Shalat Jamaah; Tanda Iman dan Menetapi Sunnah

July 6, 2015 § 3 Comments

Bismillah

Shalat jamaah di masjid dimana adzan dikumandangkan merupakan simbol kesatuan umat Islam, mengajarkan kedisiplinan, kekompakan, dan menimbulkan perhatian dan kasih sayang. Ia adalah tanda Iman seseorang, juga tanda bahwa pelaksananya adalah pengikut Sunnah dan penetap Jamaah atau yang biasa disebut Ahlu Sunnah wal-Jamaah. Sedang meninggalkan shalat jamaah adalah tanda kemunafikan, juga tanda melenceng dari Sunnah dan memisah dari jamaah.

Allah Saw berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Jadi, orang yang mau memakmurkan masjid Allah diakui sebagai orang mukmin, juga senantiasa mendapat hidayah dari Allah.

Rasul Saw bersabda:
اِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوْا لَهُ بِاْلاِيْمَان وَتَلاَ إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ -الآية

Artinya : Apabila kalian melihat orang yang membiasakan dirinya berada di dalam masjid, maka saksikanlah bahwa dia itu beriman, kemudian beliau membacakan “Innamaa ya’muru masajidallah”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim dan Abu Said).

Karena itu Sahabat Ibnu Mas’ud berpesan agar seorang dapat menemui Allah dalam keadaan muslim, dan berada dalam jalur petunjuk, bukan dalam kemunafikan dan kesesatan, agar senantiasa menjaga shalat jamaah di masjid dimana panggilan adzan dikumandangkan:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا

مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى

بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ

وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ

أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا

الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ

تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ

يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ

هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ

يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا

سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا

مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ

يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

 

“Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah kelak di akhirat sebagai

seorang muslim maka hendaklah dia menjaga shalat-shalat wajib itu dimana adzan  dikumandangkan.

Sesungguhnya Allah mensyariatkan untuk Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam berbagai jalan petunjuk dan sesungguhnya shalat berjamaah itu termasuk jalan petunjuk. Kalau saja kalian mengerjakan shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana shalatnya orang yang sengaja meninggalkan jamaah itu sehingga dia mengerjakannya di rumahnya maka itu artinya kalian telah meninggalkan Sunnah Nabi kalian, dan kalau kalian sudah meninggalkan Sunnah Nabi kalian maka pastilah kalian menjadi sesat.

Tidaklah seseorang bersuci dengan sebaik-baiknya kemudian dia bersengaja untuk ke masjid di antara masjid-masjid yang ada ini kecuali Allah pasti akan mencatat satu kebaikan baginya dari setiap langkah kakinya dan Allah akan menaikkan derajatnya setiap kali dia melangkahkan kakinya itu, dan Allah berkenan untuk menghapuskan karenanya satu kejelekan.

Sungguh, aku teringat bahwa dahulu tidak ada orang yang sengaja meninggalkan sholat jama’ah itu kecuali orang munafiq yang diketahui dengan jelas kemunafikannya. Bahkan sampai-sampai pernah terjadi ada seorang sahabat yang didatangkan ke masjid dalam keadaan dipapah oleh dua orang lelaki hingga diberdirikan di dalam shaf.” (HR. Muslim)

Karena itu bagi laki-laki mukmin, walaupun shalat jamaah hukumnya yang lebih tepat adalah Sunnah muakkad, akan tetapi meninggalkan jamaah di masjid sehingga dijadikan kebiasaan adalah haram karena demikian adalah tanda kemunafikan. Padahal Rasul Saw bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barang siapa menyerupai suatu golongan, maka ia termasuk golongan itu.”

Adapun bagi wanita, maka bagi mereka shalat di rumah adalah lebih baik, tapi tidak dilarang mereka pergi ke masjid dengan syarat mereka menjaga diri dari menimpakan fitnah bagi kaum laki-laki, dengan –misalnya, berdandan dan memakai wewangian.

 

Tagged: , , , , ,

§ 3 Responses to Shalat Jamaah; Tanda Iman dan Menetapi Sunnah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Shalat Jamaah; Tanda Iman dan Menetapi Sunnah at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: