Benarkah Surga Tidak Penting?

July 7, 2015 § 2 Comments

Ada seorang tokoh budayawan mengatakan, Surga itu tak penting, meniru beberapa Syathohat (ucapan ngelindur) beberapa Ahli Tasawwuf. Benarkah demikian?

Bukankah Allah berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh ia telah beruntung (Ali Imron 185). Berani bilang tidak penting?

Bukannya Rasul juga berdoa meminta surga dan dihindarkan dari neraka?

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِرَجُلٍ « مَا تَقُولُ فِى الصَّلاَةِ ». قَالَ أَتَشَهَّدُ ثُمَّ أَسْأَلُ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِهِ مِنَ النَّارِ أَمَا وَاللَّهِ مَا أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلاَ دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ. فَقَالَ « حَوْلَهُمَا نُدَنْدِنُ»

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang, “Apa yang engkau baca dalam shalat?”, ia berkata, “Aku bertasyahhud, kemudian aku meminta kepada Allah surga dan berlindung dari apa neraka. Demi Allah, adapun saya tidak mengerti bacaan engkau dan bacaan Mu’adz yang pelan.” Beliau bersabda, “Sekitar keduanya (meminta surga dan berlindung dari neraka) bacaan kami.”

Konsekuensi ucapan surga tidak penting adalah Rasul Saw telah meminta sesuatu yang tidak penting. Apa dia sudah merasa hebat dari Rasul sampai berani berkata demikian?

Seumpama kau mencintai seseorang atau mengidolakannya, maka pemberian sekecil apapun darinya, seperti sekedar senyuman, tanda tangan, atau bahkan lirikan akan kamu anggap bukan hanya penting tapi istimewa. Lalu bagaimana jika Sang Kekasih menjanjikan rumah yang indah tiada tara, luasnya seluas langit bumi, disamping singgasanaNya, apa berani kau anggap tak penting?

Suatu ketika Nabi Ayyub mandi dalam keadaan telanjang, tiba-tiba muncul gerombolan belalang emas, langsung saja Nabi Ayyub menangkapi belalang belalang itu, Allah pun menyerunya; Wahai Ayyub bukankah aku sudah mencukupi engkau dari apa yang lihat? Ayyub menjawab; Benar Ya Allah, akan tetapi aku tidak dapat lepas dari barakahMu.

Seperti kata penyair:

قليل منك يكفيني ولكن—-قليلك لا يقال قليل

Sedikit darimu sudah cukup, tapi sedikitmu tidak bisa dibilang sedikit

Sekarang siapa yang bisa lepas dari fadlalnya Allah di dunia, lebih-lebih di Akhirat??

Maka yang benar adalah menjadikan Allah sebagai tujuan utama, sembari tidak meremehkan surga, karena surga adalah bagian dari fadlal dan rahmatNya, yang Allah janjikan pada hamba-hambanya yang bertakwa. Jadi ketika seorang mengaku mencintai Allah harusnya dia menjadi ingin masuk surga, dan bukannya malah menganggapnya tidak penting, sebuah sikap tidak sopan dihadapan janji yang Allah janjikan, serukan dan iming-imingkan pada hamba-hambanya.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus 58)

Seorang Arif Billah memandang pemberian bukan dari apa yang diberi tapi dari siapa yang memberi, jadi sekecil apapun pemberian menjadi besar karena memandang Allah sebagai dzat yang memberikan. Jadi ketika ia dijanjikan surga, ia senang bukan cuma karena dzatnya surga tapi memandang siapa yang memberikan janji surga.

Tagged: , , , , , , ,

§ 2 Responses to Benarkah Surga Tidak Penting?

  • Adhit says:

    Maksudnya cak nun ibadah itu niatnya hanya lillahitala hanya karenaAllah saja. Perkara surga atau neraka itu akibat. Jika dapat Ridlonya Allah maka kau dapat surga atau sebaliknya. Kata utama nya itu ridlo Allah bukan surga atau neraka

    • niasato says:

      ya saya juga faham, tapi apakah dengan begitu dibenarkan ucapan Surga itu tidak penting? coba fahami lagi tulisan saya.

      “Maka yang benar adalah menjadikan Allah sebagai tujuan utama, sembari tidak meremehkan surga, karena surga adalah bagian dari fadlal dan rahmatNya, yang Allah janjikan pada hamba-hambanya yang bertakwa. Jadi ketika seorang mengaku mencintai Allah harusnya dia menjadi ingin masuk surga, dan bukannya malah menganggapnya tidak penting, sebuah sikap tidak sopan dihadapan janji yang Allah janjikan, serukan dan iming-imingkan pada hamba-hambanya.

      قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

      Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus 58)

      Seorang Arif Billah memandang pemberian bukan dari apa yang diberi tapi dari siapa yang memberi, jadi sekecil apapun pemberian menjadi besar karena memandang Allah sebagai dzat yang memberikan. Jadi ketika ia dijanjikan surga, ia senang bukan cuma karena dzatnya surga tapi memandang siapa yang memberikan janji surga.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Benarkah Surga Tidak Penting? at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: