Kenali Empat Musuhmu dan Temukan cara mengalahkannya!

September 16, 2015 § Leave a comment

Bismillah

Tiap Mukmin punya empat musuh yang harus diwaspadai, berikut empat musuh yang harus kita lawan berikut cara mengalahkannya, dimulai dari yang paling ringan.

4-Syaitan

Permusuhan Syaithon dengan Manusia dimulai dari Nabi Adam ketika Iblis iri kepada Adam dan menolak sujud padanya, sehingga ia terlaknat sampai hari kiamat, dan sejak itulah ia mencanangkan sumpah untuk melencengkan umat manusia dari jalan lurus menuju Rabbnya.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ، ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah membuatku sesat, maka aku bersumpah, bahwa aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus,

kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Al-A’rof 16-17)

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ، إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang terpilih di antara mereka.” (Al-Hijr 39-40)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah 168)

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu) (Al-Fathir 6)

Solusinya: Iman dan Tawakkal

Pada hakikatnya tipu daya syaithon itu lemah, karena ia hanya bisa membisik-bisikkan kejahatan tanpa punya kuasa untuk memaksa orang melakukannya. Allah berfirman;

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Sesungguhnya tipu daya syaithon itu lemah (An-Nisa)

Dan sebagai mana yang telah disebut; ia tidak dapat melencengkan orang-orang pilihan (Mukhlashiin), yaitu orang yang beriman dan bertawakkal pada Allah;

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ، إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (An-Nahl 99)

Jadi inilah solusi menghadapi iblis dan anak buahnya, yaitu dengan Iman dan Tawakkal; berserah diri pada Allah, meminta perlindungan dari yang maha kuasa atas musuh yang kasat mata.

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan jika syetan mengajakmu pada kejahatan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Fusshilat 36)

Biarpun tipu daya syaithon lemah, tapi ia menjadi kuat ketika bergabung dengan tiga musuh berikutnya;

3-Orang kafir, Munafik, Ahli bid’ah, Ahli Maksiyat

إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا

Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (An-Nisa 101)

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. (Al-An’am 101)

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqon 31)

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ، يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (Al-Baqarah 8-9)

Penyebab permusuhan ini adalah iman, bukan masalah ekonomi atau politik, kendati mereka berusaha menutupinya. Dan betapun orang kafir, munafik, ahli bid’ah itu bermacam jumlahnya dan bersebrangan jalannya, akan tetapi dalam menghadapi Islam mereka adalah satu kesatuan.

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (Al-Baqarah 217)

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (Al-Baqarah 120)

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu.  (Al-Baqarah 105)

Adalah suatu keniscayaan bahwa seseorang akan berkumpul dalam golongan yang serupa dengannya, maka seperti halnya orang mukmin senang berkumpul dengan orang mukmin, maka sebaliknya, orang kafir senang berkumpul dengan orang kafir, orang fasik dengan orang fasik, ahli bid’ah dengan sesama ahli bid’ah, bahkan walaupun mereka berbeda aliran, karena semuanya toh tetap bersatu dibawah bendera kebatilan. Allah berfirman

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. (Al-An’am 129)

Solusinya: Amar Makruf Nahi Munkar dan Jihad

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. (At-Taubah 9)

Ibnu Abbas berkata: Allah memerintah untuk berjihad melawan orang kafir dengan pedang, melawan orang munafik dengan lisan, dan menghilangkan sikap belas kasihan.

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (At-Taubah 36)

Allah menerangkan bagamaimana menghadapi orang munafik, yang mencakup orang-orang yang lemah imannya;

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (An-Nisa)

Yakni sebagai bentuk inkar adalah dengan menjauhi mereka, tidak bergaul dengan mereka, tapi tetap memberi mereka nasehat, dan ucapan-ucapan yang keras yang menghujam di dada.

Kita juga harus senantiasa siap dan waspada

وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

Dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir. (An-Nisa 102)

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu. (Al-Anfal 60)

Jadi kaum muslimin hendak menyiapkan kekuatan guna menggetarkan musuh, membuat mereka takut, juga agar kaum muslimin tidak menjadi mangsa empuk bagi kaum kafir, seperti yang difirmankan Allah;

وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً

Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus.  (An-Nisa 102)

Tapi tentu saja semua usaha itu harus dibarengi iman dan tawakkal, juga sabar dan takwa.

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. (Ali Imron)

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (An-Nahl 128)

2-Qurana’ Suuk, anak, Istri, teman yang menggiring pada kejelekan

وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُمْ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ

Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. (Fusshilat 25)

وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنْتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَكُمْ بَلْ كُنْتُمْ مُجْرِمِينَ

وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَنْ نَكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَنْدَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan (seandainya)) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka berbincang kata kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kalian tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.”

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Apakah kami yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kalian sendirilah orang-orang yang berdosa.”

Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(kalian) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kalian menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.”

Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan. (As-Saba 31-33)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagi kalian. (At-Thaghabun 14)

Musuh seperti ini lebih berbahaya karena kita tidak menganggap mereka musuh, karena itu kelak ketika seorang tahu akibat berteman dengan orang-orang jahat yang mengajak kejelekan, baru ia anggap mereka musuh, seperti firman Allah;

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (Az-Zukhruf 67)

Beberapa Ahli tafsir menyebutkan ketika Iblis gagal merayu Adam untuk memakan buah terlarang, Iblis mendatangi Hawa’, ia lalu terpengaruh oleh rayuan Iblis sehingga ia merayu Adam untuk memakannya, dan akhirnya terjadilah apa yang Allah kisahkan dalam kitabnya. Dalam hal ini Rasul bersabda:

لَوْلَا حَوَّاءُ لَمْ تَخُنْ أُنْثَى زَوْجَهَا الدَّهْرَ

Seumpama tidak ada Hawwa, seorang wanita tidak akan menghianati suaminya selamanya. (HR. Muslim)

Rasul Saw bersabda:

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَيْسَ عَدُوَّكَ الَّذِي إِنْ قَتَلْتَهُ كَانَ لَكَ نُورًا، وَإِنْ قَتَلَكَ دَخَلْتَ الْجَنَّةَ، وَلَكِنَّ أَعْدَى عَدُوِّكَ وَلَدُكَ الَّذِي خَرَجَ مِنْ صُلْبِكَ، ثُمَّ أَعْدَى عَدُوٍّ لَكَ مَالُكَ الَّذِي مَلَكَتْ يَمِينُكَ»

“Musuhmu bukanlah seseorang yang jika engkau bunuh maka bagimu adalah cahaya dan bukanlah seseorang yang jika membunuhmu maka engkau masuk syurga, tetapi musuhmu (yang paling besar) adalah anakmu yang keluar dari tulang rusukmu dan harta yang kamu miliki”. (HR. Thabrani)

Ka’b Al-Ahbar meriwayatkan dari taurat;

إِنَّ أَعْدَى النَّاسِ بِالرَّجُلِ الصَّالِحِ قَوْمُهُ يُخَاصِمُهُ الْأَقْرَبُ فَالْأَقْرَبُ

Sesungguhnya manusia yang paling memusuhi seorang laki-laki adalah kaumnya, mereka membantahinya, kemudian yang paling dekat, dan yang paling dekat.

Suatu ketika Ikrimah, murid senior Ibnu Abbas sedang bersama anaknya, lalu ada seseorang laki-laki bertanya; “Apakah anakmu meriwayatkan sesuatu (ilmu) darimu?” Ikrimah menjawab: “Sesungguhnya dikatakan bahwa yang paling zuhud (menjauh) dari orang alim adalah keluarganya”.

Dan memang begitulah yang terjadi seperti kata Ikrimah, seolah menjadi “sunnatullah”, ketika ada orang alim justru yang mau mengambil ilmu darinya adalah orang-orang jauh, keluarganya, orang dekat, tetangganya justru ogah. Sama ketika Rasulullah berdakwah, keluarganya sendiri dari suku Quraisy bahkan dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib ogah menerima, bahkan mereka menjadi musuh nomor satu bagi Dakwah Rasul Saw. Justru yang mau menerima adalah orang jauh yaitu suku Aus dan Khazraj dari Madinah yang jaraknya kurang lebih 400 km dari Makkah tempat tinggal Nabi. Hal yang sama juga terjadi di sekitar kita, coba perhatikan pondok pesantren yang ada, dari mana murid-muridnya?

Solusinya; Menjauhi teman yang jelek, dan sebaliknya; hanya berteman dengan yang baik. Dan untuk keluarga; waspada dari kejelekan mereka sembari bersikap bijak dengan memaafkan dan berpaling dari kesalahan mereka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur. (At-Taubah 119)

Jujur yang dimaksud adalah jujur memegang janji untuk taat pada Allah, jadi orang jujur yang dimaksud adalah orang yang bertakwa, seperti firman Allah:

أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Mereka itulah orang-orang yang jujur; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqarah 191)

Orang mukmin seringkali terlihat berpenampilan lebih buruk dari pada orang maksiat, akan tetapi Allah justru memerintahkan untuk berteman dengan orang mukmin.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaan ia melewati batas (Al-Kahfi 28)

Rasul Saw bersabda:

لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

Jangan engkau berteman kecuali dengan orang mukmin, dan jangan makan makananmu kecuali orang takwa. (HR. Tirmidzi)

Dalam menghadapi keluarga Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Thaghabun 14)

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (An-Nisa’ 19)

1-Nafsu

Yang terakhir, yang paling berat adalah nafsu;

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali ketika Rabbku merahmatinya. (Yusuf  53)

Yakni nafsu setiap saat memerintah kejelekan kecuali saat dimana ia memperoleh rahmat Allah. Artinya ketika sekejap saja nafsu lepas dari rahmat Allah ia bisa menimbulkan celaka bagi empunya.

Ini menunjukkan bahwa manusia setiap saat amat butuh akan RahmatNya. Karena itu, mengetahui pentingnya rahmat Allah untuk mengalahkan nafsu Rasul mengajarkan berdoa;

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Wahai Allah, hanya RahmatMu yang aku harap, maka jangan kau serahkan aku pada nafsuku walau sekejap mata, dan perbaikilah keadaanku semua, tidak ada sesembahan kecuali engkau.

Juga doa:

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Ya Hayyu… Ya Qayyum… dengan RahmatMu aku memohon pertolongan, perbaikilah keadaanku semua, dan janganlah kau serahkan aku pada nafsuku walau sekejap mata.

Agar dibaca pagi dan sore.

Rasul Saw juga bersabda:

أَعْدَى عَدُوٍّ لَكَ نَفْسُكَ الَّتِي بَيْنَ جَنْبَيْكَ

Musuh paling berbahaya bagimu adalah nafsumu, yang ada di samping kanan kirimu. (HR. Al-Kharo’ithy)

Mengikuti kesenangan (Hawa) nafsu bisa memelenceng dari jalan Allah seperti yang terlihat pada firmannya;

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. (Shad 26)

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Qashash 50)

Manusia yang mengikuti hawa nafsu sampai menjadikannya sebagai sesembahan, yakni dengan menuruti segala perintah nafsu melebihi perintah Allah, berarti turun derajat ke derajat hewan dan bahkan rendah lagi, dan mereka ini tidak mampu mendengar atau memahami segala macam nasehat.

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (Al-Furqan 43-44)

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah berkata; Sesungguhnya nafsu adalah penghalang Antara hamba dan Allah, dan seorang hamba tidak akan sampai menuju Allah sampai ia memotong penghalang ini, seperti ucapan Abu Yazid; “Aku melihat Rabbul-Izzah di dalam tidur, lalu aku berkata; Wahai Rabbku, bagaimana jalan menujuMu?” Ia menjawab; “Tinggalkanlah nafsumu, kemudian kemarilah!”

Solusinya; Berusaha mengendalikannya

Ibarat kereta kuda maka nafsu adalah kudanya, tidak mungkin membunuhnya karena justru menjadikan kita tidak dapat sampai pada tujuan. Karena itu yang bijak adalah mengendalikannya dengan tali kekang yang kuat, ditambah bagaimana mengatur nafsu agar tidak menjadi kuat dengan cara menyapihnya.

Tali kekang itu adalah akal, satu hal yang memisahkan antara manusia dan hewan. Allah berfirman;

هَلْ فِي ذَلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ

Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal. (Al-Fajr 5)

Akal disebut hijr (حِجْر), yang asal maknanya adalah pembatas, kata akal sendiri dalam Bahasa arab bermakna tali untuk mengikat ternak.

Dengan akal-lah manusia mampu menilai baik dan benar, untuk kemudian menjalankannya, menilai mana yang jelek dan salah kemudian meninggalkannya.

Lalu bagaimana cara menguatkannya? Jawabnya adalah dengan belajar! Coba perhatikan orang-orang yang punya ilmu dan pengalaman, bagaimana tindakan dan ucapan mereka lebih terkontrol, dan tidak sembrono, bandingkan dengan orang-orang yang kurang pendidikan, dan apakah sama orang yang tau dan orang yang tidak tau?

Coba lihat berapa banyak Allah menasehati dalam Al-Quran dengan ucapan أَفَلَا تَعْقِلُونَ atau أَفَلَا تَذَكَّرُونَ  atau ucapan إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ dan yang senada dengan kalimat-kalimat tersebut seperti فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ, yang mengetuk kesadaran manusia sebagai makhluk yang berakal. Kamu akan lihat bahwa Al-Quran dipenuhi dengan nasehat model seperti ini, karena memang itulah tujuan diturunkannya Al-Quran;

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mengambil pelajaran orang-orang yang mempunyai akal fikiran. (Shad 29)

Semakin sempurna aqal maka semakin panjang pikiran, dengan arti seorang bukan hanya memperhitungkan akibat suatu perbuatan yang bakal terjadi di dunia, tapi juga kelak di akhirat. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr 18)

Rasul Saw bersabda:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِمَا بعدَ المَوتِ ، والعَاجِزُ مَنْ أتْبَعَ نَفْسَهُ هَواهَا وَتَمنَّى عَلَى اللهِ الاَمَانِيَّ

Artinya: “Orang yang sempurna akalnya ialah yang menundukkan nafsunya dan beramal sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang tak mampu adalah yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Disamping itu, ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Yang kedua adalah dengan cara menyapihnya, yakni menjauhkannya dari kesenangan-kesenangan walau itu diperbolehkan. Karena itulah Allah menyebutkan bahwa puasa diwajibkan agar dapat bertakwa, karena dengan puasa, pengaruh nafsu yang mengajak kejelekan menjadi lemah sehingga ia mudah untuk diajak kebaikan dan menghindar dan kejahatan. Sejalan dengan ini adalah sabda Nabi Saw:

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فانه له وجاء

Wahai pemuda barang siapa diantara kalian sudah mampu maka hendaknya segera menikah, barang siapa belum mampu maka dia harus berpuasa karena itu adalah penawar baginya (Muttafaq Alaih)

Imam Bushiry dalam qasidah Burdahnya berkata:

والنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى                   حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمُ

Jiwa itu seperti anak bayi, kalau kau biarkan maka dia akan suka menyusu

Dan bila engkau menyapihnya diapun akan berhenti.

Dan tentu setelah semua usaha, tidak lupa bagi seorang mukmin untuk bertawakkal dan meminta bantuan pada Allah agar ditolong dari kejahatan nafsu, -seperti doa yang diajarkan Nabi di atas- dan juga doa:

اَللَّهُمَّ اَلْهِمْنِيْ رَشْدِيْ وَقِنِيْ شَرَّ نَفْسِيْ

Ya Allah, berikan aku petunjuk dan peliharalah aku dari kejahatan sendiri.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِى وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبىِّ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku dan keburukan semua yang melata, yang ubun-ubunnya berada didalam genggaman-Nya. Sesung-guhnya Tuhanku berada di atas jalan yang lurus.

Wallahu A’lam

Tagged: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kenali Empat Musuhmu dan Temukan cara mengalahkannya! at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: