Iman dalam Al-Quran bag. 7 (Seorang mukmin diuji berdasarkan kadar Imannya)

October 15, 2017 § Leave a comment

Pembahasan ketuju: Seorang mukmin diuji berdasarkan kadar Imannya

img_4336

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Artinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang sungguh-sungguh dan Dia benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabuut [29]: 2-3)

—————————-

Karena iman seperti pohon, maka seperti kata pepatah, semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang menerpa. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah:

عن سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: «الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا، اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ، ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ، حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ، وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian yang sepertinya, kemudian yang sepertinya, sungguh seseorang itu diuji berdasarkan tingkatan agamanya, bila agamanya kuat, ujiannya pun berat, sebaliknya bila agamanya lemah, maka ia diuji berdasarkan tingkatan agamanya, ujian tidak akan berhenti menimpa seorang hamba hingga ia berjalan dimuka bumi dengan tidak mempunyai kesalahan.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hal ini contoh nyata adalah Rasulullah Saw, sakit demam yang menimpa beliau adalah dua kali yang menimpa orang biasa, seperti yang disebut dalam hadits:

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ، فَمَسِسْتُهُ بِيَدِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَجَلْ إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ» قَالَ: فَقُلْتُ: ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَجَلْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ، فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Dari Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku masuk menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam ketika beliau sedang menderita penyakit demam lalu aku mengusap beliau dengan tanganku dan berkata: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau benar-benar terjangkit demam yang sangat parah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Ya, sesungguhnya aku mengidap demam seperti yang dialami oleh dua orang di antara kalian. Aku berkata: Itu, karena engkau memperoleh dua pahala. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Benar. Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang tertimpa suatu penyakit dan lainnya kecuali Allah akan menghapus dengan penyakit tersebut kesalahan-kesalahannya seperti sebatang pohon yang merontokkan daunnya. (HR. Muslim)

Ujian-ujian ini selain untuk mengangkat derajat dan menghapus kesalahan adalah untuk menampakkan siapa yang sungguh dalam Imannya dan siapa yang berpura-pura atau bohong belaka:

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang sungguh-sungguh dan Dia benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-‘Ankabuut 3)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menguji (baik buruknya) hal ihwalmu. (Muhammad 31)

Jika dari segi tingginya iman seorang mukmin dan kemanfaatannya, ia diibaratkan sebagai pohon kurma, maka dari segi banyaknya musibah dan cobaan yang dihadapi, ia seperti tanaman ladang; gandum, padi dan sejenisnya. Sedang orang munafik atau kafir yang hidup dalam keenakan dan jarang tertimpa susah, laksana pohon cedar atau aras:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لَا تَزَالُ الرِّيحُ تُمِيلُهُ، وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ الْبَلَاءُ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ شَجَرَةِ الْأَرْزِ، لَا تَهْتَزُّ حَتَّى تَسْتَحْصِدَ

Dari Abu Hurairah ia bersabda: “Perumpamaan orang iman itu seperti tanaman ladang, angin senantiasa menerpanya, dan orang iman itu akan senantiasa tertimpa musibah. Sedangkan perumpamaan orang munafik seperti pohon cedar, tidaklah ia bergoyang hingga dipanen.” (HR. Muslim)

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنَ الزَّرْعِ، تُفِيئُهَا الرِّيَاحُ، تَصْرَعُهَا مَرَّةً وَتَعْدِلُهَا، حَتَّى يَأْتِيَهُ أَجَلُهُ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ مَثَلُ الْأَرْزَةِ الْمُجْذِيَةِ الَّتِي لَا يُصِيبُهَا شَيْءٌ حَتَّى يَكُونَ انْجِعَافُهَا مَرَّةً وَاحِدَةً

Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang tanaman yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang membuatnya tegak kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik (dalam riwayat lain disebut “orang kafir”), ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak tertimpa apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya) sekaligus”. (Muttafaq Alaih)

Para Ulama’ berkata: Makna Hadits tsb. Bahwa seorang mukmin itu banyak penderitaan dibadannya, atau keluarganya, atau hartanya, yang demikian itu melebur kesalahan-kesalahannya dan mengangkat derajat-derajatnya. Adapun orang kafir maka ia sedikit penderitaannya, dan walaupun ia tertimpa suatu derita, tidaklah itu melebur apapun dari kesalahan-kesalahannya, bahkan ia akan membawa kesalahan-kesalahannya secara lengkap pada hari kiamat.

Penyamaan orang mukmin dengan tanaman ladang dalam hadits diatas mirip dengan penyamaan orang mukmin dalam firman Allah:

كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

Seperti tanaman ladang yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir. (Al-Fath 29)

Tagged: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Iman dalam Al-Quran bag. 7 (Seorang mukmin diuji berdasarkan kadar Imannya) at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: