Tentang Ilmu dalam Al-Quran bag. 4

March 20, 2017 § Leave a comment

Pembahasan keempat: Ilmu yang harus diutamakan

Ilmu yang harus diutamakan tak lain dan tak bukan adalah ilmu Al-Quran, dan Hadits. Yang demikian karena Al-Quran mengandung ilmu yang datang langsung dari Allah, seperti yang Allah firmankan:

لَكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

 Tetapi Allah bersaksi dengan apa (Al Quran) yang ia turunkan kepadamu. Allah menurunkannya beserta ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi. Cukuplah Allah yang mengakuinya. (An-Nisa 166)

Sedang Hadits yang merupakan ucapan maupun perbuatan Rasul pada hakikatnya adalah pelaksanaan dari ilmu-ilmu yang terkandung dalam Al-Quran. Suatu ketika siti ‘Aisyah ditanya tentang Akhlaq Rasul Saw, lalu ia menjawab; “Akhlaq Rasul adalah Al-Quran , tidakkah kau membaca firman Allah; “Sesungguhnya Engkau (Muhammad) diatas akhlaq yang agung” (Surat Nun 4).

Demikianlah, antara Al-Quran dan Hadits punya hubungan yang erat dan tak bisa dipisahkan, karena setiap ucapan maupun perbuatan Nabi tidak akan lepas dari tuntunan Al-Quran. Jadi bisa dikatakan bahwa Hadits adalah tafsir atau penjelas dari Al-Quran, dan orang yang mempelajari Hadits berarti secara tak langsung mempelajari Al-Quran.

Karena itulah para ‘Ulama mentafsiri kata Al-Hikmah ketika disandingkan dengan kata Al-kitab, sebagai Sunnah.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Al-Jumuah 2)

Pada dasarnya hikmah adalah ilmu yang mampu mengarahkan menuju kebaikan dan mencegahkan pemiliknya dari kemunkaran. Yang demikian juga dimiliki oleh Al-Quran, akan tetapi ketika ia dipisahkan dari Al-Quran, yakni dengan menyebutkannya secara tersendiri setelah Al-Kitab (Al-Quran), maka tak lain yang dimaksud hikmah adalah ajaran-ajaran Rasul Saw yang berupa ucapan maupun tindakan, yang biasa disebut Sunnah atau Hadits.

Bagi seorang mukmin mendahulukan Allah dan RasulNya dalam hal apapun merupakan sebuah keniscayaan. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahulukan (apapun) di depan Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Hujuraat 1)

Maka dalam hal menuntut ilmu, ilmu yang harusnya diutamakan adalah ilmu Al-Quran dan Hadits, ilmu yang datang dari Allah dan dibawa oleh RasulNya. Karena itu wajib bagi para penuntuk Ilmu untuk mengutamakan keduanya, juga ilmu-ilmu yang merupakan wasilah untuk memahami keduanya, seperti Ilmu Bahasa Arab, ilmu tafsir dan Ushulul Hadits.

Dalam banyak ayat kita bisa temui bahwa mengikuti petunjuk Al-Quran dan Sunnah adalah jalan keselamatan dan kesuksesan dunia dan akhirat, sedang meninggalkan keduanya adalah kecelakaan dan kehinaan di dunia dan akhirat. Diantaranya:

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى۞ وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى ۞ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Dan barangsiapa berpaling dari Dzikirku-Ku (Kitab Allah), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

Berkatalah ia: “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.” (Thoha 123-126)

Maka sudah seharusnya kita sebagai orang mukmin untuk giat belajar Al-Quran dan Sunnah Rasul, serta berusaha dengan segenap kemampuan untuk mengamalkannya, agar hidup kita sejahtera, baik di dunia maupun di akhirat.

Tagged: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tentang Ilmu dalam Al-Quran bag. 4 at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: