Tawadlu’ dan Pentingnya Mengetahui Cacat Diri

July 17, 2016 § Leave a comment

Orang yang baik tidak akan merasa dirinya baik, karena jika merasa baik, ia akan berhenti memperbaiki dirinya. Disinilah letak pentingnya mengetahui cacat diri sendiri. Semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah, semakin Allah perlihatkan kekurangan dalam dirinya, sehingga banyaknya ibadah tak akan membuatnya sombong tapi justru semakin menunduk.

Suatu ketika Nabi Musa berkata pada Bani Israil; “Datangkan padaku laki-laki terbaik kalian!”, lalu mereka mendatangkan seorang laki-laki. Nabi Musa lalu berkata padanya; “Kau laki-laki terbaik Bani Israil?”, Ia menjawab; “Begitulah yang mereka sangka”. Nabi Musa berkata: “Datangkan padaku orang paling jelek dari mereka!”, kemudian dia datang tanpa membawa siapa-siapa. Nabi Musa berkata; “Kau datang dengan yang terjelek dari mereka?”, ia menjawab; “Akulah… (yang paling jelek)! aku tidak tahu dari satupun mereka, apa yang aku tahu dari diriku”, Nabi Musa lalu berkata; “Pergilah! Kau memang yang terbaik dari mereka”.

Menjelang kesyahidannya, Khalifah Umar dijenguk oleh Ibnu Abbas, didepannya ia menyebut-nyebut jasa-jasa Umar bagi Islam dan Kaum Muslimin, tapi apa jawaban Umar? Ia justru berkata; “Aku harap yang demikian itu (amal-amal) impas, tidak bagiku dan tidak atasku…” (maksudnya tidak mendapat pahala juga tidak mendatangkan siksa).

Simak juga ucapan tawadluk Sahabat Abu Bakar, orang paling dekat dengan Rasulullah ketika ia berkata; “Aku berharap aku adalah sebuah rambut di pinggang seorang Mukmin”.

Pernah juga ia berkata; “Aku berharap aku adalah tanaman hijau yang dimakan binatang ternak”.

Padahal beliau punya jasa besar yang bahkan Rasul Saw akui tak mampu membalasnya.

Ucapan semisal bisa kita lihat dari Abu Ubaidah, sahabat yang mendapat julukan Aminu Hadzihil Ummah; “Aku berharap aku adalah seekor kambing yang kemudian keluargaku menyembelihku lalu memakan dagingku dan menyeruput kuah kalduku”.

Juga dari ‘Aisyah istri Nabi, ia berkata: “Aku harap aku adalah pohon yang dicabut, aku harap aku tidak pernah diciptakan”.

Ia juga berkata; “Aku berharap aku adalah lupa yang terlupakan”

Suatu ketika ia melewati sebuah pohon, kemudian ia berkata; “Seandainya aku adalah sebuah daun dari dedaunan pohon ini”.

Juga dari Abdullah bin Masud, ia berkata; “Seandainya ketika mati aku tidak dibangkitkan”.

Ia juga berkata; Aku berharap aku adalah seeokor burung, di kedua pundakku terdapat bulu”

Ia juga berkata; Sungguh aku berharap aku tercipta dari kotoran himar, tidak dinasabkan kecuali padanya, dan diucapkan Abdullah anak kotoran, dan aku berharap aku tahu bahwa Allah telah mengampuni satu saja dosaku”.

Imran bin Chushain juga berkata; “Aku berharap aku adalah abu yang diterbangkan angin”.

Jadi jika kamu (iya kamu!), baru bisa ibadah begini begitu sudah merasa hebat, bisa ngabdi atau ikut  sama kyai  anu atau Habib anu udah ngerasa wah, ikut tarekat anu langsung ngerasa yang lain cemen semua, ikut jamaah pengajian, maulid, atau wiridan langsung ngerasa sok suci, ikut organisasi anu langsung songgong “pokoe selain organisasi anu gak bisa masuk surga”, maka ketahuilah bahwa jalan menuju kebaikan bagi kamu sudah buntu alias mentok.

فلا تزكوا انفسكم هو اعلم بمن اتقى

Artinya: “Janganlah sekali-kali kalian mensucikan diri kalian sendiri, sebab Allah Maha Tahu siapa orang yang sesungguhnya bertaqwa”. (Al Najm : 32)


Sumber; Sahih Bukhari dan Az-Zuhd Imam Ahmad

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tawadlu’ dan Pentingnya Mengetahui Cacat Diri at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: