya, dan sesungguhnya ia adalah perumpamaan seorang mukmin. maka beritahulah aku pohon apa itu? Maka orang-orang merasa itu adalah pohon yg terdapat di desa-desa. Abdullah ibn umar berkata: aku merasa dalam hatiku bahwa ia adalah pohon kurma namun aku malu mengatakannya. Kemudian orang-orang berkata beritahukan pada kami ya rasulullah pohon apakah itu?! Rasul berkata ia adalah pohon kurma. (HR. Bukhari)

Maka yang perlu dilakukan pertama adalah membersihkan tanah tempat tumbuhnya iman, yaitu hati dan tubuh dari makanan yang haram, dan hanya mengisinya dengan perkara halal, karena Allah berfirman:

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana.  (Al-A’rof 58)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى : ,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً – وَقاَلَ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya : Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah. Dan Dia berfirman : Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian dan bersyukurlah pada Allah jika memang hanya kepadaNya lah kalian menyembah.

Yakni perbuatan baik hanya diterima dari yang baik, yaitu dari makanan halal, dan dari ayat yang disebut menunjukkan bahwasanya makanan halal mengantarkan pada amal sholeh dan bersyukur pada nikmatNya.

Sufyan Ats-Tsauri berkata:

لا يصيب العبد حقيقة الإيمان حتى يجعل بينه وبين الحرام من الحلال وحتى يدع الإثم وما تشبابه منه

Tidaklah seorang hamba mencapai hakikat Iman sampai ia menjadikan Antara dirinya dan barang haram suatu tameng dari perkara halal, dan sampai ia meninggalkan dosa dan yang samar-samar darinya.

Kemudian menyiraminya dengan Ilmu, yakni ilmu Al-Quran dan hadits, bukan Cuma Fiqih atau Nahwu, Rasul bersabda:

مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم، كمثل الغيث الكثير أصاب أرضا،

Perumpamaan apa yg dengannya allah mengutusku yaitu berupa petunjuk dan ilmu itu seperti hujan yg deras yg mengenai bumi… (Bukhari)

Rasul bersabda:

العلم ثلاثة فما سوى ذلك فهو فضل آية محكمة وسنة قائمة وفريضة عادلة

İlmu ada tiga, selain yg tiga ini adalah tambahan; ayat yg muhkamah (jelas maknanya), sunnah yg tegak, Fara’idl yg adil. (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah)

Allah berfirman;

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Dan barangsiapa berpaling dari Dzikirku –yakni Al-Quran, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا

Dan barangsiapa yang berpaling dari Dzikir Tuhannya (Al-Quran), niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang Rasul datangkan kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya

Sedang termasuk kategori berpaling dari Al-Quran adalah berpaling dari belajar, berpikir dan mengangan-angan maknanya, karena justru itulah tujuan Al-Quran diturunkan. Maka jangan heran jika ada santri ketika keluar dari pesantren justru Allah menjalarkan padanya sebab-sebab menuju neraka, dengan mengeluarkan tindakan-tindakan yang melabrak firman Allah dan ketentuan Rasulnya, disebabkan kesalahan memprioritaskan ilmu yang harus dipelajari, entah dari dia sendiri atau dari akibat kesalahan sistem pendidikan Pesantren.

Setelah itu menaruhnya di tempat-tempat suci yang tersinari sinaran hidayah, dengan terlebih dahulu membersihkan hati dari selaput dosa yang membungkusnya, karena Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Sesungguhnya Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang dzalim.

Siapakah orang dzalim? Jawabnya ada pada firman Allah:

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barang siapa tidak mau bertobat maka merekalah orang-orang dzalim.

Disinilah letak pentingnya membersihkan diri dari dosa dengan bertaubat bukan cuma satu dosa tapi seluruhnya, karena dengan begitu tidak ada penghalang yang menghalangi sinaran hidayahNya menuju hati.

Rasul Saw bersabda;

إن العبد إذا أخطأ خطيئة نُكِت في قلبه نكتة، فإن هو نزع واستغفر وتاب صُقِل قلبه، فإن عاد زيد فيها حتى تعلو قلبه، فهو الران الذي قال الله; { كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ }

Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan kesalahan hatinya ternoda dengan setitik noda, kemudian jika ia berhenti, meminta ampunan dan bertobat, hatinya menjadi bersih mengkilap, dan jika ia mengulangi kesalahanya, bertambahlah nodanya sehingga menutupi seluruh hatinya. Itulah “ar-roon” yang Allah berfirman mengenainya;

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka kerjakan  itu telah menutupi hati mereka. (Al-Muthoffifiin 14) ” (HR. Tirmidzi)

Adapun tempat-tempat suci yang tersinari oleh sinarNya, maka yang paling utama adalah masjid tempat dimana nama Allah disebut dan diagung-agungkan, Allah berfirman:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.. al-aayah…

Setelah itu Ia menyebutkan dimana cahaya ini bersemayam:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ

Di rumah-rumah yang Allah izinkan untuk ditinggikan dan disebut-sebut namaNya di dalamnya.

Inilah satu keutamaan ngaji di masjid yang tidak di jumpai di sekolah-sekolah, universitas, dan tempat lainnya, satu tradisi dari ulama salaf kita yang sayangnya semakin berkurang dan semakin ditinggalkan.

Karena itu menjadi pantangan bagi seorang santri untuk meninggalkan shalat berjamaah di masjid, dan selayaknya bagi seorang santri  sebagai seorang muslim yang taat untuk melazimi masjid dan mengantungkan hati padanya, dalam hadits:

عن أبي سعيد الخدري؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “إذا رأيتم الرجل يعتاد المسجد فاشهدوا له بالإيمان؛ قال الله تعالى: { إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ }

Dari Abu Said Al-Khudry Rasulullah bersabda: Jika engkau melihat seseorang membiasakan masjid maka berikanlah kesaksian iman baginya, Allah berfirman: sesungguhnya yang memakmurkan Masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman pada Allah dan hari akhir.

Senada dengan Masjid adalah majlis ilmu dan dzikir, yakni bukan sekedar majlis ilmu tapi majlis yang mengingatkan diri kepada Allah.

Di Indonesia pembangunan pesantren biasanya di mulai dengan pembangunan masjid, seorang kyai akan membangun masjid dan mengajarkan ilmu-ilmu agama, ketika muridnya semakin banyak dan memerlukan tempat tinggal, barulah dibangun pondok. Selanjutnya pondok bukan hanya menjadi tempat tinggal tapi ‘penjara suci’ yang berfungsi menghindarkan diri dari pengaruh negatif lingkungan luar, karena menuntut ilmu tidak mungkin berhasil dengan adanya gangguan yang menyibukkan hati terutama dari kesibukan duniawi, seperti yang terpetik dari kisahnya Abu Hurairah; sementara kawannya sibuk mengurusi dunia, ia sibuk melazimi Rasulullah.

Inilah tiga hal pokok yang perlu diperhatikan oleh tiap santri, yaitu menjaga makanan, mempelajari Al-Quran dan Sunnah, serta bertaubat dan menghindarkan diri dari dosa yang diwujudkan dengan mengasingkan diri di masjid dan pondok pesantren, karena yang dipentingkan dari menuntut ilmu bukanlah sekedar mengumpulkan, akan tetapi mengamalkan dan mengajarkan.

قال الحسن البصري: العالم مَن خشي الرحمن بالغيب، ورغب فيما رغب الله فيه، وزهد فيما سَخط الله فيه، ثم تلا الحسن: { إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ } .

Al-Hasan Al-Bashri berkata: Orang Alim adalah yang takut pada Allah dalam kesendirinnya, senang pada apa yang Allah senangi, dan benci pada apa yang Allah benci, kemudian ia membaca firman Allah:

‘Sesungguhnya yang takut pada Allah hanyalah Ulama’

وعن ابن مسعود، رضي الله عنه، أنه قال: ليس العلم عن كثرة الحديث، ولكن العلم عن كثرة الخشية

Ibnu Mas’ud berkata: Tidaklah ilmu itu dari banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu itu dari banyaknya takut pada Allah

Peran utama Kyai

Selanjutnya, seorang kyai  yang juga seorang ulama sebagai pewaris anbiya harus bisa meneruskan tugas yang diemban oleh Nabi yang termaktub dalam firman Allah:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Yakni seorang kyai harus mampu membacakan Al-Quran pada santrinya, dan mentazkiyah mereka dengan dengan mengajarkan sikap takwa pada Allah, menjauhkan mereka dari dosa, menumbuhkan di hati mereka rasa cinta padaNya serta rasa takut (Khof) dan berharap (Roja’) padaNya, serta mengingatkan tentang Akhirat dan apa yang terjadi disana.

Juga seorang kyai harus mampu mengajarkan Al-Quran dan As-Sunnah (Al-Hikmah), pada para santrinya, bukan Cuma dengan lisan tapi juga dengan tindakan nyata. Karena itu seorang kyai dituntut untuk mengamalkan sunnah dalam kehidupan sehari-harinya agar menjadi pedoman bagi para santrinya.

Jadi sungguh tidak tepat jikalau seorang kyai ceramah, disela-sela ceramahnya diselingi senda gurau, karena yang terjadi dihati para pendengarnya bukannya rasa takut pada Allah yang bertambah tapi justru sifat lalai dan kerasnya hati. Simaklah bagaimana rasul menancapkan rasa takut dihati para sahabat dan membuat mereka mengutamakan kehidupan Akhirat:

عن أبى هريرة قال : قلت يا رسول الله إذا كنا عندك رقت قلوبنا وزهدنا فى الدنيا ورغبنا فى الآخرة

Dari Abu Hurairah ia berkata; Ya Rasulullah, kami jika ada disisi engkau, hati kami menjadi lembut (kebalikan dari keras), kami membenci dunia, dan senang pada akhirat

Apalagi kyai bukanlah seorang pelawak, dan sungguh tidak tepat seseorang membaca A-Quran atau Hadits kemudian tertawa-tawa seperti  halnya sikapnya orang kafir.

Maka tak urung, seorang kyai haruslah mempunyai pengetahuan yang cukup dibidang Al-Quran dan Hadits sebelum menjadi pendidik, seperti firman Allah:

كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

Hendaklah kalian menjadi orang-orang Rabbani, dengan sebab mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu telah mempelajarinya.

Seorang kyai juga dituntut untuk sabar, punya kualitas Iman yang kuat, welas asih, rendah hati, punya perhatian yang besar terhadap muridnya, senantiasa mengingatkan jika mereka melakukan kesalahan, selalu menginginkan yang terbaik bagi muridnya, serta senantiasa mendoakan mereka.  Inilah karakteristik kyai yang robbani.

Tagged: , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menjadi Santri; Menjadi Mukmin Sejati at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: