Tentang Hujan

February 4, 2018 § Leave a comment

alquran-dan-sains-jelaskan-kadar-air-hujan-Lt5v9MQkvS

Bismillah…. (Repost, mumpung musim hujan, dengan editing dan sedikit tambahan)

1-Bahwasanya hujan turun dari langit melalui meteor

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Dan Kami turunkan dari langit air yang Amat bersih. (Al-Furqon 48)

Yakni dengan memandang “min” dengan makna Ibtidaiyyah atau permulaan, seperti pendapat sebagian Ulama’. Dengan kata lain makna ayat adalah “Dan Kami turunkan bermula dari langit air yang amat bersih”.

Air diketahui tersedia berlimpah di kawasan pinggiran tata surya, tersimpan sebagai bekuan (es) pada kometisimal–kometisimal yang menghuni awan komet Opik–Oort maupun sabuk Kuiper–Edgeworth. Satu–satunya mekanisme yang memungkinkan mengangkut air dari kawasan ini ke bagian dalam tata surya, khususnya ke planet–planet terestrial dan lebih khusus lagi ke Bumi hanyalah tumbukan benda langit. Dalam hal ini adalah tumbukan komet dengan Bumi. Meski tumbukan komet selalu diikuti pelepasan energi sangat besar yang ditandai munculnya bola api tumbukan bersuhu sangat tinggi, namun distribusi suhunya tidaklah homogen sehingga hanya sebagian kecil saja air dalam komet yang terurai menjadi hidrogen dan oksigen. Sisanya tetap berupa air meski dalam wujud uap. Jejak kawah di Bulan menyajikan bukti telanjang bahwa Bumi purba pernah mengalami periode paling riuh dalam tumbukan dengan komet, yang dikenal sebagai Periode Hantaman Besar. Hantaman Besar berlangsung 4,2–3,8 milyar tahun silam, dengan jumlah tumbukan komet per satuan waktu adalah sangat besar hingga sejuta kali lipat dari nilai sekarang.

2-Bahwasanya hujan selalu turun dengan kadar tertentu

وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ تُخْرَجُونَ

Dan Yang menurunkan air dari langit menurut takaran lalu Kami hidupkan dgn air itu negeri yg mati, seperti itulah kalian akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (Az-Zukhruf 11)

Dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam satu detik. Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505×1012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan “takaran”.

Jadi ketika hujan dalam satu tahun terasa lebih banyak atau lebih sedikit tidak berarti menunjukkan kalau dalam tahun itu air hujan yang turun ke bumi bertambah atau berkurang.

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه: مَا من عَام بِأَمْطَر من عَام وَلَكِن الله يصرفهُ حَيْثُ يَشَاء من الْبلدَانِ وَمَا نزلت قَطْرَة من السَّمَاء وَلَا خرجت من ريح إِلَّا بِمِكْيَال أَو بميزان

Dari Ibnu Mas’ud Ra, Rasulullah Saw bersabda; “Tidak ada tahun yang lebih berhujan dari tahun yang lain, akan tetapi Allah menaruh hujan sesuai kehendakknya pada daerah-daerah, dan tidaklah turun satu tetes air dari langit dan tidak keluar dari angin kecuali dengan takaran atau timbangan. (HR. Ibnu Mardawaih)

عن الحكم بن عُتَيْبَة  في قوله: { وَمَا نُنزلُهُ إِلا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ } قال: ما  عام بأكثر مطرًا من عام ولا أقل، ولكنه يُمطر قوم ويحرم آخرون وربما كان في البحر.

Dari Al-Hakam bin Utaibah dalam firman Allah “Dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu” (Al-Hijr 21), Ia berkata; “Tidaklah satu tahun lebih banyak hujannya dan tidak lebih sedikit, akan tetapi satu kaum diberi hujan, sedang yang lain tidak, dan terkadang hujan turun dilaut.[1]

3-Bahwasanya Hujan adalah Ayat dan Rahmat Allah

وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan di antara Ayat-ayat-Nya; Dia memperlihatkan kepada kalian kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal. (Ar-Ruum 24)

اللهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ

فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْيِ الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.

Dan Sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.

Maka perhatikanlah bekas-bekas Rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya Yang demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ar-Ruum)

4-Bahwasanya sejalan dengan turunnya Rahmat adalah turunnya para Malaikat

Dari Al-Hakam bin Utaibah ia berkata;

وبلغنا أنه ينزل مع القطر من الملائكة أكثر من عدد ولد إبليس وولد آدم ، يحصون كل قطرة حيث تقع وما تنبت، ومن يرزق ذلك النبات

 “Telah sampai pada kami bahwasanya turun bersama tetes hujan, Malaikat yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah anak Iblis dan anak Adam. Mereka menjaga setiap tetes pada tempat jatuhnya, dan tumbuhan yang ia tumbuhkan dan siapakah yang diberi rizki dari tumbuhan itu.”[2]

Dan termasuk tanda adanya Malaikat adalah perasaan tenang dalam hati (Sakinah), seperti yang ditunjukkan oleh ayat;

ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا

Kemudian Allah menurunkan Sakinah-Nya (ketenangan) kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya (Malaikat). (At-Taubah 26)

Ibnu Batthal berkata;

وقال  – صلى الله عليه وسلم –  فى حديث البراء فى سورة الكهف:  « تلك السكينة نزلت للقرآن » . فمرة أخبر  – صلى الله عليه وسلم –  عن نزول السكينة، ومرة أخرى عن نزول الملائكة، فدل على أن السكينة كانت فى تلك الظلة وأنها تنزل أبدًا مع الملائكة، والله أعلم،

Rasul Saw bersabda dalam Haditsnya Al-Barra’ dalam surat Al-Kahfi “Itulah Sakinah yang turun karena Al-Quran”. Maka terkadang Rasul menyebut tentang turunnya sakinah, terkadang tengtang turnnya Malaikat, hal ini menunjukkan bahwa Sakinah berada dalam bayangan itu, dan bahwasanya Sakinah selamanya turun bersama dengan Malaikat.

[3]
Mungkin dari sinilah ilmuwan mengatakan bahwa hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu. Dan tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan hanya bisa menyimpulkan “Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu”. Dan pada titik ini, para ilmuan meyakini bahwa manusia biasanya mendapatkan inspirasi.

5-Bahwasanya dengan adanya Rahmat Allah dan munculnya para Malaikat, maka doa pada waktu hujan lebih dekat untuk terkabulkan

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثِنْتَانِ لاَ تُرَدَّانِ، اَلدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَتَحْتَ الْمَطَرِ

Dari Sahl bin Sa’ad ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda. Dua doa yang tidak pernah ditolak; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu kehujanan. (HR. Hakim)

عن مكحول عن النبي  صلى الله عليه وسلم  قال: (اطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ، وَإِقَامَةِ الصَّلاةِ، وَعِنْدَ نُزُولِ الْغَيْثِ)

Dari Makhul, Nabi Saw bersabda; “Carilah diterimanya doa saat bertemunya pasukan (Muslim dan kafir), ketika didirikannya Sholat, dan ketika turunnya hujan”. (Diriwayatkan oleh Imam Syafi’I dalam kitab Umm)

Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab doa pada waktu kehujanan tidak ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim.[4]

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa para Malaikat  mengamini doa orang Mukmin;

عن أم سلمة قالت قال رسول الله صل الله عليه وسلم: لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ….

Dari Ummu Salamah ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa bersabda : “Janganlah kalian mendoakan diri kalian kecuali kebaikan. Karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan…”. (HR. Muslim)

Jadi dengan banyaknya Malaikat yang turun ketika hujan, maka banyak pula Malaikat yang mengaminkan. Hal ini senada dengan anjuran Nabi Saw untuk berdoa ketika mendengar kokok ayam, karena kokok ayam menunjukkan adanya Malaikat, sedang Malaikat akan mengamini doa-doa orang mukmin.

6-Bahwasanya hujan bukan hanya mampu mensucikan, tapi juga mampu mengusir gangguan Syaithan

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Al-Anfal 11)

Demikian karena hujan membawa Rahmat Allah, sedang setan adalah makhluk terkutuk yang dijauhkan dari RahmatNya. Juga karena banyaknya Malaikat yang turun membuat setan menjauh karena takut. Seperti yang terjadi pada perang Badr ketika Iblis berkata:

إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ

“Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat (Malaikat); sesungguhnya saya takut kepada Allah.” (Al-Anfal 48)

7-Bahwasanya air hujan adalah air yang mempunyai barakah

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit air yang berbarokah lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, (Qaf 9)

Ayat diatas menunjukkan bahwa air hujan punya kemampuan lebih daripada air lainnya dalam menumbuhkan tanaman. Air hujan memiliki kandungan yang mampu menyuburkan tanah. Tanaman yang daunnya menguning karena kekurangan hara bisa menjadi hijau terkena guyuran air hujan.

Hal ini karena salah satu unsur kimia yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar dan mempunyai pengaruh cepat terhadap pertumbuhan adalah unsur Nitrogen (yang biasanya terkandung dalam pupuk Urea atau Za). Dalam daur nitrogen, air hujan mempunyai peran penting dalam mentransfer nitrogen dari langit ke tanah. Air hujan mengandung 99.9% massa H2O dan unsur-unsur terlarut seperti nitrogen dalam bentuk nitrat dll.

Meskipun molekul nitrogen sulit bersenyawa dengan molekul lainnya, namun dengan energi yang sangat besar seperti kilat atau petir, maka molekul nitrogen bisa terurai, merangsang pembentukan nitrat dan bercampur dengan air hujan.

Karena air hujan berbarakah, maka terdapat anjuran untuk mengambil barakah tersebut dengan berhujan-hujan.

عن أنس رضي الله عنه قال: (أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ، قَالَ: فَحَسَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ، حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى) رواه مسلم

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertimpa hujan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuka pakaian beliau sampai (tubuh beliau) terkena sebagian air hujan.”Maka kami berkata:”Ya Rasulullah, kenapa anda melakukan hal itu?” Beliau menjawab:”Karena sesungguhnya dia (hujan) adalah baru dari Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala .” (HR. Imam Muslim)

Imam Nawawi Berkata;

ومعناه أن المطر رحمة وهي قريبة العهد بخلق الله تعالى لها فيتبرك بها وفي هذا الحديث دليل لقول أصحابنا أنه يستحب عند أول المطر أن يكشف غير عورته ليناله المطر

Maknanya, bahwa hujan adalah Rahmat da nia dekat masanya dengan penciptaan Allah taala, maka ia diambil barakahnya. Dan dalam hadits terdapat dalil bagi Ashab kami bahwasanya dianjurkan ketika awal hujan untuk membuka badannya yang bukan aurat agar terkena hujan.[5]

عن عبد الله بن نجي قال: “كان علي رضي الله عنه إذا مطرت السماء خرج، فإذا أصاب صلعته الماء مسح رأسه ووجهه وجسده، وقال: (بركة نزلت من السماء، لم تمسها يد ولا سقاء)”

Dari Abdullah bin Najy ia berkata; Sahabat Ali Ra ketika turun hujan keluar kemudian ketika hujan mengenai bagian kepalanya yang terbuka, ia mengusap kepala, wajah dan tubuhnya da nia berkata; “Barakah yang turun dari langit, belum tersentuh tangan atau pun wadah”. (Disebutkan dalam Fathul Bary, oleh Ibnu Rajab dari riwayat Ibnu Abi Dunya)

Nama-nama Hujan yang termaktub dalam Al-Quran:

(Disarikan dari kitab Fiqh Lughah Imam Ats-Tsa’aalaby dan beberapa kitab Tafsir)

  • (الوَابِل) Hujan yang besar rintiknya dan keras jatuhnya. (الطَلّ) hujan yang ringan dan lemah (gerimis). Allah berfirman:

فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ

Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis. (Al-Baqarah 265)

  • (الغَيْث) Hujan yang turun ketika saat dibutuhkan atau setelah kemarau. Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ

Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. (As-Syuro 28)

  • (الوَدْق) Hujan yang turun terus menerus. Allah berfirman:

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ

Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan ia membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu   kalian lihat hujan keluar dari celah-celahnya. (Ar-Ruum 48)

  • (الغَدَق) Hujan yang deras dan banyak. Allah berfirman:

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu, niscaya benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air; (berupa) hujan yang banyak. (Al-Jin 16)

  • (الصَيِّب) Dinamakan demikian karena ia turun (صَاب) dan tertumpah. Allah berfirman:

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ

atau seperti hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat. (Al-Baqarah 19)

  • (الرَجْع) dinamakan demikian karena setelah menguap ke langit ia dikembalikan ke bumi. Dari kata (رَجَعَ-يَرْجِعُ-رَجْعًا) yang berarti mengembalikan. Allah berfirman:

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الرَّجْعِ

Demi langit yang mengandung hujan. (Ath-Thoriq 11)

———————————

[1] Tafsir Ibnu Katsir.

[2] Tafsir Ibnu Abi Hatim

[3] Syarah Ibnu Batthal

[4] Fathul Qadir

[5] Syarah  Nawai li Muslim

Tagged: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tentang Hujan at Spirit Islam Inside.

meta

%d bloggers like this: