Tentang Ilmu dalam Al-Quran (bag.10)

August 6, 2017 § Leave a comment

Pembahasan kesepuluh: Peran Ahli Ilmu menurut Al-Quran

ilustrasi-pendidikan-tempo-duluPada intinya tugas ‘Ulama adalah sama dengan tugas Nabi-nabi, karena seperti sabda Rasul Saw; “Ulama adalah perwaris para Nabi”. Bukan hanya sebagai pewaris Ilmu tapi juga tugas dan kedudukan Nabi dalam kaumnya. Jadi setiap ayat yang menunjukkan tugas para nabi, maka hendak pula demikian para ‘Ulama. Seperti halnya Nabi mengajak pada Allah, melarang untuk menyekutukan dan mendurhakaiNya maka begitu pula tugas para ‘Ulama.

Ahli ilmu harus bisa menjadi contoh dan panutan dalam masyarakat, seperti halnya Nabi menjadi contoh bagi umatnya.

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ.

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. (Al-An’am 90)

Ahli Ilmu hendaknya dapat menjadi pemecah solusi bagi permasalahan-permasalan yang terjadi di masyarakat:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

maka bertanyalah kalian kepada Ahli Dzikir  jika kamu tidak mengetahui, (An-Nahl 43)

Ahli Dzikir adalah ahli Al-Quran karena nama lain Al-Quran adalah Ad-Dzikr. Jadi maksudnya; “Tanyalah kalian kepada Ahli Ilmu Al-Quran jika kalian tidak mengetahui!”.

Ahli Ilmu hendaknya dapat menjaga, merawat, dan memelihara kehidupan masyarakat;

وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

Akan tetapi Hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani, dengan sebab kalian mengajarkan Al Kitab dan dengan disebabkan kalian mempelajarinya. (Ali Imron 79)

Menurut pendapat yang lebih tepat kata Rabbany berasal dari kata Rabba yang memiliki makna menjaga, merawat, memelihara, mengatur kemaslahatan. Dan tambahan Alif dan Nun adalah untuk tujuan makna Mubalaghah (penguatan makna atau menunjukkan makna “sangat”. Dengan kata lain Allah berfirman: “Akan tetapi hendaklah kalian menjadi orang-orang yang ahli dengan sangat memelihara dan sangat mengatur kemaslahatan umat manusia dengan sebab kalian mengajarkan Al-Quran dan dengan sebab kalian mempelajarinya “.

Jadi seorang Ulama’ Robbani adalah ulama’ yang bukan hanya Alim Al-Quran tapi juga mampu “ngemong” masyarakat. Yang demikian dengan mengajarkan mereka kebaikan, mencegah mereka dari kemunkaran, berani melawan hal-hal yang merusak, menyingkap tabir-tabir yang menutupi kebenaran, membetulkan kebiasaan atau adat yang tidak benar dalam masyarakat, mengarahkan mereka pada Ridla Allah dan menjauhkan mereka dari murka Allah.

Ahli Ilmu hendaknya mampu membaca ayat-ayat Al-Quran, mengajar, menjelaskan Kitab Allah dan Sunnah RasulNya, serta mensucikan dan menumbuhkan jiwa para pengikutnya.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (Al-Jumu’ah 3)

Kata يُزَكِّيهِمْ berasal data kata زكاة yang selain punya makna suci juga mempunyai makna tumbuh. Jadi Rasul selain mengajar juga punya kemampuan mensucikan jiwa dan menumbuhkannya, begitu pula ‘Ulama, karena mereka adalah pewaris para Nabi, yang mewarisi ilmu juga tugas Rasulullah, hendaklah dapat pula bukan hanya mengajar, tapi mampu menumbuhkan jiwa-jiwa para murid-muridnya. Dengan apa? Dengan nasehat-nasehat yang penuh hikmah yang mampu membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, dan memenuhinya dengan sifat-sifat terpuji.

Ahli Ilmu hendaknya menjadi yang terdepan dalam menunjukkan kebenaran seperti yang terlihat dalam kisah Qarun. Kita bisa melihat peran ahli ilmu sebagai golongan terdepan dalam mengingatkan masyarakat. Yaitu ketika Qarun keluar menuju kaumnya dengan memamerkan harta kekayaannya, sebagian orang yang dihatinya tedapat kecintaan pada dunia terpana dan berharap agar diberi kekayaan semisal yang diberikan pada Qarun. Akan tetapi orang-orang ahli ilmu berkata:

وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

“Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diberikan pahala itu, kecuali pada orang- orang yang sabar.” (Al-Qashash 80)

Bahkan peran ini, juga berlanjut bahkan nanti ketika hari kiamat:

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَ ۞ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja).” Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran).

Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan: “Sesungguhnya kalian telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya).” (Ar-Ruum 12)

Waallahu A’lam.

Tagged: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tentang Ilmu dalam Al-Quran (bag.10) at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: